Selasa, 31 Maret 2015

pesanpesan


Pukul dua pagi.

Indi bangun, melirik ke samping. Syukurlah, Ardian masih tertidur pulas. Perlahan Indi mengambil ponsel yang tergeletak di meja samping tempat tidur, tidak ada pesan baru. Padahal sudah dibayangkannya pesan-pesan belum terbaca yang dikirimkan Reyhan. Biasanya ada saja pesan yang dikirim Reyhan saat Indi meminta waktu sendirian, semoga kali ini pekerjaan membuat Reyhan lupa. Setelah memastikan Ardian masih terlelap, Indi menuliskan pesan singkat:

Rey, I miss you. Maaf ya, tadi aku rapat. Editor sinting, seenaknya nentuin deadline. See you soon, Sayang.

Terkirim. Dikembalikannya ponsel hati-hati supaya tidak membangunkan Ardian.

...

Pukul empat pagi.

Reyhan menggeliat. Tiana rebah di atas dadanya, polos. Leher dan pinggangnya terasa kaku, pasti kelelahan usai bercinta semalam. Dipindahkannya tubuh Tiana ke samping, perempuan itu sempat bangun dan mengecupnya sebelum akhirnya kembali tidur. Ponselnya mati, sengaja agar agendanya malam ini tak terganggu panggilan yang mungkin merusak konsentrasi. Syukurlah, Indi ada rapat redaksi malam ini jadi dia tak perlu menambah kebohongan yang sering dikatakannya pada gadis itu.

Satu pesan dari Indi, sigap dibalasnya.

I miss you too, Sayang. Hp aku mati, kehabisan baterai. Cepet pulang ya, aku kangen.

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting