Selasa, 22 September 2015

Belajar dari Pom-Bell


Perkenalkan, kucing di sebelah kiri adalah room mate saya. Kucing lincah dan menyenangkan yang menemani dan menghibur saya dengan semua polah lucu! Namanya Bell.

Suatu malam, sepulang dari makan bersama Uti (sahabat saya), saya bertemu Pom (kucing sebelah kanan). Kucing yang bulunya bagus dan sedang terlilit kalungnya. Kalung yang diberikan pada Pom memang terbuat dari karet, saya dan Uti akhirnya memutuskan untuk menggunting kalung di leher Pom dan memberikannya shelter serta makan.

Pom makan dengan lahap (seperti kebanyakan kucing terlantar) lalu tidur pulas. Menurut saya, Pom sebelumnya juga dipelihara entah oleh siapa. Kucing ini tenang sekali, bahkan cenderung percaya pada manusia lebih dari kucing-kucing yang dasarnya memang tinggal di jalan.

Masalah datang saat Bell mulai menggeram tiap kali didekatkan dengan Pom. Bell yang biasanya manis menjadi galak dan mencakar Pom. Pom--entah karena sabar atau mengantuk--tidak membalas dan melanjutkan tidur. Saya kesal karena Bell nggak bersahabat dengan kucing lain, padahal kan harusnya dia berempati dengan kucing yang nasibnya nggak beruntung.

Esoknya, suasana berubah. Bell yang mulai nyaman dengan keberadaan Pom mengajak main dengan cara yang bersahabat. Bersahabat versi kucing ya, jadi isinya lelompatan dan bikin kaget lawan mainnya. Tapi Pom sudah nggak setenang hari sebelumnya, jadilah Bell dicakar dan diberikan sinyal "senggol bacok".

Saya geli campur miris melihatnya. Bell dan Pom pasti punya cara berbeda untuk menghadapi suasana baru. Bell yang insecure mungkin punya prinsip bahwa "semua orang (eh, kucing) berbahaya dan mengancam sampai ada bukti yang mengatakan sebaliknya" maka dari itu dia pasang benteng sejak awal bertemu saya dan Pom.

Sedangkan Pom, kucing rumahan yang prinsip hidupnya "baik dan sabar aja dulu ke semua orang, sampai mereka nggak pantas lagi diperlakukan baik" akhirnya merasa perlu melabeli Bell sebagai musuh. Bahkan setelah Bell berusaha melakukan interaksi positif.

Saya cenderung lebih pada prinsip Pom dalam menghadapi banyak situasi dalam hidup. Baik aja dulu ke semua orang, bantu sebisanya dan berusaha untuk mengerti mereka. Mantra hidup saya: "Be kind. Always be kind first. You can always be mean later." Maka dari itu, saya merasa mudah sekali get along dengan orang baru.

Hanya saja, kalau kemudian mereka menyakiti dan menyebalkan tanpa alasan yang jelas--saya juga akhirnya bersikap seperti Pom. Memberi orang tersebut label "berbahaya" dan "mengancam" serta sulit percaya hal apapun yang dia lakukan meskipun terlihat manis dan menyenangkan.

Mungkin itu kenapa saya cocok sama Bell. Opposite attracts!
 

Template by Best Web Hosting