Senin, 24 Oktober 2016

Review: Tutu Nail - Stiker Kuku Lucu


Sebenarnya hari ini jadwal saya kontrol ke dermatologist, berhubung klinik langganan saya tutup dan saya sudah terlanjur keluar rumah--akhirnya saya mampir ke mall. Alasan aja sih, supaya bisa cuci mata.

Saya sudah cukup sering melewati tenant Tutu Nail yang lucu ini. Tapi baru sekarang tergerak untuk mampir karena (1) kuku saya masih in shape setelah manicure dan (2) ada tulisan "30K/piece" di dekat rak display-nya.

Iya. Saya rentan terhadap benda-benda lucu yang terjangkau.

Kemudian saya mampir dengan niat untuk membeli satu, "Baiklah, bisa diganti dengan puasa ngafe satu kali." pikir saya.

Mbak pegawainya ternyata ramah sekali. Saat saya tengah melihat-lihat produknya, pertanyaan: "Sudah tahu cara memakainya, Kak?" langsung saya jawab dengan menggeleng. Terakhir saya mainan stiker kuku kayaknya pas SMP (berapa belas tahun lalu ya berarti? Hm).

"Kita ada free sample loh, Kak. Dicoba aja dulu."

Jenius! Tawaran free sample adalah mantra! 💅🏼

Mbaknya menempelkan satu stiker kuku di jari saya, lalu memotong kelebihan stikernya dengan alat kikir kuku (nail buffer). Beres, nggak pakai drama tercoret, berantakan, belum kering, kurang rapi--seperti saat memakai cat kuku.

Ini foto hasil pemakaian free sample-nya di kuku saya..

Liat kan? Potongan ujung kukunya mulus~

Kelebihan stiker kuku dibandingkan dengan cat kuku yang paling signifikan menurut saya sih aplikasinya yang (kelihatannya) gampaaaaaang banget. Cutting yang udah dari sananya juga membuat hasilnya dijamin rapi tanpa repot tiup-tiup menunggu kering setelah pemakaian.

Tutu Nail memberikan 14 potong stiker kuku dalam setiap bungkus produknya. Jadi setiap tangan mendapat 7 potong. Saya juga baru sadar jumlahnya saat dijelaskan Mbaknya. Katanya, kelebihan jumlah ini untuk mengantisipasi ukuran kuku orang yang berbeda-beda. Diharapkan kita tinggal memilih ukuran yang cocok tanpa harus memotong kelebihan lebar stikernya.

Nailed it!
Saya manggut-manggut sambil mendengarkan penjelasan tentang aplikasi dan cara melepas stikernya nanti kalau mau mengganti atau sudah bosan. Dalam tiap bungkusnya juga diberikan nail buffer mini untuk membantu kita memasang sendiri di rumah.

Stiker kuku Tutu Nail ini (kata Mbaknya) bertahan kurang lebih dua minggu dan tidak masalah kalau terkena air (tapi sepertinya nggak bisa dipakai untuk sholat karena kelihatannya tidak berpori, saya lupa nanya tadi).

Apakah saya terpengaruh dengan promosi Mbaknya?

YA IYA LAH! 😆

Saya termasuk jarang menggunakan cat kuku karena kerepotan kalau harus mengaplikasikan sendiri. Paling banter ya sekalian ngecat kuku di salon usai manicure. Kalau ada kesempatan menghias kuku dengan mudah dan murah, I am definitely in!

Petunjuk pemakaian dan nail buffer mini
Duh, sumpah deh. Susah untuk nggak tergoda sama varian stiker kuku yang ada. Mulai dari animal print, lacey, cartoon, tribal, segala ada. Bahkan yang glow in the dark pun ada! Lumayan kan, selain buat nongkrong cantik, bisa buat dugem lucu sekalian.

Saya yang awalnya berniat beli satu untuk percobaan, berakhir dengan belanjaan segini banyak 😂


Kalau beli empat, kita mendapat harga khusus. Total belanjaan saya jadi 100K (seharusnya 120K). Jadi lebih hemat kan?

Iyain aja.

Berhubung saya belum mencoba memakai stiker kukunya sendiri, saya belum bisa detail mengomentari apakah memang benar Tutu Nail mudah diaplikasikan. Nanti setelah mencoba (dan kalau ingat) saya akan tulis reviewnya lagi, sekalian menguji apakah benar stiker kuku ini bisa bertahan dua minggu.



Sebagai informasi tambahan, saat saya membuka salah satu bungkusnya ada peringatan pemakaian. Selain stiker kuku ini harus segera digunakan setelah dibuka, penggunaan terus menerus dapat membuat kuku kita kering. Jadi, gunakan dengan bijak ya! Jangan lupa simpan stiker yang belum terpakai di dalam bungkusnya dengan isolasi agar perekat pada stiker tidak kering 😉

Minggu, 23 Oktober 2016

...

Jarak memang paling brengsek.

Seperti senang sekali kalau kita terpisah beratus kilometer jauhnya.
Seperti kita tak cukup dipisah kesibukan, kini di antara kita terbentang lautan.
Aku benci.

Aku benci karena aku tak bisa mudah lagi menjangkaumu.
Beberapa jam perjalanan darat berubah setengah hari dengan pesawat terbang.

Kita belum bicara soal jadwal istirahat yang urutannya tak karuan.
Aku benci

Rabu, 19 Oktober 2016

Kencan

Suatu hari, saya main ke rumah Uti--sahabat saya. Di rumah, Uti (saat itu) tinggal bersama bude--(saudara Ibu yang lebih tua)--nya. Saya lupa untuk urusan apa, mungkin lagi kangen aja sama Uti.

Tenang aja, saya yakin Uti nggak baca blog saya kok :p

Budenya Uti ini tidak menikah, hidup sendiri (kecuali kalau Uti mampir berkunjung) dan benar-benar mandiri. Mandiri artinya tanpa asisten rumah tangga, pergi ke gereja, beli sarapan, belanja, dan masak makanan sendiri. Meskipun beliau sudah agak pikun.

Di keluarga besar saya, ada beberapa tante dan om yang juga tidak menikah. Tapi tante dan om di keluarga saya tidak tinggal sendiri seperti budenya Uti. Sebagai orang yang mudah kesepian, saya nggak bisa membayangkan hidup sendiri seperti budenya Uti. Jadi, mumpung saya di sana.. Saya manfaatkan waktu untuk menemani bude mengobrol.

Saat tengah bercerita (entah tentang apa), bude berujar: "Iya, kemarin kan Uti ada kencan sore-sore. Pulangnya malam, bude sampai nggak bisa tidur nungguin. Meskipun Uti bawa kunci kan, bude tetap khawatir."

Saya langsung menoleh ke Uti, galak. Bukan karena Uti membuat khawatir bude, tapi lebih ke: "OH LO ADA GEBETAN BARU TAPI NGGA CERITA KE GUE?"

..ya maklum, namanya juga cewek yang sahabatan. Gitu lah. Ngerti kan? Iya. Gitu.

Trus Uti (yang sadar kalau beberapa detik lagi saya akan mengomel panjang) langsung berbisik ke saya, "Bude emang gitu, kencan tuh bukan berarti dating tapi janjian. Janjian sama siapa aja dia bakal sebut kencan."

Oh.

Saya yang sok filosofis langsung berteori ngawur semacam: "Berarti orang zaman dulu mengangap kencan adalah janji, ya? Sayang banget kalau anak muda zaman sekarang bisa kencan sana sini seenaknya dan menganggap itu hal yang remeh."

Hah, anak muda zaman sekarang? Itu mah lo aja kali, Ul!

Trus sore ini saya nemu pengertian kencan yang BENAR! Iya saudara-saudara, berikut adalah arti kata KENCAN yang benar. Bukan yang ngawur semacam analisis saya hari itu.



Ternyata bude Uti sudah menggunakan kata kencan dengan benaaaar!
*sungkem

Omong-omong, akhir pekan besok udah ada jadwal kencan?

Belum?

Nomor mantan masih ada, kan? #eh

I Don't Wanna See You With Her



"You will move on."

"That would be hard for me." ujarmu kala itu, dengan tawa dipaksa. Kita duduk berhadapan dengan dua cangkir penuh belum tersentuh.

Dua kopi bisu yang kita pesan hanya supaya kita tidak sendirian.

Percuma, setelah pembicaraan di kedai kopi ini kita berdua akan sendirian. Aku memutuskan untuk menyudahi kita. Entah apa yang ada di kepalaku saat itu. Mungkin dicintai kadang tak seindah kelihatannya. Semua kebaikan yang kamu alirkan menakutkan bagiku. Semakin kamu dekat, semakin aku merasa tak aman. Semakin kamu bicarakan masa depan, semakin aku ingin berlari sejauhnya.

Aku tidak takut masa depan.
Aku takut pada masa depan yang kamu rangkai dengan aku di dalamnya.

Lalu bulan berlalu. Kita lalui waktu seperti dua orang asing dengan pembicaraan-pembicaraan dangkal. Kamu bekerja gila, seperti tak ingat siang malam. Aku kembali ke kencan-kencan singkat, membunuh kesepian agar tetap waras.

Sampai di kedai kopi yang sama, kamu berdiri di antrean dengan lini yang sama. Di depanku, begitu dekat. Aku sudah lupa kapan terakhir berjarak sedekat ini denganmu.

"Hey." katamu dengan segelas kopi di tangan--baru menyadari bahwa aku ada di belakang.

Aku tersenyum canggung, belum tau mau membalas apa. Otot rahang tiba-tiba kaku. Aku bahkan yakin bahwa senyumku terlihat aneh.

"Aku duduk di sana." tanganmu yang menggenggam kopi menunjuk ke salah satu sisi ruangan. Tempat duduk dekat dengan dinding kaca yang aku suka saat hari hujan karena kita bisa mengobrol sambil memandangi bulir air tergelincir satu-satu.

Aku mengangguk. Seperti mengiyakan ajakan yang tak secara langsung kamu ucapkan. Kepalaku menerka kita akan terlibat dalam obrolan seperti apa. Apakah kita akan sama-sama menguak masa lalu? Atau malah memulai sesuatu di masa sekarang?

..aku tentu tidak keberatan kalau kamu berhenti ambisius tentang masa depan dan rencana-rencana menakutkan itu.

Maka dengan kopi yang masih hangat di telapak tanganku, aku duduk di depanmu. Kamu membuka layar notebook, sudah barang tentu berurusan dengan pekerjaan. Saat melihatku, kamu segera menutupnya dan melempar senyum.

Di sini kita, dua orang yang kembali asing--dengan dua gelas kopi.

"Kamu masih sering ke sini?"

"Masih." jawabku singkat. Aku tidak mungkin menambahkan bahwa tempat ini satu-satunya cara aku bisa bernostalgia dengan hadirmu. Aku tidak pergi ke sini selain denganmu. Tak aku izinkan teman-teman kencanku merusak kenangan kita.

"Oh," kamu merespon bingung. "Mau ngapain abis ini?"

"Nothing."

Tidak ada agenda apapun yang lebih penting hari ini. Kalau aku perlu melepaskan satu project yang siang ini rapatnya harus kudatangi, aku tak peduli.

"Aku sedang menunggu pacarku. You mind?"

"Of course not." balasku tersenyum pahit. Tiba-tiba saja merasa bodoh dengan semua asumsi dan harapan yang aku kembangkan sejak tadi. Kalau bisa, aku ingin memilih keluar saja dari kedai kopi ini sebelum kamu menyapa. "Tapi aku harus pergi."

"Kenapa?"

"I don't want to bother you." kataku beranjak dari kursi. Aku harus selekasnya pergi, menyelamatkan diri sebelum terluka lebih lagi.

...

Cause I don't wanna see you with her
I don't wanna see her face
Resting in your embrace

Her feet standing in my place -Maria Mena (I Don't Wanna See You With Her)

Sabtu, 15 Oktober 2016

#cakap

"Pernah terpikir meninggalkanku?"

"Pernah. Berkali-kali."

"Lalu, kenapa masih di sini?"

"Alasannya berbeda-beda. Tapi seringnya karena aku sadar bahwa aku mencintaimu lebih dari sekedar cukup untuk tetap bertahan dalam ketidakpastian."

Ketika (harus) Ribut


Dosen mata kuliah Antropologi Psikologi saat saya kuliah dulu bercerita hal yang menarik saat kami tengah membahas "konflik". Beliau mengibaratkan konflik sebagai bunyi peralatan makan yang dahulu haram terdengar di atas meja. Konflik diredam kuat-kuat, tidak boleh sampai keluar dan menimbulkan suara. Kalau dalam resolusi konflik disebut "avoiding" atau "denying" dan hal tersebut tidak menyelesaikan konfliknya sama sekali.

Sebagai keluarga dengan kultur Jawa, Ayah saya cukup sering menegur saya perihal konflik ini. Entah terkontaminasi apa selama kuliah, saya jadi super "ribut" di rumah. Hal ini mengejutkan untuk keluarga saya yang resolusi konfliknya lebih sering menggunakan gaya "avoiding". Pada akhirnya, saya juga jadi menyesuai dengan mengatur kembali tingkat reaktivitas saya terhadap suatu masalah atau ketidaksetujuan (alasan lainnya karena saya juga tidak punya teman berdiskusi sebab yang lainnya memilih diam saat saya membahas sesuatu).

Saya ingat sekali pernah dekat dengan orang yang tipenya mirip dengan saya. Saat ada masalah, saya (awalnya) dipaksa membicarakan masalahnya. Meski kali pertama dan kedua harus dengan air mata karena saya emosional dan bingung mengekspresikan. Ya iya lah, wong saya sedang membiasakan diri dengan gaya "avoiding" lalu tiba-tiba diminta berubah jadi "creative integrative". Kan kaget. Setiap ada masalah, kami membahasnya. Bagaimana dari sisi dia, bagaimana dari sisi saya. Ribut? Pasti! Saya ingat sampai menaikkan nada satu dua oktaf di dalam mobil. Ditambah nangis sesenggukan yang berujung lapar.

Tapi kelebihannya, setiap masalah jadi jelas. Oh maksudnya begini, oh ternyata dia memandangnya begini, dan oh oh halal yang lain. IYKWIM ;)

Menurut literatur yang saya baca, konflik memang bisa menguatkan atau melemahkan sebuah relasi. Dalam kasus saya dan teman dekat saya, konflik menguatkan kami. Dengan berkonflik, kami jadi bisa memahami perspektif masing-masing dan membuat kesepakatan kalau-kalau suatu hari konflik yang sama kami alami. Atau malah bersepakat untuk tidak bersepakat akan sesuatu. Bingung ya? Hehe.

Saat seperti apa konflik bisa menguatkan? Saat resolusinya kedua pihak saling menurunkan ego dan mengubah "bagaimana cara saya memenangkan ini" menjadi "bagaimana caranya mendapat solusi terbaik untuk kami". Susah? Emang. You must love him/her enough to let your ego down and think clearly.

Berkonflik dengan pasangan atau keluarga tentu berbeda dengan berkonflik dengan (let's say) sales asuransi. Kecuali pasangan kamu sales asuransi (lucu nggak? Nggak ya? Yaudah deh). Diskusi untuk mencapai keputusan yang baik dengan pasangan, kita harus memerhatikan perasaannya dan menyampaikan maksud kita dengan cara yang baik. Nggak boleh gebrak meja atau maki-maki. Yaaa, sama sales asuransi juga ngga boleh sih gebrak meja atau maki-maki. Tapi ngerti kan maksud saya?

Selain menyampaikan dengan baik, diskusi juga harus tetap jujur dan jauh dari manipulasi-manipulasi busuk. Hehe. Kepercayaan adalah modal utama dalam beresolusi konflik yang asik. Kalau pasangan merasa "dimanfaatkan" atau "dibohongi" maka dijamin konflik-konflik berikutnya lebih runyam dan bikin pusing kepala.

Ps: Kalau ada yang mau mendalami soal resolusi konflik, saya menemukan tautan yang cukup bagus di sini

Rabu, 12 Oktober 2016

Begini


Aku pernah duduk di sebelahmu dan bertanya-tanya, apa rasanya kelak saat kita tak lagi bersama-sama. Saat itu kamu sedang menjelaskan entah lah tentang apa, kadang aku tidak begitu memerhatikan. Aku hanya tak ingin kamu mati bosan mendengarku bicara, maka kutanya satu dua hal supaya kamu tak diam saja.

Bagaimana rasanya saat kamu tak ada lagi di hidupku, ya?

Seharusnya, bukan masalah. Toh sebelumnya kamu juga tak ada di sana. Kita hanya dua partikel yang menikmati momen tumbukan. Meski kamu tidak percaya bahwa di dunia ini ada yang kebetulan.

Kamu kemudian hilang penuh. Tak ada kabar, mungkin tak sempat atau malah sengaja tidak memberi. Jarak kemudian nyaman bersarang di antara kita. Padahal sebelumnya, kupangkas jarak tiada ampun--tak boleh tumbuh barang sejengkal tingginya.

Kali ini, hidupmu bukan urusanku.

Aku tak akan lagi mengomel panjang karena waktu tidurmu minim dan tak berpola.
Aku tak akan lagi detil bertanya apa saja yang kamu makan hari ini.
Aku tak akan lagi menjelaskan kenapa kamu sebaiknya berpakaian rapi.

Kali ini, hidupmu bukan urusanku.

Kita sudah selesai saling mengurusi hidup masing-masing.

..dan aku sebaiknya tidak membuka-buka percakapan lama kita atau membaca ulang surat-suratmu.

Sebagai jawaban dari pertanyaan di awal. Tentang bagaimana rasanya saat kamu tak ada lagi di hidupku.

Ternyata begini rasanya.

Senin, 03 Oktober 2016

Parental Favoritism: Saat Ortu Pilih Kasih


Selain "Berarti lo bisa baca gue dong?" dan "Gimana sih biar lulus psikotes?" yang sudah akrab di telinga saya sejak baru masuk kuliah di jurusan psikologi, baru-baru ini isu parenting mulai mampir sebagai tema curhat orang-orang di sekitar saya.

Alasannya? Orang-orang di lingkar pergaulan saya mulai masuk ke tugas perkembangan baru, menjadi orang tua. Saya memang cukup banyak bergaul dengan orang yang usianya lebih tua, jadi jangan dulu menghakimi kalau teman-teman saya buru-buru kawin atau (malah) saya terlambat kawin ya!

Tepatnya nikah, sih. Kalau kawin, saya nggak merasa telat tuh :p

Kembali ke topik! Kemarin saya overheard percakapan soal parenting. Salah satu bagian yang cukup membuat saya terkejut adalah: "Ya gampangnya gini aja, kalau ada kebutuhan kamu dan kebutuhan adik kamu yang datang bersamaan--jangan kaget kalau kami (orang tua) mendahulukan kepentingan adik kamu. Tahu nggak kenapa? Soalnya kamu bandel."

Hah?!

Saya sih nggak terbayang kalau saya sebagai anak dan sedang berbicara dengan orang tua lalu muncul reaksi seperti itu. Secara subjektif saya kemungkinan besar akan mengabaikan bagian "..soalnya kamu bandel." dan lebih fokus ke "..kalau ada kebutuhan kamu dan kebutuhan adik kamu yang datang bersamaan--jangan kaget kalau kami (orang tua) mendahulukan kepentingan adik kamu."

Saya lalu mencari informasi tambahan (karena saya nggak mungkin tiba-tiba menginterupsi percakapan itu) dan memutuskan untuk membaca. Kenapa? Soalnya saya kalau penasaran nggak bisa tidur. Trus kalau ngga bisa tidur saya makan mi instan atau cemilan. Trus saya jadi gendut. Tuh kan jadi kemana-mana dampaknya.

Pernah dengar istilah favoritism?

Favoritism is the practice of systematically giving positive, preferential treatment to one child, subordinate or associate among a family or group of peers.

Dalam Bahasa Indonesia, favoritism pemberian perilaku istimewa (yang positif/menyenangkan) pada satu anak, bawahan, atau rekan di dalam keluarga atau kelompok yang sifatnya preferensial. Saya masih berusaha mencari padanan katanya dalam Bahasa Indonesia, namun belum ketemu (kalau ada ide, boleh ditulis di kolom komentar). Secara gampang, mungkin semacam "pilih kasih" kali ya?

Favoritism ini ternyata terjadi di berbagai jenis hubungan. Selain orang tua-anak, favoritism juga ditemukan pada hubungan lain seperti hubungan atasan-bawahan dalam dunia kerja. Kali ini saya mau fokus menulis favoritism untuk hubungan orang tua-anak (parental favoritism).

Masa' sih orang tua pilih kasih?

Penelitian menunjukkan demikian. Parental favoritism ditemukan terjadi sebanyak 1/3 sampai 2/3 pada keluarga di Amerika Serikat (Suitor, 2008). Bentuk favoritism dapat beraneka macam, misalnya: menghabiskan waktu lebih banyak dengan seorang anak dibandingkan saudaranya yang lain, memberikan/menunjukkan kasih sayang lebih dibandingkan saudaranya, memberikan fasilitas atau keistimewaan hanya pada anak tertentu, atau memberikan kelonggaran aturan/hukuman. Sounds familiar?

Perlakuan orang tua terhadap anak memengaruhi tumbuh kembang dan pribadi anak, begitu juga dengan parental favoritism. Anak-anak yang tumbuh sebagai anak yang dinomorduakan (less favoured children) memiliki kemungkinan lebih besar dalam menderita depresi, memiliki kepercayaan diri yang rendah, dan performa akademik yang buruk di sekolah.

Tapi anak kan akan dewasa. Pas mereka udah tinggal sendiri (nggak bersama orang tua) berarti mereka sudah "aman" dong?

Sedihnya, hal-hal buruk yang dialami oleh anak yang dinomorduakan tidak semata-mata berhenti setelah anak tersebut tidak tinggal bersama orang tuanya lagi. Bahkan setelah dewasa, individu yang masa kanak-kanaknya merasakan parental favoritism masih memiliki kepercayaan diri rendah dan dapat bermasalah di dalam hubungannya dengan orang dewasa lain (rekan kerja/atasan/pasangan).

Tentu saja kita tidak sedang membicarakan perlakuan istimewa saat salah satu anak sedang sakit, ada bayi yang baru lahir, atau saat salah satu anak memang memiliki kebutuhan khusus. Perlakuan istimewa dalam kondisi seperti di atas dapat dibicarakan dengan anak untuk menangkal dampak negatif yang mungkin timbul.

Menjadi adil dalam peran apapun memang sulit dan hampir tidak mungkin. Sebagai orang tua, teman, bos, rekan kerja, bahkan pasangan (kalau memang punya lebih dari satu pasangan). Bahkan bagi orang tua yang merasa sudah berlaku adil pada anak-anaknya pun, tidak menjamin bahwa anak mereka merasakannya.

Ya biarin aja, yang penting gue udah adil!

Sayangnya tidak seperti itu. Persepsi anak merupakan hal yang penting di sini. Saat anak memiliki persepsi bahwa orang tuanya memiliki "anak emas" di saat itu lah anak merasa dirinya sebagai anak yang dinomorduakan. Tricky isn't it?

Seorang profesor psikologi yang mendalami isu dan penelitian terkait parental favoritism memberikan tips untuk meminimalisir efek favoritism dengan mengungkapkan pada anak-anak bahwa Anda (orang tuanya) menyayangi mereka.

Ya iyalah gue sayang, gue kan orang tuanya!

Iya, masalahnya MERASA sayang aja belum cukup. Ingat bahwa favoritism bisa jadi persepsi anak terhadap perlakuan orang tua padanya dan saudaranya. Maka KOMUNIKASIKAN dan EKSPRESIKAN rasa sayang supaya anak merasa disayang.

Salam sayang! ;)


sumber:
http://outofthefog.website/top-100-trait-blog/2015/11/4/favoritism
http://www.ingentaconnect.com/content/bpl/cdir/2008/00000017/00000005/art00008
https://www.psychologytoday.com/blog/the-narcissus-in-all-us/200901/when-parents-play-favorites
https://www.psychologytoday.com/blog/the-favorite-child/201104/when-favoritism-becomes-abuse
http://www.npr.org/sections/health-shots/2014/09/17/349246014/kids-perception-of-parents-favoritism-counts-more-than-reality
http://psycnet.apa.org/journals/fam/28/4/549/
 

Template by Best Web Hosting