Rabu, 12 Oktober 2016

Begini


Aku pernah duduk di sebelahmu dan bertanya-tanya, apa rasanya kelak saat kita tak lagi bersama-sama. Saat itu kamu sedang menjelaskan entah lah tentang apa, kadang aku tidak begitu memerhatikan. Aku hanya tak ingin kamu mati bosan mendengarku bicara, maka kutanya satu dua hal supaya kamu tak diam saja.

Bagaimana rasanya saat kamu tak ada lagi di hidupku, ya?

Seharusnya, bukan masalah. Toh sebelumnya kamu juga tak ada di sana. Kita hanya dua partikel yang menikmati momen tumbukan. Meski kamu tidak percaya bahwa di dunia ini ada yang kebetulan.

Kamu kemudian hilang penuh. Tak ada kabar, mungkin tak sempat atau malah sengaja tidak memberi. Jarak kemudian nyaman bersarang di antara kita. Padahal sebelumnya, kupangkas jarak tiada ampun--tak boleh tumbuh barang sejengkal tingginya.

Kali ini, hidupmu bukan urusanku.

Aku tak akan lagi mengomel panjang karena waktu tidurmu minim dan tak berpola.
Aku tak akan lagi detil bertanya apa saja yang kamu makan hari ini.
Aku tak akan lagi menjelaskan kenapa kamu sebaiknya berpakaian rapi.

Kali ini, hidupmu bukan urusanku.

Kita sudah selesai saling mengurusi hidup masing-masing.

..dan aku sebaiknya tidak membuka-buka percakapan lama kita atau membaca ulang surat-suratmu.

Sebagai jawaban dari pertanyaan di awal. Tentang bagaimana rasanya saat kamu tak ada lagi di hidupku.

Ternyata begini rasanya.

8 comments:

Anonim mengatakan...

Loud and clear. You don't want me around. I'll unlearn my addiction of you.
I'll rehab myself or get a substitute addiction.

Anonim mengatakan...

Sure. Kembalikan mobil yg kuberikan di hari ke-2 pertemuan kita. Kembalikan jam tangan mewah yg kuberikan di hari ke-3 pertemuan kita.

Anonim mengatakan...

Maaf aku memilih untuk mendera diri demi mengejar mimpi startup ku jadi besar.

Kalau kamu ingin tetap bersama, siapkan dirimu hadir walau aku tidak meminta atau menjadi tetap dekat (saat aku sedang tidak).

Sesungguhnya bahasa pemrograman lebih mudah aku pahami dibanding dirimu.

Aku yg pernah jadi yg pertama untukmu

Anonim mengatakan...

Mbak Kesayangan,

Fakta bahwa bahkan saat kita masih berdampingan, Mbak malah berpikir bagaimana saat kita tidak membuatku bertanya.

Apakah jangan-jangan, itu bukti kamu masih ragu akan kita?
Naifnya Mas berpikir dan merencana akan bersama Mbak, sebagai yang terakhir.

Anonim mengatakan...

Jadi selama ini kalau kamu nanya, gak beneran karena pengen tahu ya?

Fine.
Anggara

Anonim mengatakan...

My once beloved orally-fixated partner,

You overthink. You should speak your mind when it matters not after and not indirectly like this.

You could have reached out and hang on to ke when (you feel) we're drifting apart. A call or a reply to my messages would suffice.

Your Anal-retentive Partner

Anonim mengatakan...

Anjrit,

Rival gw banyak bANGed.

Secret Admirer

Aulia Fairuz Kuntjoro mengatakan...

Dear Mas-Mas di kolom komentar,

Pertama, silakan baca header blog ini. Jangan kebelet curhat di kolom komentar :))

Lalu, tolong kalau mau dikenali silakan taruh saja namanya, supaya saya bisa merespon dengan tepat. Menulis sebagai anonim tapi meninggalkan petunjuk yang terlalu jelas malah terlihat lucu(?). Mas-Mas sekalian juga bisa menghubungi saya secara pribadi, kan?

Terakhir, hahaha itu apaan deh yang minta balikin mobil sama jam :))

 

Template by Best Web Hosting