Minggu, 10 Juli 2016

Generasi


Musim Kemarau, 1993

Asih mengusap pipi putri kesayangannya lembut, hatinya hancur barusan. Bukan karena Mas Yudi membentak, telinganya sudah lama bersahabat dengan nada itu. Melihat akhirnya tangan Mas Yudi menempeleng Melati, matanya tak pernah siap melihat tubuh kecil anaknya terpelanting jatuh dan dengan raut wajah bingung.

"Bapak sayang nggak sih Bu, sama kita?" suara Melati menggema di dalam kelambu tempat mereka berdua berbaring sekarang.

Asih menelan ludah. Pertanyaan itu pernah juga menaungi benaknya. "Pasti, Nduk."

"Terus, kenapa Bapak pukul Ibu? Kenapa Bapak pukul aku?" pertanyaan susulan ini sudah dapat ditebak, meskipun tetap saja Asih kesulitan menjawab.

"Nduk, Bapak mukul Ibu, mukul kamu, itu sebenarnya bentuk sayangnya Bapak. Pasti ada yang salah, Bapak cuma mau mengingatkan. Kamu harus menghayati itu sebagai bentuk sayangnya Bapak." lanjut Asih lagi, sambil memejamkan mata--perutnya mual menelan keyakinan yang belum bisa diterimanya. "Ayo tidur, Nduk. Besok kamu harus sekolah pagi-pagi."

...

Idulfitri, 2016

Hari pertama Idulfitri. Hari dimana Asih paling bahagia karena rumahnya kembali menaungi banyak orang. Dinding rumahnya pasti bosan mendengar curahan hati janda yang terus bertanya-tanya kapan anak cucunya akan datang berkunjung.

Melati kini beranak dua. Anak sulungnya berlarian tak bisa dikejar. Tingkahnya sering membuat Asih teringat pada polah Melati dulu, persis putaran gasing, sukar berhenti sebelum lelah.

Di kamar, Melati susah payah mengganti popok si kecil. Tangan kanannya bergantian menenangkan bayi dan menyiapkan peralatan. Asih mendekat heran.

"Nduk?" panggilnya sembari menyentuh tangan Melati.

Melati refleks menarik tangannya sembari meringis. "Ibu, bikin kaget aja." ujarnya tersenyum malu. "Ibu nggak istirahat?"

Ekspresi barusan mengundang rasa penasaran Asih. Meski hanya bertemu setahun sekali, dia tak kehilangan insting sebagai ibu. "Kenapa tanganmu, Nduk?" dengan hati-hati Asih menyingkap lengan baju putri kecintaannya. Biru. Lebam familiar yang dulu sering sekali ditemuinya di tubuh sendiri. "Kenapa ini?"

"Jatuh, Bu." jawab Melati sambil menarik tangan dari genggam keriput ibunya.

Asih mengernyit, "Kenapa tanganmu, Nduk?" nada suara Asih berganti. Degup jantungnya jarang secepat ini, wajahnya mulai terasa panas.

Melati tertunduk. Kegiatan mengganti popok belum selesai. Ditenangkannya bayi dengan tepukan lembut. "Mas Rizal, Bu. Nggak apa-apa. Salah Melati kok, Bu. Mas Rizal cuma ingatkan kalau Melati belum jadi istri yang baik. Suami mengingatkan istri tandanya sayang kan, Bu?" ungkap Melati sembari tersenyum.

Hati Asih tak pernah sehancur ini.

1 comments:

Anonim mengatakan...

:'(

 

Template by Best Web Hosting