Sabtu, 25 Maret 2017

Boleh nggak, Pak Ustadz?

Di perjalanan umrah kemarin, saya mendapatkan pengalaman yang berharga sekali. Bukan, ini bukan soal keajaiban spiritual atau ilham yang tiba-tiba datang. Ini pengalaman biasa, tapi menurut saya satu dari beberapa yang worth to share.

Sebelum memulai umrah, jamaah dikumpulkan sehari sebelumnya untuk briefing. Dalam kesempatan ini, Ustadz yang mendampingi grup perjalanan kami menjelaskan beberapa hal seperti apa sih fungsi umrah, umrah itu ngapain aja, apa aja syaratnya, dan lain-lain.



Lalu tibalah di penjelasan "keadaan ihram". Keadaan ihram adalah situasi di mana kita sudah memakai baju ihram dan siap melaksanakan umrah. Pada keadaan ini berlaku beberapa larangan yang apabila dilanggar bisa mengurangi keabsahan umrah atau membatalkan ihram.

Salah satu larangannya misalnya adalah memakai wewangian setelah berbaju ihram.

Sederhana, kan?

Tapi nggak bagi grup perjalanan saya. Pertanyaan yang kemudian muncul seperti:
"Pak Ustadz, kalau wewangian dipakai sebelumnya boleh?"
"Kalau deodoran gimana, Pak Ustadz?"
"Ustadz, kalau parfumnya apakah harus non alkohol?"

Saya bisa paham kalau semua orang dalam grup pasti ingin umrahnya sah. Ya iya lah, setelah perjalanan berjam-jam dengan pesawat terbang dan pengorbanan materi yang sudah dilakukan, siapa yang ingin kalau umrahnya jadi batal. Maka dari itu pertanyaan yang diajukan menjadi sangat spesifik.

Ustadz tersenyum, seperti yang beliau sering lakukan dalam membimbing perjalanan kami. Setelah menjawab satu-satu pertanyaan yang ada, beliau tambahkan penjelasan, "Bapak dan Ibu sekalian, perlu diingat bahwa ini adalah larangan setelah memakai baju ihram. Kalau sebelumnya mau memakai, silakan saja. Umrah ini mengajarkan ini untuk jadi apa adanya. Maka dari itu, setelah ihram, kegiatan yang sifatnya tidak perlu atau hanya mempercantik, memperindah, memperwangi-lah yang tidak boleh dilakukan."

Saya manggut-manggut, cukup puas dengan batasan yang diberikan oleh Ustadz. Tapi lalu (masih) muncul pertanyaan semacam:

"Pak kalau cuci tangan pakai sabun ada wanginya, boleh?"
"Pak, kalau pakai tisu basah yang ada wanginya apakah menjadi batal ihramnya?"
"Kalau yang bawa anak kecil lalu bajunya terkena najis, bagaimana cara membersihkannya ya, Pak Ustadz?"

Saya pikir, Ustadz akan menanggapi seperti dosen saya menanggapi pertanyaan. Saya pikir beliau akan bilang, "Coba bapak ibu pikir, apakah kegiatan yang ditanyakan termasuk dalam mempercantik, memperindah, memperwangi? Kalau nggak, ya sudah lakukan aja."

Hehe. Nggak mungkin juga, sih.

Intinya, semua pertanyaan dijawab dengan cara yang baik oleh Ustadz. Serius, semua. Bahkan sampai pertanyaan seperti, "Pak Ustadz, kalau laki-laki memakai ihram kan tidak boleh memakai celana berjahit, ya? Kalau saya pakai pampers berarti boleh?"

Iya, beberapa pertanyaan memang agak ajaib.

Usut punya usut, ternyata Ustadz yang mendampingi grup perjalanan saya ini kuliah di luar negeri dan currently bekerja sebagai dosen (selain pembimbing jamaah untuk umrah dan haji).

Hal ini berbeda dengan beberapa Ustadz yang pernah saya temui dan benar-benar membekas di ingatan saya. Membekas bukan karena impresi baik, sayangnya.

Misalnya Ustadz yang pernah diundang keluarga besar saya saat buka puasa bersama. Saat saya menanyakan kultur bangun membangunkan sahur yang mungkin mengganggu orang beragama lain dan bagaimana kita sebagai umat muslim sebaiknya menyikapi, dijawab dengan, "Bagi mereka (umat agama lain) itu juga merupakan hiburan. Mereka malah rindu kalau nggak mendengar suara itu. Lagipula ini kan kegiatan mayoritas, kalau sampeyan (kamu .red) merasa terganggu, ya sampeyan minggat (pergi .red) aja dari sini."

Meskipun menggunakan kata "mungkin" pada pertanyaannya, saya sebenarnya sudah punya beberapa teman dengan agama lain yang beneran terganggu. Well, saya juga terganggu sih.

Ustadz yang mengangkat isu mayoritas-minoritas dan menutup penjelasan (yang berupa opini dia sendiri) dengan "kalo lo ngga suka, ya lo pergi aja" benar-benar membuat saya ilfeel.

Ilfeel-nya mirip-mirip lah sama ngeliat cowok ngomong kasar ke pelayan restoran.

Menurut saya yang awam soal agama dan termasuk pengikut "banyak tanya" dan "banyak rewel", Ustadz seperti pendamping perjalanan umrah kemarin banyak dibutuhkan. Ustadz yang ramah, bahkan dalam menjawab pertanyaan yang dianggap remeh bagi kebanyakan orang.

Lagi pula, gimana mau membuat orang respect kalau kita hanya marah-marah, kan?


Sumber gambar: https://www.pexels.com/photo/woman-in-brown-trench-coat-wearing-white-hijab-196753/

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting