Kamis, 09 April 2015

Kamu temani

"Yang aku takutkan bukan ketika kau memilih pergi. Tapi ketika kamu masih di sini dan aku merasa kau telah pergi." -Ibe S Palogai (@jejaksajak)

Baiklah, ini mengerikan. Memikirkannya saja susah mengubah perasaanku menjadi tak aman. Bagaimana kalau itu terjadi pada kita? Bukankah lebih mengerikan bertemu denganmu secara fisik namun tak lagi menemukan pendar ketertarikan yang biasa menyala saat kamu menatapku?

Meskipun tidak akan membantu, aku mulai mengingat sifat-sifat burukku.

Aku sulit bangun pagi. Semua ideku masih liar sampai tengah malam. Sialnya, kamu bangun pagi buta saat aku bahkan belum sampai di tingkat tidur paling nyaman. Aku nyaris tak pernah mengecupmu sebelum kamu pergi mengawali hari.

Aku tak pandai menjaga suasana. Aku bisa tiba-tiba menanyakan kenapa Ratu Inggris mengadakan festival topi atau bagaimana siklus hidup bintang sampai menjadi bintang mati. Kalau sedang berbaik hati, kamu biasanya berhenti dan menjawab. Pada beberapa situasi, kamu akan terus mengecup sampai aku hilang kata-kata.

Aku pemalas. Akhir pekan akan kugunakan sebagai alasan memintamu tinggal di sisiku lebih lama. Aku bisa memelukmu seharian di atas tempat tidur, menyalakan televisi, dan menonton film bersamamu. Aku tak memberi kejutan berupa sarapan, apalagi mengajakmu olah raga pagi. Oh, aku juga jarang sekali tergerak untuk merapikan rumput liar di halaman kita.

Tapi anehnya, kamu bertahan.

Kamu tak bosan mengingatkan bahwa waktu istirahat sudah tiba dan aku harus berhenti membaca. Kamu memeluk aku erat agar aku tak diam-diam bangun dan meneruskan bab yang sedang kutulis jalan ceritanya.

Kamu suka bekerja. Kepalamu butuh tantangan. Kamu menikmati tiap tenggat waktu dan tugas yang terus mengembangkan dirimu. Tapi saat tamu bulananku datang sebelum senja kamu sudah ada di rumah. Membuat sup panas dan menanyakan kegiatanku seharian. Mengecup hidungku saat aku memelas akibat kram perut tak henti.

Kamu sering mendekap, katamu dekap lebih romantis dibanding bercinta semalaman. Tentu bukan karena kemampuan bercintamu payah, aku berani menjamin yang satu itu. Mendekap adalah tentang penerimaan, membiarkan aku menjadi dekat dengan segala kurang dan cacat, membiarkan kamu mengeyampingkan segala perhitungan dan mencintaiku apa adanya.

Sampai hari ini, aku terus merasa kamu temani. Bahkan saat kamu tak benar-benar di sisi.

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting