Rabu, 12 Agustus 2015

It hurts


"Astagaaaaa, Naaaaai.." Aster, sahabatku masuk dan menampilkan ekspresi seolah-olah aku sudah berubah jadi mahluk luar angkasa. Kantong kertas berwarna coklat berisi bahan makanan langsung diletakannya di meja dapur.

Aku diam. Menyipitkan mata karena Aster membuka semua tirai di kamarku. Matahari sudah dua minggu ini tak kubiarkan masuk. Kilaunya mengganggu, aku mau tidur seharian. "Ter, please just let me be alone for a while."

"It's been a month, Nai." suara Aster terdengar gelisah. "Lo nggak ngantor sebulan, inget?"

Aku meringis, "I have sent my resignment letter."

Aster sekarang menyingkirkan bekas bekas makanan di meja kecil sebelah tempat tidurku. Aku sendiri lupa sejak kapan sampah mulai menumpuk, "I told Dennis not to take it seriosly." kini Aster menyebut nama tunangannya yang juga bosku.

"Ter! Business is business. Gue nggak mau bikin tunangan lo rugi."

"Dia pasti lebih milih rugi daripada gue putusin." ujar Aster serius. Sekarang dirinya beranjak dan duduk di atas kasur, denganku. "What happened to you?"

Aku memeluk bantal, erat. Malamnya benda itu biasa merahasiakan isak yang sering membuatku sulit bernapas. "Nothing."

"I don't know. You kept a lot of things from me. Kalau mau cerita, gue disini ya Nai. Gue isi kulkas lo ya, jangan nggak makan. Lo bisa sakit, Nai."

Aku tersenyum, "I lost someone recently. So yes, it hurts."

"You lost him? Or he left you?"

"It was my loss." Dadaku sesak, seperti serombongan udara berebut masuk dan keluar di saat bersamaan. "I should've told him."

"If he matters to you?" Aster mengusap punggungku perlahan. Aku menarik napas, panjang. "Nai, a goodbye makes us learn. It hurts but you take something from it, at least."

Mataku panas, jadwal menangisku biasanya tak datang secepat ini. "It hurts, Ter."

"It does. What doesn't kill you make you stronger, eh?"

"But it is killing me. Every single breath."

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting