Senin, 17 Agustus 2015

Pilihanmu, aku sisanya


"Sebanyak ini?" Aku mencari keseriusan di matamu. Aku memang tidak makan dalam porsi kecil, tapi makanan sebanyak ini jelas tidak untuk dimakan berdua.

Kamu yang baru menjatuhkan diri ke sofa di depan televisi mengangguk yakin. Wajahmu lelah, tapi senyum yang melengkung di situ bukan produk pura-pura. "Aku tidak yakin."

"Tahu dan tempe? Daging sapi dan ayam? Brokoli dan kembang kol? Susu dan yoghurt? Apa ini?" Lanjutku masih penuh pertanyaan dengan pilihan makanan yang kamu beli. Toh, kita sedang tidak piknik. Kalaupun iya, kita punya makanan wajib saat pergi piknik--roti gandum dengan olesan mayo yang sudah dicampur potongan telur rebus dan jamur. Milikku, isiannya lebih banyak darimu.

Kamu menyalakan televisi, "Aku tidak yakin mana yang lebih kamu suka. Kubeli semuanya, kamu pilih. Aku akan makan sisanya."

Kini giliran senyumku melengkung. Kamu pasti tidak sadar baru saja membuat gempa besar dalam dadaku. Kamu tak boleh tahu, bisa mati kutu aku.

...

Sayang, aku suka tahu karena teksturnya lembut, kalau ada yang putih--aku lebih suka. Aku lebih suka daging sapi, dimasak jangan sampai terlalu matang. Brokoli atau kembang kol tidak pernah jadi masalah asal dimasak tidak terlalu lama. Aku lebih suka yoghurt, selama masih dingin.

Namun kalau kamu lupa lagi, bahkan kalau kamu selalu lupa--aku tidak akan pernah mempermasalahkannya. Selama kaki-kakimu tak lupa kemana arah pulang. Selama kamu tak pernah bosan makan malam bersamaku.

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting