Selasa, 26 Mei 2015

Fanatisme orang tua


Apa yang kamu dapat kalau berteman dengan orang-orang yang umurnya berbelas tahun bedanya darimu?

Kalau orangnya nggak asik, nasihat yang menggurui. Bosan. Sepasang orang tua sudah terlalu banyak. Kamu (atau dalam kasus ini, saya) nggak butuh orang tua tambahan untuk memberi tahu ini salah, itu harusnya nggak boleh, ini nggak bener, itu terlalu berbahaya.

Kalau orangnya asik, temen ngobrol nggak ada habisnya! Kamu punya orang lain yang pengetahuannya lebih luas, pengalamannya lebih banyak. Buat saya yang impulsif, berteman dengan orang yang lebih dewasa mengimbangi saya dengan regulasi emosi yang sudah lebih baik (biasanya).

Selain itu? Fanatisme.

Teman-teman saya yang masuk kategori 'dewasa' rata-rata sudah punya anak. Jadilah obrolan kami kadang diselingi dengan kekaguman teman saya pada anaknya. Serius, orang tua ternyata adalah penggemar nomor satu anak mereka sendiri. Hahaha.

Saya sama sekali nggak terganggu dengan itu. Lahir dan dibesarkan di keluarga yang nggak terlalu sering memberikan apresiasi, membuat saya senaaaaaang sekali kalau mendengar ada orang tua yang mengapresiasi anaknya. Apalagi kalau dikirimi foto-foto lucu, anak-anak kan objek foto yang menarik.

Saya bukan perempuan yang punya insting motherhood yang kental, apalagi sampai betah berlama-lama main dengan anak kecil. In some ways, saya tetap menganggap anak kecil itu mengganggu (siap-siap susah jodoh deh). Asal nggak disuruh merawat dan menemani sih, saya senang-senang aja ngomongin anak-anak. LOL.

Di media sosial, banyak teman saya yang posting foto anaknya. Kalau saya sih, lebih tertarik sama captionnya. Soalnya fotonya gitu-gitu aja, apalagi yang masih bayi. Semua foto sama buat saya, cuma beda bajunya aja.

Biasanya foto-foto ini diberikan tulisan seperti: "We are proud of you (nama anak)." "Mami Papi love you." "My little gentleman!" dan lain-lainnya--kalimat bagi anak yang sudah masuk usia dewasa akan jarang sekali terdengar dari orang tuanya. Saya harap Facebook masih ada sampai anak-anak yang ada di foto itu tumbuh besar dan bisa melihat betapa fanatiknya orang tua mereka. Hihihi.

Selain di media sosial, teman-teman saya di chat personal juga mengungkapkan kekaguman pada anaknya. Saya selalu tersenyum tiap membaca "Anakku keren ya." "Aku sayang banget deh sama anakku." "Nih liat foto anakku, udah bisa makan sendiri dia." "Anakku hebat lho, pagi ini dia sekolahnya nggak nangis."

Menyenangkan. Waktu anak-anak masih kecil, bikin orang tuanya bangga memang semudah itu. Nggak perlu nilai selalu di atas sembilan puluh, ranking pertama, masuk sekolahan favorit, keterima di jurusan yang passing gradenya tinggi, IPK hampir empat, atau lulus cepet. Waktu anak-anak masih kecil, membuat orang tuanya bangga caranya sederhana. Jadi diri sendiri.

Tapi sebenarnya orang tua selalu bangga sama anaknya.

Iya, mungkin. What I am saying is, don't stop showing it! Anak-anak perlu tahu bahwa mereka selalu punya fans, mereka selalu akan disayang dan didukung tanpa perlu melakukan apapun.

"Anak-anak udah keren dari lahir. Jangan sampai di perjalanan hidupnya jadi less-keren karena ambisi dan ego orang tua yang nggak perlu." tulis saya pada satu teman baik saat tengah dikirimi beberapa foto anaknya yang lucu di liburan keluarga.

Amen to that!

Jumat, 22 Mei 2015

Pulang


Kita bukan pulang pada apa, tapi pada siapa.

Aku selalu percaya bahwa rumah adalah hangat yang kamu rasakan saat mendekap erat orang kesayangan. Kamu merasakan degupnya di dadamu, ekspresi bahagia karena kamu telah pulang. Masih dalam dekapan, kamu merasa napasnya berubah karena otot di kedua sisi bibirnya tertarik perlahan, tersenyum lega akhirnya menemuimu lagi.

Pulang adalah tentang rasa aman. Kamu bisa menjadi dirimu sendiri setelah seharian melawan keras dunia. Kamu boleh menangis di rumah, kamu boleh mengaku lemah, kamu boleh kalah sebelum esok dituntut untuk kembali gagah. Tenang, kekasihmu akan setia menguatkan.

Sayapmu beristirahat di rumah. Luka dan patahnya diobati dengan sabar oleh dia yang tersayang. Setelah mencari dan berkelana, kamu bisa menceritakan harimu di sini. Ada sepasang telinga yang tak akan bosan menampung segala keluh kesah.

Sempurnanya, pulang adalah dialog dua arah.
Namun dunia ini memaklumi bahwa tak semua hal berjalan sempurna, bukan?

Dia mungkin pulangmu. Tapi rumahnya tak ada padamu.

Kamis, 14 Mei 2015

Pasar Raya

Saat kamu mengajakku menelusuri Pasar Raya langkah demi langkah, aku sudah tahu. Suatu hari nanti, saat aku berjalan sendiri, rekam kenangmu akan tersebar di banyak sudut. Seperti pada senyum penjaja makanan tradisional yang lebih manis dari kue hangat yang dijualnya di loyang aneka rupa, pada bulir es krim yang meleleh cepat di langit-langit mulutku, atau pada atap raksasa yang menahan terik siang.

Aku tahu, kamu akan sulit dilupakan.

Mungkin bukan barena kamu adalah yang paling segala. Namun karena pengalaman yang kamu bagi sedikit demi sedikit namun tak pernah terlalu lama berjeda.

Mungkin bukan karena hadiah yang kamu beri. Namun karena kepedulian yang kamu tunjukkan tak cuma lewat bualan kosong.

Demi keramaian Pasar Raya, kurasa aku jatuh cinta.

Rabu, 06 Mei 2015

Batas tanya


Kita punya satu aturan sederhana dalam permainan ini. Di antara semua bebas dan ingin yang boleh dipuaskan, kita membangun batas. Untuk hal-hal tertentu, kita dilarang bertanya.

Seperti misalnya, dengan siapa kemarin kamu menghabiskan malam.

Aku akan pura-pura tidak peduli. Pura-pura tidak mau tahu. Aku akan menyambutmu pulang dengan senyum terkembang seperti biasa. Kamu akan memelukku seperti tidak terjadi apa-apa sebelumnya.

 Kita akan begini saja, sampai semesta memberi jalan.

Kamu tidak akan bertanya, dengan siapa aku bicara tengah malam. Kamu juga akan diam kalau tak sengaja melihat aku tersenyum malu-malu membaca serangkaian surat yang selalu kutempatkan di laci sebelah tempat tidurku.

Sejauh ini, kita baik-baik saja.

Minggu, 03 Mei 2015

RIP Jecky


Dear Jecky.
You are not a perfect cat. I am not a perfect owner.

Is that true that I owned you? I think it was you, you owned me.

You are the reason why I am going home.

Now you are gone.
You make me miss you, perfectly.



As I am

“Will you take me as I am?” -Cinderella

Saya tergerak saat menonton adegan di bagian akhir film Cinderella dengan dialog ini. Saat itu, pangeran (yang sudah menjadi raja) sudah menemukan Cinderella yang ternyata hanya rakyat jelata. Cinderella pun akhirnya mengakui bahwa dia hanya gadis biasa saja, "No parents. No dowry. Will you take me as I am?"

Ada potongan dialog yang menarik untuk saya, dibacakan oleh narator filmnya, "Bukankan itu ketakutan terbesar kita? Diterima apa adanya?"

Saya pikir, benar juga. Saya merasakan ketakutan diterima apa adanya, mulai dari tampilan fisik sampai kepribadian. Sederhana, misalnya saat saya bertemu dengan kenalan di sebuah acara yang mengharuskan saya untuk tampil sebagai 'bukan' diri saya. Iya, make up lengkap dan sepatu tumit tinggi seharian itu bukan saya bangeeeet. Apalagi dengan 'tuntutan' untuk senyum dan bersikap anggun terus menerus. Doh!

Bagaimana kalau kenalan (yang melakukan follow up terhadap pertemuan pertama) yang saya temui punya ekspektasi bahwa saya sehari-hari ya begitu adanya. Kasihan sekali, bisa runtuh berkeping-keping ekspektasinya melihat banyaknya porsi makan saya, dan berantakannya kamar saya. Oh, belum kebiasaan saya yang buruk saat menyambut tamu bulanan.

..tapi bukannya kita harus memilih orang yang mau menerima diri kita apa adanya?

Seorang teman saya memberi opini yang lain saat saya menceritakan hal ini. Menurut teman saya yang tingkat kecerdasannya di atas rata-rata, "Aku tidak setuju. Menurutku yang lebih menakutkan adalah menerima orang apa adanya. Dengan menerima seseorang apa adanya, aku akan menurunkan perisai diriku. Aku bisa jadi memberikan kemungkinan dia untuk menyakitiku."

Soal apa adanya ini rumit, ya?

Jumat, 01 Mei 2015

Satu pertemuan


Aku menginginkan satu pertemuan lagi, satu saja. Setelahnya aku berjanji aku tak akan berusaha mendapatkanmu kembali. Aku akan merelakan jarak menang dan menanggung akibat dari keputusanku.

Aku menginginkan satu pertemuan lagi. Aku ingin kamu ingat bagaimana rasanya peluk dan kecup kala kamu pulang kelelahan. Aku ingin kamu ingat bahwa jemariku menginginkan kamu mengisi di sela-selanya.

Aku menginginkan satu pertemuan lagi. Aku ingin bertanya bagaimana rasanya menghadapi perempuan keras kepala sepertiku setiap hari. Aku ingin bertanya bagaimana hatimu pernah tinggal dan tak pergi.

Aku menginginkan satu pertemuan lagi. Sepanjang malam aku akan terjaga dan menikmati hadirmu. Aku akan menyimpan wajah tidurmu kalau-kalau aku merindukannya suatu malam nanti. Aku akan mengingat erat pelukmu saat suatu malam nanti terbangun karena mimpi buruk.

Aku menginginkan suatu pertemuan lagi. Aku ingin kamu tahu berapa malam aku merana karena rindu seenaknya menyelinap dan mengisi tiap ruas dengan ngilu. Alveoliku menjadi lupa tugasnya, aku sesak sambil berharap kamu secepatnya tiba.

Aku menginginkan suatu pertemuan lagi. Kali ini aku tak akan malas bangkit dari tempat tidur dan menyiapkan sarapan untukmu. Kali ini aku akan bangun lebih dulu dan mengucapkan selamat pagi dengan wangi sabun mandi. Aku akan mendahului sinar matahari dalam menyentuh kulitmu.

Aku menginginkan satu pertemuan lagi. Aku mau kamu diam dan mendengar, aku akan bercerita tentang bagaimana kamu berarti bagiku. Aku akan bercerita bagaimana kamu menggantungkan senyum di bibirku setiap pagi. Aku akan bercerita bagaimana kamu mencipta ledakan asing di dadaku setiap kamu berbisik bahwa aku harusnya ada di sampingmu tiap waktu.

Aku menginginkan satu pertemuan lagi, satu saja.
Aku tak ingin kamu pergi tanpa tahu betapa kamu telah memberi warna di hidupku.
 

Template by Best Web Hosting