Jumat, 10 Maret 2017

Surga di Telapak Kaki Ibu (Rumah Tangga?)

Saya ingat sekali, waktu itu kumpul keluarga besar di Hari Raya Idul Fitri. Ibu saya--yang saya panggil Mama, duduk bersama saudara-saudara perempuan yang lain. Saya yang kurang tertarik dengan pembicaraan yang sifatnya keibu-ibuan, duduk manis bersama gawai saya.

..dan setoples nastar.

Lalu entah bagaimana ceritanya, topik pembicaraan jadi menyoal tepung bumbu. Membandingkan rasa dan merk tepung bumbu, sepertinya. Tak terdengar suara Mama turut menanggapi, saya tahu beliau nggak mengerti dengan topiknya.

Lalu muncul celetukan, "Ya iyalah, mana Dik Yuyun (nama Mama saya) ngerti. Dik Yuyun kan sibuk kerja terus. Nggak hafal soal dapur."

Saya menoleh, mencari sumber suara lalu mengecek ke arah Mama yang saat itu hanya tersenyum simpul. Meskipun tidak ada kata apapun yang keluar, saya yakin kalau kalimat semacam itu sensitif bagi beliau.



Di kesempatan setelahnya, saya berusaha menghibur Mama dengan berkata cuek, "Ah, tepung bumbu nggak ada pentingnya. Semua merk sama aja. Banyak MSG."

Not a good one, but at least I tried.

Sejak saya duduk di bangku SMP, saya sudah mulai sadar kalau Ibu yang bekerja bukanlah peran "default" perempuan yang diharapkan oleh lingkungan sekitar saya. Teman sebangku saya berkali-kali bertanya, "Lo kurang kasih sayang nggak?" karena Mama saya bekerja dan rajin dinas luar kota.

Saya tentu nggak mengerti, soalnya saya nggak merasa kurang perhatian--apalagi kasih sayang--kala itu. Mama saya masih sempat lho mengajari saya soal persamaan aljabar. Ini berlanjut sampai ke SMA, persoalan kalkulus dan dimensi tiga yang saya benar-benar bebal, masih bisa dikerjakan Mama sambil ngomel, "Haduuuuh kamu kok gini aja nggak bisa sih, Mbak." 😛

Bedanya, teman sebangku SMA saya, ibunya juga bekerja. Bahkan teman saya ini militan banget membela ibu bekerja. Kalau ada yang nanya dia mau jadi ibu bekerja atau ibu rumah tangga, jawabnya: "Gue mau kerja, lah. Ngapain jadi ibu rumah tangga, kerjanya cuma gosip di bawah pohon mangga doang."

[kalau kamu sedang membaca ini, tahan diri untuk nggak emosi dengan pernyataan anak SMA barusan ya]

Saya sejak dulu juga bercita-cita jadi perempuan bekerja. Kenapa? Soalnya dengan Mama sebagai role model, saya dulu nggak terpikir jalan hidup yang lain. Haha receh banget ya alasannya.

Semakin dewasa, saya jadi merasa perlu "meluruskan" niat dan alasan terhadap jalan yang akan saya tempuh. Maka dari itu, saya akhirnya bertanya ke Mama, "Ma, kenapa sih kok Mama bekerja?"

"Karena kita ndak tau nasib di depan itu seperti apa, Nduk."

Mama lalu mengulang cerita bagaimana ibunya (eyang putri saya) pontang-panting membiayai enam anak saat suaminya meninggal. Tanpa berprasangka buruk pada Allah, Mama mempersepsikan pekerjaannya sekarang adalah bentuk usaha dalam menjaga amanah Allah, berupa keluarga dan kami, anak-anaknya.

Saya mengamini alasan Mama. Meskipun punya motif aktualisasi diri juga dalam cita-cita saya bekerja. Di balik keyakinannya soal ikhtiar ini, saya juga tahu kadang Mama merasa bersalah saat waktunya untuk kami terpaksa disalip pekerjaan. Sekali dua kali muncul pertanyaan, "Mama sibuk banget ya?" atau penyataan "Maafin Mama ya, Mama sibuk."

Kami, anak-anak yang kurang sensitif ini cuma cengar-cengir santai. Kadang saat pekerjaan Mama sedang banyak-banyaknya dan rindu berkumpul, kami jadikan ruangan Mama di kantor selayaknya ruang keluarga. Membawa selusin donat dan obrolan-obrolan hangat.

Because she smiles brighter when we are around and we love that smile so friggin much.

Sebagai perempuan yang dulu pernah beberapa kali berpacaran saat kuliah dan (sok) punya orientasi menikah, topik ini juga masuk ke percakapan saya dan Mas Pacar. Sejauh ini sih, saya belum pernah punya pacar yang keberatan saya bekerja, apalagi sampai melarang. Dengan alasan yang berbeda-beda--mulai dari demi pemasukan rumah tangga yang lebih baik sampai supaya saya makin pintar--keinginan saya bekerja didukung penuh oleh Mas Pacar.

Salah satunya malah bilang gini, "Kamu disuruh di rumah aja? Bisa gila kayaknya. Trus kalau kamu gila, aku juga gila. Nikah biar sama-sama gila, buat apa?"

Hehe.



Seusai lulus dan menyandang gelar freelancer beberapa lama, saya jadi akrab dengan tugas domestik. Awal-awal memulai tugas domestik, saya paksakan bangun pagi meski semalam tidur larut. Kalau terlanjur bekerja sampai pagi, ya saya hilangkan jatah tidur malam saya.

Awal-awal doang.
Saya menyerah pada sakit kepala sepanjang hari. Boro-boro mau ngurusin rumah, tetap waras aja rasanya susah. Saya kemudian kembali pada siklus ngalong yang sudah jadi teman saya bertahun kuliah.

Sering saya mengerjakan tugas rumah sambil bersungut dan mikir, "Oh gini ya rasanya jadi IRT (Ibu Rumah Tangga)." yang tak lupa diikuti dengan pikiran, "Kayaknya gue ngga bakal sanggup."

HAHAHA.

Ya iyalah, IRT ideal kan tugasnya menyiapkan keperluan hampir semua orang, memastikan rumah berjalan sesuai fungsi, dan yang paling sulit--menentukan menu makanan tiap hari.

Lha wong saya scrolling menu go-food yang udah jelas aja masih suka pusing milihnya.

Tapi teman-teman kuliah saya yang perempuan, sudah menikah, dan memutuskan jadi IRT tetap nggak kalah keren dengan yang teman-teman lajang yang memutuskan untuk bekerja. Saya nggak ingat sih punya teman kuliah yang menikah dan memutuskan bekerja.

Mereka rajin sharing tentang tips psikologi dalam konteks rumah tangga juga untuk membantu orang lain. Menulis berdasarkan keilmuan dan pengalaman, ya. Bukan nulis curhatan setrikaan numpuk atau posting foto anak seabrek-abrek yang kurang berfaedah.

..dan saya yakin mereka melakukan itu di tengah repotnya mengurus urusan domestik mereka. Salut. Doa baik bagi mereka.

Menurut hemat saya, keputusan untuk bekerja atau menjadi Ibu Rumah Tangga sebaiknya kita serahkan saja pada yang bersangkutan. Setinggi apapun latar belakang pendidikannya, saya yakin nggak ada yang sia-sia dari ilmu pengetahuan.

Pernyataan-pernyataan bego semacam, "Kuliah tinggi-tinggi kok ngurus rumah doang." atau "Nggak sayang gelarnya?" sebaiknya tidak diucapkan. Oh ya, pernyataan yang sama kurang cerdasnya seperti, "Nggak kasihan sama anak ditinggal kerja?" atau "Ibu itu harusnya mengurus rumah." juga nggak perlu lah diumbar.

Lagipula, kita nggak pernah tahu ada apa sepenuhnya di balik keputusan dalam hidup seseorang. Ibu Rumah Tangga maupun Ibu Bekerja, tetap ada surga di telapak kakinya.


Sumber gambar:
https://www.pexels.com/photo/flower-pink-peony-blouse-112324/
https://www.pexels.com/photo/couple-smiling-behind-books-70252/

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting