Minggu, 03 Mei 2015

As I am

“Will you take me as I am?” -Cinderella

Saya tergerak saat menonton adegan di bagian akhir film Cinderella dengan dialog ini. Saat itu, pangeran (yang sudah menjadi raja) sudah menemukan Cinderella yang ternyata hanya rakyat jelata. Cinderella pun akhirnya mengakui bahwa dia hanya gadis biasa saja, "No parents. No dowry. Will you take me as I am?"

Ada potongan dialog yang menarik untuk saya, dibacakan oleh narator filmnya, "Bukankan itu ketakutan terbesar kita? Diterima apa adanya?"

Saya pikir, benar juga. Saya merasakan ketakutan diterima apa adanya, mulai dari tampilan fisik sampai kepribadian. Sederhana, misalnya saat saya bertemu dengan kenalan di sebuah acara yang mengharuskan saya untuk tampil sebagai 'bukan' diri saya. Iya, make up lengkap dan sepatu tumit tinggi seharian itu bukan saya bangeeeet. Apalagi dengan 'tuntutan' untuk senyum dan bersikap anggun terus menerus. Doh!

Bagaimana kalau kenalan (yang melakukan follow up terhadap pertemuan pertama) yang saya temui punya ekspektasi bahwa saya sehari-hari ya begitu adanya. Kasihan sekali, bisa runtuh berkeping-keping ekspektasinya melihat banyaknya porsi makan saya, dan berantakannya kamar saya. Oh, belum kebiasaan saya yang buruk saat menyambut tamu bulanan.

..tapi bukannya kita harus memilih orang yang mau menerima diri kita apa adanya?

Seorang teman saya memberi opini yang lain saat saya menceritakan hal ini. Menurut teman saya yang tingkat kecerdasannya di atas rata-rata, "Aku tidak setuju. Menurutku yang lebih menakutkan adalah menerima orang apa adanya. Dengan menerima seseorang apa adanya, aku akan menurunkan perisai diriku. Aku bisa jadi memberikan kemungkinan dia untuk menyakitiku."

Soal apa adanya ini rumit, ya?

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting