Minggu, 01 Maret 2015

Tanggal Satu Bulan Tiga


Selamat tanggal satu bulan tiga, Sayang.

"Aku sederhana, tak terlalu suka perayaan." ujarmu kala aku menawarkan hal yang istimewa untuk dilakukan bersama hari ini. Aku tersenyum saja, kalau kesederhanaan adalah bagian darimu maka aku akan dengan senang hati mensyukurinya.

Mari menapak tilas.

Aku pernah memprediksi bahwa kita hanya reaksi dopamin yang menyenangkan. Aku pernah berjanji bahwa kita tak akan lebih dari sekedar kawan. Aku pernah menertawakan soal kita akan bersama lebih lama dari hitungan bulan. Semesta menampar aku keras-keras.

Kenyataannya, aku masih bersama-sama denganmu sampai sekarang. Menjadi yang paling semangat bangun pagi demi mengucapkan selamat pagi untukmu. Pernahkah kamu mengira bahwa semua ucapan itu lebih dari sekedar klise selamat pagi?

Ucapan selamat pagi untukmu didahului ucapan syukur bahwa aku masih bersama-sama denganmu. Lalu diakhiri dengan doa bahwa kamu akan selalu bahagia, bersama siapapun kamu menghabiskan hidupmu kelak.

Oh iya, ini sudah pagi. Selamat pagi, Sayang.

Kamu pernah datang dan mengucapkan selamat ulang tahun. Tengah malam, saat belum satupun ucapan aku terima. Kamu datang membawa kamu saja, dengan banyak pelukan hangat. Kamu tau bahagianya? Seperti saat ayahku membawakan sepeda baru. Aku lama tersenyum sampai rahangku sakit.

Aku pernah menerobos dini hari demi menemukanmu berdiri di ujung jalan. Kamu, berdiri dengan potongan rambut baru yang kamu kata sebagai kegagalan si tukang cukur. Aku tertawa, kamu akan selalu jadi yang paling tampan, Kesayangan.

Kita pernah saling diam. Bukan diam untuk saling menghukum. Kita diam saat masing-masing menahan diri tak menyakiti. Diam sambil tetap berpeluk sampai terlelap. Mengubah maaf menjadi kecup-kecup kecil dengan senyum sebagai jawabnya.

Kita pernah menikmati hangat lampu jalan bersama. Melewatkan waktu makan karena bercumbu rasanya lebih menyenangkan. Menyetel channel televisi seadanya tanpa peduli apa yang sedang tayang. Aku akan mengganti channel secepatnya saat perempuan-perempuan berbaris semi telanjang memamerkan busana muncul di layar. Kamu selalu tertawa, lalu menarikku lebih dekat seperti meyakinkan bahwa kamu lebih menginginkanku.

Aku pernah cemburu karena kamu memuji cantiknya pendar cahaya di bawah sana. Aku pernah cemburu karena kamu masih berkutat dengan pesan-pesan elektronik di atas tempat tidur kita. Aku pernah cemburu karena esok paginya kamu harus diburu waktu pergi mengejar pertemuan penting. Tentangmu, aku tak pernah bisa berhenti cemburu.

Seperti aku tak pernah berhenti peduli.

Wong Fei Hung pernah mengatakan bahwa mencintai seseorang bisa jadi merupakan pemenuhan takdir. Ah Sayang, apalah arti takdir. Aku bukan manusia dengan pemikiran panjang ke depan. Aku cukup bahagia bersamamu, saat ini. Aku berjanji akan melakukan apa saja supaya kamu sama bahagianya denganku.

Mari Sayang, kita lanjutkan perjalanan.
Kita akan menertawakan pernikahan yang selalu kujadikan lelucon. Kamu akan menggeleng bingung saat aku lebih memilih berkencan saja tanpa mengikat diri terhadap apapun juga. Kamu akan terkekeh melihat responku tentang anak-anak dan keherananku terhadap orang yang mau repot mengurusi mereka.

Toh dulu kita juga pernah menertawakan bahwa kita akan tetap bersama.

1 comments:

Lita Rachman mengatakan...

good cerpen



http://litarachman.blogspot.com/

 

Template by Best Web Hosting