Kamis, 16 Februari 2017

Psychology of Popularity: Week 1

Di waktu yang lumayan banyak luangnya karena belum menemukan pekerjaan baru, saya mengikuti salah satu kelas di coursera mengenai Psychology of Popularity.

Kenapa memilih kelas itu? Soalnya silabusnya menarik dan saya sedang banyak bertanya-tanya soal fenomena dalam konteks popularitas. Mulai awkarin, anya geraldine, sampai pilkada DKI, semuanya nggak lepas dari popularitas.


Disclaimer: Tulisan ini dibuat sebagai class summary dari course yang saya ikuti. Fungsinya hanya sebagai pengingat karena saya memang pelupa. Isinya bisa jadi hal-hal yang menarik bagi saya dan tidak utuh. Kalau mau wacana yang lengkap, silakan ikuti kelasnya sendiri ya.. 😉
Konsep popularitas ternyata sudah kita kenal sejak kita masih kanak-kanak. Meskipun nyatanya, orang-orang lebih sering mengasosiasikan popularitas dengan remaja. Mungkin karena individu pada fase hidup tersebut kebanyakan mendewakan popularitas. Bagi remaja, penting untuk mendapatkan ketenaran dan pengakuan sosial. Ada pandangan yang mengatakan, kecenderungan remaja untuk bergaul dengan sebayanya merupakan tahap persiapan menjadi dewasa dan mandiri.

Kehidupan orang dewasa juga tidak terlepas dari pengaruh popularitas. Pada kelasnya, Dr. Mitch Prinstein bahkan menganalogikan selebriti sebagai popular kids in adult highschool. Fenomena ini yang menjadi asal muasal munculnya celebrity endorser, semata karena orang dewasa menganggap penting tampilan, kegiatan, dan opini selebriti.

Pada kelas juga dibahas mengenai pendekatan evolusi terhadap popularitas. Popularitas yang dimaksud tidak terbatas pada popularitas individu saja namun juga popularitas pandangan atau isu tertentu. Saya juga jadi terpikir banyaknya sebaran hoax belakangan. Kecenderungan kita untuk percaya terhadap sesuatu yang dibagikan banyak orang (terlepas dari benar atau tidaknya) ternyata dapat dijelaskan dalam premis bahwa saat kita melihat banyak orang concern terhadap sesuatu, kita akan cenderung berpikir bahwa hal itu menarik dan penting. Dari sudut pandang evolusi, ini bisa jadi berasal dari pola hidup manusia awal yang berkelompok.

Secara sederhana, Dr. Mitch Prinstein mengatakannya, "Pull on the idea that it's popular and therefore that means it's good."


sumber gambar: https://www.pexels.com/photo/woman-in-black-shirt-and-black-sunglasses-carried-by-shoulder-among-crowd-during-daytime-42391/

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting