Selasa, 17 Maret 2015

Pesen pacar satu, ngga pake bohong ya!

"Honesty is a very expensive gift. Don't expect it from cheap people." -Warren Buffet

Di zaman sekarang, kejujuran menjadi tambah mahal harganya. Hampir semua orang memberikan kriteria jujur dalam pencarian mereka akan seseorang, mulai dari mencari teman, bawahan, sampai pasangan.

Misalnya waktu saya diminta menyusun sebuah rekrutmen untuk sebuah organisasi. Kriteria awal yang dituliskan oleh organisasi tersebut adalah 'jujur'. Saat saya menanyakan alasan dijadikannya 'jujur' sebagai kriteria, jawabannya antara lain: "Soalnya nanti akan ada anggota yang ditempatkan untuk mengurusi keuangan organisasi." "Kita butuh orang yang bisa dipercaya kalau berjanji." "Kita nggak suka anggota yang suka cari alasan" 

Dan yang terakhir, paling sederhana tapi sering terjadi: "Kita butuh anggota yang nggak bohong pas mereka absen rapat atau datang telat."

Bukan hanya di organisasi, dalam hubungan berpasangan pun kriteria jujur katanya paling dicari. Kenapa saya meletakkan 'katanya' sebagai keterangan tambahan? Karena dalam beberapa kasus, jujur tidak menjadi opsi paling baik untuk dipilih.

Seorang teman laki-laki saya berkata, "Perempuan itu sukanya dibohongin." dan seorang yang lain punya pendapat yang hampir mirip, "Pas cewek lo nanya ke lo, dia nggak mau denger jawaban yang jujur. Dia mau denger jawaban yang dia mau denger. Jadi ya kasi aja jawaban yang emang dia harepin."

Nah lho! Apa iya?

Sebagai individu, kita tentunya mengharapkan respon jujur dari pertanyaan yang kita ajukan ke siapapun. Kecuali pertanyaan-pertanyaan tertentu seperti: "Aku gendutan ya?" atau "Cantikan mana aku sama dia?" 

Becanda! :))

Harapan akan kadar kejujuran respon akan meningkat saat kita menanyakan sesuatu ke orang yang secara psikologis dekat dengan kita, misalnya sahabat, keluarga, atau pasangan. Kenapa? Karena kita punya kecenderungan untuk lebih percaya dengan mereka. Diboongin orang yang kita percaya, rasanya lebih sakit cyiiin!

Salah satu hipotesis yang saya dapatkan dari percakapan dari seorang teman adalah: "Mungkin kita tidak memfasilitasi orang terdekat kita untuk bicara jujur."

Eh, gimana?

Coba deh ingat-ingat perbandingan respon yang kamu berikan pada orang-orang yang bicara jujur. Misalnya waktu pacar kamu bilang dia membatalkan kencan demi main futsal sama temen-temennya. Apa yang kamu lakukan?

Salah satu mekanisme pengulangan perilaku dipengaruhi oleh reward dan punishment. Seorang tokoh behavioris bernama Skinner membuktikannya melalui percobaan menggunakan tikus, makanan, dan kejutan listrik (electrical shock).

Penjelasan sederhananya, sebuah perilaku yang mendapatkan respon tidak menyenangkan (punishment) cenderung tidak diulangi lagi. Dengan alasan yang sama juga saya bertanya balik pada organisasi yang ingin mencari anggota yang jujur tadi: "Memangnya di organisasi kalian, orang yang jujur lebih dihargai kejujurannya?"

Ini juga berlalu bagi kamu yang berpasangan, "Apa kamu yakin sudah memfasilitasi pasanganmu untuk bicara jujur dan tidak menghukum mereka karena kejujurannya?"

Hukuman yang biasa diberikan misalnya kamu mendiamkan pasanganmu atau mengomelinya habis-habisan setelah dia bicara terus-terang. Hayo, ngaku! :))

Tidak menghukum saat seseorang bicara jujur tentunya berbeda dengan membiarkan mereka berbuat seenaknya. Misalnya waktu pasanganmu lebih memilih untuk kumpul bareng teman satu klub fans sepak bola dan membatalkan kencan tiba-tiba. Saat dia bicara jujur, kamu bukannya mengiyakan dan senyum manis penuh kepalsuan. #padahalkesel #padahaljengkel #padahalbete

Sebagai dua orang dewasa yang memutuskan untuk berhubungan, tiap perbuatan tentunya membutuhkan alasan dan membuahkan konsekuensi. Kalau menghadapi perilaku pasangan yang nggak sesuai logika saya, hal pertama yang saya lakukan adalah bertanya "Kenapa?"

Pertanyaan kenapa ini bisa nggak berlanjut, artinya saya sudah memahami kenapa pasangan saya berbuat demikian dan tidak merasa membutuhkan apa-apa lagi. Dalam beberapa situasi, saya juga bisa mengatakan apa yang saya rasakan terhadap responnya. Misalnya: "Kamu membatalkan kencan yang sudah kita susun sejak dua minggu lalu karena ada gathering fans club tim sepak bola? Aku sedih. Aku sudah menyiapkan semuanya jauh-jauh hari."

Satu hal yang saya percaya dalam menyampaikan perasaan, tidak perlu berlebihan. Ucapkan saja apa yang dirasakan tanpa keinginan membuat pasangan merasa bersalah apalagi sampai mengintimidasi. Tidak perlu juga menjadi cenayang dan mulai menuduh pasangan dengan kalimat: "Kamu pasti menganggap pertemuan kita tidak penting. Aku tau kok, kamu terpaksa kan bilang iya waktu aku mengajakmu?"

Duh, itu tidak membuat apapun menjadi lebih baik. Serius!

Dengarkan penjelasan dari sisinya, sampaikan penjelasan dari sisimu. Bahas. Buat kesepakatan. Hal yang terakhir ini penting supaya di masa depan nanti, kalau hal yang sama terjadi kalian berdua sudah punya penyelesaiannya.

Good luck, lovers!

1 comments:

Anonim mengatakan...

Setuju sekali. Kita menghargai kejujuran dari orang lain, tapi yg berat ketika kejujuran itu juga diharapkan dari kita.

 

Template by Best Web Hosting