Sabtu, 22 April 2017

Kopi dengan Ben

Di tengah waktu mengopi dengan seorang teman dekat saya, ponselnya berdering. Setelah meminta maaf karena kami harus menunda obrolan, dia menerima panggilan. Saya mengangguk, lalu menyibukkan diri dengan ponsel saya sebentar. 

Beberapa menit, percakapan selesai. Dia menghela napas. 

"Siapa?" Ujar saya, penasaran.

Dia tersenyum miris, "Klien. Biasa."

"Oh." Saya merespon singkat. Tak bertanya lebih jauh, dia masih sibuk menggerakkan jari di layar ponsel.

"Aku telpon anak-anak dulu ya. Ada problem." Ben, teman saya--hampir selalu memanggil karyawan yang bekerja dengannya sebagai anak-anak. 

"Sure." Saya tersenyum mengerti. Lalu mengaduk es teh leci yang menganggur di meja.

Cukup lama sampai akhirnya teman saya ini meletakkan lagi ponselnya ke atas meja. Tanda dia siap kembali mengada untuk saya. "Udah." 

"Is everything okay, Ben?"

"Not really. Klien marah-marah karena ada fitur yang stuck. Bukan salah anak-anak juga. Fitur itu diminta cepat, sedangkan sebulan ini mereka udah lembur terus. Aku takut mereka sakit."

"Hm."

"Kenapa?"

"Kliennya marah ke kamu?" saya bertanya tak percaya. Pasalnya, Ben ini bukan orang dengan jabatan rendah di kantornya. "I mean, really?"

Giliran Ben tertawa, "Nggak begitu. Tapi memang bicara dengan nada nggak enak."

"Lalu kamu bisa bertanya baik-baik ke karyawanmu? Like it's not a big deal. Like it's not the client itself found the mistake."

"Ya aku bisa aja menelpon dengan marah-marah, trus apa? Apa mereka bisa berpikir lebih jernih? Apa masalahnya bisa cepat selesai? Kan nggak. Aku lebih baik pilih cara yang bisa menyelesaikan masalahnya, kan?"

"Iya, sih."

--

"Marah jarang sekali bisa menyelesaikan masalah." - Ben

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting