Sabtu, 28 Februari 2015

My magician


Aku menyusup di bawah selimut, kamu lebih dulu tiba. Ini jarang terjadi, kamu dan duniamu yang sibuk itu biasanya menawan waktu lebih lama, mengundang rindu lebih banyak. Namun tidak malam ini.

Dan aku benci sekali. Kamu tak mungkin pulang lebih awal dariku kecuali harimu memburuk. Aku lebih memilih menunggumu pulang sambil terkantuk di ruang tamu, merutuki waktu yang jalannya lambat sambil merapal doa agar urusanmu lekas selesai ketimbang melihatmu dalam keadaan seperti ini.

"Sayang," aku mendekat, mengusap punggungmu hati-hati. "You have your magic power. You can put a smile on my face whenever you want, you are my magician. Now tell me what to do."

Kamu berbalik, tersenyum paksa. Mungkin kasihan karena raut bingung memenuhi wajahku, pelukmu mendarat hangat di sekujur tubuhku. Dengan suara pelan kamu berbisik, "And you know the best magician never share, Sayang."

...

You are my magician. And the magic.

Sabtu, 21 Februari 2015

Kamu boleh pergi


...

Dear Kesayangan,

Butuh keberanian untuk melepaskan. Butuh lebih dari sekedar kuat untuk menghadapi kehilangan. Kamu sadar betul bahwa aku tak pernah seberani itu sendirian. Kamu sangat tahu bahwa aku selalu meragukan kekuatanku sendiri, saat kamu tak ada.

Bagaimana kalau begini saja. Saat kamu bangun pagi dan merasa cinta itu sudah tidak ada. Saat kamu memandangku dan hasratmu entah menguap kemana, katakan.

Katakan padaku, kita akan mengusahakan sesuatu.

Berbesarhatilah untuk tetap tinggal dan tidak memberikan celah untuk perempuan-perempuan yang akan mudah menawarimu kesenangan semu. Berbesarhatilah untuk memberikan kita kesempatan baru.

Kalau tidak berhasil juga, kamu boleh pergi.

Aku pasti akan patah hati, Sayang. Mungkin aku akan membencimu setengah mati, tapi sungguh kamu boleh pergi. Aku tak akan menangis memohon supaya kamu berubah pikiran. Aku tak akan menceritakan bagaimana aku mencintaimu dalam-dalam.

Kamu boleh pergi.
 

Template by Best Web Hosting