Sabtu, 15 Oktober 2016

Ketika (harus) Ribut


Dosen mata kuliah Antropologi Psikologi saat saya kuliah dulu bercerita hal yang menarik saat kami tengah membahas "konflik". Beliau mengibaratkan konflik sebagai bunyi peralatan makan yang dahulu haram terdengar di atas meja. Konflik diredam kuat-kuat, tidak boleh sampai keluar dan menimbulkan suara. Kalau dalam resolusi konflik disebut "avoiding" atau "denying" dan hal tersebut tidak menyelesaikan konfliknya sama sekali.

Sebagai keluarga dengan kultur Jawa, Ayah saya cukup sering menegur saya perihal konflik ini. Entah terkontaminasi apa selama kuliah, saya jadi super "ribut" di rumah. Hal ini mengejutkan untuk keluarga saya yang resolusi konfliknya lebih sering menggunakan gaya "avoiding". Pada akhirnya, saya juga jadi menyesuai dengan mengatur kembali tingkat reaktivitas saya terhadap suatu masalah atau ketidaksetujuan (alasan lainnya karena saya juga tidak punya teman berdiskusi sebab yang lainnya memilih diam saat saya membahas sesuatu).

Saya ingat sekali pernah dekat dengan orang yang tipenya mirip dengan saya. Saat ada masalah, saya (awalnya) dipaksa membicarakan masalahnya. Meski kali pertama dan kedua harus dengan air mata karena saya emosional dan bingung mengekspresikan. Ya iya lah, wong saya sedang membiasakan diri dengan gaya "avoiding" lalu tiba-tiba diminta berubah jadi "creative integrative". Kan kaget. Setiap ada masalah, kami membahasnya. Bagaimana dari sisi dia, bagaimana dari sisi saya. Ribut? Pasti! Saya ingat sampai menaikkan nada satu dua oktaf di dalam mobil. Ditambah nangis sesenggukan yang berujung lapar.

Tapi kelebihannya, setiap masalah jadi jelas. Oh maksudnya begini, oh ternyata dia memandangnya begini, dan oh oh halal yang lain. IYKWIM ;)

Menurut literatur yang saya baca, konflik memang bisa menguatkan atau melemahkan sebuah relasi. Dalam kasus saya dan teman dekat saya, konflik menguatkan kami. Dengan berkonflik, kami jadi bisa memahami perspektif masing-masing dan membuat kesepakatan kalau-kalau suatu hari konflik yang sama kami alami. Atau malah bersepakat untuk tidak bersepakat akan sesuatu. Bingung ya? Hehe.

Saat seperti apa konflik bisa menguatkan? Saat resolusinya kedua pihak saling menurunkan ego dan mengubah "bagaimana cara saya memenangkan ini" menjadi "bagaimana caranya mendapat solusi terbaik untuk kami". Susah? Emang. You must love him/her enough to let your ego down and think clearly.

Berkonflik dengan pasangan atau keluarga tentu berbeda dengan berkonflik dengan (let's say) sales asuransi. Kecuali pasangan kamu sales asuransi (lucu nggak? Nggak ya? Yaudah deh). Diskusi untuk mencapai keputusan yang baik dengan pasangan, kita harus memerhatikan perasaannya dan menyampaikan maksud kita dengan cara yang baik. Nggak boleh gebrak meja atau maki-maki. Yaaa, sama sales asuransi juga ngga boleh sih gebrak meja atau maki-maki. Tapi ngerti kan maksud saya?

Selain menyampaikan dengan baik, diskusi juga harus tetap jujur dan jauh dari manipulasi-manipulasi busuk. Hehe. Kepercayaan adalah modal utama dalam beresolusi konflik yang asik. Kalau pasangan merasa "dimanfaatkan" atau "dibohongi" maka dijamin konflik-konflik berikutnya lebih runyam dan bikin pusing kepala.

Ps: Kalau ada yang mau mendalami soal resolusi konflik, saya menemukan tautan yang cukup bagus di sini

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting