Rabu, 07 Januari 2015

Atas nama cinta yang sama


Pernah melihat perempuan yang berusaha mencurangi waktu? Saya sering.

Perempuan yang menukar banyak keping emas demi botol-botol ajaib yang bisa menyamarkan jejak waktu di wajah mereka atau perempuan yang memoles banyak lapisan warna di atas kulit demi terlihat muda dan bahagia.

Ada apa dengan menjadi muda?

Waktu umur saya belasan, saya berpikir alangkah menyenangkannya jadi dewasa. Begitu melewati umur dua puluh, saya sadar, kemudaan adalah yang paling berharga yang ada di anggapan banyak wanita.

Kenapa? Saya tak tahu pasti. Tapi dangkalnya, muda membuat kulit senantiasa kencang dan terbebas dari kerut yang sekarang haram terlihat. Padahal dalam perjalanan terbentuknya kerut itu, pemikiran banyak keluar, kesabaran banyak diuji, kebijaksanaan tumbuh dan mengakar dalam hati.

Seperti banyak perempuan yang takut gemuk saat mengandung, atau sengaja memilih caesar sebagai jalan melahirkan, atau takut bentuk payudara berubah jika menyusui. Seperti apa menyeramkannya tampilan ideal yang ditanamkan ke dalam kepala-kepala perempuan kalau sampai membuat mereka takut menjalani satu jalan alami ciptaan  semesta?

Pendeknya, saya ingin sekali menyalahkan laki-laki.

Terlebih yang berpikir bahwa tubuh perempuan harusnya abadi. Tak membesar karena jaringan lemak bertambah banyak. Tak berkerut dan bercela persis seperti porselen Tiongkok.

Kamu pikir kami sehebat apa, wahai lelaki?

Setelah menyerahkan hidup padamu, dilingkupi kekhawatiran akankah kamu pergi di pagi saat kami tengah cinta-cintanya. Setelah menyerahkan hidup padamu, membiarkan waktu seenaknya merusak bentuk tubuh kami demi melahirkan anak-anakmu? Setelah menyerahkan hidup padamu, menemani kala kamu membangun semua mimpimu mulai dari kerikil terkecil, dan tetap dilingkupi kekhawatiran semolek apa perempuan yang datang menggoda saat mimpimu sudah terbangun gagah?

Kami tak kuasa melawan waktu.

Kami tak bisa mencurangi waktu dan menghapus semua kerut di wajah yang dulu kamu puji cantiknya. Kami tak bisa menyelinap dan menghentikan tubuh kami agar tetap menggugahmu persis seperti saat kita masih pengantin baru.

Sayangnya, kami tak bisa.
Karena itu, kami menawarkan sebuah tantangan.

Atas nama cinta yang sama, cinta kamu pakai untuk menyakinkan kami bersamamu bertahun lalu, maukah kamu tinggal bersama dan mengikuti alur waktu?

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting