Selasa, 24 Mei 2016

...

Mau tahu kenapa aku begitu yakin bahwa kita tidak ditakdirkan bersama?

..karena saat memulai sesuatu, yang kamu lihat adalah masa depan. Sedangkan yang terbayang olehku hanya perpisahan.

..karena saat menjalani hidup, kamu mengumpulkan ingatan bahagia. Sedang di kepalaku hanya ada duri dan nestapa.

Jumat, 13 Mei 2016

Takdir Trian #AADC2


..karena semua ini tidak adil bagi Trian.

Salah apa dia, datang dengan langkah ksatria dan usaha nyata. Tak mengobral janji, tak meninggalkan Cinta seenaknya karena takut akan bayangan masa depan.

Trian tak pernah tahu.
Dikiranya segala kejujuran Cinta akan masa lalu adalah jalan pembuka. Berbesar hati menerima, bahwa dulu pernah ada Rangga.

Pasti tak pernah terbayang oleh Trian jika liburan singkat adalah kiamat bagi hubungannya dan Cinta. Siapa menyangka jika hubungan berbilang tahun bisa pudar dalam hitungan hari. Siapa menyangka jika segala sumpah serapah bagi Rangga berbalik menjadi derai tawa dan kecupan di akhir pertemuan.

Trian pasti merutuki kelapangan hatinya. Siapa sangka bahwa selama ini dia hanya menyentuh kemungkinan karena Rangga keparat itu sudah terlanjut menyentuh inti jantung kekasihnya. Guliran waktu hanya balut kebohongan bagi Trian dan rasionalisasi bagi Cinta.

..bahwa dia mampu mengganti sosok Rangga.

Bukan salah Trian jika pementasan dan pameran seni tak mampu menahan atensinya. Bukan salah Trian jika banyak yang tak bisa ia mengerti dari susunan karya seniman terkenal yang Cinta puja-puja. Trian hidup di dunia nyata, perawatan wajah dan baju-baju Cinta tak bisa dibeli hanya dengan senyum puas apresiasi karya seni.

Trian tak menaruh curiga. Tak pernah.
Dikiranya senyum Cinta cukup sebagai tanda bahwa usahanya tak sia-sia membuat perempuan itu bahagia. Dikiranya segala dekap dan ucap rindu cukup sebagai jaminan..

..bahwa Cinta tak akan kemana-mana.

Siapa sangka bahwa penyair dari New York datang tiba-tiba. Lalu seenaknya mengucap keinginan ingin memiliki sekali lagi. Setelah mencampakkan tanpa hati.

Tak ada salah Trian di situ. Segala sibuk dan urusannya ditujukan bagi masa depan, bukan syair-syair konyol yang tak bisa dijual.

Tapi perempuan adalah mahluk paling membingungkan, bukan?

Maka sekali lagi, Trian berbesar hati.
Menerima kekalahan dan kehilangan. Menelan bulat-bulat keputusan Cinta kembali pada Rangga. Tanpa diskusi panjang. Tanpa mengungkit bagaimana dia menarik Cinta dari kolam nestapa.

Bukankah mereka yang mencinta dengan sangat tak pernah akan kehilangan?
Bukankah sebenarnya Cinta yang patutnya merugi?

sumber gambar: http://malesbanget.com/2016/03/abis-official-trailer-aadc2-dirilis-terbitlah-meme-rangga-dan-cinta/

Senin, 09 Mei 2016

Doubt


"Bagaimana kalau suatu hari kamu meninggalkanku?" tukasku tiba-tiba, menyerahkan sebotol air mineral yang masih tersegel rapat. Sudah ada perjanjian tak tertulis bahwa aku akan selalu meminta bantuan untuk yang satu itu.

Hari ini panas, seperti hari-hari lainnya. Maka dari itu, tadi kamu keluar lebih dulu dari butik tempat kita mengukur baju. Kamu melakukannya demi menyalakan pendingin udara dalam mobil. Beberapa menit lebih awal dari masuknya aku.

Aku, duduk nyaman dalam mobil yang suhunya sudah cukup sejuk. Tanganmu kemudian menyerahkan botol air mineral yang segelnya sudah terbuka, siap minum. "Bagaimana?" aku mengulang kata tanya. Air mineral dalam botol kuteguk hingga tandas.

"Aku tidak tahu."

Jawabanmu mencuri atensi. Selain karena nada suara yang rendah dan pasrah, juga karena jumlahnya yang singkat hanya beberapa kata. "Maksudmu?"

"Aku memutuskan untuk menikahimu bukan untuk meninggalkanmu suatu hari nanti. Itu sama sekali tidak terpikir olehku sekarang ini." setir mobil kamu putar ke kiri, menuju lajur pembayaran jalan bebas hambatan menggunakan kartu elektronik. Aku sigap mengambil kartu di celah tempat uang kecil, menyerahkannya padamu.

Setelah melewati gardu pembayaran, aku meneruskan diskusi. "Iya, benar. Tapi kan aku sudah sertakan petunjuk suatu hari nanti. Jadi kalau itu benar terjadi, bagaimana?"

"Aku tidak tahu." katamu, mata memandang lurus ke aspal.

Aku gusar. Menyalakan radio supaya kesalku padamu bisa terdistraksi suara. Konyol rasanya meributkan hal begini tepat saat kita usai mengukur baju pengantin.

"Diana. Kamu menyinggungku barusan. Aku merasa kamu meragukan kemampuanku untuk berjanji selalu ada di sampingmu. I want to be with you through thick and thin, Sayang. Saat aku bilang bahwa aku akan habiskan hidupku untuk bersamamu, aku bukan hanya janjikan itu untukmu. Aku berjanji di depan ayahmu."

"Jadi, karena ayahku?"

Titan menghela napas, "Bukan, Diana. Karena aku mencintaimu. Selain itu, karena laki-laki pantang ingkari janji dengan sesama laki-laki." Sebelum aku menanggapi lagi, kamu cepat berujar, "Tentu janji dengan perempuan juga tidak boleh diingkari, Sayang."

Jariku menekan tombol 'off' di radio, kembali mengizinkan sunyi menyeruak. "Tan, mau makan apa?"

Titan membelokkan setir ke kiri meski nyala lampu lalu lintas di depan kami berwarna merah, sesuai petunjuk jalan. "Entah. Aku kehilangan selera makan. Kamu?"

"Kafe yang waktu itu sediakan es leci, boleh?" usulku. Aku tahu Titan enggan makan karena diskusi kami. Aku hanya enggan menanggapi, perasaan bersalah sangat tidak nyaman dipasangkan dengan cuaca terik begini. "Dia juga jual es cendol kesukaan kamu, kan?"

Titan mengangguk. Setelah pilihan tempat dipastikan, kami berdua diam kehabisan topik pembicaraan. Aku tidak segegabah itu juga membuka mulut, khawatir akan membawa mood Titan ke level yang lebih buruk dari ini.

"Di.." panggil Titan dengan suara pelan. Nada yang bukan kabar baik karena artinya Titan sedang menahan diri untuk tidak menunjukkan emosi negatif. Aku menoleh, tak bersuara. "Jangan terlalu sering ragukan aku ya, Di."

"..."

Rabu, 04 Mei 2016

Masa Lalu


"Kita akan berteman, selamanya?" Dirga berujar sambil menatap Rea dalam-dalam. Ada semburat keraguan yang menampakkan diri. "Re, aku bukan laki-laki yang akan terus berusaha rebut hatimu. In fact, aku tak ingin merebut apapun darimu. Kalau kamu siap, aku ingin punya kehidupan beririsan yang bisa kamu nikmati. Aku ingin melihatmu berkembang dan bahagia, aku ingin jadi alasan bahagia-bahagiamu."

Rea menggigit bibir. Dirga sialan! Dikiranya sekarang degup jantungnya tak memacu cepat? Diperdengarkan kalimat macam begitu, mana bisa Rea berpikir tenang. "Iya. Aku mau kita berteman saja, Ga."

"Baiklah. Kabari aku kalau suatu hari kamu berubah pikiran. Aku tidak mau memaksakan diri padamu. Tolong ingatkan kalau sewaktu-waktu aku lupa." ucap Dirga mantap. Nada bicara yakin begini sudah dilatihnya bertahun-tahun hasil bernegosiasi dengan banyak klien. Keraguan adalah hal yang pantang ditunjukkan.

"Aku tidak ingin kehilanganmu, Ga. Kamu tahu kan?" kini Rea berucap lirih. Keraguan menjelma seperti gumpalan-gumpalan dalam paru-parunya. Sangat sulit rasanya berpikir sambil mencuri napas. "Dengan begini, kamu tak akan pernah menghianati aku. Aku tak akan menghapusmu dari hidupku."

Kini giliran Dirga menghela napas panjang. Heran, di tempat outdoor begini kenapa oksigen seperti sedikit sekali jumlahnya. "Kenapa kamu yakin sekali kalau aku akan menyakitimu sih, Re? Selama ini, apa aku pernah? Prediksi terbaik perilaku manusia adalah dari rekam jejaknya, Re. Sudah kamu cek lagi rekam jejakku?"

"Aku tidak ingin kehilanganmu." ulang Rea, seperti mengabaikan semua informasi yang barusan tersaji di atas meja. Isi kepalanya tak berfungsi sempurna sekarang. Ada pertarungan hebat dalam dada yang dia redam diam-diam.

"Terserahmu. Bukan tugasku mengubah persepsimu tentang dunia ini, Rea. Tapi kuharap, pikiran tentang masa lalu tidak menutup kemungkinan hal-hal yang seharusnya jadi bagian dari masa depanmu."

...

"..bukankah masa lalu diberikan sebagai peringatan masa depan, Ga?" -Rea

"Masa lalu baru saja mengalahkanmu kalau kamu biarkan rasa takutmu menang melawan harapan, Re." -Dirga
 

Template by Best Web Hosting