Jumat, 07 Agustus 2015

Sahabatmu


"Sudah makan, Re?" tanya Anan yang sedang berdiri di dapur. Aku tak menjawab, mataku menyusuri baris-baris iklan tempat tinggal di layar komputer. Aku harus secepatnya menemukan flat yang bisa disewa supaya berhenti menyusahkan Anan.

Namaku Rea, aku baru patah hati. Tapi bukan itu yang menyusahkan, dua tahun ini aku tinggal dengan si brengsek itu. Begitu kami--ralat--aku memutuskan untuk menyudahi hubungan kami, aku harus mencari tempat tinggal baru. Kalau saja aku tahu Dio akan menjadikan kamar kami untuk bercinta dengan sekretarisnya, aku tentu sudah bersiap-siap lebih awal.

Anan menyodorkan sosis panggang dan telur mata sapi, hangat--baru dimasak. "Maaf cuma ada makanan seadanya. Aku jarang makan di rumah, kamu kan tahu pola kerjaku."

"Aku yang minta maaf. Secepatnya aku akan mencari tempat tinggal."

Sambil menyalakan televisi, Anan berujar, "Kamu boleh tinggal disini, Re. Ada satu kamar kosong yang biasanya hanya ditempati ibuku kalau beliau datang."

"Kalau nanti ibumu datang?" aku mengernyit heran, ibuku sendiri bisa sakit jantung kalau tahu anak perempuannya tinggal serumah dengan lelaki.

Tawa renyah Anan terdengar, "Ibuku kuliah di luar negeri, bertahun kerja dan tinggal di sana. Kalau beliau datang, paling mengira kamu adalah pasanganku dan aku tinggal menjelaskan padanya bahwa kamu sahabatku."

"Lalu pasanganmu?" aku memancing, siapa tahu Anan tergerak untuk bercerita. Soal yang satu ini dia tertutup sekali, bahkan setelah aku membagi banyak cerita hubunganku yang gagal sebelumnya.

Anan menoleh, "Belum berencana untuk punya. Kalau toh ada, dia tentu harus bisa menerimamu."

Sekarang giliran aku tertawa, Anan boleh berbangga dirinya jenius soal tata kota--tapi soal perempuan kemampuan kognisinya payah sekali. "Kamu berharap pasanganmu bisa menerima bahwa kamu tinggal serumah dengan perempuan? Apa kamu bisa menerima kalau dia tinggal serumah dengan laki-laki?"

"Tidak. Aku akan memintanya berakhir dengan laki-laki itu."

"Lalu aku?"

"Aku sudah pernah memintamu berakhir denganku, Re."

"Tapi, An.. Bukankah kita sahabat?"

"..."

1 comments:

Anonim mengatakan...

Gonna be lovely if you continue this story. Penasaran what will happen next with Anan & Rea!

 

Template by Best Web Hosting