Senin, 03 Oktober 2016

Parental Favoritism: Saat Ortu Pilih Kasih


Selain "Berarti lo bisa baca gue dong?" dan "Gimana sih biar lulus psikotes?" yang sudah akrab di telinga saya sejak baru masuk kuliah di jurusan psikologi, baru-baru ini isu parenting mulai mampir sebagai tema curhat orang-orang di sekitar saya.

Alasannya? Orang-orang di lingkar pergaulan saya mulai masuk ke tugas perkembangan baru, menjadi orang tua. Saya memang cukup banyak bergaul dengan orang yang usianya lebih tua, jadi jangan dulu menghakimi kalau teman-teman saya buru-buru kawin atau (malah) saya terlambat kawin ya!

Tepatnya nikah, sih. Kalau kawin, saya nggak merasa telat tuh :p

Kembali ke topik! Kemarin saya overheard percakapan soal parenting. Salah satu bagian yang cukup membuat saya terkejut adalah: "Ya gampangnya gini aja, kalau ada kebutuhan kamu dan kebutuhan adik kamu yang datang bersamaan--jangan kaget kalau kami (orang tua) mendahulukan kepentingan adik kamu. Tahu nggak kenapa? Soalnya kamu bandel."

Hah?!

Saya sih nggak terbayang kalau saya sebagai anak dan sedang berbicara dengan orang tua lalu muncul reaksi seperti itu. Secara subjektif saya kemungkinan besar akan mengabaikan bagian "..soalnya kamu bandel." dan lebih fokus ke "..kalau ada kebutuhan kamu dan kebutuhan adik kamu yang datang bersamaan--jangan kaget kalau kami (orang tua) mendahulukan kepentingan adik kamu."

Saya lalu mencari informasi tambahan (karena saya nggak mungkin tiba-tiba menginterupsi percakapan itu) dan memutuskan untuk membaca. Kenapa? Soalnya saya kalau penasaran nggak bisa tidur. Trus kalau ngga bisa tidur saya makan mi instan atau cemilan. Trus saya jadi gendut. Tuh kan jadi kemana-mana dampaknya.

Pernah dengar istilah favoritism?

Favoritism is the practice of systematically giving positive, preferential treatment to one child, subordinate or associate among a family or group of peers.

Dalam Bahasa Indonesia, favoritism pemberian perilaku istimewa (yang positif/menyenangkan) pada satu anak, bawahan, atau rekan di dalam keluarga atau kelompok yang sifatnya preferensial. Saya masih berusaha mencari padanan katanya dalam Bahasa Indonesia, namun belum ketemu (kalau ada ide, boleh ditulis di kolom komentar). Secara gampang, mungkin semacam "pilih kasih" kali ya?

Favoritism ini ternyata terjadi di berbagai jenis hubungan. Selain orang tua-anak, favoritism juga ditemukan pada hubungan lain seperti hubungan atasan-bawahan dalam dunia kerja. Kali ini saya mau fokus menulis favoritism untuk hubungan orang tua-anak (parental favoritism).

Masa' sih orang tua pilih kasih?

Penelitian menunjukkan demikian. Parental favoritism ditemukan terjadi sebanyak 1/3 sampai 2/3 pada keluarga di Amerika Serikat (Suitor, 2008). Bentuk favoritism dapat beraneka macam, misalnya: menghabiskan waktu lebih banyak dengan seorang anak dibandingkan saudaranya yang lain, memberikan/menunjukkan kasih sayang lebih dibandingkan saudaranya, memberikan fasilitas atau keistimewaan hanya pada anak tertentu, atau memberikan kelonggaran aturan/hukuman. Sounds familiar?

Perlakuan orang tua terhadap anak memengaruhi tumbuh kembang dan pribadi anak, begitu juga dengan parental favoritism. Anak-anak yang tumbuh sebagai anak yang dinomorduakan (less favoured children) memiliki kemungkinan lebih besar dalam menderita depresi, memiliki kepercayaan diri yang rendah, dan performa akademik yang buruk di sekolah.

Tapi anak kan akan dewasa. Pas mereka udah tinggal sendiri (nggak bersama orang tua) berarti mereka sudah "aman" dong?

Sedihnya, hal-hal buruk yang dialami oleh anak yang dinomorduakan tidak semata-mata berhenti setelah anak tersebut tidak tinggal bersama orang tuanya lagi. Bahkan setelah dewasa, individu yang masa kanak-kanaknya merasakan parental favoritism masih memiliki kepercayaan diri rendah dan dapat bermasalah di dalam hubungannya dengan orang dewasa lain (rekan kerja/atasan/pasangan).

Tentu saja kita tidak sedang membicarakan perlakuan istimewa saat salah satu anak sedang sakit, ada bayi yang baru lahir, atau saat salah satu anak memang memiliki kebutuhan khusus. Perlakuan istimewa dalam kondisi seperti di atas dapat dibicarakan dengan anak untuk menangkal dampak negatif yang mungkin timbul.

Menjadi adil dalam peran apapun memang sulit dan hampir tidak mungkin. Sebagai orang tua, teman, bos, rekan kerja, bahkan pasangan (kalau memang punya lebih dari satu pasangan). Bahkan bagi orang tua yang merasa sudah berlaku adil pada anak-anaknya pun, tidak menjamin bahwa anak mereka merasakannya.

Ya biarin aja, yang penting gue udah adil!

Sayangnya tidak seperti itu. Persepsi anak merupakan hal yang penting di sini. Saat anak memiliki persepsi bahwa orang tuanya memiliki "anak emas" di saat itu lah anak merasa dirinya sebagai anak yang dinomorduakan. Tricky isn't it?

Seorang profesor psikologi yang mendalami isu dan penelitian terkait parental favoritism memberikan tips untuk meminimalisir efek favoritism dengan mengungkapkan pada anak-anak bahwa Anda (orang tuanya) menyayangi mereka.

Ya iyalah gue sayang, gue kan orang tuanya!

Iya, masalahnya MERASA sayang aja belum cukup. Ingat bahwa favoritism bisa jadi persepsi anak terhadap perlakuan orang tua padanya dan saudaranya. Maka KOMUNIKASIKAN dan EKSPRESIKAN rasa sayang supaya anak merasa disayang.

Salam sayang! ;)


sumber:
http://outofthefog.website/top-100-trait-blog/2015/11/4/favoritism
http://www.ingentaconnect.com/content/bpl/cdir/2008/00000017/00000005/art00008
https://www.psychologytoday.com/blog/the-narcissus-in-all-us/200901/when-parents-play-favorites
https://www.psychologytoday.com/blog/the-favorite-child/201104/when-favoritism-becomes-abuse
http://www.npr.org/sections/health-shots/2014/09/17/349246014/kids-perception-of-parents-favoritism-counts-more-than-reality
http://psycnet.apa.org/journals/fam/28/4/549/

4 comments:

Anonim mengatakan...

Wow gak telat kawin ya? Artinya belum telat atau sudah nih? #salahfokus

Aulia Fairuz Kuntjoro mengatakan...

@Anon: Nulis panjang-panjang fokusnya ke situ banget nih, Non? :))

Anonim mengatakan...

Ka, kalo orangtua termasuk tertutup mengenai perasaannya? Misalnya ketika dapet nilai 90 malah nanya "siapa aja dpt nilai itu?" "si X dpt brp?" "salah dimana?" bahkan ketika aku udh kuliah, saat mau UP ortu malah ngomong "terus kapan ambil datanya?" "si X udh beres?" dan "abang aja dulu blablabla"

Ada hal yg bs diomongin ke ortu ga bahwa aku ga suka, dulu wkt smp pernah ngomong ga suka digituin tapi malah makin dimarahin, ngomong nyindir nyindir alus jg malah jd ngambek. Kenapa rasanya jd aku yg lebih dewasa dr orangtuaku ya? Sekarang jd gamau pulang ke rumah terus #curha

Anonim mengatakan...

Permasalahannya Adil adalah kata sifat yang sangat sulit untuk dilakukan. Hanya orang titisan nabi yang tampaknya akan mampu berlaku adil. Permasalahnnya kadang kita sadar sedang diperlakukan tidak adil lalu memilih melakukan sesuatu yang pada akhirnya memberikan celah kepada si pelaku untuk yakin bahwa tindakan tidak adilnya adalah benar.

Sebuah kutipan dari lagu Barisan Nisan karya Homicide. "kemungkinan sekarang adalah memperbesar kemungkinan pada ruang ketidakmungkinan, Sehingga setiap orang yang kami temui tidak menemukan satupun sudut kemungkinan untuk berkata tidak mungkin". Lebih baik berusahan memperbesar kemungkinan untuk diperlakukan adil, daripada memperbesar kemungkinan untuk diperlakukan tidak adil bukan?

Artikelnya cukup menarik untuk jadi referensi ketika nanti punya anak, bawahan atau bahkan pasangan. Meskipun saya sendiri tampaknya kan sulit bersikap adil kepada pasangan jika Persib, Inter Milan dan LIverpool bertanding di televisi.

Hidup Anak Bola !!!

 

Template by Best Web Hosting