Rabu, 19 Oktober 2016

I Don't Wanna See You With Her



"You will move on."

"That would be hard for me." ujarmu kala itu, dengan tawa dipaksa. Kita duduk berhadapan dengan dua cangkir penuh belum tersentuh.

Dua kopi bisu yang kita pesan hanya supaya kita tidak sendirian.

Percuma, setelah pembicaraan di kedai kopi ini kita berdua akan sendirian. Aku memutuskan untuk menyudahi kita. Entah apa yang ada di kepalaku saat itu. Mungkin dicintai kadang tak seindah kelihatannya. Semua kebaikan yang kamu alirkan menakutkan bagiku. Semakin kamu dekat, semakin aku merasa tak aman. Semakin kamu bicarakan masa depan, semakin aku ingin berlari sejauhnya.

Aku tidak takut masa depan.
Aku takut pada masa depan yang kamu rangkai dengan aku di dalamnya.

Lalu bulan berlalu. Kita lalui waktu seperti dua orang asing dengan pembicaraan-pembicaraan dangkal. Kamu bekerja gila, seperti tak ingat siang malam. Aku kembali ke kencan-kencan singkat, membunuh kesepian agar tetap waras.

Sampai di kedai kopi yang sama, kamu berdiri di antrean dengan lini yang sama. Di depanku, begitu dekat. Aku sudah lupa kapan terakhir berjarak sedekat ini denganmu.

"Hey." katamu dengan segelas kopi di tangan--baru menyadari bahwa aku ada di belakang.

Aku tersenyum canggung, belum tau mau membalas apa. Otot rahang tiba-tiba kaku. Aku bahkan yakin bahwa senyumku terlihat aneh.

"Aku duduk di sana." tanganmu yang menggenggam kopi menunjuk ke salah satu sisi ruangan. Tempat duduk dekat dengan dinding kaca yang aku suka saat hari hujan karena kita bisa mengobrol sambil memandangi bulir air tergelincir satu-satu.

Aku mengangguk. Seperti mengiyakan ajakan yang tak secara langsung kamu ucapkan. Kepalaku menerka kita akan terlibat dalam obrolan seperti apa. Apakah kita akan sama-sama menguak masa lalu? Atau malah memulai sesuatu di masa sekarang?

..aku tentu tidak keberatan kalau kamu berhenti ambisius tentang masa depan dan rencana-rencana menakutkan itu.

Maka dengan kopi yang masih hangat di telapak tanganku, aku duduk di depanmu. Kamu membuka layar notebook, sudah barang tentu berurusan dengan pekerjaan. Saat melihatku, kamu segera menutupnya dan melempar senyum.

Di sini kita, dua orang yang kembali asing--dengan dua gelas kopi.

"Kamu masih sering ke sini?"

"Masih." jawabku singkat. Aku tidak mungkin menambahkan bahwa tempat ini satu-satunya cara aku bisa bernostalgia dengan hadirmu. Aku tidak pergi ke sini selain denganmu. Tak aku izinkan teman-teman kencanku merusak kenangan kita.

"Oh," kamu merespon bingung. "Mau ngapain abis ini?"

"Nothing."

Tidak ada agenda apapun yang lebih penting hari ini. Kalau aku perlu melepaskan satu project yang siang ini rapatnya harus kudatangi, aku tak peduli.

"Aku sedang menunggu pacarku. You mind?"

"Of course not." balasku tersenyum pahit. Tiba-tiba saja merasa bodoh dengan semua asumsi dan harapan yang aku kembangkan sejak tadi. Kalau bisa, aku ingin memilih keluar saja dari kedai kopi ini sebelum kamu menyapa. "Tapi aku harus pergi."

"Kenapa?"

"I don't want to bother you." kataku beranjak dari kursi. Aku harus selekasnya pergi, menyelamatkan diri sebelum terluka lebih lagi.

...

Cause I don't wanna see you with her
I don't wanna see her face
Resting in your embrace

Her feet standing in my place -Maria Mena (I Don't Wanna See You With Her)

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting