Minggu, 17 April 2016

(bukan) Milikmu


"Bunga-bunga ini milikmu?!" tanyaku sambil terengah mengatur napas. Entahlah, padahal aku tidak berlari ke sini--mungkin marah. Di tanganku tergenggam seikat bunga.

Kamu mengangkat kepala, mengalihkan pandang dari layarmu. Suasana co-working space ini mendadak sunyi, dengan perhatian banyak orang memusat ke kita berdua. Kamu memberi sinyal agak kita membawa percakapan ini ke luar.

...

"Ada apa tiba-tiba datang?" tanyamu sambil mengusap bagian belakang kepala, salah tingkah tiba-tiba kutemui di tempat ramai.

Aku mendengus, "Bunga-bunga ini milikmu?!" tak merasa berkewajiban menjawab, kuulang pertanyaan. Kali ini lebih ketus.

"Kalau itu milikku, kenapa ada di tanganmu?" kamu menjawab tenang, dengan senyum di ujung bibir.

"Anggara, aku tidak punya waktu. Kamu tahu maksud pertanyaanku."

Kini tanganmu bersedekap di depan dada, gesturmu kalau sedang siap melontarkan kalimat-kalimat yang membuat kita berdebat panjang. "Aku tidak akan membuang waktu menebak, Seruni. Kita berdua tahu itu tidak akan berhasil padamu. Setahun menebakmu melelahkan bagiku. Kalau ada yang mau kamu katakan, katakan dengan jelas."

Baiklah, kalau kamu sudah mengungkit perkara setahun kita bersama--ini perang namanya. Kuhempaskan seikat bunga ke dadamu, mereka langsung jatuh berserakan. "Apa kamu yang mengirimkan bunga-bunga ini?"

"Tidak. Aku hanya memesannya. Kurir florist yang mengirimkan padamu." katamu setenang biasa, seolah tidak terkejut dengan reaksiku barusan. "Kamu boleh membuangnya sejak menerimanya pertama kali. Tidak perlu melakukannya di depanku."

..dan kehilangan kesempatan menyakitimu? Kamu mimpi saja, Anggara.

Anggara meneruskan kalimat, masih dengan ketenangan yang sulit sekali hilang dari nada suaranya. "Kamu tahu hal begini tidak akan menyakiti aku, kan? Ini malah, mungkin.. Menyakitimu."

Tawaku mengambang di udara, terpaksa. "Aku? Bukan bunga-bunga dariku yang terbuang sia-sia."

"Reaksimu sudah kuperhitungkan. Seruni, bunga-bunga itu membawamu datang padaku. Bunga-bunga itu membuatku melihatmu kembali."

..dan mereka membuatku menemui kamu sekali lagi.

"Jangan lagi mengirimi aku bunga." aku berucap lirih sembari menunduk, seperti kehabisan energi untuk terus marah di depan Anggara. Mataku mengembun. Brengsek, tidak akan aku biarkan Anggara melihatku menangis di sini.

"Tidak akan." balas Anggara pelan.

Aku melangkah pergi dengan hati remuk sekali lagi.
Pedih sekali bukan, saat kita mengira kita sudah terlepas dari bayang-bayang seseorang. Namun ternyata sekeping kehadirannya saja bisa melukai kita berkali-kali.

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting