Sabtu, 25 Februari 2017

Psychology of Popularity: Week 4

Pos ini lanjutan dari sini

Akhirnya rasa malas melanda juga dalam menyelesaikan materi minggu ini :')

Masih dengan topik yang sama seperti minggu lalu, minggu ini Dr. Mitch Prinstein membahas tentang mengapa ada orang-orang yang lebih populer dibandingkan orang-orang pada umumnya.


Saya merasa harus memberikan disclaimer (lagi) nih soal definisi populer yang dimaksud. Sampai sekarang, definisi populer adalah social preference ya, BUKAN social impact. Buang jauh-jauh contoh kepopuleran selebgram yang panen haters :))


Materi minggu ini membahas facial attractiveness, body attractiveness, intelligence, dan parent-family factor dalam memprediksi popularitas individu. Di antara keempat prediktor itu, saya paling tertarik dengan parent-family factor. Tiga lainnya sudah pernah saya baca sebelumnya di kesempatan lain.

Pertanyaan paling dasar yang muncul selama kelas berlangsung adalah, "Apakah orang tua dengan kemampuan sosial (social skill) yang baik punya anak dengan kemampuan sosial yang baik juga?"

Menurut beberapa penelitian sih iya, nggak tau kalau menurut Mas Anang (krik).

Martha Putallaz (1987) yang melakukan penelitian tentang popularitas menggunakan anak-anak sebagai subjeknya menemukan hal menarik. Berbekal observasi pada interaksi para ibu di ruang tunggu, Martha bisa memprediksi popularitas anak yang terlibat dalam penelitian.

Ibu yang masuk dalam kategori populer cenderung memiliki anak dengan kategori yang sama. Hal ini terjadi karena kompetensi sosial orang tua memberikan pengaruh pada perilaku sosial anak. Orang tua dengan kemampuan sosial yang baik dapat memberikan wawasan tentang bagaimana anak sebaiknya menjalin pertemanan dengan sebayanya. Tidak hanya itu, orang tua dengan kemampuan sosial yang baik mampu untuk memberikan instruksi dan contoh yang mendukung proses pembelajaran anak.

Trus gimana dong nasib ibu yang nggak populer?

Dr. Mitch Prinstein menjelaskannya melalui penelitian dengan konsep social frame. Para ibu ditanya mengenai pengalamannya saat kanak-kanak, bagaimana mereka menilai diri mereka di antara sebayanya.

Jawaban yang didapatkan dikodekan menjadi tiga kategori: social frame positif, social frame negatif, dan anxious social frame. Ibu dengan social frame positif memang cenderung memiliki anak yang populer. 

Namun ternyata, ibu dengan social frame negatif dan anxious tidak selalu "ditakdirkan" memiliki anak yang "rejected" di pergaulan sebayanya. Pengalaman masa lalu yang tidak baik dapat menjadi motivasi para ibu agar anaknya tidak mengalami hal serupa. Akhirnya ibu-ibu yang termotivasi ini memberikan usaha ekstra untuk mendukung pergaulan anak-anaknya (misalnya dengan membantu anaknya meresolusi konflik yang terjadi dengan temannya).

Hasilnya, anak-anak ini bisa juga disukai teman-temannya meskipun dibesarkan oleh ibu yang dulu nggak populer amat. Keren ya?


Sumber gambar: https://www.pexels.com/photo/people-mother-daughter-silly-25410/

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting