Sabtu, 22 April 2017

Kopi dengan Ben

Di tengah waktu mengopi dengan seorang teman dekat saya, ponselnya berdering. Setelah meminta maaf karena kami harus menunda obrolan, dia menerima panggilan. Saya mengangguk, lalu menyibukkan diri dengan ponsel saya sebentar. 

Beberapa menit, percakapan selesai. Dia menghela napas. 

"Siapa?" Ujar saya, penasaran.

Dia tersenyum miris, "Klien. Biasa."

"Oh." Saya merespon singkat. Tak bertanya lebih jauh, dia masih sibuk menggerakkan jari di layar ponsel.

"Aku telpon anak-anak dulu ya. Ada problem." Ben, teman saya--hampir selalu memanggil karyawan yang bekerja dengannya sebagai anak-anak. 

"Sure." Saya tersenyum mengerti. Lalu mengaduk es teh leci yang menganggur di meja.

Cukup lama sampai akhirnya teman saya ini meletakkan lagi ponselnya ke atas meja. Tanda dia siap kembali mengada untuk saya. "Udah." 

"Is everything okay, Ben?"

"Not really. Klien marah-marah karena ada fitur yang stuck. Bukan salah anak-anak juga. Fitur itu diminta cepat, sedangkan sebulan ini mereka udah lembur terus. Aku takut mereka sakit."

"Hm."

"Kenapa?"

"Kliennya marah ke kamu?" saya bertanya tak percaya. Pasalnya, Ben ini bukan orang dengan jabatan rendah di kantornya. "I mean, really?"

Giliran Ben tertawa, "Nggak begitu. Tapi memang bicara dengan nada nggak enak."

"Lalu kamu bisa bertanya baik-baik ke karyawanmu? Like it's not a big deal. Like it's not the client itself found the mistake."

"Ya aku bisa aja menelpon dengan marah-marah, trus apa? Apa mereka bisa berpikir lebih jernih? Apa masalahnya bisa cepat selesai? Kan nggak. Aku lebih baik pilih cara yang bisa menyelesaikan masalahnya, kan?"

"Iya, sih."

--

"Marah jarang sekali bisa menyelesaikan masalah." - Ben

Sabtu, 01 April 2017

Ajakan Surya

Jumat payah!

Dua klien mengubah jadwal meeting seenaknya, kakiku nyeri didera sepatu hak tinggi sembilan senti yang jadi tampilan wajib saat ada janji temu. Sambil merutuk dalam hati, aku menyeret kaki, kesal, menuju ke pool taksi sekitar dua puluh meter di depan.

"Kuningan ya, Pak." ujarku sesaat setelah duduk pada supir taksi yang mengangguk sopan.

PING -- notifikasi pesan di ponsel berbunyi.



"Movie tonight?"


Surya, pria yang pernah dekat denganku. Orang yang setahun ini mati-matian kuhindari. Bukan apa-apa, dia sudah bertunangan. Bahkan sebelum kami berhubungan khusus.



PING-- pesan dari Surya lagi.


"Aku akan tunggu di depan teaternya.
Whether you come or not.
Sampai tengah malam."

No. He must be joking.
Or not.

Aku tidak pernah bisa menebak Surya.

PING-- masih dari Surya.
Tak ada tulisan apa-apa, hanya peta lokasi.

Aku menarik napas dalam-dalam. Bimbang.

"Pak, kita jadi ke Plaza Senayan, ya."

Aku sama sekali tidak tahu maksud Surya dengan pertemuan ini. Tapi satu hal yang kuyakin, ini akan menyenangkan--atau setidak-tidaknya, tidak biasa. Aku tak menanyakan apa judul filmnya, tapi aku tahu aku akan menikmatinya. Bukan karena perasaan ajaib yang mengubah segala hal menjadi indah, tapi karena Surya merencanakannya.

That's him. That's Surya. 

Kecewa tidak akan pernah ada dalam kamusmu jika Surya merencanakan sesuatu untukmu. He is that good in reading people. You would be just an open book for him.

But that's also the problem about him.
He knows he is that good. He forgets that sometimes you may have bias.

Kami berpisah setelah pertengkaran demi pertengkaran yang menguras tenaga. Bukan karena aku merasa bersalah terhadap tunangannya. Bukan karena Surya sadar bahwa dia punya tunangan. Kami berpisah karena aku lelah meyakinkan Surya yang begitu percaya isi kepalanya sendiri.

Tentu dia marah. Dia merasa disia-siakan.
Dan tentu saja aku tak berhasil juga meyakinkan bahwa aku tidak menyia-nyiakannya. Aku tidak berhasil meyakinkan bahwa hatiku juga patah.

Dan menyerah.

Jakarta Jumat malam dan kesemrawutan lalu lintas. Aku menimbang ulang keputusan menemui Surya. Aku tidak takut jatuh cinta lagi pada Surya karena aku tahu aku sudah--dan masih. He is not that easy to be replaced. I have tried. Hard. 

Sekarang aku malah menebak-nebak sendiri apa yang akan terjadi setelah acara nonton usai nanti.

Would we kiss? Would we say goodbye awkwardly?
Or should I invite him to my place?

"Mall-nya sih di depan itu, Bu. Tapi macet banget. Kalau jalan pasti lebih cepat. Tapi gerimis." tiba-tiba suara supir taksi terdengar. Aku berdecak kesal.

Setelah mengecek argo dan memberi sejumlah uang, aku nekat keluar. Menerjang gerimis dengan hak tinggi dan kaki yang nyeri. Sesekali mendesis menahan sakit. Di belakang, mobil saling menglakson satu sama lain.

Rambutku lepek saat tiba di lobby mall. Kubersihkan sisa air hujan di blouse sekenanya, sensasi dingin dari pendingin ruangan terasa berkali lipat karena sebagian bajuku basah. Aku menahan diri agar tak menggigil dan menyiapkan senyum semanis mungkin.

Bioskop sudah di depan mata. Mengabaikan sakit pada telapak kaki dan betis, aku berjalan sesantai yang kubisa. Mataku tak lepas memeriksa sekeliling, kalau-kalau Surya sudah berdiri dengan kotak berondong jagung di tangan.

PING--pasti dari Surya.


"April mop, Sayang. You are the fool."

Senyum getir muncul di bibirku. Ada nyeri lain yang diam-diam menjalar di sekujur tubuh. Mataku panas dan mulai basah. Kugigit bibir kuat-kuat dan berjalan menuju kamar mandi terdekat.

He is that good in reading people. And I will never be able to read him.
He is right like he usually be. I am the fool.


Sumber gambar: https://www.pexels.com/photo/film-maker-machine-control-panel-27008/

Minggu, 26 Maret 2017

Menikah (dengan siapa) Itu Penting!

Sebulan lalu di media sosial saya, sempat bertebaran pos tentang pernikahan Selma dan Haqy Rais. Kalau kamu terlalu sibuk lembur dan nggak sempat mengikuti ceritanya boleh cek di link ini atau cari #HaqySelmaJourney di Instagram.

Sebelumnya saya mau disclaimer dulu kalau saya nggak masuk ke #timselma maupun #timsenna ya. Kalau ada salah satu pihak yang merasa dipojokkan karena pernyataan saya, tolong saya diingatkan. Jangan dirisak 🙃

Singkat cerita, Selma memilih Haqy sebagai pilihan yang menurutnya realistis.

Kisah begini pun dimanfaatkan penganut, "Pacaran lama-lama belum tentu menikah." sebagai salah satu testimoni(?) atau pembenaran(?).

Salah? Nggak lah.
Pacaran lama emang belum tentu menikah 😜
Yang menjamin udah pasti juga siapa, bro?

Banyak artikel pun menyematkan label "inspiratif" bagi kisah cinta Selma dan Haqy.
Apa iya? Hm. Tunggu dulu.



Banyak teman lelaki seumuran saya yang kontra dengan pilihan Selma. Mereka bisa jadi relate to the story dan berempati pada Senna, sang kekasih yang ditinggal Selma menikahi Haqy. Tapi yang saya kurang suka, mereka jadi berpikir seolah kami--para perempuan--sangat kebelet menikah sampai menganut, "Ya gue sih milih yang udah siap nikahin aja." lalu bisa serta merta melupakan komitmen pacaran yang sudah dibangun.

[Meskipun tanpa perayaan resmi dan disaksikan negara, berpacaran juga merupakan bentuk komitmen, lho.]

Di salah satu percakapan mengenai kasus Selma bersama dengan teman laki-laki yang misuh-misuh, saya bilang: "Ya namanya juga proritas, kan? Antara menikah dan menikah dengan siapa. Ada perempuan yang, yaudahlah gue maunya nikah. Kalau pacar gue nggak bisa dan ada yang bisa, ya nggak apa-apa. Gue ganti pasangan menikahnya. Selesai. Sebagian perempuan lain, gue merencanakan menikah dengan A. Kalau dia belum bisa afford it, ya gue adjust rencananya."

Kalau kamu (laki-laki) merencanakan menikah dengan pacar kamu sekarang tapi pacar kamu cita-citanya nikah doang, titik. Jangan kaget kalau pas ada orang lain yang bisa mewujudkan cita-citanya, kamu ditinggal.

Hehe.

Kalau kamu (perempuan) merencanakan menikah dengan pacar kamu sekarang tapi pacar kamu selingkuh di tengah jalan, jangan kaget. Iya, jangan. Tenang.

..diem-diem beli aja akun haters buat teror orangnya sampe stres.

Hehe.

Memutuskan menikah buat laki-laki itu berat, lho. Satu hal yang hampir sama dari hasil curhat teman-teman laki-laki saya, saking inginnya dia membahagiakan istrinya kelak, berapa pun jumlah uang yang dia kumpulkan jadi seolah tak pernah cukup.

Pertama mikirin rumah, udah cukup beli rumah, mikirin mobil, udah cukup beli mobil, mikirin asuransi kesehatan dan pendidikan anak. Gitu aja terus sampe duitnya cukup buat mudik lebaran naik pesawat jet.

..atau ya, duitnya belum cukup, udah keburu ditinggal nikah sama pacarnya. Hiks.

Makanya saya nggak habis pikir sama prasangka dari perempuan-perempuan yang bilang kalau laki-laki yang belum siap menikahi tandanya nggak serius. Lha wong, laki-laki di lingkar pergaulan saya yang punya pacar serius dan belum menikah karena memang lagi kerja siang malam demi mewujudkan cita-cita menikah dia dan pasangannya.

Mungkin saya kebanyakan berteman dengan laki-laki yang "baik" menurut society kali, ya?

Tapi kalau memang kamu sebagai pasangan "curiga" belum juga dinikahi karena dia hanya main-main sama kamu..

..I am sorry for you, kenapa kualitas kepercayaanmu serendah itu. Kenapa kok bisa seburuk itu berprasangka pada pasanganmu 😢. Apa sebaiknya kamu ganti pacar dulu sebelum berpikir untuk menikah?

Menurut saya, hal yang harus benar-benar diingat, menikah itu bukan tujuan. Menikah, seperti juga hubungan sebelumnya, juga merupakan perjalanan. Di dalamnya akan ditemui banyak kesulitan dan (semoga) kemudahan. Selain butuh kesiapan diri dan pasangan, butuh juga ikatan batin yang menguatkan.

Kalau bagi Selma Haqy adalah pilihan yang realistis karena tak membuatnya menunggu lebih lama lagi, go ahead girl. You have your right to decide.

Bagi saya pribadi, pilihan realistis adalah memutuskan menikah dengan orang yang benar-benar saya percaya motifnya dan saya kenal pribadinya.

At the end, we do get what we deserve.
Because karma works, darling.



Sumber gambar: https://www.pexels.com/photo/woman-wearing-white-long-sleeve-dress-holding-pink-wedding-bouquet-70291/

Sabtu, 25 Maret 2017

Boleh nggak, Pak Ustadz?

Di perjalanan umrah kemarin, saya mendapatkan pengalaman yang berharga sekali. Bukan, ini bukan soal keajaiban spiritual atau ilham yang tiba-tiba datang. Ini pengalaman biasa, tapi menurut saya satu dari beberapa yang worth to share.

Sebelum memulai umrah, jamaah dikumpulkan sehari sebelumnya untuk briefing. Dalam kesempatan ini, Ustadz yang mendampingi grup perjalanan kami menjelaskan beberapa hal seperti apa sih fungsi umrah, umrah itu ngapain aja, apa aja syaratnya, dan lain-lain.



Lalu tibalah di penjelasan "keadaan ihram". Keadaan ihram adalah situasi di mana kita sudah memakai baju ihram dan siap melaksanakan umrah. Pada keadaan ini berlaku beberapa larangan yang apabila dilanggar bisa mengurangi keabsahan umrah atau membatalkan ihram.

Salah satu larangannya misalnya adalah memakai wewangian setelah berbaju ihram.

Sederhana, kan?

Tapi nggak bagi grup perjalanan saya. Pertanyaan yang kemudian muncul seperti:
"Pak Ustadz, kalau wewangian dipakai sebelumnya boleh?"
"Kalau deodoran gimana, Pak Ustadz?"
"Ustadz, kalau parfumnya apakah harus non alkohol?"

Saya bisa paham kalau semua orang dalam grup pasti ingin umrahnya sah. Ya iya lah, setelah perjalanan berjam-jam dengan pesawat terbang dan pengorbanan materi yang sudah dilakukan, siapa yang ingin kalau umrahnya jadi batal. Maka dari itu pertanyaan yang diajukan menjadi sangat spesifik.

Ustadz tersenyum, seperti yang beliau sering lakukan dalam membimbing perjalanan kami. Setelah menjawab satu-satu pertanyaan yang ada, beliau tambahkan penjelasan, "Bapak dan Ibu sekalian, perlu diingat bahwa ini adalah larangan setelah memakai baju ihram. Kalau sebelumnya mau memakai, silakan saja. Umrah ini mengajarkan ini untuk jadi apa adanya. Maka dari itu, setelah ihram, kegiatan yang sifatnya tidak perlu atau hanya mempercantik, memperindah, memperwangi-lah yang tidak boleh dilakukan."

Saya manggut-manggut, cukup puas dengan batasan yang diberikan oleh Ustadz. Tapi lalu (masih) muncul pertanyaan semacam:

"Pak kalau cuci tangan pakai sabun ada wanginya, boleh?"
"Pak, kalau pakai tisu basah yang ada wanginya apakah menjadi batal ihramnya?"
"Kalau yang bawa anak kecil lalu bajunya terkena najis, bagaimana cara membersihkannya ya, Pak Ustadz?"

Saya pikir, Ustadz akan menanggapi seperti dosen saya menanggapi pertanyaan. Saya pikir beliau akan bilang, "Coba bapak ibu pikir, apakah kegiatan yang ditanyakan termasuk dalam mempercantik, memperindah, memperwangi? Kalau nggak, ya sudah lakukan aja."

Hehe. Nggak mungkin juga, sih.

Intinya, semua pertanyaan dijawab dengan cara yang baik oleh Ustadz. Serius, semua. Bahkan sampai pertanyaan seperti, "Pak Ustadz, kalau laki-laki memakai ihram kan tidak boleh memakai celana berjahit, ya? Kalau saya pakai pampers berarti boleh?"

Iya, beberapa pertanyaan memang agak ajaib.

Usut punya usut, ternyata Ustadz yang mendampingi grup perjalanan saya ini kuliah di luar negeri dan currently bekerja sebagai dosen (selain pembimbing jamaah untuk umrah dan haji).

Hal ini berbeda dengan beberapa Ustadz yang pernah saya temui dan benar-benar membekas di ingatan saya. Membekas bukan karena impresi baik, sayangnya.

Misalnya Ustadz yang pernah diundang keluarga besar saya saat buka puasa bersama. Saat saya menanyakan kultur bangun membangunkan sahur yang mungkin mengganggu orang beragama lain dan bagaimana kita sebagai umat muslim sebaiknya menyikapi, dijawab dengan, "Bagi mereka (umat agama lain) itu juga merupakan hiburan. Mereka malah rindu kalau nggak mendengar suara itu. Lagipula ini kan kegiatan mayoritas, kalau sampeyan (kamu .red) merasa terganggu, ya sampeyan minggat (pergi .red) aja dari sini."

Meskipun menggunakan kata "mungkin" pada pertanyaannya, saya sebenarnya sudah punya beberapa teman dengan agama lain yang beneran terganggu. Well, saya juga terganggu sih.

Ustadz yang mengangkat isu mayoritas-minoritas dan menutup penjelasan (yang berupa opini dia sendiri) dengan "kalo lo ngga suka, ya lo pergi aja" benar-benar membuat saya ilfeel.

Ilfeel-nya mirip-mirip lah sama ngeliat cowok ngomong kasar ke pelayan restoran.

Menurut saya yang awam soal agama dan termasuk pengikut "banyak tanya" dan "banyak rewel", Ustadz seperti pendamping perjalanan umrah kemarin banyak dibutuhkan. Ustadz yang ramah, bahkan dalam menjawab pertanyaan yang dianggap remeh bagi kebanyakan orang.

Lagi pula, gimana mau membuat orang respect kalau kita hanya marah-marah, kan?


Sumber gambar: https://www.pexels.com/photo/woman-in-brown-trench-coat-wearing-white-hijab-196753/

Jumat, 10 Maret 2017

Surga di Telapak Kaki Ibu (Rumah Tangga?)

Saya ingat sekali, waktu itu kumpul keluarga besar di Hari Raya Idul Fitri. Ibu saya--yang saya panggil Mama, duduk bersama saudara-saudara perempuan yang lain. Saya yang kurang tertarik dengan pembicaraan yang sifatnya keibu-ibuan, duduk manis bersama gawai saya.

..dan setoples nastar.

Lalu entah bagaimana ceritanya, topik pembicaraan jadi menyoal tepung bumbu. Membandingkan rasa dan merk tepung bumbu, sepertinya. Tak terdengar suara Mama turut menanggapi, saya tahu beliau nggak mengerti dengan topiknya.

Lalu muncul celetukan, "Ya iyalah, mana Dik Yuyun (nama Mama saya) ngerti. Dik Yuyun kan sibuk kerja terus. Nggak hafal soal dapur."

Saya menoleh, mencari sumber suara lalu mengecek ke arah Mama yang saat itu hanya tersenyum simpul. Meskipun tidak ada kata apapun yang keluar, saya yakin kalau kalimat semacam itu sensitif bagi beliau.



Di kesempatan setelahnya, saya berusaha menghibur Mama dengan berkata cuek, "Ah, tepung bumbu nggak ada pentingnya. Semua merk sama aja. Banyak MSG."

Not a good one, but at least I tried.

Sejak saya duduk di bangku SMP, saya sudah mulai sadar kalau Ibu yang bekerja bukanlah peran "default" perempuan yang diharapkan oleh lingkungan sekitar saya. Teman sebangku saya berkali-kali bertanya, "Lo kurang kasih sayang nggak?" karena Mama saya bekerja dan rajin dinas luar kota.

Saya tentu nggak mengerti, soalnya saya nggak merasa kurang perhatian--apalagi kasih sayang--kala itu. Mama saya masih sempat lho mengajari saya soal persamaan aljabar. Ini berlanjut sampai ke SMA, persoalan kalkulus dan dimensi tiga yang saya benar-benar bebal, masih bisa dikerjakan Mama sambil ngomel, "Haduuuuh kamu kok gini aja nggak bisa sih, Mbak." 😛

Bedanya, teman sebangku SMA saya, ibunya juga bekerja. Bahkan teman saya ini militan banget membela ibu bekerja. Kalau ada yang nanya dia mau jadi ibu bekerja atau ibu rumah tangga, jawabnya: "Gue mau kerja, lah. Ngapain jadi ibu rumah tangga, kerjanya cuma gosip di bawah pohon mangga doang."

[kalau kamu sedang membaca ini, tahan diri untuk nggak emosi dengan pernyataan anak SMA barusan ya]

Saya sejak dulu juga bercita-cita jadi perempuan bekerja. Kenapa? Soalnya dengan Mama sebagai role model, saya dulu nggak terpikir jalan hidup yang lain. Haha receh banget ya alasannya.

Semakin dewasa, saya jadi merasa perlu "meluruskan" niat dan alasan terhadap jalan yang akan saya tempuh. Maka dari itu, saya akhirnya bertanya ke Mama, "Ma, kenapa sih kok Mama bekerja?"

"Karena kita ndak tau nasib di depan itu seperti apa, Nduk."

Mama lalu mengulang cerita bagaimana ibunya (eyang putri saya) pontang-panting membiayai enam anak saat suaminya meninggal. Tanpa berprasangka buruk pada Allah, Mama mempersepsikan pekerjaannya sekarang adalah bentuk usaha dalam menjaga amanah Allah, berupa keluarga dan kami, anak-anaknya.

Saya mengamini alasan Mama. Meskipun punya motif aktualisasi diri juga dalam cita-cita saya bekerja. Di balik keyakinannya soal ikhtiar ini, saya juga tahu kadang Mama merasa bersalah saat waktunya untuk kami terpaksa disalip pekerjaan. Sekali dua kali muncul pertanyaan, "Mama sibuk banget ya?" atau penyataan "Maafin Mama ya, Mama sibuk."

Kami, anak-anak yang kurang sensitif ini cuma cengar-cengir santai. Kadang saat pekerjaan Mama sedang banyak-banyaknya dan rindu berkumpul, kami jadikan ruangan Mama di kantor selayaknya ruang keluarga. Membawa selusin donat dan obrolan-obrolan hangat.

Because she smiles brighter when we are around and we love that smile so friggin much.

Sebagai perempuan yang dulu pernah beberapa kali berpacaran saat kuliah dan (sok) punya orientasi menikah, topik ini juga masuk ke percakapan saya dan Mas Pacar. Sejauh ini sih, saya belum pernah punya pacar yang keberatan saya bekerja, apalagi sampai melarang. Dengan alasan yang berbeda-beda--mulai dari demi pemasukan rumah tangga yang lebih baik sampai supaya saya makin pintar--keinginan saya bekerja didukung penuh oleh Mas Pacar.

Salah satunya malah bilang gini, "Kamu disuruh di rumah aja? Bisa gila kayaknya. Trus kalau kamu gila, aku juga gila. Nikah biar sama-sama gila, buat apa?"

Hehe.



Seusai lulus dan menyandang gelar freelancer beberapa lama, saya jadi akrab dengan tugas domestik. Awal-awal memulai tugas domestik, saya paksakan bangun pagi meski semalam tidur larut. Kalau terlanjur bekerja sampai pagi, ya saya hilangkan jatah tidur malam saya.

Awal-awal doang.
Saya menyerah pada sakit kepala sepanjang hari. Boro-boro mau ngurusin rumah, tetap waras aja rasanya susah. Saya kemudian kembali pada siklus ngalong yang sudah jadi teman saya bertahun kuliah.

Sering saya mengerjakan tugas rumah sambil bersungut dan mikir, "Oh gini ya rasanya jadi IRT (Ibu Rumah Tangga)." yang tak lupa diikuti dengan pikiran, "Kayaknya gue ngga bakal sanggup."

HAHAHA.

Ya iyalah, IRT ideal kan tugasnya menyiapkan keperluan hampir semua orang, memastikan rumah berjalan sesuai fungsi, dan yang paling sulit--menentukan menu makanan tiap hari.

Lha wong saya scrolling menu go-food yang udah jelas aja masih suka pusing milihnya.

Tapi teman-teman kuliah saya yang perempuan, sudah menikah, dan memutuskan jadi IRT tetap nggak kalah keren dengan yang teman-teman lajang yang memutuskan untuk bekerja. Saya nggak ingat sih punya teman kuliah yang menikah dan memutuskan bekerja.

Mereka rajin sharing tentang tips psikologi dalam konteks rumah tangga juga untuk membantu orang lain. Menulis berdasarkan keilmuan dan pengalaman, ya. Bukan nulis curhatan setrikaan numpuk atau posting foto anak seabrek-abrek yang kurang berfaedah.

..dan saya yakin mereka melakukan itu di tengah repotnya mengurus urusan domestik mereka. Salut. Doa baik bagi mereka.

Menurut hemat saya, keputusan untuk bekerja atau menjadi Ibu Rumah Tangga sebaiknya kita serahkan saja pada yang bersangkutan. Setinggi apapun latar belakang pendidikannya, saya yakin nggak ada yang sia-sia dari ilmu pengetahuan.

Pernyataan-pernyataan bego semacam, "Kuliah tinggi-tinggi kok ngurus rumah doang." atau "Nggak sayang gelarnya?" sebaiknya tidak diucapkan. Oh ya, pernyataan yang sama kurang cerdasnya seperti, "Nggak kasihan sama anak ditinggal kerja?" atau "Ibu itu harusnya mengurus rumah." juga nggak perlu lah diumbar.

Lagipula, kita nggak pernah tahu ada apa sepenuhnya di balik keputusan dalam hidup seseorang. Ibu Rumah Tangga maupun Ibu Bekerja, tetap ada surga di telapak kakinya.


Sumber gambar:
https://www.pexels.com/photo/flower-pink-peony-blouse-112324/
https://www.pexels.com/photo/couple-smiling-behind-books-70252/

Senin, 06 Maret 2017

Bahagia Menikah Lagi

"Memangnya mengurus perceraian itu susah, ya?" tanya saya saat sedang makan malam bersama beberapa orang teman. "Kok kata si X (teman saya yang cuitannya sedang saya baca), ribet sih ngurus cerai?"

Lalu jawaban-jawaban bersahutan: "Prosesnya emang panjang sih katanya." "Bukannya itu tuh ada mediasi pengadilan dulu ya?" "Ah, ngga susah kali. Temen lo aja yang ngebet mau nikah lagi."

Teman-teman semeja saya saat itu sebagian belum menikah, sebagiannya lagi masih menikah, jadi maklum kalau pertanyaan saya malah jadi ajang "katanya" dan "kayaknya".


Di antara orang-orang yang kemudian bercerai, sebagian ada yang menikah lagi. Buat saya sih nggak masalah. Lha iya, wong hidup juga hidup mereka. Saya kan nggak ikutan patungan buat resepsinya.

..gimana mau urusin resepsi orang, ini resepsi sendiri aja nggak jelas kapan.

Hehe. Bercanda deng!

Tapi sungguh, buat saya itu bukan masalah. Ketimbang habis cerai trus menikah lagi, lebih bermasalah orang yang diam-diam menikah lagi, sih, menurut saya. Ehm.

Makanya saya nggak habis pikir dengan orang-orang yang iseng banget bergunjing, "Ih kok dia cepet banget sih nikah laginya?" "Ih kok resepsinya nggak ngundang banyak orang, sih? Malu kali ya?"

Doh. Dia nikah lagi, bukan korupsi. Apanya yang memalukan, sih?

Barangkali mempelai ingin hari pernikahannya dihadiri oleh orang yang memang benar berarti bagi mereka. Barangkali mempelainya mau liburan ke Maldives dan harus atur anggaran. Sah aja, kan?

Beberapa orang yang saya tahu menikah lagi, toh bahagia-bahagia aja hidupnya. Bahkan mereka mengaku lebih bahagia dibandingkan saat mereka menjalani pernikahan sebelumnya. Jadi, di mana letak masalahnya?

..mungkin terletak di hati orang-orang yang iri karena pernikahannya sendiri nggak bahagia.

Memang butuh hati lapang untuk berbahagia atas kebahagiaan orang lain. Apalagi di saat kita merasa tidak bahagia dan tidak berani mengusahakan kebahagiaan kita sendiri.

Sumber gambar: https://www.pexels.com/photo/food-couple-sweet-married-2226/

Sabtu, 25 Februari 2017

"Happy?"

Baru saja melihat video di Instagram, seorang selebgram menghadiahi istrinya sebuah MacBook Pro yang baru. Itu lho, MacBook yang ada Touch Bar-nya. Bukan, pos ini bukan membahas spesifikasi MacBook yang baru. Saat video hampir berakhir, sebuah pertanyaan tertangkap telinga saya.

Pertanyaan yang ditanyakan oleh si pemberi hadiah ke istrinya, "Happy?"

Lalu istrinya menjawab dengan senyum sumringah, "Happy!"


Pertanyaan yang paling melekat di kepala saya sejak kecil seusai menerima hadiah adalah, "Bilang apa dong?" yang kemudian saya jawab dengan, "Terima kasih." sambil tersenyum manis. Mungkin didikan tersebut memang tepat, pada saatnya. Namanya juga anak kecil, harus berulang kali diingatkan agar bisa menginternalisasi perilaku jadi kebiasaan.

Lalu suatu hari eks-pasangan saya menghadiahi saya sesuatu. Meskipun lupa hadiahnya apa, saya seeeenang sekali. Saya buka bungkus plastiknya perlahan karena takut dusnya rusak. Lalu dia bertanya, "Senang?"

Saya menghentikan aktivitas, "Eh. Maaf aku lupa. Thank you." ujar saya malu, merasa ditegur karena lupa berterima kasih.

Laki-laki di depan saya ini dahinya lantas berkerut, bingung. Namun kemudian mengerti maksud saya. Kecerdasannya sering berguna untuk mendeduksi pola perilaku saya yang sepertinya tampil berulang kali. "Aku nggak menyindir. Aku bertanya. Kamu senang dengan hadiahnya?"

"Senang. Senaaaang sekali."

"Good. Soalnya kuberikan bukan supaya kamu berterima kasih padaku, Dear. Aku memberimu hadiah supaya kamu senang."

Lagi-lagi saya tersenyum. Dipikir-pikir benar juga ya, tujuan memberi hadiah kan supaya menyenangkan penerimanya. Maksudnya hadiah-hadiah yang tulus bagi orang terdekat, bukan hadiah normatif yang dipesan semata demi beramah-ramah dengan kolega. Kalau penerimanya sudah senang, tercapailah maksud kita memberikan hadiah.

Lain kali memberi hadiah, saya juga mau tanya hal yang sama, ah!

"Senang?"


Sumber gambar: https://www.pexels.com/photo/sunset-girl-women-photography-17694/

Psychology of Popularity: Week 4

Pos ini lanjutan dari sini

Akhirnya rasa malas melanda juga dalam menyelesaikan materi minggu ini :')

Masih dengan topik yang sama seperti minggu lalu, minggu ini Dr. Mitch Prinstein membahas tentang mengapa ada orang-orang yang lebih populer dibandingkan orang-orang pada umumnya.


Saya merasa harus memberikan disclaimer (lagi) nih soal definisi populer yang dimaksud. Sampai sekarang, definisi populer adalah social preference ya, BUKAN social impact. Buang jauh-jauh contoh kepopuleran selebgram yang panen haters :))


Materi minggu ini membahas facial attractiveness, body attractiveness, intelligence, dan parent-family factor dalam memprediksi popularitas individu. Di antara keempat prediktor itu, saya paling tertarik dengan parent-family factor. Tiga lainnya sudah pernah saya baca sebelumnya di kesempatan lain.

Pertanyaan paling dasar yang muncul selama kelas berlangsung adalah, "Apakah orang tua dengan kemampuan sosial (social skill) yang baik punya anak dengan kemampuan sosial yang baik juga?"

Menurut beberapa penelitian sih iya, nggak tau kalau menurut Mas Anang (krik).

Martha Putallaz (1987) yang melakukan penelitian tentang popularitas menggunakan anak-anak sebagai subjeknya menemukan hal menarik. Berbekal observasi pada interaksi para ibu di ruang tunggu, Martha bisa memprediksi popularitas anak yang terlibat dalam penelitian.

Ibu yang masuk dalam kategori populer cenderung memiliki anak dengan kategori yang sama. Hal ini terjadi karena kompetensi sosial orang tua memberikan pengaruh pada perilaku sosial anak. Orang tua dengan kemampuan sosial yang baik dapat memberikan wawasan tentang bagaimana anak sebaiknya menjalin pertemanan dengan sebayanya. Tidak hanya itu, orang tua dengan kemampuan sosial yang baik mampu untuk memberikan instruksi dan contoh yang mendukung proses pembelajaran anak.

Trus gimana dong nasib ibu yang nggak populer?

Dr. Mitch Prinstein menjelaskannya melalui penelitian dengan konsep social frame. Para ibu ditanya mengenai pengalamannya saat kanak-kanak, bagaimana mereka menilai diri mereka di antara sebayanya.

Jawaban yang didapatkan dikodekan menjadi tiga kategori: social frame positif, social frame negatif, dan anxious social frame. Ibu dengan social frame positif memang cenderung memiliki anak yang populer. 

Namun ternyata, ibu dengan social frame negatif dan anxious tidak selalu "ditakdirkan" memiliki anak yang "rejected" di pergaulan sebayanya. Pengalaman masa lalu yang tidak baik dapat menjadi motivasi para ibu agar anaknya tidak mengalami hal serupa. Akhirnya ibu-ibu yang termotivasi ini memberikan usaha ekstra untuk mendukung pergaulan anak-anaknya (misalnya dengan membantu anaknya meresolusi konflik yang terjadi dengan temannya).

Hasilnya, anak-anak ini bisa juga disukai teman-temannya meskipun dibesarkan oleh ibu yang dulu nggak populer amat. Keren ya?


Sumber gambar: https://www.pexels.com/photo/people-mother-daughter-silly-25410/

Minggu, 19 Februari 2017

Psychology of Popularity: Week 3

Pos ini lanjutan dari sini.

Berakhirnya penjelasan mengenai metoda saintifik dalam melakukan studi tentang popularitas membuat saya lega. I am not really good in formula and numbers and I really adore ones who do :*

Bahasan minggu ketiga adalaaaaaaah tentang kenapa ada orang-orang yang lebih populer dibandingkan orang-orang pada umumnya.


Sebelum memulai kelas, Dr. Mitch Prinstein menjelaskan dulu apa yang dimaksud "populer" dalam kelas kali ini. Minggu sebelumnya sudah dibahas beda antara social preference dan social impact. Nah, definisi populer yang digunakan adalah yang social preference alias seberapa orang disukai oleh lingkungannya. Itu artinya kita nggak (atau belum?) ngomongin jenis populer seperti Awkarin atau Donald Trump yang banyak hatersnya.

Penelitian tentang popularitas yang dibahas menggunakan anak-anak sebagai subjeknya. Masih ingat lima kategori sociometric popularity? Nah, di penelitian ini juga masih menggunakan pembeda sesuai lima kategori itu.

Dari keseluruhan indikator perilaku yang diukur, ada beberapa yang menarik perhatian saya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di antara lima kategori yang ada, rejected kids adalah anak yang paling banyak melakukan inisiasi permainan dalam kelompok. Bahasa gampangnya sih, mereka paling sering ngajak main temennya.

Tapi rejected kids juga yang pada akhirnya paling sedikit diajak main oleh anak lain dalam kelompok.

Hal ini berbeda dengan data yang didapatkan dari popular kids. Anak dengan kategori ini tidak banyak menginisiasi permainan dalam kelompok, namun berakhir diajak main paling sering.

Lalu Dr. Mitch Prinstein mengajukan pertanyaan: "What did rejected kids do wrong?" yang akhirnya dia jawab sendiri. Yaiyalah, emangnya nonton Dora pake teriakin jawaban segala. 🙄

Anak-anak yang ada di kategori rejected biasanya tidak bisa "read the room" dengan baik. Contohnya gini, kalau anak lain sukanya main Lego, nah si anak ini ngajakinnya mewarnai. Kan nggak nyambung. Inget pernah punya temen kayak gini nggak sih zaman TK dulu?

Selain itu, rejected kids biasanya agresif. Agresif di sini bukan berarti mereka cenderung menjambak atau memukul, ya. Tapi saat mengajak, mereka bisa jadi seperti memaksa. Pada akhirnya nggak ada (atau sedikit) yang mau main sama mereka.

Selain menjabarkan hasil penelitian Dodge (1983) pada anak-anak, Dr. Mitch Prinstein juga menambahkan kalau hal lain yang menentukan populer atau tidaknya seseorang adalah norma sosial yang berlaku.


Sumber gambar: https://www.pexels.com/photo/child-holding-unicorn-toy-6191/

Sabtu, 18 Februari 2017

Tepat Sebelum Es Serutku Habis


Aku menyendokkan es serut ke mulut cepat-cepat. Sesekali menuangkan cairan sirup yang diberikan terpisah, juga memilah beberapa potong buah manis yang ada di puncak gunungan esnya.

Kamu tersenyum, "Gini, dong."

Suaramu menginterupsi. Aku menghentikan kegiatan dan menatap lurus, tak mengerti. "Apa?"

"Jangan nangis."

Aku tersenyum kecut. Mengingat sekitar sejam lalu aku masuk ke mobilmu sesenggukan. Pertanyaan, "Kenapa, Sayang?" kujawab dengan tangis lebih keras dan penjelasan terbata-bata. Sebenarnya aku tak yakin kamu mendengar jelas permasalahan yang kuutarakan, tapi sesekali kamu mengangguk, menyetir mobil perlahan menyusuri jalan-jalan sepi di komplek perumahan.

Kita tak punya tujuan. Kita tidak sedang menuju kemana-mana.

Saat airmataku surut, baru kamu kembali bertanya, "Mau makan es krim?" yang dilanjutkan dengan, "Mau es krim apa? Ingat tempat es serut yang waktu itu kita makan? Mau makan di sana, nggak?"

Lalu aku mengangguk. Ini musim hujan, hampir tiap malam hujan turun deras, menyisakan jalanan basah pagi-pagi. Tapi, siapa juga di antara kita yang peduli, kan?

Makan es krim di musim hujan tak ada apa-apanya dibanding hal nyeleneh lain yang pernah kita lalui dan lakukan. Saat itu tentang aku dan kamu, segala aturan dan urusan menjadi tak signifikan.

"Hey, Cantik!" ucapmu sembari merapikan rambut ke belakang telingaku, khawatir jatuh ke mangkok yang isinya kini mulai mencair.

Aku menyudahi lamunan. "Aku juga nggak mau sering menangis."

"Bagus." Ada cubitan kecil di daguku. "Tapi kalau cuma keinginan saja, tidak cukup. Izinkan banyak hal masuk ke hidupmu. Kurangi kadar kepentingan orang-orang yang lebih sering menyakiti ketimbang membahagiakan."

Mendengar kalimatmu, aku mengangguk lekas. "Tentu."

"Dan yang paling penting..."

"Ya?" Aku menoleh, menunda penyelesaian es serut di mangkokku.

"Berikan kesempatan bagi yang sungguh-sungguh mau membahagiakanmu."


Sumber gambar: https://www.pexels.com/photo/dessert-234717/

Jumat, 17 Februari 2017

Psychology of Popularity: Week 2

Pos ini merupakan lanjutan dari sini.

Setelah kelas minggu sebelumnya membahas tentang perkenalan apa itu popularitas, apa pentingnya, dan bagaimana popularitas bisa berpengaruh dalam hidup kita. Kelas minggu kedua membahas tentang bagaimana kita memelajari popularitas secara saintifik.

Sebenarnya ini isu yang cukup sering dibahas di dunia per-psikologi-an sih. Tiap kali mau membahas pembuatan alat ukur, mahasiswa psikologi pasti kenyang banget dengan pertanyaan, "Bagaimana kamu yakin kalau hal itu menggambarkan hal yang memang kamu mau ukur?"

Meskipun pertanyaannya tentang "yakin" tentu harus dijawab secara ilmiah, harus dapat dibuktikan, dan nggak boleh bawa-bawa ayat suci.


Selain membahas mengenai alternatif report method yang digunakan untuk mengumpulkan data, kelas juga mengenalkan lima kategori Sociometric Popularity. Lima kategori ini diambil berdasarkan area dalam diagram berdasarkan skor Social Impact dan Social Preference. Lima kategori tersebut adalah: Popular, Neglected, Rejected, Controversial, dan Average. 

Studi mengenai popularitas ternyata sudah dilakukan pukul 1983 oleh Coie & Kupersmidt. Mereka membentuk kelompok dari hasil permutasi anak sesuai kategori sociometric popularity dari sekolah yang berbeda-beda. Sehingga dalam tiap kelompok permainan terdapat anak-anak dengan sociometric popularity yang berbeda-beda namun tidak saling mengenal sebelumnya karena beda sekolah.

Setiap minggu, anak-anak ini diberikan waktu main selama satu jam. Setelah waktu main selesai, peneliti mengumpulkan data yang tujuannya melihat apakah kategori asal (di sekolah masing-masing) berkorelasi dengan kategori baru (di kelompok main eksperimen). Selama dua minggu penelitian dilakukan, peneliti tidak menemukan apapun. Ini artinya tidak ada korelasi yang jelas mengenai dua hal tersebut.

Tapi di minggu ketiga, peneliti menemukan bahwa ada kecenderungan anak kembali pada kategori asalnya. Anak yang populer di sekolah, juga menjadi anak yang populer di kelompok main eksperimen. Penelitian terus berjalan dan hal ini semakin kuat terlihat.

Dr. Mitch Prinstein menjelaskan ini sebagai jawaban dari kasus orang tua yang merasa anaknya mengalami kesulitan bergaul dan merasa perlu memindahkan anaknya ke sekolah baru. Menurut hasil penelitian Coie & Kupersmidt (1983), hal tersebut bukan penyelesaian yang efektif.


sumber gambar: https://www.pexels.com/photo/young-woman-thinking-with-pen-while-working-studying-at-her-desk-6384/

Kamis, 16 Februari 2017

Psychology of Popularity: Week 1

Di waktu yang lumayan banyak luangnya karena belum menemukan pekerjaan baru, saya mengikuti salah satu kelas di coursera mengenai Psychology of Popularity.

Kenapa memilih kelas itu? Soalnya silabusnya menarik dan saya sedang banyak bertanya-tanya soal fenomena dalam konteks popularitas. Mulai awkarin, anya geraldine, sampai pilkada DKI, semuanya nggak lepas dari popularitas.


Disclaimer: Tulisan ini dibuat sebagai class summary dari course yang saya ikuti. Fungsinya hanya sebagai pengingat karena saya memang pelupa. Isinya bisa jadi hal-hal yang menarik bagi saya dan tidak utuh. Kalau mau wacana yang lengkap, silakan ikuti kelasnya sendiri ya.. 😉
Konsep popularitas ternyata sudah kita kenal sejak kita masih kanak-kanak. Meskipun nyatanya, orang-orang lebih sering mengasosiasikan popularitas dengan remaja. Mungkin karena individu pada fase hidup tersebut kebanyakan mendewakan popularitas. Bagi remaja, penting untuk mendapatkan ketenaran dan pengakuan sosial. Ada pandangan yang mengatakan, kecenderungan remaja untuk bergaul dengan sebayanya merupakan tahap persiapan menjadi dewasa dan mandiri.

Kehidupan orang dewasa juga tidak terlepas dari pengaruh popularitas. Pada kelasnya, Dr. Mitch Prinstein bahkan menganalogikan selebriti sebagai popular kids in adult highschool. Fenomena ini yang menjadi asal muasal munculnya celebrity endorser, semata karena orang dewasa menganggap penting tampilan, kegiatan, dan opini selebriti.

Pada kelas juga dibahas mengenai pendekatan evolusi terhadap popularitas. Popularitas yang dimaksud tidak terbatas pada popularitas individu saja namun juga popularitas pandangan atau isu tertentu. Saya juga jadi terpikir banyaknya sebaran hoax belakangan. Kecenderungan kita untuk percaya terhadap sesuatu yang dibagikan banyak orang (terlepas dari benar atau tidaknya) ternyata dapat dijelaskan dalam premis bahwa saat kita melihat banyak orang concern terhadap sesuatu, kita akan cenderung berpikir bahwa hal itu menarik dan penting. Dari sudut pandang evolusi, ini bisa jadi berasal dari pola hidup manusia awal yang berkelompok.

Secara sederhana, Dr. Mitch Prinstein mengatakannya, "Pull on the idea that it's popular and therefore that means it's good."


sumber gambar: https://www.pexels.com/photo/woman-in-black-shirt-and-black-sunglasses-carried-by-shoulder-among-crowd-during-daytime-42391/

Selasa, 14 Februari 2017

Si Cengeng Pertama Kali ke Puskemas


Linimasa saya pernah ramai perkara berita sidak Pak Zumi Zola ke Rumah Sakit Umum Raden Mattaher.
*Bagi yang tidak mengetahui beritanya boleh cek di sini atau sini
Mungkin karena cukup banyak berteman dengan tenaga kerja medis, jadi pos yang bertebaran adalah pos yang sifatnya kontra dengan Pak Zumi Zola. Mulai dari yang protes soal kompensasi tenaga kerja medis yang tak sesuai dengan tuntutan kerjanya, curhat bagaimana lelahnya bekerja di rumah sakit, sampai yang isinya nggak santai dan marah-marah.

Sebagai orang yang skeptis terhadap kerja pemerintah (yes, I admit that), saya juga sering sekali menganggap aksi pejabat di depan kamera adalah ganjen belaka (bentar, itu skeptis apa suudzon?). 😆

Lalu hari ini saya mendapatkan pengalaman yang memberikan sudut pandang lain soal ngamuknya Zumi Zola.

Sebelumnya saya harus memberikan keterangan bahwa tulisan ini akan cukup panjang.

Berawal dari kepentingan untuk menunda jadwal menstruasi dan kebutuhan resep pil kontrasepsi, saya berniat pergi ke puskesmas yang terletak di belakang kompleks perumahan tempat saya tinggal. Kenapa ke puskesmas? Soalnya cuma tinggal jalan kaki 500 meter aja dari rumah.

Berhubung seumur hidup belum pernah mengonsumsi pil kontrasepsi, saya pikir saya butuh konsultasi terlebih dahulu. Saya bingung juga menentukan apakah akan konsultasi ke dokter umum atau bidan, kebetulan keduanya ada di puskesmas itu. Oke lah, saya makin mantap pergi ke puskesmas.

Kira-kira pukul 12.30 saya sampai di puskesmas. Ini juga adalah pengalaman pergi ke puskesmas pertama saya. Seperti kebanyakan orang yang akan melakukan sesuatu pertama kali, tentu saya antusias! Saya bahkan udah siap pamer ke media sosial!

Nggak deng. Becanda.

Ruang tunggu cukup penuh. Saya berdiri di meja registrasi dan bertanya, "Permisi, Mbak, kalau mau konsultasi pil KB (Keluarga Berencana) saya harus ke mana ya?"

"Ke Bidan." jawab penjaga meja registrasi. Tanpa senyum. Tanpa membalas sapaan.

Saya mulai merasa nggak enak, "Ngg.. kalau saya mau daftar untuk bidannya. Gimana ya caranya?"

"Bidannya lagi istirahat, Mbak. Datang lagi aja setengah dua."

"Oh. Kalau dokternya ada?"

"Lagi istirahat. Datang lagi aja setengah dua." jawab si penjaga ketus.


"Oke. Terima kasih." saya membalas sambil tersenyum. Kadang kesal juga dengan diri sendiri yang sering otomatis senyum dan bilang terima kasih nggak peduli sepayah apapun pelayanan yang diterima. Baru keinget mau ketus setelah selesai bilang terima kasih. Payah. 😔

Setelah makan siang di rumah. Saya kembali lagi ke puskesmas itu. Oh, tentu saya sudah mengatur ulang ekspektasi saya terhadap pelayanannya. Selain itu, saya sebenarnya tertantang juga untuk menguji kesabaran sendiri menghadapi pelayanan puskemasnya.

Antrean makin banyak. Sekarang petugas meja registrasinya ada tiga. Kebetulan yang sedang melayani pasien bukan Mbak yang tadi. Saya berdiri di belakang dua pasien lainnya.

Ternyata, kebanyakan pasien yang berobat di sana menggunakan jasa BPJS Kesehatan. Jadi ada proses memasukkan data ke laptop (yang saya nggak tahu pasti) sebelum menyetujui/membolehkan pemegang kartu berobat di sana. Tiga petugas registrasi, satu yang menginput. Dua orang duduk di meja yang sama. Iya, mereka duduk doang nggak ngapa-ngapain.

Saat tiba giliran saya, hal pertama yang ditanyakan petugas registrasi adalah kartu BPJS. Kartu yang saya nggak pernah bawa di dalam dompet.

"Mbak, kartu BPJS-nya mana?"
"Saya nggak bawa, Mbak."
"Kalau nggak bawa nggak boleh berobat." ujar petugas registrasi sambil bersiap lanjut melayani orang di belakang saya.
Saya menukas, "Kalau bayar, nggak boleh juga berobat di sini, Mbak?"
"Oh, boleh."

Lalu saya ditanya mau konsultasi dengan siapa dan diminta menunggu bersama pasien lain di ruang tunggu. Tak sampai lima menit, saya diajak seorang perempuan muda ke ruangan konsultasi. Saya pikir perempuan muda tadi suster jaga (atau suster apa lah), ternyata dia bidannya :')

..dari penampilannya, umurnya bahkan kelihatan lebih muda dari saya.

Begitu masuk ke ruangan yang sepertinya jarang digunakan (karena ada rak rak yang tidak pada tempatnya dan pendingin ruangan baru dinyalakan saat kami masuk), beberapa menit pertama digunakan Mbak Bidannya membereskan ruangan dulu.

Lalu tiba saat saya berkonsultasi. Hasil konsultasinya adalah: "Wah kalau ngasi obat buat nunda haid saya nggak bisa, Mbak. Mendingan langsung ke dokter kandungan aja. Buat nentuin apa obatnya."

..baiklah. Saya nggak dongkol sama sekali sih, soalnya bidannya ramah (atau lugu, tepatnya). Kalau memang dia nggak bisa memberikan layanan yang saya butuhkan, ya sudah.

"Biaya konsultasinya saya harus selesaikan di mana ya, Mbak?" tanya saya mengeluarkan dompet dari tas usai konsultasi.

Mbak Bidan menggeleng, "Nggak Mbak, nggak usah. Nggak usah bayar."

Wah, konsul nggak usah bayar? Di rumah sakit langganan saya ngobrol sebentar begini sudah pasti kena charge sekitar 200 ribu untuk dokter umum. Di sini gratis.

Di hari yang sama, saya pergi ke dokter spesialis ginekologi di rumah sakit langganan saya. Saya bilang langganan karena sudah empat kali rawat inap, entah berapa kali menggunakan layanan rawat jalan serta UGDnya dan saya selalu puas dengan pelayanannya.

Di pintu rumah sakit, saya disapa oleh seorang pegawai rumah sakit yang tugasnya memang menyambut pengunjung. Saat saya datang, meja informasi memang kebetulan sedang kosong. Saya berdiri di depan meja, menunggu petugas.

Tak sampai satu menit. Serius, tak sampai satu menit, pegawai yang tadi menyambut saya di pintu datang menghampiri. "Selamat sore, Bu. Maaf apakah ada yang bisa saya bantu?" katanya ramah, tak lupa tersenyum.

Saya kemudian mengatakan apa urusan saya dan dokter mana yang saya tuju. Mas penyambut mengantar saya ke petugas pendaftaran. Soal daftar mendaftar ini selesai tak sampai lima menit.

Sebelum masuk ke ruang konsultasi, saya lebih dulu melapor pada suster jaga di poli yang saya tuju. Suster pula yang bertugas menanyakan urusan saya, mencatat berat badan dan tekanan darah. Hal ini dilakukan guna memberikan keterangan awal pada dokternya. Pertanyaan seperti: "Tadi hujan nggak, Bu, saat ke sini?" dan basa-basi, "Iya, akhir-akhir ini hujan terus ya, Bu." juga melengkapi sesi pra-konsultasi dengan dokter ini.

Biasanya saya tidak terlalu menganggap penting sapaan dan basa-basi suster. Tapi berhubung tadi siang baru merasakan pelayanan di puskesmas, saya jadi mensyukuri sekali kesempatan saya menerima basa-basi yang menyenangkan ini.

Lanjutan ceritanya juga sudah bisa ditebak lah ya. Dokter yang ramah dan menyenangkan, sesekali bercanda agar saya tak terlalu tegang ditanya-tanya mengenai hal-hal yang sifatnya pribadi di ruang periksa.

Saking membekasnya kejadian hari ini, saya sampai cerita panjang lebar ke salah satu teman saya. Lalu jawaban dia membuat saya diam dengan mata berkaca-kaca, "Ya, kamu kan punya pilihan. Mereka yang di puskesmas tadi mungkin nggak bisa bayar segitu cuma sekedar ngobrol sebentar sama dokter dan tebus obat. Jadi diperlakukan nyebelin begitu, diterima aja."

Bisa jadi saya cuma cengeng dan sensitif aja, dijawab ketus oleh petugas registrasi puskesmas tapi dongkolnya nggak ilang-ilang. Tapi coba bayangkan kalau kamu sedang sakit dan nggak punya pilihan tempat berobat. Lalu harus menghadapi petugas puskesmas/rumah sakit semacam itu.

..dan silakan liat berita yang masih terkait dengan Zumi Zola di sini.

Gimana?

Minggu, 12 Februari 2017

Menunggu(i)


Aku berlari-lari di sepanjang ruang tunggu. Ada secercah harapan bahwa masih akan ada kesempatan menemuimu meski tak banyak. Kamu akan menungguku kan? 

Kamu harus.

Di sana kamu, terlihat dari jarak cukup jauh karena lebih tinggi dari kerumunan orang.
Dengan messenger bag abu-abu dan kemeja putih polos. Aku tak ingin norak meneriakkan namamu dan mengundang perhatian orang banyak, tapi kaki-kakiku yang tak biasa berlari ini sudah mulai protes. Nyeri.

"ANAAAAN!" teriakku, menghabiskan energi tersisa memanggilmu. Berhasil, kamu menoleh. Tidak melambai seperti balasan adegan di film-film, kamu berjalan tenang ke arahku.

Aku masih mengatur napas saat kamu sudah di hadapan. Melemparkan pandang menyelidik, "Capek? Habis lari?"

"Sedikit." jawabku.
Bodoh. Tentu aku berlari demi menyusulmu. Pertanyaan macam apa itu?

"Kenapa?"

"Pesawatmu. Penerbangan internasional. Dua jam. Boarding." aku membalas terbata-bata dengan napas yang masih sesak.

"Bodoh." tanggapan singkat, membuat aku mendelik kesal. "Aku kan pasti menunggumu." lanjutmu dengan ekspresi datar, padahal paru-paruku barusan hampir meledak saat mendengarnya.

"Kalau begitu, kenapa pergi?" kulirik paspor dan tiket yang ada di genggaman tanganmu, cemburu.

"Aku bilang, aku akan menunggumu. Bukan menungguimu. Kalau kamu mau ikut, susul aku." balasmu kemudian, meninggalkan satu kecup di kening. "Aku menunggumu."

Tangisku pecah. Kurebahkan diri ke arahmu, menangis sekuatnya diredam bidang dada dan ditemani detakmu yang jelas bagiku. Satu persatu tanganmu terasa mendekap, tangisku belum mau berhenti. "Maafkan aku."

"Kenapa?" tanganmu kini mengusap-usap belakang kepalaku yang masih enggan melepaskan diri dari pelukan.

Di tengah sesenggukan, aku melanjutkan kalimat, "Aku.. tidak.. bilang.. aku.. tidak.. ingin.. kamu.. pergi.."

"Dan aku tidak ingin pergi. Tidak darimu."
 

Template by Best Web Hosting