Selasa, 10 November 2015

I hate your BF #WhatIf


Dua hari yang lalu, saya dan Uti (sahabat saya) terlibat obrolan #WhatIf yang menarik. Obrolan #WhatIf ini biasanya obrolan berisi pengandaian yang cukup sering kami lakukan. Topiknya bukan suatu yang berat, kami juga tidak selalu serius dalam menjawabnya.

Bagaimana kalau salah satu (atau salah dua) dari kami menikahi orang yang tidak disukai yang lainnya?

Misalnya, saya menikah dengan orang yang tidak Uti sukai (atau sebaliknya).

Fenomena ini sebenarnya nggak terlalu pengandaian sih. Since we usually hate each other's partner. But it's reasonable! There are times that we both are so in love (ugh) and misjudge someone. And no, we are not lesbian. LOL.

Saya mudah menerima laki-laki yang dekat dengan Uti (dan sahabat saya yang lain). Tapi kalau saya tahu sekali saja sahabat saya disakiti naluri sebagai orang yang protektif (semi posesif) langsung keluar tak terkendali. Mulai dari memaki-maki sampai menawarkan diri sebagai eksekutor metode "labrak" yang kesannya ABG banget!

Jadi buat saya, sistem penilaian pacar sahabat itu semacam: "Nih gue kasi 100% tapi tiap kali lo bikin salah gue kurangin ya (and there will be no fckin way you can gain more points)."

And it's mutual. 

Uti hampir nggak pernah get along sama mantan pacar saya (waktu jadi pacar, tentunya). Get along maksudnya mendukung dan pro sama si pacar (soalnya saking singkatnya hubungan-hubungan saya, saya belum sempat mengenalkan ke Uti, eh udah putus aja). Jadi topik mantan pasti jadi ajang kami saling melampiaskan kekesalan (lucunya bukan ke mantan sendiri, tapi mantan satu sama lain).

Anyway, kembali ke obrolan #WhatIf kami. Saya sebagai pelempar topik menjawab lebih dulu.

"Gue sih mungkin haha hehe (ikut seneng) aja Ti. Yaudah kalo lo bahagia sama dia, mau nikah, oke. Kalau harus makan bareng atau ketemu ya nggak apa apa. For the sake of friendship. Tapi sekali dia bikin salah, awas aja! Gue pasti memanfaatkan kesalahannya buat meyakinkan lo pergi. Semacam provokasi gitu supaya lo udahan sama dia."

Uti tertawa mendengar jawaban saya yang konyol. Lalu bergiliran menjawab: "Gue bakal meyakinkan supaya lo ngga punya anak. Supaya kalau suatu hari dia emang brengsek, gampang cerainya."

Yeah. Bestfriends think alike.


ps: ini bukan tips, apalagi anjuran.

Jumat, 06 November 2015

Mengapa aku?


Aku mencintamu dalam-dalam. Dalam tiap tarik napas, menghayati tiap pembuluhku diisi dan hidup. Lalu membuang napas, menyadari bahwa batas hidup dan mati bisa setipis itu.

Kalau suatu hari kamu bertanya, "Mengapa aku?" dengan wajah penasaranmu yang biasa, aku sudah menyiapkan jawabannya.

Yang jelas bukan karena kamu yang paling sering mengada untukku. Waktumu sedikit tersisa, tapi yang sedikit itu kamu hibahkan untukku. Meski kadang diselingi kantuk dan lelap yang datang tak diundang.

Sayangnya bukan karena kamu rupawan. Kamu biasa saja. Tidak juga buruk rupa. Namun senyummu menyejukkan. Aku hampir selalu teryakinkan kalau semua akan baik-baik saja tiap kali kamu tersenyum.

Mungkin karena kamu menjaga dongeng-dongengku yang rapuh. Kamu tidak mengejek atau menganggapnya tolol. Bermimpi perlu sekali-kali, supaya jiwa tidak mati. Dongeng adalah mimpi-mimpiku, menulis adalah caraku menghidupkannya. Kamu menghargai itu.

Kamu yang paling tahu, bagaimana memunculkan matahari di tengah mendungku. Aku tak bisa menebak polanya. Kadang sentuhan, kadang bentuknya kata-kata manis atau lelucon, kadang hadiah kecil yang kamu siapkan. Kamu seperti mempelajari aku, menemukan formula bahagiaku.

Dengan semua kebaikan-kebaikan yang kamu berikan untukku, aku merapal syukur tinggi-tinggi. Sayang, bolehkah aku balik bertanya, "Lantas, mengapa aku?"
 

Template by Best Web Hosting