Rabu, 21 Januari 2015

Selalu Milik Selma


Sudah beberapa hari ini ada salah paham yang terjadi. Semua dimulai dari badai yang mengamuk di dalam kepala Fidi. Laki-laki tenang itu jarang sekali gelisah. Itu masalahnya, jarangnya Fidi gelisah membuat Selma bingung harus diapakan kekasih kesayangannya itu.

Selma sebaliknya, suasana hatinya berganti lebih sering dari keputusannya mengganti pewarna bibir dan kuku. Dan selama ini, Fidi-lah yang selalu berhasil menyulap hari buruknya menjadi tawa warna-warni. Iya, Fidi sehebat itu bagi Selma.

Bukan cuma kemampuannya membalikkan hari buruk, soal memanjakan dan mengingatkan Selma tentang kesehatannya juga Fidi tak punya saingan. Selma bisa merasa dewasa sekaligus kekanakan di saat bersamaan. Perdebatan seperti mi instan yang terlalu sering dimakan Selma atau kopi yang sudah bertahun-tahun jadi pantangan tak bosan ditanggapi Fidi.

Sebelum bertemu Fidi, Selma menyebut dirinya pelari. Iya, kaki-kakinya sangat cepat soal berlari dari hubungan satu ke hubungan lainnya. Mustahil menjalin hubungan yang bertahan lama, bosan katanya. Saat memutuskan untuk bersama Fidi-pun, Selma punya ekspektasi yang sama. Cepat atau lambat dia akan pergi dan tertambat di hati yang lain.

Siapa yang menyangka hampir setahun dia ada di samping Fidi. Waktu yang luar biasa bagi seorang Selma. Tak pernah sedikitpun dia berpikir akan meninggalkan laki-laki yang waktu tidurnya berantakan itu.

Kembali ke salah paham yang terjadi akhir-akhir ini. Fidi sering diam, selalu begitu kalau ada masalah. Selma gusar, pasalnya diam Fidi tak membantunya mencarikan alternatif solusi untuk memberikan hiburan. Di saat seperti ini Selma sering sekali merutuki jarak yang semena-mena memisahkan mereka.

Setiap kali Fidi gelisah Selma selalu mengatakan kalimat yang sama, "Aku disini, selalu." yang ditanggapi Fidi dengan senyum hambar. Jelas saja, bagaimana mungkin kalimat klise seperti itu bisa menyelesaikan masalah?

Kalimat klise yang ternyata adalah janji yang tak pernah diucapkan Selma kepada siapapun. Perlu diingat, Selma tak percaya soal kesetiaan. Kesetiaan hanya rasionalisasi dari konsekuensi pilihan, kutukan--kalau menggunakan istilah Selma. Orang setia karena mereka merasa bersalah dan perlu membayar budi orang yang sudah menemani mereka selama ini.

Lucunya, Semesta ingin mempermainkan logika Selma. Dengan perasaan yang tak pernah berkurang setiap harinya, Selma tak pernah menginginkan siapapun lebih dari dia menginginkan Fidi. Senyumnya, caranya menjelaskan hal-hal yang ditanyakan Selma, posisi duduknya saat membaca, tatapan seriusnya waktu mempelajari hal baru, sampai kecupannya yang lembut. Selma menginginkan semuanya tanpa batas waktu.

Maka dari itu dia menggunakan istilah 'selalu'.

Selma ingin hadir dalam susah dan senang hidup Fidi. Selma bahagia saat mereka berdua bisa menertawakan pertemuan yang tertunda karena keduanya sama-sama tak punya uang. Selma tak sedikitpun terganggu meski Fidi datang dengan raut kusut di kencan mereka, tak keberatan lelaki itu bercerita panjang lebar tanpa semangat soal masalahnya seharian sebelum mereka akhirnya bercinta. Selma menginginkan Fidi, di segala sisi gelap dan terangnya.

Sayangnya, Fidi tak punya pilihan.
Entah apa nama perasaan yang dirasakannya pada Selma, dirinya sudah tak sendiri.

Dan sejak awal Selma tau, dia akan patah hati.

Kelucuan yang lain lagi, semesta menawarkan jalan keluar saat Selma benar-benar tak ingin pergi.

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting