Jumat, 06 November 2015

Mengapa aku?


Aku mencintamu dalam-dalam. Dalam tiap tarik napas, menghayati tiap pembuluhku diisi dan hidup. Lalu membuang napas, menyadari bahwa batas hidup dan mati bisa setipis itu.

Kalau suatu hari kamu bertanya, "Mengapa aku?" dengan wajah penasaranmu yang biasa, aku sudah menyiapkan jawabannya.

Yang jelas bukan karena kamu yang paling sering mengada untukku. Waktumu sedikit tersisa, tapi yang sedikit itu kamu hibahkan untukku. Meski kadang diselingi kantuk dan lelap yang datang tak diundang.

Sayangnya bukan karena kamu rupawan. Kamu biasa saja. Tidak juga buruk rupa. Namun senyummu menyejukkan. Aku hampir selalu teryakinkan kalau semua akan baik-baik saja tiap kali kamu tersenyum.

Mungkin karena kamu menjaga dongeng-dongengku yang rapuh. Kamu tidak mengejek atau menganggapnya tolol. Bermimpi perlu sekali-kali, supaya jiwa tidak mati. Dongeng adalah mimpi-mimpiku, menulis adalah caraku menghidupkannya. Kamu menghargai itu.

Kamu yang paling tahu, bagaimana memunculkan matahari di tengah mendungku. Aku tak bisa menebak polanya. Kadang sentuhan, kadang bentuknya kata-kata manis atau lelucon, kadang hadiah kecil yang kamu siapkan. Kamu seperti mempelajari aku, menemukan formula bahagiaku.

Dengan semua kebaikan-kebaikan yang kamu berikan untukku, aku merapal syukur tinggi-tinggi. Sayang, bolehkah aku balik bertanya, "Lantas, mengapa aku?"

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting