Minggu, 19 Februari 2017

Psychology of Popularity: Week 3

Pos ini lanjutan dari sini.

Berakhirnya penjelasan mengenai metoda saintifik dalam melakukan studi tentang popularitas membuat saya lega. I am not really good in formula and numbers and I really adore ones who do :*

Bahasan minggu ketiga adalaaaaaaah tentang kenapa ada orang-orang yang lebih populer dibandingkan orang-orang pada umumnya.


Sebelum memulai kelas, Dr. Mitch Prinstein menjelaskan dulu apa yang dimaksud "populer" dalam kelas kali ini. Minggu sebelumnya sudah dibahas beda antara social preference dan social impact. Nah, definisi populer yang digunakan adalah yang social preference alias seberapa orang disukai oleh lingkungannya. Itu artinya kita nggak (atau belum?) ngomongin jenis populer seperti Awkarin atau Donald Trump yang banyak hatersnya.

Penelitian tentang popularitas yang dibahas menggunakan anak-anak sebagai subjeknya. Masih ingat lima kategori sociometric popularity? Nah, di penelitian ini juga masih menggunakan pembeda sesuai lima kategori itu.

Dari keseluruhan indikator perilaku yang diukur, ada beberapa yang menarik perhatian saya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di antara lima kategori yang ada, rejected kids adalah anak yang paling banyak melakukan inisiasi permainan dalam kelompok. Bahasa gampangnya sih, mereka paling sering ngajak main temennya.

Tapi rejected kids juga yang pada akhirnya paling sedikit diajak main oleh anak lain dalam kelompok.

Hal ini berbeda dengan data yang didapatkan dari popular kids. Anak dengan kategori ini tidak banyak menginisiasi permainan dalam kelompok, namun berakhir diajak main paling sering.

Lalu Dr. Mitch Prinstein mengajukan pertanyaan: "What did rejected kids do wrong?" yang akhirnya dia jawab sendiri. Yaiyalah, emangnya nonton Dora pake teriakin jawaban segala. 🙄

Anak-anak yang ada di kategori rejected biasanya tidak bisa "read the room" dengan baik. Contohnya gini, kalau anak lain sukanya main Lego, nah si anak ini ngajakinnya mewarnai. Kan nggak nyambung. Inget pernah punya temen kayak gini nggak sih zaman TK dulu?

Selain itu, rejected kids biasanya agresif. Agresif di sini bukan berarti mereka cenderung menjambak atau memukul, ya. Tapi saat mengajak, mereka bisa jadi seperti memaksa. Pada akhirnya nggak ada (atau sedikit) yang mau main sama mereka.

Selain menjabarkan hasil penelitian Dodge (1983) pada anak-anak, Dr. Mitch Prinstein juga menambahkan kalau hal lain yang menentukan populer atau tidaknya seseorang adalah norma sosial yang berlaku.


Sumber gambar: https://www.pexels.com/photo/child-holding-unicorn-toy-6191/

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting