Jumat, 23 Januari 2015

Selamat paling pahit


Jangan membandingkan Tiana dengan Arura.

Mata laki-laki manapun tau bahwa mereka sangat berbeda. Apalagi Reno, pekerjaannya sebagai konsultan iklan yang dikelilingi berbagai macam perempuan cantik langsung bisa menilai, Arura tidak masuk ke dalam kategori cantik.

Untuk alasan yang aneh, Reno jatuh hati pada Arura. Jatuh hati yang tak pernah dialaminya pada Tiana. Bersama Tiana, Reno merintis usaha ini dari awal. Kekasihnya itu hampir tanpa cela. Tinggi semampai, belum ditunjang sepatu berhak tinggi yang setiap hari dipakainya. Rambutnya diwarnai sesuai tren tahun ini, bicaranya tertata--bahkan sesekali menggoda, bentuk tubuhnya tak mungkin bisa dilupakan begitu saja.

Kembali ke Arura, lihat saja cara gadis itu tertawa. Arura merasa bebas tertawa kapanpun dia inginkan, tanpa merasa bersalah mengenai volume suaranya. Kadang Reno sampai harus menyuruhnya berhenti saat mereka tengah makan di restoran. Belum selesai, Arura juga seenaknya menggerai rambut panjangnya tanpa blow atau catok. Reno bahkan sangsi kalau gadis itu paham cara memblow rambut, dikiranya rambut hitam panjang bisa rapi begitu saja bak iklan shampo?

Bodohnya, segala tentang Arura malah membuat Reno nyaman di sampingnya. Arura akan menemaninya makan di manapun tanpa membicarakan jumlah kalori yang sudah berlebihan masuk ke tubuhnya. Arura juga tak akan mengeluh soal gerimis dan terik matahari yang menyia-nyiakan perawatan kulitnya di klinik mahal, toh perawatan kulit versi Arura hanya body lotion belasan ribu yang bisa dibeli di minimarket. Bersama Arura hidupnya begitu sederhana. Dan bahagia.

Arura tak suka beradu pendapat, senyumnya akan melengkung saat perdebatan mereka mulai sengit. Arura tak pernah absen memeluknya meskipun dia datang ke kencan mereka dengan muka kusut. 

Reno masih ingat perkataan Tiana dalam situasi yang sama, "Ren, kita tuh kencan buat seneng-seneng. Kalau kamu masih mikirin soal kerjaan, aku pulang aja deh. Call me when you are fine."

Sial, sekarang Reno mengingkari janjinya sendiri. Dia baru saja membanding-bandingkan Arura dengan Tiana. Rindu merebak pelan, namun melingkupi tiap celah yang membuat Reno ingin sekali berada dekat dengan Arura. Reno ingin memeluknya lebih erat, ingin mendengarkan tawanya lebih sering, ingin memandangi wajah tidurnya sampai pagi.

Terlambat. Arura sudah pergi. Tak sanggup menghadiri pernikahannya dengan Tiana esok hari. Semalam melalui percakapan telepon, dengan suara lirih bekas menangis Arura mengucapkan selamat.

Ucapan selamat paling pahit yang pernah diterima Reno.

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting