Jumat, 14 Agustus 2015

Jarak rahasia


"Tidakkah kamu bisa melihat bahwa aku melakukan semuanya untukmu?"

Aku menoleh, menarik selimut yang turun karena pergerakan bebas kita di atas tempat tidur. "Bagian mana?"

Kamu mengerutkan kening, kalau aku tidak salah mengartikan ekspresimu--kamu bingung akan pertanyaan yang kuajukan sebagai respon pertanyaanmu. "Semuanya. Hampir semuanya."

"Kamu belum tahu banyak tentangku, Sayang. Jadi jangan berkata seolah-olah kamu tahu mana yang baik untukku. Terkadang--meski tak sering, kamu menyakiti." Telunjukku menelusuri garis rahangmu yang kokoh. Berhenti di dagu, mencubit lembut.

Sekarang kamu melipat tanganmu, menyangga kepala "Bukankah itu pilihanmu? Menutup diri dan--lebih dari yang bisa disebut beberapa kali--berbohong padaku." 

Aku tersenyum, "Tidakkah masing-masing kita tahu bahwa kepercayaan bukan sesuatu yang bisa diberikan cuma-cuma? Apalagi dipaksakan." Setelah aku mengucapnya, suasana kamar sunyi dan dingin sekali. Suara napasku yang masuk melalui tenggorokan terdengar perlahan sampai hilang saat mengumpul di dada, tempat yang untuk kupenuhi perasaanku padamu.

"Benar." Sebelah tanganmu merapikan anak-anak rambut yang tergerai halus di kepalaku. "Namun tetap saja, aku benci sekali saat kamu membohongiku."

"Aku pun. Aku benci saat kupikir kamu tak bisa menerima kenyataan tentangku."

4 comments:

Mas Agus mengatakan...

Asik bener euy kata-katanya. Mba Aulia ini mesti nerbitin buku.

Aulia Fairuz Kuntjoro mengatakan...

@Mas Agus: Hihihi makasih Mas. Aku nerbitin bukunya tunggu ada lamaran kolab sama Mas Agus aja lah yang udah banyak pembacanya :p

Anonim mengatakan...

Ini salah satu entry favorit...terasa dialog yg nyata namun tetap indah karena diksi nya

Aulia Fairuz Kuntjoro mengatakan...

@Anonim: Terima kasih, Non.. Mampir ke fayelmar.blogspot.com juga ya Nooon.. Hehehe.. :)

 

Template by Best Web Hosting