Minggu, 11 Desember 2016

Drama Hilang Paspor 3: Diwawancara Investigator


Setelah melapor ke loket kalau paspor saya hilang, saya duduk di ruang tunggu bersama banyak manusia lainnya. Lebih canggih dari antrean yang sebelumnya, di ruang tunggu sudah ada layar yang mengumumkan nomor urut kita dan ke ruangan mana kita akan masuk. Sebenarnya, kalau prosesnya hanya pembuatan atau perpanjangan paspor saja, pemohon paspor tinggal menunggu giliran foto dan wawancara singkat trus foto deh!

Berhubung saya sedang sial, ya sudahlah saya menunggu untuk dipanggil ke ruang khusus untuk wawancara. Wawancara ini tujuannya untuk membuat BAP (Berita Acara Pemeriksaan) yang menjelaskan kenapa paspor saya bisa hilang dan membuat permohonan pembuatan paspor baru yang (semoga) akan disetujui pihak imigrasi.

Saya menunggu cukup lama di ruang tunggu sampai ada panggilan, "Mbak Aulia? Iya? Yang paspor hilang ya? Silakan masuk." yang diteriakkan bapak petugas dari depan pintu ruangan.

Saya kemudian masuk.

Lalu menunggu lagi.

Di ruangan tersebut ada dua meja yang dua-duanya digunakan untuk mewawancara pemohon paspor akibat paspor rusak/hilang. Di sini saya menunggu cukup lama juga sampai ada petugas baru yang rautnya jauh dari kata ramah.

"Mbak ini paspornya hilang?"

"Iya, Pak."

"Hilangnya di mana?"

Pertanyaan "hilang dimana" adalah satu dari banyak pertanyaan kurang masuk akal yang sering ditanyakan ke saya. Kalau saya tau hilangnya dimana, gimana bisa disebut hilang. Maka dengan polos saya menjawab, "Nggak tau, Pak."

"Anda ini gimana, hilangnya di mana kok nggak tau."

What.

Berhubung saya diam dan tidak merespon, petugas kembali bertanya, "Terakhir ke luar negeri kapan?"

"Ngg.. kapan ya Pak. Kayaknya tahun 2008."

"Yakin tahun 2008?"

"Nggak sih, Pak. Udah lama banget sampai saya nggak tau."

"Ya udah yakinnya tahun berapa?"

"Tahun 2008 deh, Pak."

"Tadi katanya nggak yakin?"

Saya senyum kecut. Posisi begini sungguh tidak mengenakkan bagi saya. Melihat saya diam lagi, petugas menanyakan hal lain.

"Perginya naik pesawat apa?"

Goddamnit. Orang kayak saya yang sering lupa posisi parkir di basement mall, ditanya pergi naik pesawat apa bertahun-tahun lalu?

"Lupa, pak." jawab saya sekenanya. Terlanjur kesal dengan pertanyaan yang nggak bisa saya jawab.

"Yang pergi ke luar negeri ini Anda atau orang lain?"

"Saya dan keluarga saya, Pak."

"Trus, perginya naik pesawat apa?"

"Sriwij***, Pak." jawab saya, ketimbang terlihat tolol.

"Yakin?"

"Kayaknya sih iya, Pak."

Setelah menghadiahi saya senyum pahit (ini pahit ya, bukan kecut lagi!), petugas kemudian berdiri dan pergi. Tinggal saya bengong sendiri di dalam ruangan.

Di tengah bengong, masuklah seorang pemohon paspor perempuan ke ruangan yang sama dengan saya. Sudah hampir pasti dia juga masuk ke dalam list sial karena paspornya hilang/rusak. "Sabar aja ya, sis." ujar saya dalam hati berdasar pengalaman sendiri.

Pemohon paspor sebelah mulai diproses oleh petugas yang berbeda. Hasil curi dengar saya menyatakan bahwa Mbak sebelah paspornya lecek/kusut halamannya. Astaga.

Saat saya asik mencuri dengar penjelasan Mbak sebelah, datanglah petugas yang mewawancara saya, membawa dua lembar kertas. Selembar diletakkan di atas meja, fotokopi paspor entah siapa.

"Anda kenal dengan orang ini?" tanyanya menunjuk foto di fotokopi paspor.

Saya mengamati betul-betul, seorang anak kecil perempuan yang asing wajahnya bagi saya. "Nggak, Pak."

"Benar?"

"Iya, Pak. Memangnya ini siapa?" ujar saya balik bertanya.

Kertas diambil. "Ya saya cuma tanya, Anda kenal nggak." Sekarang petugas membacakan kertas lain di tangannya, "Berdasarkan data yang saya ambil. Anda ke luar negeri terakhir itu tahun 2006. Menggunakan Li*n Air."

"Oh." respon saya, agak bingung harus menjawab apa.

"Jadi yang benar tahun 2006 atau 2008 Anda pergi ke luar negeri?"

Saya menarik napas, mengumpulkan kesabaran. "Kalau rekam data yang bapak ambil benar, berarti perkiraan saya yang salah. Saya memang lupa tahun berapa saya ke luar negeri. Sudah lama sekali."

Petugas manggut-manggut. "Jadi, gimana ceritanya paspor Mbak bisa hilang?"

Saya mulai bercerita, sesekali di tengah cerita, petugas bertanya satu dua hal untuk mengorfirmasi. Saya percaya diri menjelaskan karena memang saya jujur dan nggak berniat mengarang cerita soal kehilangan paspor ini. Hanya saja kadang ada pertanyaan yang menurut saya menyebalkan seperti berikut:

"Ini kok surat hilang dari polisinya ada dua?" tanya petugas melihat dua surat kehilangan di map saya.

"Dari sumber yang saya baca, surat kehilangan harus dari polres, Pak. Maka dari itu saya bikin pertama dari polsek, trus saya bikin lagi di polres."

"Hmm. Tapi paspor Anda hilangnya di rumah, kan?"

"Iya."

"Rumah Anda sesuai KTP ada di daerah XXX kan?"

"Iya, Pak."

"Trus kalau surat hilangnya ada dua, saya harus percaya yang mana ini?"

What the..

"Nih liat, di surat ini dibilang hilangnya di wilayah A (sesuai daerah polsek), satu lagi di daerah B (sesuai daerah polres). Nah, dua daerah itu beda dengan daerah rumah Anda. Gimana sih ini?"

"Pak, saya sudah beberapa kali mengurus surat kehilangan di kepolisian. Setahu saya, memang kata-kata di surat tersebut sudah merupakan template dari institusinya. Saya sebagai pelapor hanya ditanya mengenai identitas dan barang yang hilang saja." Saat menjelaskan yang satu ini, saya percaya diri banget! Ya iyalah, udah pengalaman.

"Harusnya Anda protes dong. Jangan iya-iya aja ditulisin surat sama polisi."

Hah? Yakali deh, Pak.

Wawancara berlanjut dengan konfirmasi bolak-balik tentang cerita hilangnya paspor dengan beberapa selingan seperti bapak petugas di depan saya ngobrol sama temennya soal pertandingan bola, perjalanan dinas mereka, dan rencana mau tahun baruan di mana.

Di tengah-tengah mereka ngobrol haha hihi saya ngapain? Diem dan dongkol dong pasti. Tapi mau gimana lagi, saya cuma pasang senyum manis sambil banyak berdoa mumpung lagi teraniaya.

Ya Allah, berilah saya rejeki. Secara magis lipat gandakanlah saldo tabungan saya.
Gitu kira-kira doanya.

Setelah proses wawancara selesai dan BAP dibacakan ulang untuk menanyakan sesuai tidaknya, petugas membubuhkan tanda tangan dan meminta saya tanda tangan juga. Tak lupa menutup pertemuan dengan ucapan: "Ya, ini BAPnya sudah selesai. Semoga disetujui oleh pihak kami agar Mbak Aulia mendapat paspor baru..."

Belum sempat saya berucap Amin, petugasnya keburu melanjutkan:

"...tapi saya nggak menjamin lho, bakal disetujui. Kalau nggak disetujui ya sabar aja. Nanti urus lagi dan wawancara lagi."

:)

Oh iya, saat pengajuan BAP juga kita diminta untuk menuliskan nomor yang bisa dihubungi agar nanti pihak imigrasi bisa menelpon untuk menyesuaikan jadwal foto. Bagi saya, proses selanjutnya nggak terlalu menguras hati sih. Beberapa hari berikutnya saya ditelpon dan diminta datang lagi untuk foto. Udah. Selesai foto, kita juga akan diberikan keterangan harus membayar berapa dan ke bank apa (pembayaran tidak dilakukan di kantor imigrasi).

Selesai bayar, beberapa hari kemudian paspor bisa diambil!

Ada yang punya pengalaman mengurus paspor hilang juga? Ceritain dong di kolom komentar! Belum punya pengalaman hilang paspor? Duh, jangan sampe deh!

1 comments:

Syihab Muchsin mengatakan...

Gak sengaja nyasar ke postingan ini, tapi yang saya mau komentari malah bukan tulisannya tapi konsistensi penulisnya. sudah 6 tahun tapi tetap menulis di tempat yang sama, Waw.. salut. kebanyakan teman blogger yang saya kenal biasanya tidak lebih 2-3 tahun ngeblog, setelah itu mereka bosan dan berhenti atau pindah ke flatform lain, Wordpress misalnya. Sepertinya penulis ini layak untuk dapat perhatian khusus dari Tim Bloggernya Google, gila, 6 tahun...
Saya sendiri mengenal Blogger sudah lebih dari 10 tahun, tapi tidak satupun Blog saya yang bertahan lama, haha.. karena memang sejak awal saya lebih tertarik ngoprek desain templatenya daripada nulis. Bikin blog - Oprek Desain - Sudah bagus - Hapus - Repeat.

Salut deh buat mbak Aulia.
Lanjutkan curhatannya sampe tua di Blogger.com :D

 

Template by Best Web Hosting