Senin, 09 Mei 2016

Doubt


"Bagaimana kalau suatu hari kamu meninggalkanku?" tukasku tiba-tiba, menyerahkan sebotol air mineral yang masih tersegel rapat. Sudah ada perjanjian tak tertulis bahwa aku akan selalu meminta bantuan untuk yang satu itu.

Hari ini panas, seperti hari-hari lainnya. Maka dari itu, tadi kamu keluar lebih dulu dari butik tempat kita mengukur baju. Kamu melakukannya demi menyalakan pendingin udara dalam mobil. Beberapa menit lebih awal dari masuknya aku.

Aku, duduk nyaman dalam mobil yang suhunya sudah cukup sejuk. Tanganmu kemudian menyerahkan botol air mineral yang segelnya sudah terbuka, siap minum. "Bagaimana?" aku mengulang kata tanya. Air mineral dalam botol kuteguk hingga tandas.

"Aku tidak tahu."

Jawabanmu mencuri atensi. Selain karena nada suara yang rendah dan pasrah, juga karena jumlahnya yang singkat hanya beberapa kata. "Maksudmu?"

"Aku memutuskan untuk menikahimu bukan untuk meninggalkanmu suatu hari nanti. Itu sama sekali tidak terpikir olehku sekarang ini." setir mobil kamu putar ke kiri, menuju lajur pembayaran jalan bebas hambatan menggunakan kartu elektronik. Aku sigap mengambil kartu di celah tempat uang kecil, menyerahkannya padamu.

Setelah melewati gardu pembayaran, aku meneruskan diskusi. "Iya, benar. Tapi kan aku sudah sertakan petunjuk suatu hari nanti. Jadi kalau itu benar terjadi, bagaimana?"

"Aku tidak tahu." katamu, mata memandang lurus ke aspal.

Aku gusar. Menyalakan radio supaya kesalku padamu bisa terdistraksi suara. Konyol rasanya meributkan hal begini tepat saat kita usai mengukur baju pengantin.

"Diana. Kamu menyinggungku barusan. Aku merasa kamu meragukan kemampuanku untuk berjanji selalu ada di sampingmu. I want to be with you through thick and thin, Sayang. Saat aku bilang bahwa aku akan habiskan hidupku untuk bersamamu, aku bukan hanya janjikan itu untukmu. Aku berjanji di depan ayahmu."

"Jadi, karena ayahku?"

Titan menghela napas, "Bukan, Diana. Karena aku mencintaimu. Selain itu, karena laki-laki pantang ingkari janji dengan sesama laki-laki." Sebelum aku menanggapi lagi, kamu cepat berujar, "Tentu janji dengan perempuan juga tidak boleh diingkari, Sayang."

Jariku menekan tombol 'off' di radio, kembali mengizinkan sunyi menyeruak. "Tan, mau makan apa?"

Titan membelokkan setir ke kiri meski nyala lampu lalu lintas di depan kami berwarna merah, sesuai petunjuk jalan. "Entah. Aku kehilangan selera makan. Kamu?"

"Kafe yang waktu itu sediakan es leci, boleh?" usulku. Aku tahu Titan enggan makan karena diskusi kami. Aku hanya enggan menanggapi, perasaan bersalah sangat tidak nyaman dipasangkan dengan cuaca terik begini. "Dia juga jual es cendol kesukaan kamu, kan?"

Titan mengangguk. Setelah pilihan tempat dipastikan, kami berdua diam kehabisan topik pembicaraan. Aku tidak segegabah itu juga membuka mulut, khawatir akan membawa mood Titan ke level yang lebih buruk dari ini.

"Di.." panggil Titan dengan suara pelan. Nada yang bukan kabar baik karena artinya Titan sedang menahan diri untuk tidak menunjukkan emosi negatif. Aku menoleh, tak bersuara. "Jangan terlalu sering ragukan aku ya, Di."

"..."

2 comments:

Anonim mengatakan...

I want to be with YOU through thick and thin, Sayang.

Aulia Fairuz Kuntjoro mengatakan...

@Anon: Thank you, Non :)

 

Template by Best Web Hosting