Kamis, 09 Juni 2016

Kalau suatu hari


Kalau suatu hari kita bertemu lagi, aku harap kita sudah punya kesiapan untuk bersama-sama. Tidak seperti hari ini.

Aku harap kamu sudah mampu merangkul aku di tengah terang. Aku harap pelangi dan biru langit itu bisa kita lihat bersama-sama. Tidak seperti hari ini.

Kalau suatu hari kita bertemu lagi, aku harap kamu cukup berani mengucap cinta di tengah lapang. Tidak seperti hari ini.

Tapi yang paling penting, kalau suatu hari kita bertemu lagi, aku harap kamu bahagia. Aku ingin senyummu lebih sering tampak. Aku ingin tenang jadi tempat pulangmu.

Kalau suatu hari kita bertemu lagi, aku mungkin tak mencintaimu sebesar hari ini.

Tak apa.

Karena cinta yang besar tanpa keberanian pun sebenarnya percuma saja.

Selasa, 07 Juni 2016

Rujak

"Ya ampun, Sayaaaaaang.." ujarmu kala melihat dapur flatku yang tak karuan bentuknya. Harusnya sejam dari sekarang kita sudah siap di rumahmu. Hanya Tuhan yang tahu seperti apa macetnya Jakarta jam pulang kantor begini.

Aku menoleh, memandang putus asa. "Aku bahkan tidak bisa menyajikan rujak dengan benar. Entah apa kata Ibumu nanti."

Rautmu berubah bingung, "Memangnya seperti apa menyajikan rujak dengan benar?"

Kaki kuhentakkan kesal ke lantai, tidakkah kamu bisa lihat seperti apa potongan buahku? Jangankan Ibumu, Ibuku pasti merasa gagal punya anak perempuan macam begini. "Aku serius!"

"Aku juga." tanganmu menjulur, mencomot satu potongan buah buruk rupa lantas mengunyah dengan santai. "Aku yakin dipotong begini atau dengan penggaris pun, jambu ini tidak berubah rasanya."

Air mataku mengumpul di pelupuk. Kamu tidak akan mengerti. "Aku tidak mungkin menghantarkan rujak berantakan ini ke rumahmu." lanjutku, sambil mengamati kamu yang mencomot potongan buah lain.

"Oke, if you say so. Kita beli rujak di supermarket aja gimana? Potongan yang ini bisa kamu simpan di kulkas. Kita makan nanti-nanti, setuju?"

Menelan semua malu yang kupunya, aku mengangguk. "Kamu, nggak apa-apa?"

"Aku? Sehat-sehat saja." jawabmu enteng. Aku mendaratkan cubitan di pinggang. "Aww. Iya, Sayang. It is fine. Kecuali nanti aku mau buka warung rujak di depan rumah. Sekarang kemampuan memotong buah belum sepenting itu."

"Tapi, Ibumu?" lanjutku ragu, sembari menyandarkan diri ke bahumu. Di detik yang sama merasa tidak siap mendengar jawaban tidak mengenakkan.

"Ibuku juga belum punya cita-cita punya menantu tukang rujak, Sayang. Terakhir kutanya, beliau mau menantu yang pintar dan penyayang." katamu sambil mengecup keningku lembut. "Kalau memang iya dia butuh menantu yang jago membuat rujak, biar kuminta adikku mencarikan satu. Bagiku, kamu sudah lebih dari cukup."
 

Template by Best Web Hosting