Minggu, 22 Maret 2015

Bilang apa enggak?


Sebuah episode di series 'Tetangga Masa Gitu' menjadi bahan pemikiran menarik buat saya. Adegan saat suami protes dengan sedikit kasar soal ketidaksukaannya tentang ide baju couple bergambar Mickey Mouse yang diminta istrinya. Protes ini kemudian menyakiti hati istri yang berbalik mengungkit soal ketidaksukaan dirinya terhadap Superman. Ceritanya sang istri pernah diminta untuk memainkan peran sebagai Lois Lane dan menyanggupinya padahal dia tidak menyukai Superman.

Sejak kecil, saya dididik dengan pemahaman bahwa dalam berpasangan saling berkorban seringkali dibutuhkan. Ini berkali-kali diucapkan oleh Mama dan Papa saya baik secara bersamaan maupun terpisah. Ini berlaku saat kita melalui proses pengambilan keputusan seperti memilih makanan apa yang akan dimakan, memilih warna mobil yang akan dibeli, atau memilih akan liburan dimana.

Keputusan-keputusan yang menggunakan metode ini tentunya keputusan yang sifatnya tidak primer dan kalau diambil akan berdampak menyenangkan dibanding menguntungkan. Kalau memilih asuransi apa yang akan diambil, tentunya tidak menggunakan cara ini dong, tapi duduk berdua dan membaca polis-polis untuk didiskusikan. Kalau memilih akan berinvestasi dengan cara apa juga harus berdua mendatangi konsultan dan mengajukan pendapat.

Tapi kalau memilih malam ini akan makan tahu campur atau makan nasi goreng kambing, tentunya tidak membutuhkan diskusi panjang dan jasa konsultan, kan? Sederhananya, kalau hari ini kalian berangkat untuk makan makanan kesukaan dia, lain kali boleh lah nontonnya film kesukaan kamu.

Sebentar, jangan salah paham ya. Hal ini (menurut pengalaman Mama dan Papa saya) baiknya dilakukan secara rahasia dan diam-diam. Jadi jangan harap deh hubungan kamu asik kalau kamu mintanya dengan wajah kesal sambil mengomel, "Eh kok kita makan ini lagi sih? Kan kemarin kita udah jalan di tempat yang kamu pilih. Kok kamu terus sih yang menang?"

TETOOOOOT. Kamu nggak asik.

Mengenai hal ini, Uti-sahabat saya punya perspektif yang lain lagi. Saat saya mengaku kesal dengan sikap suami di episode itu, Uti menanggapi dengan kalimat, "Ya kenapa nggak bilang aja? Bukannya lebih gampang? Bilang aja kalau emang nggak suka."

Iya ya, selama ini saya jarang sekali menerapkan cara itu. Saya hanya mengatakan ketidaksukaan kalau saya benar-benar nggak suka. Untuk banyak hal yang menurut saya kecil dan bisa ditoleransi, saya menurut saja. Besides, perasaan tidak suka saya biasanya terbayar dengan melihat partner saya senyum sumringah atau makan makanan favorit dengan lahapnya. Hihihi.

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting