Selasa, 20 Januari 2015

Hangat Braga


"Kamu tau nggak? Di Braga setelah hujan, jalanannya mengilap kalau kena lampu jalan. Cantik sekali." Faira berucap sambil melihat jalanan yang markanya seperti tersambung jadi satu karena kecepatan mobil yang dipacu Elmar.

Elmar melirik, sambil tetap berusaha fokus pada jalan yang mulai kosong saat larut begini. "Oh ya? Di Jakarta udah hampir nggak bisa nemuin yang kayak gitu. Kebanyakan genangan." 

Faira meneruskan, "Cantik. Apalagi kalau dari atas. Trus kamu tau kan Braga nggak pernah sepi, sorot kendaraannya itu lho." 

"Iya banget, beautiful city lights."

"Then it is true, Bandung is the best city to fall in love." tutup Faira sambil mengenang Braga yang sudah cukup lama tak didatanginya. Ada luka sendiri yang tertinggal di jalan itu, Faira tak ingin mengulangi sakitnya meskipun sangat ingin kembali menikmati pendaran lampu jalan yang tak henti memanjakan mata.

"And to have a great sex."

Elmar, selalu saja. Temannya itu hampir selalu punya cara meruntuhkan romantisme yang dibangun Faira. Padahal Faira bukannya membangun suasana untuk mereka, namun tetap saja Elmar tak pernah membiarkan romantisme hidup lama-lama. Faira melirik tajam, dibalas cengiran khas Elmar.

Faira dan Elmar memang berteman, dua player yang berbeda pandangan ini entah kenapa cocok sekali kalau sedang bersama. Elmar bermain atas nama cinta, bercinta lebih tepatnya. Maka Faira tak heran kalau banyak sekali perempuan yang rela antri demi menghabiskan malam bersama temannya yang ahli luar biasa dalam memperlakukan lawan jenis.

Sebaliknya, Faira bermain karena cinta yang dia yakini datangnya sementara. Dia tak percaya bahwa hubungan selamanya itu nyata. Cepat atau lambat, kebosanan akan menggerogoti cinta tanpa ampun. Maka dari itu Faira cepat sekali berpindah dari satu hubungan ke hubungan lain, tak pernah bisa bertahan di hati yang sama.

Faira dan Elmar punya satu kesamaan, pada akhirnya mereka merasa sama-sama sendirian. Mungkin itu yang membuat pembicaraan mudah saja mengalir antar mereka. Mungkin juga kesamaan yang membuat mereka tak saling menasihati untuk segera berhubungan serius mengingat umur seperti banyak teman-teman dekat yang mulai panik melihat laju usia. Singkatnya, kesamaan mereka membuahkan kenyamanan yang hanya mereka sendiri yang bisa mengerti.

...

"Seriously, Fai?" Elmar menatap khawatir ke arah Faira yang sekarang menyelesaikan gelas bir ketujuh. Mungkin pergi minum ke Braga bukan ide yang bagus. Elmar hanya ingin Faira bangkit dari ketakutannya akan masa lalu, entah dengan lelaki mana.

Faira tertawa, terasa mudah sekali menertawakan banyak hal di saat begini. "Kamu tau nggak, El. Aku punya hotel langganan di dekat sini, kamu mau ikut?"

Baik, sekarang Faira mabuk. Seumur-umur tak pernah Elmar menerima tawaran menginap dari Faira, apalagi di hotel. "Eh? Kamu serius?"

"Liat muka aku. Emangnya aku kelihatan main-main?" tukas Faira, diakhiri dengan tawa terkekeh yang aneh. Elmar memang tak pernah melihat Faira saat mabuk. Ralat, Faira tak pernah mabuk. Dua gelas bir adalah batasnya minum selama ini, biasanya hanya untuk menghormati empunya acara atau penyemangat saat ide menulisnya macet.

"Mending kita pulang aja deh, Fai." Elmar merangkul Faira yang berdiri terhuyung. Mereka jarang sekali sedekat ini secara fisik, wangi parfum Faira yang biasanya sayup di indera olfaktori Elmar sekarang jelas tercium.

Faira merengek, enggan berpindah dari tempatnya berdiri. "Aku baik-baik aja. Aku udah bisa melewati ini. Hotelnya ada di seberang jalan, di sebelah minimarket." tangan Faira mendorong Elmar menjauh, sekarang kaki-kakinya berjalan sendiri meskipun tak tegap menapak.

Elmar tak punya pilihan, diikutinya Faira.

Faira benar, Braga cantik dilihat dari atas. Berdiri di pinggir jendela, dengan Braga sebagai sajian utama. Elmar tertawa ringan, merasa lucu dan aneh di saat bersamaan. Ini pertama kali dia sekamar dengan perempuan tanpa bercinta. Kalau bukan Faira pasti sudah ditinggalkannya perempuan yang tengah mabuk memaksa resepsionis hotel untuk membuka kamar sambil keliru memberikan KTP sebagai kartu kredit.

Setelah muntah karena terlalu banyak minum dan ambruk kelelahan di atas kasur, Faira tertidur. Ini kali pertama Elmar memandangi Faira dengan versi lain, tanpa keangkuhan. Elmar sampai pada satu konklusi sederhana, Faira hanya terluka. Selama ini membangun benteng arogansi demi melindungi dirinya agar tidak terluka lagi.

Ini juga kali pertama Elmar mengerti, bercinta dengan siapapun tak pernah membuatnya merasa sehangat ini.
 

Template by Best Web Hosting