Minggu, 11 Desember 2016

Drama Hilang Paspor 3: Diwawancara Investigator


Setelah melapor ke loket kalau paspor saya hilang, saya duduk di ruang tunggu bersama banyak manusia lainnya. Lebih canggih dari antrean yang sebelumnya, di ruang tunggu sudah ada layar yang mengumumkan nomor urut kita dan ke ruangan mana kita akan masuk. Sebenarnya, kalau prosesnya hanya pembuatan atau perpanjangan paspor saja, pemohon paspor tinggal menunggu giliran foto dan wawancara singkat trus foto deh!

Berhubung saya sedang sial, ya sudahlah saya menunggu untuk dipanggil ke ruang khusus untuk wawancara. Wawancara ini tujuannya untuk membuat BAP (Berita Acara Pemeriksaan) yang menjelaskan kenapa paspor saya bisa hilang dan membuat permohonan pembuatan paspor baru yang (semoga) akan disetujui pihak imigrasi.

Saya menunggu cukup lama di ruang tunggu sampai ada panggilan, "Mbak Aulia? Iya? Yang paspor hilang ya? Silakan masuk." yang diteriakkan bapak petugas dari depan pintu ruangan.

Saya kemudian masuk.

Lalu menunggu lagi.

Di ruangan tersebut ada dua meja yang dua-duanya digunakan untuk mewawancara pemohon paspor akibat paspor rusak/hilang. Di sini saya menunggu cukup lama juga sampai ada petugas baru yang rautnya jauh dari kata ramah.

"Mbak ini paspornya hilang?"

"Iya, Pak."

"Hilangnya di mana?"

Pertanyaan "hilang dimana" adalah satu dari banyak pertanyaan kurang masuk akal yang sering ditanyakan ke saya. Kalau saya tau hilangnya dimana, gimana bisa disebut hilang. Maka dengan polos saya menjawab, "Nggak tau, Pak."

"Anda ini gimana, hilangnya di mana kok nggak tau."

What.

Berhubung saya diam dan tidak merespon, petugas kembali bertanya, "Terakhir ke luar negeri kapan?"

"Ngg.. kapan ya Pak. Kayaknya tahun 2008."

"Yakin tahun 2008?"

"Nggak sih, Pak. Udah lama banget sampai saya nggak tau."

"Ya udah yakinnya tahun berapa?"

"Tahun 2008 deh, Pak."

"Tadi katanya nggak yakin?"

Saya senyum kecut. Posisi begini sungguh tidak mengenakkan bagi saya. Melihat saya diam lagi, petugas menanyakan hal lain.

"Perginya naik pesawat apa?"

Goddamnit. Orang kayak saya yang sering lupa posisi parkir di basement mall, ditanya pergi naik pesawat apa bertahun-tahun lalu?

"Lupa, pak." jawab saya sekenanya. Terlanjur kesal dengan pertanyaan yang nggak bisa saya jawab.

"Yang pergi ke luar negeri ini Anda atau orang lain?"

"Saya dan keluarga saya, Pak."

"Trus, perginya naik pesawat apa?"

"Sriwij***, Pak." jawab saya, ketimbang terlihat tolol.

"Yakin?"

"Kayaknya sih iya, Pak."

Setelah menghadiahi saya senyum pahit (ini pahit ya, bukan kecut lagi!), petugas kemudian berdiri dan pergi. Tinggal saya bengong sendiri di dalam ruangan.

Di tengah bengong, masuklah seorang pemohon paspor perempuan ke ruangan yang sama dengan saya. Sudah hampir pasti dia juga masuk ke dalam list sial karena paspornya hilang/rusak. "Sabar aja ya, sis." ujar saya dalam hati berdasar pengalaman sendiri.

Pemohon paspor sebelah mulai diproses oleh petugas yang berbeda. Hasil curi dengar saya menyatakan bahwa Mbak sebelah paspornya lecek/kusut halamannya. Astaga.

Saat saya asik mencuri dengar penjelasan Mbak sebelah, datanglah petugas yang mewawancara saya, membawa dua lembar kertas. Selembar diletakkan di atas meja, fotokopi paspor entah siapa.

"Anda kenal dengan orang ini?" tanyanya menunjuk foto di fotokopi paspor.

Saya mengamati betul-betul, seorang anak kecil perempuan yang asing wajahnya bagi saya. "Nggak, Pak."

"Benar?"

"Iya, Pak. Memangnya ini siapa?" ujar saya balik bertanya.

Kertas diambil. "Ya saya cuma tanya, Anda kenal nggak." Sekarang petugas membacakan kertas lain di tangannya, "Berdasarkan data yang saya ambil. Anda ke luar negeri terakhir itu tahun 2006. Menggunakan Li*n Air."

"Oh." respon saya, agak bingung harus menjawab apa.

"Jadi yang benar tahun 2006 atau 2008 Anda pergi ke luar negeri?"

Saya menarik napas, mengumpulkan kesabaran. "Kalau rekam data yang bapak ambil benar, berarti perkiraan saya yang salah. Saya memang lupa tahun berapa saya ke luar negeri. Sudah lama sekali."

Petugas manggut-manggut. "Jadi, gimana ceritanya paspor Mbak bisa hilang?"

Saya mulai bercerita, sesekali di tengah cerita, petugas bertanya satu dua hal untuk mengorfirmasi. Saya percaya diri menjelaskan karena memang saya jujur dan nggak berniat mengarang cerita soal kehilangan paspor ini. Hanya saja kadang ada pertanyaan yang menurut saya menyebalkan seperti berikut:

"Ini kok surat hilang dari polisinya ada dua?" tanya petugas melihat dua surat kehilangan di map saya.

"Dari sumber yang saya baca, surat kehilangan harus dari polres, Pak. Maka dari itu saya bikin pertama dari polsek, trus saya bikin lagi di polres."

"Hmm. Tapi paspor Anda hilangnya di rumah, kan?"

"Iya."

"Rumah Anda sesuai KTP ada di daerah XXX kan?"

"Iya, Pak."

"Trus kalau surat hilangnya ada dua, saya harus percaya yang mana ini?"

What the..

"Nih liat, di surat ini dibilang hilangnya di wilayah A (sesuai daerah polsek), satu lagi di daerah B (sesuai daerah polres). Nah, dua daerah itu beda dengan daerah rumah Anda. Gimana sih ini?"

"Pak, saya sudah beberapa kali mengurus surat kehilangan di kepolisian. Setahu saya, memang kata-kata di surat tersebut sudah merupakan template dari institusinya. Saya sebagai pelapor hanya ditanya mengenai identitas dan barang yang hilang saja." Saat menjelaskan yang satu ini, saya percaya diri banget! Ya iyalah, udah pengalaman.

"Harusnya Anda protes dong. Jangan iya-iya aja ditulisin surat sama polisi."

Hah? Yakali deh, Pak.

Wawancara berlanjut dengan konfirmasi bolak-balik tentang cerita hilangnya paspor dengan beberapa selingan seperti bapak petugas di depan saya ngobrol sama temennya soal pertandingan bola, perjalanan dinas mereka, dan rencana mau tahun baruan di mana.

Di tengah-tengah mereka ngobrol haha hihi saya ngapain? Diem dan dongkol dong pasti. Tapi mau gimana lagi, saya cuma pasang senyum manis sambil banyak berdoa mumpung lagi teraniaya.

Ya Allah, berilah saya rejeki. Secara magis lipat gandakanlah saldo tabungan saya.
Gitu kira-kira doanya.

Setelah proses wawancara selesai dan BAP dibacakan ulang untuk menanyakan sesuai tidaknya, petugas membubuhkan tanda tangan dan meminta saya tanda tangan juga. Tak lupa menutup pertemuan dengan ucapan: "Ya, ini BAPnya sudah selesai. Semoga disetujui oleh pihak kami agar Mbak Aulia mendapat paspor baru..."

Belum sempat saya berucap Amin, petugasnya keburu melanjutkan:

"...tapi saya nggak menjamin lho, bakal disetujui. Kalau nggak disetujui ya sabar aja. Nanti urus lagi dan wawancara lagi."

:)

Oh iya, saat pengajuan BAP juga kita diminta untuk menuliskan nomor yang bisa dihubungi agar nanti pihak imigrasi bisa menelpon untuk menyesuaikan jadwal foto. Bagi saya, proses selanjutnya nggak terlalu menguras hati sih. Beberapa hari berikutnya saya ditelpon dan diminta datang lagi untuk foto. Udah. Selesai foto, kita juga akan diberikan keterangan harus membayar berapa dan ke bank apa (pembayaran tidak dilakukan di kantor imigrasi).

Selesai bayar, beberapa hari kemudian paspor bisa diambil!

Ada yang punya pengalaman mengurus paspor hilang juga? Ceritain dong di kolom komentar! Belum punya pengalaman hilang paspor? Duh, jangan sampe deh!

Sabtu, 10 Desember 2016

Drama Hilang Paspor 2 : Antrean Kantor Imigrasi


Berbekal dua surat kehilangan dari kepolisian dan syarat-syarat lainnya, esok hari saya bersiap ke kantor imigrasi. Syarat-syarat yang harus dibawa ke kantor imigrasi sudah saya tulis di pos sebelumnya di sini ya..

Hal yang harus diingat, semua syarat yang dibawa HARUS dibawa fotokopi dan aslinya. Kalau kita hanya membawa fotokopinya, akan langsung disuruh pulang dan nggak dilayani. Tapi biasanya di dekat kantor imigrasi ada jasa fotokopi sih, meskipun menurut pengalaman saya jasa fotokopinya jadi muahal. Oh iya, untuk Kartu Tanda Penduduk--difotokopi jadi setengah halaman HVS ya. Sisanya difotokopi normal.

Para pemohon paspor, biasanya sudah antre dari pagi-pagi sekali. Di kantor imigrasi yang saya pilih, antrean dimulai pukul 5 pagi. Saya yang datang pukul 6 sudah termasuk di antrean belakang. Saran saya sih, siapkan sehari penuh untuk mengurus paspor.

Meskipun antrean dimulai pukul 5 pagi, layanan akan dibuka pukul 8. HAHAHA.
Trus ngapain dong selama tiga jam? Duduk manis (kalau beruntung) atau berdiri manis kayak saya. Sebagai yang ekspektasinya rendah terhadap layanan di kantor pemerintah, saya sedia tiga powerbank untuk mengusir bosan 😎

Pada jam 7.30 seorang petugas keluar dari pintu dengan membawa tumpukan map berwarna kuning. Map kemudian dibagikan satu-satu sambil petugas menjelaskan harus mengisi dengan pulpen warna apa, syarat apa saja yang harus ada, juga pengisian kolom-kolom di formulir yang ada di dalam map. Petugas juga nggak lupa menyuruh kita pulang kalau syarat yang dibawa belum lengkap karena akan percuma mengantre.

Oh iya, pemohon yang sudah melakukan permohonan via online akan dibedakan antreannya. Pemohon cukup menyerahkan bukti pembayaran dan menunggu giliran berfoto kalau loket sudah dibuka nanti alias terbebas dari urusan mengisi formulir.

Salah satu yang menarik perhatian saya adalah pengumuman ini: "Silakan bapak ibu berdiri sesuai urutan ya. Mengisi formulir dan menyiapkan syarat-syarat yang saya sebutkan tadi. Mengantre tertib sesuai urutan, kalau ada yang menyalip antrean atau berbuat curang--silakan melapor ke saya. Orang tersebut tidak akan kami layani."

Wih, ngeri kan? Udah ngantre lama-lama trus dapat "ancaman" nggak dilayani. Cara ini ampuh loh, nggak ada kericuhan tentang salip menyalip selama saya mengantre.

Kalau ada hal yang kita tidak mengerti, kita boleh bertanya ke petugas. Setelah itu, kembali lagi ke antrean kita. Asik kan? Saran saya, ingat-ingat siapa yang mengantre di depan dan di belakang kita agar nggak salah urutan. Pengantre di depan saya seorang baby sitter, pengantre di belakang saya Mas dan Mbak yang rangkul-rangkulan. Oke sip, gampang diingat!

Saat sudah jam 8 dan loket resmi dibuka, antrean mulai berjalan. Nanti akan ada panggilan yang menjadi izin memasuki kantor imigrasi, seperti: "Sepuluh orang silakan masuk." dan begitu seterusnya.

Sayangnya saat itu saya nggak tau kalau KTP harus difotokopi sampai setengah halaman. Alhasil saat tengah mengantre, saya keluar sebentar dan menuju ke jasa fotokopi yang letaknya di kantin kantor imigrasi. Berhubung yang senasib dengan saya cukup banyak, saya pun pasrah menunggu giliran saya memfotokopi dan mengikhlaskan kalau nanti giliran saya masuk tapi saya nggak ada di tempat (dan harus antre di paling belakang).

Setelah beres soal fotokopi KTP, saya mencari antrean saya. Hal yang jadi patokan saya adalah mbak baby sitter dengan seragam khasnya. Ternyata eh ternyata mbak babysitter lagi duduk di kantin minum teh botol. Mungkin tadi mbak babysitter hanya mengantrekan tuannya. Baiklah, saya akan mencari Mas dan Mbak yang berangkulan.

Ketemu!

Saya menuju ke antrean yang sudah dekat dengan pintu masuk. Karena saya takut dikira curang, saya bertanya ke bapak yang antre di depan saya. 

"Pak, ini tadinya babysitter kan?"

Bapak yang saya tanya melongo. Darn.

"Ngg.. maksudnya tadi yang mengantrekan mbak babysitter yang di kantin?"

Sekarang beliau mengangguk. Saya lega dan lebih percaya diri untuk berdiri di belakangnya.

"Lima belas orang selanjutnya." ujar petugas di pintu masuk. Akhirnya, giliran saya memasuki kantor imigrasi. Ruangan ber-AC, aku datang!

Di dalam ruangan, tersedia beberapa loket. Satu loket digunakan untuk membagikan paspor yang sudah selesai dibuat, sisanya digunakan untuk melayani pemohon paspor yang hendak mengurus permohonan paspor baik itu pembuatan paspor baru/perpanjangan/paspor hilang.

Meskipun ruangannya ber-AC, tetap nggak sebanding dengan total panas tubuh manusia-manusia di dalam. Yang lebih menyebalkan lagi, transmisi sinyal memburuk. Setelah menyerahkan berkas ke loket dan mengatakan kalau paspor saya hilang, saya duduk di ruang tunggu.

Jumat, 09 Desember 2016

Drama Hilang Paspor 1: Syarat Mengurus Paspor Hilang


Ada yang punya paspor?

Itu loh, buku kecil yang kita pakai kalau mau ke luar negeri. Hahaha, kurang bagus ya penjelasannya? Oke lah.

Kalau menurut Wikipedia: Paspor adalah dokumen resmi yang dikeluarkan oleh pejabat yang berwenang dari suatu negara yang memuat identitas pemegangnya dan berlaku untuk melakukan perjalanan antar negara.

Jadi ceritanya, saya kehilangan paspor.
Kok bisa? Ya bisa, orang saya jaraaaaaaang banget ke luar negeri. Selain itu, saya mengakui kalau memang saya orangnya ceroboh, sih.

Zaman masih kuliah, pak polisi sampai hafal muka saya karena bolak-balik bikin surat hilang di kantor polisi. Mostly karena kehilangan ATM, hehe. Maklum, mahasiswi--duitnya dikit dan harus irit. Jadi saya nggak mau ambil tunai banyak-banyak, soalnya semakin banyak uang di dompet maka saya akan semakin boros. #bukanlifeguide

Setelah lulus kuliah dan tinggal bersama orang tua, makin ketahuan lah kalau paspor saya hilang. Apalagi saat masa berlaku paspor Mama dan Papa saya habis, langsung diadakan pengecekan paspor satu-satu. Sialnya, cuma paspor saya yang hilang.

Oiya, saya baru tahu kalau perpanjangan paspor sekarang gampang ngurusnya. Sistemnya sudah online dan efisien. Adik dan Papa saya mengurus perpanjangan paspor tanpa calo dan tanpa ribet plus tanpa pungli satu rupiah pun!

Setelah semua orang di rumah saya berpaspor, saya doang nih yang nggak punya paspor. Saat mendengar bahwa paspor saya hilang karena kecerobohan, Mama saya langsung mengeluarkan fatwa: "Mbak, bertanggung jawab ya sama kehilangan paspornya. Mama nggak mau bayarin calo. Urus sendiri ke kantor imigrasi. Kalau mau calo ya bayar sendiri."

Kalimat terakhir diucapkan Mama saya karena beliau tahu kalau saya lagi bokek alias nggak ada duit. Yaiyalah, anak baru lulus dan kerjaannya masih paruh waktu. Udah paruh waktu, bukan pengedar narkoba, lagi. Kalau pengedar narkoba kan lumayan. Halah.

Makin diberi tahu kalau saya harus (baca: mau tak mau) mengurus tanpa calo, makin malas lah saya. Tapi orang tua dengan anak pemalas seperti saya memang banyak akalnya, akhirnya keluar janji janji palsu di grup WhatsApp keluarga kalau kami mau berlibur ke luar negeri.

Namanya juga anak muda, kurang pengalaman. Akhirnya saya termakan juga janji liburan ke luar negeri yang sedang hits dibicarakan di grup WhatsApp keluarga. Saya pun mencari tahu apa saja syarat mengurus paspor hilang di internet. Ternyata, menurut beberapa sumber syarat yang harus dibawa adalah:

a. Surat Kehilangan dari kepolisian
b. Fotokopi Kartu Keluarga
c. Fotokopi Kartu Tanda Penduduk
d. Fotokopi Akte Lahir
e. Fotokopi Surat Nikah (apabila sudah menikah)

Oke, berarti yang harus diurus hanya Surat Kehilangan aja ke kantor polisi. Gampang! Saya kan udah pengalaman mengurus surat hilang.

Menurut salah satu sumber yang saya baca, surat kehilangan yang dibawa harus dari polres (Kepolisian Resor) yang baru akan mengurus surat kehilangan kalau kita sudah melapor ke polsek (Kepolisian Sektor). Jadi proses pengurusan surat kehilangannya dua kali:

1. Kepolisian Sektor
2. Lalu bawa surat hilang dari polsek ke Kepolisian Resor

Saya datangi polsek, urus surat kehilangan seperti biasa. Bla bla. Ditanya kehilangan apa, hilang dimana dan kapan. Setelah itu mengisi kolom tanda tangan di surat kehilangan yang sudah dicetak. Beres!

Beberapa hari berikutnya saya datangi polres, sambil membawa surat kehilangan dari polsek. Saat saya menceritakan kejadiannya, pak polisi yang sedang melayani saya malah nanya balik: "Emangnya surat hilangnya harus dua ya, Mbak?"

Saya melongo. "Ngg.. yang saya baca di syaratnya sih gitu, Pak."

Trus dia nanya ke teman sebelahnya, "Kalau ngurus paspor hilang emangnya harus ngurus surat hilang dua kali ya?"

Temannya pak polisi yang juga polisi (ya iyalah!) jawab: "Nggak tau. Udah berubah kali aturannya sekarang. Kan sekarang udah nggak ada calo."

Pak polisi yang melayani saya manggut-manggut mendengar jawaban temannya. Beda jauh dengan saya yang dalam hati bilang: "Trus apa hubungannya, woi?!"

Ya udah lah, mungkin mereka berbicara dengan kode kepolisian yang saya nggak tahu. Surat kehilangan dari polres pun sudah di tangan! Berikutnya, mari kita ke kantor imigrasi untuk memulai pengurusan paspor hilang.

...

Bagian selanjutnya bisa dibaca di sini

Senin, 24 Oktober 2016

Review: Tutu Nail - Stiker Kuku Lucu


Sebenarnya hari ini jadwal saya kontrol ke dermatologist, berhubung klinik langganan saya tutup dan saya sudah terlanjur keluar rumah--akhirnya saya mampir ke mall. Alasan aja sih, supaya bisa cuci mata.

Saya sudah cukup sering melewati tenant Tutu Nail yang lucu ini. Tapi baru sekarang tergerak untuk mampir karena (1) kuku saya masih in shape setelah manicure dan (2) ada tulisan "30K/piece" di dekat rak display-nya.

Iya. Saya rentan terhadap benda-benda lucu yang terjangkau.

Kemudian saya mampir dengan niat untuk membeli satu, "Baiklah, bisa diganti dengan puasa ngafe satu kali." pikir saya.

Mbak pegawainya ternyata ramah sekali. Saat saya tengah melihat-lihat produknya, pertanyaan: "Sudah tahu cara memakainya, Kak?" langsung saya jawab dengan menggeleng. Terakhir saya mainan stiker kuku kayaknya pas SMP (berapa belas tahun lalu ya berarti? Hm).

"Kita ada free sample loh, Kak. Dicoba aja dulu."

Jenius! Tawaran free sample adalah mantra! 💅🏼

Mbaknya menempelkan satu stiker kuku di jari saya, lalu memotong kelebihan stikernya dengan alat kikir kuku (nail buffer). Beres, nggak pakai drama tercoret, berantakan, belum kering, kurang rapi--seperti saat memakai cat kuku.

Ini foto hasil pemakaian free sample-nya di kuku saya..

Liat kan? Potongan ujung kukunya mulus~

Kelebihan stiker kuku dibandingkan dengan cat kuku yang paling signifikan menurut saya sih aplikasinya yang (kelihatannya) gampaaaaaang banget. Cutting yang udah dari sananya juga membuat hasilnya dijamin rapi tanpa repot tiup-tiup menunggu kering setelah pemakaian.

Tutu Nail memberikan 14 potong stiker kuku dalam setiap bungkus produknya. Jadi setiap tangan mendapat 7 potong. Saya juga baru sadar jumlahnya saat dijelaskan Mbaknya. Katanya, kelebihan jumlah ini untuk mengantisipasi ukuran kuku orang yang berbeda-beda. Diharapkan kita tinggal memilih ukuran yang cocok tanpa harus memotong kelebihan lebar stikernya.

Nailed it!
Saya manggut-manggut sambil mendengarkan penjelasan tentang aplikasi dan cara melepas stikernya nanti kalau mau mengganti atau sudah bosan. Dalam tiap bungkusnya juga diberikan nail buffer mini untuk membantu kita memasang sendiri di rumah.

Stiker kuku Tutu Nail ini (kata Mbaknya) bertahan kurang lebih dua minggu dan tidak masalah kalau terkena air (tapi sepertinya nggak bisa dipakai untuk sholat karena kelihatannya tidak berpori, saya lupa nanya tadi).

Apakah saya terpengaruh dengan promosi Mbaknya?

YA IYA LAH! 😆

Saya termasuk jarang menggunakan cat kuku karena kerepotan kalau harus mengaplikasikan sendiri. Paling banter ya sekalian ngecat kuku di salon usai manicure. Kalau ada kesempatan menghias kuku dengan mudah dan murah, I am definitely in!

Petunjuk pemakaian dan nail buffer mini
Duh, sumpah deh. Susah untuk nggak tergoda sama varian stiker kuku yang ada. Mulai dari animal print, lacey, cartoon, tribal, segala ada. Bahkan yang glow in the dark pun ada! Lumayan kan, selain buat nongkrong cantik, bisa buat dugem lucu sekalian.

Saya yang awalnya berniat beli satu untuk percobaan, berakhir dengan belanjaan segini banyak 😂


Kalau beli empat, kita mendapat harga khusus. Total belanjaan saya jadi 100K (seharusnya 120K). Jadi lebih hemat kan?

Iyain aja.

Berhubung saya belum mencoba memakai stiker kukunya sendiri, saya belum bisa detail mengomentari apakah memang benar Tutu Nail mudah diaplikasikan. Nanti setelah mencoba (dan kalau ingat) saya akan tulis reviewnya lagi, sekalian menguji apakah benar stiker kuku ini bisa bertahan dua minggu.



Sebagai informasi tambahan, saat saya membuka salah satu bungkusnya ada peringatan pemakaian. Selain stiker kuku ini harus segera digunakan setelah dibuka, penggunaan terus menerus dapat membuat kuku kita kering. Jadi, gunakan dengan bijak ya! Jangan lupa simpan stiker yang belum terpakai di dalam bungkusnya dengan isolasi agar perekat pada stiker tidak kering 😉

Minggu, 23 Oktober 2016

...

Jarak memang paling brengsek.

Seperti senang sekali kalau kita terpisah beratus kilometer jauhnya.
Seperti kita tak cukup dipisah kesibukan, kini di antara kita terbentang lautan.
Aku benci.

Aku benci karena aku tak bisa mudah lagi menjangkaumu.
Beberapa jam perjalanan darat berubah setengah hari dengan pesawat terbang.

Kita belum bicara soal jadwal istirahat yang urutannya tak karuan.
Aku benci

Rabu, 19 Oktober 2016

Kencan

Suatu hari, saya main ke rumah Uti--sahabat saya. Di rumah, Uti (saat itu) tinggal bersama bude--(saudara Ibu yang lebih tua)--nya. Saya lupa untuk urusan apa, mungkin lagi kangen aja sama Uti.

Tenang aja, saya yakin Uti nggak baca blog saya kok :p

Budenya Uti ini tidak menikah, hidup sendiri (kecuali kalau Uti mampir berkunjung) dan benar-benar mandiri. Mandiri artinya tanpa asisten rumah tangga, pergi ke gereja, beli sarapan, belanja, dan masak makanan sendiri. Meskipun beliau sudah agak pikun.

Di keluarga besar saya, ada beberapa tante dan om yang juga tidak menikah. Tapi tante dan om di keluarga saya tidak tinggal sendiri seperti budenya Uti. Sebagai orang yang mudah kesepian, saya nggak bisa membayangkan hidup sendiri seperti budenya Uti. Jadi, mumpung saya di sana.. Saya manfaatkan waktu untuk menemani bude mengobrol.

Saat tengah bercerita (entah tentang apa), bude berujar: "Iya, kemarin kan Uti ada kencan sore-sore. Pulangnya malam, bude sampai nggak bisa tidur nungguin. Meskipun Uti bawa kunci kan, bude tetap khawatir."

Saya langsung menoleh ke Uti, galak. Bukan karena Uti membuat khawatir bude, tapi lebih ke: "OH LO ADA GEBETAN BARU TAPI NGGA CERITA KE GUE?"

..ya maklum, namanya juga cewek yang sahabatan. Gitu lah. Ngerti kan? Iya. Gitu.

Trus Uti (yang sadar kalau beberapa detik lagi saya akan mengomel panjang) langsung berbisik ke saya, "Bude emang gitu, kencan tuh bukan berarti dating tapi janjian. Janjian sama siapa aja dia bakal sebut kencan."

Oh.

Saya yang sok filosofis langsung berteori ngawur semacam: "Berarti orang zaman dulu mengangap kencan adalah janji, ya? Sayang banget kalau anak muda zaman sekarang bisa kencan sana sini seenaknya dan menganggap itu hal yang remeh."

Hah, anak muda zaman sekarang? Itu mah lo aja kali, Ul!

Trus sore ini saya nemu pengertian kencan yang BENAR! Iya saudara-saudara, berikut adalah arti kata KENCAN yang benar. Bukan yang ngawur semacam analisis saya hari itu.



Ternyata bude Uti sudah menggunakan kata kencan dengan benaaaar!
*sungkem

Omong-omong, akhir pekan besok udah ada jadwal kencan?

Belum?

Nomor mantan masih ada, kan? #eh

I Don't Wanna See You With Her



"You will move on."

"That would be hard for me." ujarmu kala itu, dengan tawa dipaksa. Kita duduk berhadapan dengan dua cangkir penuh belum tersentuh.

Dua kopi bisu yang kita pesan hanya supaya kita tidak sendirian.

Percuma, setelah pembicaraan di kedai kopi ini kita berdua akan sendirian. Aku memutuskan untuk menyudahi kita. Entah apa yang ada di kepalaku saat itu. Mungkin dicintai kadang tak seindah kelihatannya. Semua kebaikan yang kamu alirkan menakutkan bagiku. Semakin kamu dekat, semakin aku merasa tak aman. Semakin kamu bicarakan masa depan, semakin aku ingin berlari sejauhnya.

Aku tidak takut masa depan.
Aku takut pada masa depan yang kamu rangkai dengan aku di dalamnya.

Lalu bulan berlalu. Kita lalui waktu seperti dua orang asing dengan pembicaraan-pembicaraan dangkal. Kamu bekerja gila, seperti tak ingat siang malam. Aku kembali ke kencan-kencan singkat, membunuh kesepian agar tetap waras.

Sampai di kedai kopi yang sama, kamu berdiri di antrean dengan lini yang sama. Di depanku, begitu dekat. Aku sudah lupa kapan terakhir berjarak sedekat ini denganmu.

"Hey." katamu dengan segelas kopi di tangan--baru menyadari bahwa aku ada di belakang.

Aku tersenyum canggung, belum tau mau membalas apa. Otot rahang tiba-tiba kaku. Aku bahkan yakin bahwa senyumku terlihat aneh.

"Aku duduk di sana." tanganmu yang menggenggam kopi menunjuk ke salah satu sisi ruangan. Tempat duduk dekat dengan dinding kaca yang aku suka saat hari hujan karena kita bisa mengobrol sambil memandangi bulir air tergelincir satu-satu.

Aku mengangguk. Seperti mengiyakan ajakan yang tak secara langsung kamu ucapkan. Kepalaku menerka kita akan terlibat dalam obrolan seperti apa. Apakah kita akan sama-sama menguak masa lalu? Atau malah memulai sesuatu di masa sekarang?

..aku tentu tidak keberatan kalau kamu berhenti ambisius tentang masa depan dan rencana-rencana menakutkan itu.

Maka dengan kopi yang masih hangat di telapak tanganku, aku duduk di depanmu. Kamu membuka layar notebook, sudah barang tentu berurusan dengan pekerjaan. Saat melihatku, kamu segera menutupnya dan melempar senyum.

Di sini kita, dua orang yang kembali asing--dengan dua gelas kopi.

"Kamu masih sering ke sini?"

"Masih." jawabku singkat. Aku tidak mungkin menambahkan bahwa tempat ini satu-satunya cara aku bisa bernostalgia dengan hadirmu. Aku tidak pergi ke sini selain denganmu. Tak aku izinkan teman-teman kencanku merusak kenangan kita.

"Oh," kamu merespon bingung. "Mau ngapain abis ini?"

"Nothing."

Tidak ada agenda apapun yang lebih penting hari ini. Kalau aku perlu melepaskan satu project yang siang ini rapatnya harus kudatangi, aku tak peduli.

"Aku sedang menunggu pacarku. You mind?"

"Of course not." balasku tersenyum pahit. Tiba-tiba saja merasa bodoh dengan semua asumsi dan harapan yang aku kembangkan sejak tadi. Kalau bisa, aku ingin memilih keluar saja dari kedai kopi ini sebelum kamu menyapa. "Tapi aku harus pergi."

"Kenapa?"

"I don't want to bother you." kataku beranjak dari kursi. Aku harus selekasnya pergi, menyelamatkan diri sebelum terluka lebih lagi.

...

Cause I don't wanna see you with her
I don't wanna see her face
Resting in your embrace

Her feet standing in my place -Maria Mena (I Don't Wanna See You With Her)

Sabtu, 15 Oktober 2016

#cakap

"Pernah terpikir meninggalkanku?"

"Pernah. Berkali-kali."

"Lalu, kenapa masih di sini?"

"Alasannya berbeda-beda. Tapi seringnya karena aku sadar bahwa aku mencintaimu lebih dari sekedar cukup untuk tetap bertahan dalam ketidakpastian."

Ketika (harus) Ribut


Dosen mata kuliah Antropologi Psikologi saat saya kuliah dulu bercerita hal yang menarik saat kami tengah membahas "konflik". Beliau mengibaratkan konflik sebagai bunyi peralatan makan yang dahulu haram terdengar di atas meja. Konflik diredam kuat-kuat, tidak boleh sampai keluar dan menimbulkan suara. Kalau dalam resolusi konflik disebut "avoiding" atau "denying" dan hal tersebut tidak menyelesaikan konfliknya sama sekali.

Sebagai keluarga dengan kultur Jawa, Ayah saya cukup sering menegur saya perihal konflik ini. Entah terkontaminasi apa selama kuliah, saya jadi super "ribut" di rumah. Hal ini mengejutkan untuk keluarga saya yang resolusi konfliknya lebih sering menggunakan gaya "avoiding". Pada akhirnya, saya juga jadi menyesuai dengan mengatur kembali tingkat reaktivitas saya terhadap suatu masalah atau ketidaksetujuan (alasan lainnya karena saya juga tidak punya teman berdiskusi sebab yang lainnya memilih diam saat saya membahas sesuatu).

Saya ingat sekali pernah dekat dengan orang yang tipenya mirip dengan saya. Saat ada masalah, saya (awalnya) dipaksa membicarakan masalahnya. Meski kali pertama dan kedua harus dengan air mata karena saya emosional dan bingung mengekspresikan. Ya iya lah, wong saya sedang membiasakan diri dengan gaya "avoiding" lalu tiba-tiba diminta berubah jadi "creative integrative". Kan kaget. Setiap ada masalah, kami membahasnya. Bagaimana dari sisi dia, bagaimana dari sisi saya. Ribut? Pasti! Saya ingat sampai menaikkan nada satu dua oktaf di dalam mobil. Ditambah nangis sesenggukan yang berujung lapar.

Tapi kelebihannya, setiap masalah jadi jelas. Oh maksudnya begini, oh ternyata dia memandangnya begini, dan oh oh halal yang lain. IYKWIM ;)

Menurut literatur yang saya baca, konflik memang bisa menguatkan atau melemahkan sebuah relasi. Dalam kasus saya dan teman dekat saya, konflik menguatkan kami. Dengan berkonflik, kami jadi bisa memahami perspektif masing-masing dan membuat kesepakatan kalau-kalau suatu hari konflik yang sama kami alami. Atau malah bersepakat untuk tidak bersepakat akan sesuatu. Bingung ya? Hehe.

Saat seperti apa konflik bisa menguatkan? Saat resolusinya kedua pihak saling menurunkan ego dan mengubah "bagaimana cara saya memenangkan ini" menjadi "bagaimana caranya mendapat solusi terbaik untuk kami". Susah? Emang. You must love him/her enough to let your ego down and think clearly.

Berkonflik dengan pasangan atau keluarga tentu berbeda dengan berkonflik dengan (let's say) sales asuransi. Kecuali pasangan kamu sales asuransi (lucu nggak? Nggak ya? Yaudah deh). Diskusi untuk mencapai keputusan yang baik dengan pasangan, kita harus memerhatikan perasaannya dan menyampaikan maksud kita dengan cara yang baik. Nggak boleh gebrak meja atau maki-maki. Yaaa, sama sales asuransi juga ngga boleh sih gebrak meja atau maki-maki. Tapi ngerti kan maksud saya?

Selain menyampaikan dengan baik, diskusi juga harus tetap jujur dan jauh dari manipulasi-manipulasi busuk. Hehe. Kepercayaan adalah modal utama dalam beresolusi konflik yang asik. Kalau pasangan merasa "dimanfaatkan" atau "dibohongi" maka dijamin konflik-konflik berikutnya lebih runyam dan bikin pusing kepala.

Ps: Kalau ada yang mau mendalami soal resolusi konflik, saya menemukan tautan yang cukup bagus di sini

Rabu, 12 Oktober 2016

Begini


Aku pernah duduk di sebelahmu dan bertanya-tanya, apa rasanya kelak saat kita tak lagi bersama-sama. Saat itu kamu sedang menjelaskan entah lah tentang apa, kadang aku tidak begitu memerhatikan. Aku hanya tak ingin kamu mati bosan mendengarku bicara, maka kutanya satu dua hal supaya kamu tak diam saja.

Bagaimana rasanya saat kamu tak ada lagi di hidupku, ya?

Seharusnya, bukan masalah. Toh sebelumnya kamu juga tak ada di sana. Kita hanya dua partikel yang menikmati momen tumbukan. Meski kamu tidak percaya bahwa di dunia ini ada yang kebetulan.

Kamu kemudian hilang penuh. Tak ada kabar, mungkin tak sempat atau malah sengaja tidak memberi. Jarak kemudian nyaman bersarang di antara kita. Padahal sebelumnya, kupangkas jarak tiada ampun--tak boleh tumbuh barang sejengkal tingginya.

Kali ini, hidupmu bukan urusanku.

Aku tak akan lagi mengomel panjang karena waktu tidurmu minim dan tak berpola.
Aku tak akan lagi detil bertanya apa saja yang kamu makan hari ini.
Aku tak akan lagi menjelaskan kenapa kamu sebaiknya berpakaian rapi.

Kali ini, hidupmu bukan urusanku.

Kita sudah selesai saling mengurusi hidup masing-masing.

..dan aku sebaiknya tidak membuka-buka percakapan lama kita atau membaca ulang surat-suratmu.

Sebagai jawaban dari pertanyaan di awal. Tentang bagaimana rasanya saat kamu tak ada lagi di hidupku.

Ternyata begini rasanya.

Senin, 03 Oktober 2016

Parental Favoritism: Saat Ortu Pilih Kasih


Selain "Berarti lo bisa baca gue dong?" dan "Gimana sih biar lulus psikotes?" yang sudah akrab di telinga saya sejak baru masuk kuliah di jurusan psikologi, baru-baru ini isu parenting mulai mampir sebagai tema curhat orang-orang di sekitar saya.

Alasannya? Orang-orang di lingkar pergaulan saya mulai masuk ke tugas perkembangan baru, menjadi orang tua. Saya memang cukup banyak bergaul dengan orang yang usianya lebih tua, jadi jangan dulu menghakimi kalau teman-teman saya buru-buru kawin atau (malah) saya terlambat kawin ya!

Tepatnya nikah, sih. Kalau kawin, saya nggak merasa telat tuh :p

Kembali ke topik! Kemarin saya overheard percakapan soal parenting. Salah satu bagian yang cukup membuat saya terkejut adalah: "Ya gampangnya gini aja, kalau ada kebutuhan kamu dan kebutuhan adik kamu yang datang bersamaan--jangan kaget kalau kami (orang tua) mendahulukan kepentingan adik kamu. Tahu nggak kenapa? Soalnya kamu bandel."

Hah?!

Saya sih nggak terbayang kalau saya sebagai anak dan sedang berbicara dengan orang tua lalu muncul reaksi seperti itu. Secara subjektif saya kemungkinan besar akan mengabaikan bagian "..soalnya kamu bandel." dan lebih fokus ke "..kalau ada kebutuhan kamu dan kebutuhan adik kamu yang datang bersamaan--jangan kaget kalau kami (orang tua) mendahulukan kepentingan adik kamu."

Saya lalu mencari informasi tambahan (karena saya nggak mungkin tiba-tiba menginterupsi percakapan itu) dan memutuskan untuk membaca. Kenapa? Soalnya saya kalau penasaran nggak bisa tidur. Trus kalau ngga bisa tidur saya makan mi instan atau cemilan. Trus saya jadi gendut. Tuh kan jadi kemana-mana dampaknya.

Pernah dengar istilah favoritism?

Favoritism is the practice of systematically giving positive, preferential treatment to one child, subordinate or associate among a family or group of peers.

Dalam Bahasa Indonesia, favoritism pemberian perilaku istimewa (yang positif/menyenangkan) pada satu anak, bawahan, atau rekan di dalam keluarga atau kelompok yang sifatnya preferensial. Saya masih berusaha mencari padanan katanya dalam Bahasa Indonesia, namun belum ketemu (kalau ada ide, boleh ditulis di kolom komentar). Secara gampang, mungkin semacam "pilih kasih" kali ya?

Favoritism ini ternyata terjadi di berbagai jenis hubungan. Selain orang tua-anak, favoritism juga ditemukan pada hubungan lain seperti hubungan atasan-bawahan dalam dunia kerja. Kali ini saya mau fokus menulis favoritism untuk hubungan orang tua-anak (parental favoritism).

Masa' sih orang tua pilih kasih?

Penelitian menunjukkan demikian. Parental favoritism ditemukan terjadi sebanyak 1/3 sampai 2/3 pada keluarga di Amerika Serikat (Suitor, 2008). Bentuk favoritism dapat beraneka macam, misalnya: menghabiskan waktu lebih banyak dengan seorang anak dibandingkan saudaranya yang lain, memberikan/menunjukkan kasih sayang lebih dibandingkan saudaranya, memberikan fasilitas atau keistimewaan hanya pada anak tertentu, atau memberikan kelonggaran aturan/hukuman. Sounds familiar?

Perlakuan orang tua terhadap anak memengaruhi tumbuh kembang dan pribadi anak, begitu juga dengan parental favoritism. Anak-anak yang tumbuh sebagai anak yang dinomorduakan (less favoured children) memiliki kemungkinan lebih besar dalam menderita depresi, memiliki kepercayaan diri yang rendah, dan performa akademik yang buruk di sekolah.

Tapi anak kan akan dewasa. Pas mereka udah tinggal sendiri (nggak bersama orang tua) berarti mereka sudah "aman" dong?

Sedihnya, hal-hal buruk yang dialami oleh anak yang dinomorduakan tidak semata-mata berhenti setelah anak tersebut tidak tinggal bersama orang tuanya lagi. Bahkan setelah dewasa, individu yang masa kanak-kanaknya merasakan parental favoritism masih memiliki kepercayaan diri rendah dan dapat bermasalah di dalam hubungannya dengan orang dewasa lain (rekan kerja/atasan/pasangan).

Tentu saja kita tidak sedang membicarakan perlakuan istimewa saat salah satu anak sedang sakit, ada bayi yang baru lahir, atau saat salah satu anak memang memiliki kebutuhan khusus. Perlakuan istimewa dalam kondisi seperti di atas dapat dibicarakan dengan anak untuk menangkal dampak negatif yang mungkin timbul.

Menjadi adil dalam peran apapun memang sulit dan hampir tidak mungkin. Sebagai orang tua, teman, bos, rekan kerja, bahkan pasangan (kalau memang punya lebih dari satu pasangan). Bahkan bagi orang tua yang merasa sudah berlaku adil pada anak-anaknya pun, tidak menjamin bahwa anak mereka merasakannya.

Ya biarin aja, yang penting gue udah adil!

Sayangnya tidak seperti itu. Persepsi anak merupakan hal yang penting di sini. Saat anak memiliki persepsi bahwa orang tuanya memiliki "anak emas" di saat itu lah anak merasa dirinya sebagai anak yang dinomorduakan. Tricky isn't it?

Seorang profesor psikologi yang mendalami isu dan penelitian terkait parental favoritism memberikan tips untuk meminimalisir efek favoritism dengan mengungkapkan pada anak-anak bahwa Anda (orang tuanya) menyayangi mereka.

Ya iyalah gue sayang, gue kan orang tuanya!

Iya, masalahnya MERASA sayang aja belum cukup. Ingat bahwa favoritism bisa jadi persepsi anak terhadap perlakuan orang tua padanya dan saudaranya. Maka KOMUNIKASIKAN dan EKSPRESIKAN rasa sayang supaya anak merasa disayang.

Salam sayang! ;)


sumber:
http://outofthefog.website/top-100-trait-blog/2015/11/4/favoritism
http://www.ingentaconnect.com/content/bpl/cdir/2008/00000017/00000005/art00008
https://www.psychologytoday.com/blog/the-narcissus-in-all-us/200901/when-parents-play-favorites
https://www.psychologytoday.com/blog/the-favorite-child/201104/when-favoritism-becomes-abuse
http://www.npr.org/sections/health-shots/2014/09/17/349246014/kids-perception-of-parents-favoritism-counts-more-than-reality
http://psycnet.apa.org/journals/fam/28/4/549/

Selasa, 06 September 2016

Pertanyaan Sederhana


Pagi biasa.

Laki-laki itu bangun di sisi kiri, semata karena tak ingin perempuan di sebelahnya terjatuh. Tempat tidur mereka rapat dengan dinding. Perempuan tidur di sisi terdekat dengan dinding. Biarkan sesekali dingin, selama lelaki tenang bahwa perempuan tak akan bergeser dan jatuh melantai.

Perempuan tidur dengan napas teratur, dadanya naik turun. Darah laki-laki berdesir, ada yang menggeliat di bawah sana. Dikecupnya bahu terbuka perempuan, lembut.

Seperti dugaan, perempuan terbangun. Matanya mengerjap. Saat menangkap laki-laki di depannya menatap, senyumnya terkembang.

"Apa kamu mencintaiku?" tanya laki-laki, tanpa pembuka. Lurus.

Perempuan menatap mata laki-laki penuh tanya. Tak ditemukannya keterangan lain. Bahu perempuan terangkat heran.

"Apa kamu mencintaiku? Pertanyaan sederhana, kan?"

Harusnya.

Tapi cinta tak pernah terlintas di benak perempuan untuk diucapkan. Tidak setelah hatinya remuk bertahun lalu. Hidupnya dibuat kosong tanpa jerat, sehingga mudah saja dilalui untuk datang dan pulang.

Lagipula, siapa yang butuh selamanya kalau sekarang dan saat ini terasa menyenangkan, kan?

Cinta sudah dihapus dari kepalanya sejak lama. Siapa pun yang bicara, perempuan tak percaya. Kepada siapa pun, dia tak pernah berkata.

..jadi tak ada istilah sederhana untuk pertanyaan ini.

"Aku tidak tahu." jawabnya gamang, tak ingin laki-laki menunggu lebih lama. Ia sungguh ingin laki-laki pergi saja tanpa bertanya. Saat ini, dia lebih baik sendiri ketimbang harus bercerita.

...

Aku tidak tahu apa pantas berkata cinta padamu saat aku masih menapakkan sebelah kakiku di masa lalu. Aku tak ingin langkahmu terhambat menyeret orang yang masih mencandu pada masa lalunya.

Ada tanggal tertentu yang masih kurayakan meski tak dengan senang hati. Ada senja dan tempat yang tak kukunjungi karena kenangannya begitu kuat. Ada wangi yang menciumnya sesaat bisa membuat tangisku tak berhenti.

Ada nama yang bila terdengar olehku lantas membuat keadaan baik-baik saja yang kususun menjadi runtuh. Aku belum baik-baik saja.

..karena itu, aku tidak tahu apakah aku sudah mencintaimu.

Jelasnya, aku sudah mencoba. Namun kalau kamu memaksa, jawabanku sama.

Aku tidak tahu.

Rabu, 10 Agustus 2016

Pergi Sekarang


Sepi terhidang di atas meja, melumuri dinding-dinding ruangan, menyala turut serta cahaya lampu gantung yang kekuningan. Malaka duduk menggenggam pisau dan garpu, di depan kekasihnya--Via.

Berbeda dengan suasana saat ini, masing-masing mereka ribut sendiri dengan degup jantung masing-masing. Baru beberapa menit lalu sunyi menang. Sebelumnya, seperti pasangan kebanyakan, mereka duduk dengan obrolan ringan yang hangat.

Sampai Via memulai sebuah percakapan.

...

"Mal, kalau suatu hari aku meninggalkanmu.." kalimatnya berjeda di situ, derit aduan pisau dan piring Malaka terhenti. "..tolong percayai aku bahwa aku melakukannya untuk kebaikanmu, ya?"

Malaka mengiris daging di depannya, berusaha agar tidak reaktif dengan pernyataan barusan. "Mengapa?"

Ditanya begitu, kedua tangan Via yang sudah tak lagi menyentuh alat makan saling meremas. Bingung. "Pokoknya percaya saja. Ini bukan suatu yang bisa kamu pertanyakan."

"Lantas, mengapa tidak pergi sekarang saja?" lanjut Malaka dengan ekspresi tenang yang palsu. Dikunyahnya daging perlahan meski perutnya sudah tak berselera makan. Kadang Via memang begini menyebalkan. Lihat sekarang, perempuan itu menggigit bibirnya sendiri, bola matanya lari sana-sini seperti jawaban pertanyaan baginya ada di suatu tempat di ruangan itu.

Sunyi mengetuk, menjalar pelan namun tak berhenti.

...

Kenapa aku tidak meninggalkan Malaka sekarang saja?
Pertanyaan brilian. Kenapa juga tak pernah kupikirkan meninggalkannya sekarang?

...

Nyeri.
Ada ngilu merayap di dada Via. Pita suaranya macet.
Banyak kalimat di kepalanya melebur jadi makna yang tak bisa lagi disusun sebagai kata-kata. Via hilang fungsi berpikir, hanya bisa merasa.

...

Kamu tidak bisa seenaknya datang dan pergi dalam hidup orang lain, Via. Aku tidak sembarang membuka hati. Kamu tidak kuizinkan mengobrak-abrik ruang hatiku lalu pergi begitu saja.

...

Malaka meneruskan makannya hanya supaya tak tergoda terus menanyai Via yang kini membisu di ujung meja. Tak ada gunanya juga, Via tak akan menjawab saat sedang begini. Diamnya membuat Malaka semakin frustasi.

...

..karena Malaka bukan sembarang orang. Tidak setiap hari aku jatuh cinta sampai tolol begini. Tidak selalu kutemukan orang yang ketidakhadirannya membuat hariku serasa kosong. Sial kamu, Malaka. Kamu pasti sudah tahu aku tak akan mampu meninggalkanmu sekarang. Tidak saat aku tengah cinta-cintanya.

...

"Vi?" Malaka angkat suara, makanannya habis sudah. Via boleh meneruskan diamnya di mobil sepanjang perjalanan pulang nanti. Sekarang Via harus pulang, angin malam bisa membuatnya tidak enak badan esok hari. "Kita pulang, yuk?"

Via mengangguk. Berdiri dan mengikuti langkah kaki Malaka. Tidak ada rangkul dan gandeng tangan seperti saat mereka datang.

...

Aku ingin menggenggam tanganmu, Vi. Namun aku mengerti jika kamu sedang ingin sendiri, menelaah pikiran-pikiran dalam kepala di dunia yang hanya kamu tahu letaknya dalam kepalamu.

...

Kenapa tidak menggandeng aku, Malaka? Sesiap itukah kamu kutinggalkan? Bahkan saat aku masih tak terbayang sakitnya padahal baru memikirkan kemungkinan.

Selasa, 09 Agustus 2016

Jelas


Drian membuka kunci flat kekasihnya dengan gusar. Di sofa sosok asing berdiri terkejut, lalu melemparkan senyum ramah. "Nina masih di kamar mandi."

Penjelasan singkat yang tak ditanggapi Drian. Secepatnya dia ingin bertemu Nina. Pintu kamar mandi terbuka, Nina keluar masih dengan baju yang menurut tebakan Drian adalah baju yang sama yang dipakainya semalam. "Kamu baik-baik saja?"

Nina diam, lalu menoleh pada sosok yang tadi menyambut kedatangan Drian. "Lex, I am fine. You can go now."

Beberapa menit kemudian, tersisa hanya Drian dan Nina. Juga sunyi yang nyalang menggema. Tak tahan, Nina angkat bicara. "Mau diam sampai kapan? Kamu datang untuk diam?"

Nafas Drian terhela satu-satu, gusar. "Kenapa tidak menghubungi aku?"

"Bukannya kita belum saling menghubungi sejak bertengkar tiga hari lalu?"

Drian menukas tak sabar dengan kekesalan yang kentara jelas, "Tapi kamu pulang dalam keadaan mabuk semalam."

"Lalu?"

"Dan aku tidak akan pernah tahu itu kalau bartender barnya tidak memberi tahu aku, Na!" nada Drian naik setengah oktaf. Terjawab kenapa berita ini sampai ke telinga Drian, Nina lupa kalau teman pacarnya itu bekerja di bar yang ia datangi  semalam. Terkejut sesaat namun Nina segera menguasai dirinya. "Kamu pikir, kalau ada yang terjadi padamu, apa yang akan aku lakukan?" lanjut Drian dengan sabar yang dikumpulkan perlahan.

Nina bersedekap, enggan bergerak. Ruangan terasa dingin sekali terbalut sikap Drian. "Kita sedang bertengkar waktu itu." ulang Nina.

"Kamu pikir aku berhenti menjaga dan memedulikanmu saat kita bertengkar, Na? Iya?" Drian menghela napas, tak habis pikir dengan pola pikir perempuan di depannya. "Aku sayang kamu, Na. Berapa pun pertengkaran denganmu, itu tidak berubah."

"Alex temanku. Kami tidak melakukan apapun semalam."

Mendengar respon barusan, Drian bertanya-tanya sebenarnya ada apa dengan logika Nina? Apa sulit sekali memahami kalau bukan itu poin kekesalannya saat ini. Tak ingin makin gusar, Drian menoleh ke arah lain, membuang pandang ke dinding kaca flat Nina yang mengarah ke hamparan gedung pencakar langit di sekitar apartemen. "Ini bukan soal kepercayaanku, ini soal keselamatanmu. Cukup jelas bedanya, Na?"

Nina memeluk kekasihnya, hangat. Ada yang jelas dan terang baginya sekarang. 
 

Template by Best Web Hosting