Selasa, 10 November 2015

I hate your BF #WhatIf


Dua hari yang lalu, saya dan Uti (sahabat saya) terlibat obrolan #WhatIf yang menarik. Obrolan #WhatIf ini biasanya obrolan berisi pengandaian yang cukup sering kami lakukan. Topiknya bukan suatu yang berat, kami juga tidak selalu serius dalam menjawabnya.

Bagaimana kalau salah satu (atau salah dua) dari kami menikahi orang yang tidak disukai yang lainnya?

Misalnya, saya menikah dengan orang yang tidak Uti sukai (atau sebaliknya).

Fenomena ini sebenarnya nggak terlalu pengandaian sih. Since we usually hate each other's partner. But it's reasonable! There are times that we both are so in love (ugh) and misjudge someone. And no, we are not lesbian. LOL.

Saya mudah menerima laki-laki yang dekat dengan Uti (dan sahabat saya yang lain). Tapi kalau saya tahu sekali saja sahabat saya disakiti naluri sebagai orang yang protektif (semi posesif) langsung keluar tak terkendali. Mulai dari memaki-maki sampai menawarkan diri sebagai eksekutor metode "labrak" yang kesannya ABG banget!

Jadi buat saya, sistem penilaian pacar sahabat itu semacam: "Nih gue kasi 100% tapi tiap kali lo bikin salah gue kurangin ya (and there will be no fckin way you can gain more points)."

And it's mutual. 

Uti hampir nggak pernah get along sama mantan pacar saya (waktu jadi pacar, tentunya). Get along maksudnya mendukung dan pro sama si pacar (soalnya saking singkatnya hubungan-hubungan saya, saya belum sempat mengenalkan ke Uti, eh udah putus aja). Jadi topik mantan pasti jadi ajang kami saling melampiaskan kekesalan (lucunya bukan ke mantan sendiri, tapi mantan satu sama lain).

Anyway, kembali ke obrolan #WhatIf kami. Saya sebagai pelempar topik menjawab lebih dulu.

"Gue sih mungkin haha hehe (ikut seneng) aja Ti. Yaudah kalo lo bahagia sama dia, mau nikah, oke. Kalau harus makan bareng atau ketemu ya nggak apa apa. For the sake of friendship. Tapi sekali dia bikin salah, awas aja! Gue pasti memanfaatkan kesalahannya buat meyakinkan lo pergi. Semacam provokasi gitu supaya lo udahan sama dia."

Uti tertawa mendengar jawaban saya yang konyol. Lalu bergiliran menjawab: "Gue bakal meyakinkan supaya lo ngga punya anak. Supaya kalau suatu hari dia emang brengsek, gampang cerainya."

Yeah. Bestfriends think alike.


ps: ini bukan tips, apalagi anjuran.

Jumat, 06 November 2015

Mengapa aku?


Aku mencintamu dalam-dalam. Dalam tiap tarik napas, menghayati tiap pembuluhku diisi dan hidup. Lalu membuang napas, menyadari bahwa batas hidup dan mati bisa setipis itu.

Kalau suatu hari kamu bertanya, "Mengapa aku?" dengan wajah penasaranmu yang biasa, aku sudah menyiapkan jawabannya.

Yang jelas bukan karena kamu yang paling sering mengada untukku. Waktumu sedikit tersisa, tapi yang sedikit itu kamu hibahkan untukku. Meski kadang diselingi kantuk dan lelap yang datang tak diundang.

Sayangnya bukan karena kamu rupawan. Kamu biasa saja. Tidak juga buruk rupa. Namun senyummu menyejukkan. Aku hampir selalu teryakinkan kalau semua akan baik-baik saja tiap kali kamu tersenyum.

Mungkin karena kamu menjaga dongeng-dongengku yang rapuh. Kamu tidak mengejek atau menganggapnya tolol. Bermimpi perlu sekali-kali, supaya jiwa tidak mati. Dongeng adalah mimpi-mimpiku, menulis adalah caraku menghidupkannya. Kamu menghargai itu.

Kamu yang paling tahu, bagaimana memunculkan matahari di tengah mendungku. Aku tak bisa menebak polanya. Kadang sentuhan, kadang bentuknya kata-kata manis atau lelucon, kadang hadiah kecil yang kamu siapkan. Kamu seperti mempelajari aku, menemukan formula bahagiaku.

Dengan semua kebaikan-kebaikan yang kamu berikan untukku, aku merapal syukur tinggi-tinggi. Sayang, bolehkah aku balik bertanya, "Lantas, mengapa aku?"

Selasa, 22 September 2015

Belajar dari Pom-Bell


Perkenalkan, kucing di sebelah kiri adalah room mate saya. Kucing lincah dan menyenangkan yang menemani dan menghibur saya dengan semua polah lucu! Namanya Bell.

Suatu malam, sepulang dari makan bersama Uti (sahabat saya), saya bertemu Pom (kucing sebelah kanan). Kucing yang bulunya bagus dan sedang terlilit kalungnya. Kalung yang diberikan pada Pom memang terbuat dari karet, saya dan Uti akhirnya memutuskan untuk menggunting kalung di leher Pom dan memberikannya shelter serta makan.

Pom makan dengan lahap (seperti kebanyakan kucing terlantar) lalu tidur pulas. Menurut saya, Pom sebelumnya juga dipelihara entah oleh siapa. Kucing ini tenang sekali, bahkan cenderung percaya pada manusia lebih dari kucing-kucing yang dasarnya memang tinggal di jalan.

Masalah datang saat Bell mulai menggeram tiap kali didekatkan dengan Pom. Bell yang biasanya manis menjadi galak dan mencakar Pom. Pom--entah karena sabar atau mengantuk--tidak membalas dan melanjutkan tidur. Saya kesal karena Bell nggak bersahabat dengan kucing lain, padahal kan harusnya dia berempati dengan kucing yang nasibnya nggak beruntung.

Esoknya, suasana berubah. Bell yang mulai nyaman dengan keberadaan Pom mengajak main dengan cara yang bersahabat. Bersahabat versi kucing ya, jadi isinya lelompatan dan bikin kaget lawan mainnya. Tapi Pom sudah nggak setenang hari sebelumnya, jadilah Bell dicakar dan diberikan sinyal "senggol bacok".

Saya geli campur miris melihatnya. Bell dan Pom pasti punya cara berbeda untuk menghadapi suasana baru. Bell yang insecure mungkin punya prinsip bahwa "semua orang (eh, kucing) berbahaya dan mengancam sampai ada bukti yang mengatakan sebaliknya" maka dari itu dia pasang benteng sejak awal bertemu saya dan Pom.

Sedangkan Pom, kucing rumahan yang prinsip hidupnya "baik dan sabar aja dulu ke semua orang, sampai mereka nggak pantas lagi diperlakukan baik" akhirnya merasa perlu melabeli Bell sebagai musuh. Bahkan setelah Bell berusaha melakukan interaksi positif.

Saya cenderung lebih pada prinsip Pom dalam menghadapi banyak situasi dalam hidup. Baik aja dulu ke semua orang, bantu sebisanya dan berusaha untuk mengerti mereka. Mantra hidup saya: "Be kind. Always be kind first. You can always be mean later." Maka dari itu, saya merasa mudah sekali get along dengan orang baru.

Hanya saja, kalau kemudian mereka menyakiti dan menyebalkan tanpa alasan yang jelas--saya juga akhirnya bersikap seperti Pom. Memberi orang tersebut label "berbahaya" dan "mengancam" serta sulit percaya hal apapun yang dia lakukan meskipun terlihat manis dan menyenangkan.

Mungkin itu kenapa saya cocok sama Bell. Opposite attracts!

Selasa, 25 Agustus 2015

Most of the time


Di tengah pembicaraan denganmu, aku tertawa. Kamu menyenangkan seperti biasa. "Anggara, aku bersyukur akhirnya dipertemukan olehmu."

"Kalau aku bisa mengulang waktu, aku ingin bertemu denganmu lebih cepat." ujarmu pelan. Nada suaramu memang punya nada dasar yang jarang berubah, bahkan ketika kamu sedang marah.

Bahuku terangkat, "Entahlah. Aku tidak yakin kamu akan tertarik kalau kita bertemu lebih awal."

"Aku ingin lebih dulu memilikimu, mendahului banyak lelaki yang datang sebelum aku." Kamu menjelaskan lebih lanjut, dengan pandangan mata lurus ke arahku. Pandangan yang mengupas kulit rahasiaku satu-satu. Pandangan yang kadang mengganggu dan ingin aku enyahkan.

Aku membalik lembar menu, "Kamu mau pesan apa? Meatloaf?"

"Seruni, aku ingin kamu bahagia." Pernyataanmu tidak menjawab pertanyaan. Kamu tahu aku hanya mengalihkan pembicaraan. Saat ini, kamu menolak membicarakan hal lain dan aku mengerti.

"Siapa yang tidak ingin bahagia, memangnya?"

Kamu menarik ujung bibir kanan ke atas, seperti kalau kamu merasa lebih pintar dariku akan suatu hal. "Kamu, terkadang. Memikirkan hal-hal yang menyakitkan padahal tak bisa diubah. Menolak bantuan padahal kamu membutuhkannya. Tetap bersama dengan orang yang belum tentu bisa membahagiakanmu. Ralat, atau setidaknya belum tentu mau dan memikirkan kebahagiaanmu."

"Menarik. Bagaimana aku tahu kalau kamu mau dan memikirkan kebahagiaanku?"

Kini Anggara mendekat, aku bisa merasa meja di antara kami sempat terdorong beberapa senti karena terdorong oleh dada bidangnya. "Bahagiakah kamu saat bersamaku?"

"Most of the time." Jawabku singkat.

Senyum menang Anggara melengkung di bibirnya yang siap bicara lagi, "Lalu kamu pikir, kebahagiaanmu itu hasil dari kebetulan semesta? Seruni, kamu tidak senaif itu kan?"

...

Aku tidak, Anggara.
Aku hanya setakut itu untuk percaya bahwa bahagiamu akan bertahan selamanya.

Senin, 17 Agustus 2015

Pilihanmu, aku sisanya


"Sebanyak ini?" Aku mencari keseriusan di matamu. Aku memang tidak makan dalam porsi kecil, tapi makanan sebanyak ini jelas tidak untuk dimakan berdua.

Kamu yang baru menjatuhkan diri ke sofa di depan televisi mengangguk yakin. Wajahmu lelah, tapi senyum yang melengkung di situ bukan produk pura-pura. "Aku tidak yakin."

"Tahu dan tempe? Daging sapi dan ayam? Brokoli dan kembang kol? Susu dan yoghurt? Apa ini?" Lanjutku masih penuh pertanyaan dengan pilihan makanan yang kamu beli. Toh, kita sedang tidak piknik. Kalaupun iya, kita punya makanan wajib saat pergi piknik--roti gandum dengan olesan mayo yang sudah dicampur potongan telur rebus dan jamur. Milikku, isiannya lebih banyak darimu.

Kamu menyalakan televisi, "Aku tidak yakin mana yang lebih kamu suka. Kubeli semuanya, kamu pilih. Aku akan makan sisanya."

Kini giliran senyumku melengkung. Kamu pasti tidak sadar baru saja membuat gempa besar dalam dadaku. Kamu tak boleh tahu, bisa mati kutu aku.

...

Sayang, aku suka tahu karena teksturnya lembut, kalau ada yang putih--aku lebih suka. Aku lebih suka daging sapi, dimasak jangan sampai terlalu matang. Brokoli atau kembang kol tidak pernah jadi masalah asal dimasak tidak terlalu lama. Aku lebih suka yoghurt, selama masih dingin.

Namun kalau kamu lupa lagi, bahkan kalau kamu selalu lupa--aku tidak akan pernah mempermasalahkannya. Selama kaki-kakimu tak lupa kemana arah pulang. Selama kamu tak pernah bosan makan malam bersamaku.

Jumat, 14 Agustus 2015

Jarak rahasia


"Tidakkah kamu bisa melihat bahwa aku melakukan semuanya untukmu?"

Aku menoleh, menarik selimut yang turun karena pergerakan bebas kita di atas tempat tidur. "Bagian mana?"

Kamu mengerutkan kening, kalau aku tidak salah mengartikan ekspresimu--kamu bingung akan pertanyaan yang kuajukan sebagai respon pertanyaanmu. "Semuanya. Hampir semuanya."

"Kamu belum tahu banyak tentangku, Sayang. Jadi jangan berkata seolah-olah kamu tahu mana yang baik untukku. Terkadang--meski tak sering, kamu menyakiti." Telunjukku menelusuri garis rahangmu yang kokoh. Berhenti di dagu, mencubit lembut.

Sekarang kamu melipat tanganmu, menyangga kepala "Bukankah itu pilihanmu? Menutup diri dan--lebih dari yang bisa disebut beberapa kali--berbohong padaku." 

Aku tersenyum, "Tidakkah masing-masing kita tahu bahwa kepercayaan bukan sesuatu yang bisa diberikan cuma-cuma? Apalagi dipaksakan." Setelah aku mengucapnya, suasana kamar sunyi dan dingin sekali. Suara napasku yang masuk melalui tenggorokan terdengar perlahan sampai hilang saat mengumpul di dada, tempat yang untuk kupenuhi perasaanku padamu.

"Benar." Sebelah tanganmu merapikan anak-anak rambut yang tergerai halus di kepalaku. "Namun tetap saja, aku benci sekali saat kamu membohongiku."

"Aku pun. Aku benci saat kupikir kamu tak bisa menerima kenyataan tentangku."

Rabu, 12 Agustus 2015

Million Stars


Aku janji ini yang terakhir. Aku akan berusaha. Membiarkan pikiran-pikiran tentangmu berkeliaran hanya membuat segala yang kupunya seperti remuk. Duniaku kehilangan warna, semua senang yang kamu bagi menciut dan meledak--menghisap bahagia yang kupunya bahkan sebelum bertemu denganmu.

Aku pernah bertanya-tanya seperti apa rasanya bercinta di bawah jutaan bintang.

Kamu menggeleng, mengangkat bahu. "Entahlah, mau dicoba?"

Seperti biasanya saat kamu melucu, aku terkikik geli. Ada kupu-kupu mengepak pelan dalam perutku, ada sensasi hangat menyebar ke seluruh bagian tubuhku. Kamu memandang keheranan, memanjakan mataku yang suka ekspresi itu.

"Aku serius." ujarmu.

Tawaku tertahan. "Iya, kita akan mencobanya. Di bawah jutaan bintang."

...

Harusnya kita bercinta di bawah jutaan bintang, bukan? Kenapa langitku kelam, sekarang?

Cakap Senja


"Kenapa orang baik jarang menang?"

"Kenapa harus menang?"

"Karena hidup harusnya tentang mendapatkan semuanya atau kehilangan semuanya, bukan?"

"Mungkin bukan."

"Mungkin?"

"Iya. Selalu ada jalan tengah, setidaknya bagiku. Seperti tentangmu. Aku tidak sepenuhnya memilikimu. Namun, kamu ada di saat-saat tertentu. Itu cukup bagiku."

"Kembali lagi. Kenapa orang baik jarang menang di dunia ini?"

"Kesayangan. Dunia ini lebih luas dari medan perang."

"Tapi, banyak yang bilang kita harus berjuang?"

"Iya. Belum tentu untuk mengalahkan orang lain, kan?"

"Lalu untuk apa?"

"Membahagiakan diri sendiri. Kalau mampu, bahagiakan orang lain."

"Kamu?"

"Sedang berusaha bahagiakan kamu."

"Memang sudah cukup bahagia dengan diri sendiri?"

"Sudah. Kalau di sampingmu."

It hurts


"Astagaaaaa, Naaaaai.." Aster, sahabatku masuk dan menampilkan ekspresi seolah-olah aku sudah berubah jadi mahluk luar angkasa. Kantong kertas berwarna coklat berisi bahan makanan langsung diletakannya di meja dapur.

Aku diam. Menyipitkan mata karena Aster membuka semua tirai di kamarku. Matahari sudah dua minggu ini tak kubiarkan masuk. Kilaunya mengganggu, aku mau tidur seharian. "Ter, please just let me be alone for a while."

"It's been a month, Nai." suara Aster terdengar gelisah. "Lo nggak ngantor sebulan, inget?"

Aku meringis, "I have sent my resignment letter."

Aster sekarang menyingkirkan bekas bekas makanan di meja kecil sebelah tempat tidurku. Aku sendiri lupa sejak kapan sampah mulai menumpuk, "I told Dennis not to take it seriosly." kini Aster menyebut nama tunangannya yang juga bosku.

"Ter! Business is business. Gue nggak mau bikin tunangan lo rugi."

"Dia pasti lebih milih rugi daripada gue putusin." ujar Aster serius. Sekarang dirinya beranjak dan duduk di atas kasur, denganku. "What happened to you?"

Aku memeluk bantal, erat. Malamnya benda itu biasa merahasiakan isak yang sering membuatku sulit bernapas. "Nothing."

"I don't know. You kept a lot of things from me. Kalau mau cerita, gue disini ya Nai. Gue isi kulkas lo ya, jangan nggak makan. Lo bisa sakit, Nai."

Aku tersenyum, "I lost someone recently. So yes, it hurts."

"You lost him? Or he left you?"

"It was my loss." Dadaku sesak, seperti serombongan udara berebut masuk dan keluar di saat bersamaan. "I should've told him."

"If he matters to you?" Aster mengusap punggungku perlahan. Aku menarik napas, panjang. "Nai, a goodbye makes us learn. It hurts but you take something from it, at least."

Mataku panas, jadwal menangisku biasanya tak datang secepat ini. "It hurts, Ter."

"It does. What doesn't kill you make you stronger, eh?"

"But it is killing me. Every single breath."

Jumat, 07 Agustus 2015

Sahabatmu


"Sudah makan, Re?" tanya Anan yang sedang berdiri di dapur. Aku tak menjawab, mataku menyusuri baris-baris iklan tempat tinggal di layar komputer. Aku harus secepatnya menemukan flat yang bisa disewa supaya berhenti menyusahkan Anan.

Namaku Rea, aku baru patah hati. Tapi bukan itu yang menyusahkan, dua tahun ini aku tinggal dengan si brengsek itu. Begitu kami--ralat--aku memutuskan untuk menyudahi hubungan kami, aku harus mencari tempat tinggal baru. Kalau saja aku tahu Dio akan menjadikan kamar kami untuk bercinta dengan sekretarisnya, aku tentu sudah bersiap-siap lebih awal.

Anan menyodorkan sosis panggang dan telur mata sapi, hangat--baru dimasak. "Maaf cuma ada makanan seadanya. Aku jarang makan di rumah, kamu kan tahu pola kerjaku."

"Aku yang minta maaf. Secepatnya aku akan mencari tempat tinggal."

Sambil menyalakan televisi, Anan berujar, "Kamu boleh tinggal disini, Re. Ada satu kamar kosong yang biasanya hanya ditempati ibuku kalau beliau datang."

"Kalau nanti ibumu datang?" aku mengernyit heran, ibuku sendiri bisa sakit jantung kalau tahu anak perempuannya tinggal serumah dengan lelaki.

Tawa renyah Anan terdengar, "Ibuku kuliah di luar negeri, bertahun kerja dan tinggal di sana. Kalau beliau datang, paling mengira kamu adalah pasanganku dan aku tinggal menjelaskan padanya bahwa kamu sahabatku."

"Lalu pasanganmu?" aku memancing, siapa tahu Anan tergerak untuk bercerita. Soal yang satu ini dia tertutup sekali, bahkan setelah aku membagi banyak cerita hubunganku yang gagal sebelumnya.

Anan menoleh, "Belum berencana untuk punya. Kalau toh ada, dia tentu harus bisa menerimamu."

Sekarang giliran aku tertawa, Anan boleh berbangga dirinya jenius soal tata kota--tapi soal perempuan kemampuan kognisinya payah sekali. "Kamu berharap pasanganmu bisa menerima bahwa kamu tinggal serumah dengan perempuan? Apa kamu bisa menerima kalau dia tinggal serumah dengan laki-laki?"

"Tidak. Aku akan memintanya berakhir dengan laki-laki itu."

"Lalu aku?"

"Aku sudah pernah memintamu berakhir denganku, Re."

"Tapi, An.. Bukankah kita sahabat?"

"..."

Selasa, 23 Juni 2015

Berani



Kamu tahu dengan apa aku mengasosiasikan suara petir. Aku bisa menangis gemetar di sudut ruangan kalau sendirian. Maka dari itu, tiap kali langit mendung dan petir nampaknya akan datang, kamu tak akan jauh-jauh dariku.

Semua pintu antar ruangan di rumah kita akan terbuka, supaya kamu bisa mendengar kalau-kalau aku memanggil. Saat suara petir sangat keras, kamu akan memeluk sambil berucap lagi dan lagi bahwa kamu ada di sampingku, tak akan pergi.

Katakan, Sayang, Bagaimana mungkin aku tak makin cinta?

Bertahun aku belajar bahwa gelegar artinya marah dan jahat. Bertahun aku sembunyi di bawah tempat tidur karena ayahku benci sekali melihat putrinya takut. Tiap kali aku ketakutan, ayahku bersuara lebih keras memaki. Mungkin agar aku sadar bahwa petir tak ada apa-apanya ketimbang kemarahan ayah. Mungkin agar aku tumbuh berani.

Kamu tak peduli. Perlahan dekapmu membuat aku berani.

Selasa, 09 Juni 2015

Petamu


Alih-alih menebar benih bunga di sepanjang jalan pulang, kamu memberikan solusi yang lebih cerdas dan nyata. Kamu mengirimkan tautan ke ponselku--terhubung ke peta digital. Kamu tak selalu bisa menjagaku, tapi aku tahu kamu tak pernah berhenti memastikan bahwa aku baik saja.

Untuk ungkapan cinta yang jarang kamu ucap, aku memaafkan.

Untuk peluk erat yang berakhir kamu tertidur karena kelelahan, aku bersyukur kamu ada di sampingku.

Untuk bercinta sepagian yang berdampak pada kantuk seharian, aku tak ingin kehilanganmu. Tidak pernah. Tidak akan.

Selasa, 26 Mei 2015

Fanatisme orang tua


Apa yang kamu dapat kalau berteman dengan orang-orang yang umurnya berbelas tahun bedanya darimu?

Kalau orangnya nggak asik, nasihat yang menggurui. Bosan. Sepasang orang tua sudah terlalu banyak. Kamu (atau dalam kasus ini, saya) nggak butuh orang tua tambahan untuk memberi tahu ini salah, itu harusnya nggak boleh, ini nggak bener, itu terlalu berbahaya.

Kalau orangnya asik, temen ngobrol nggak ada habisnya! Kamu punya orang lain yang pengetahuannya lebih luas, pengalamannya lebih banyak. Buat saya yang impulsif, berteman dengan orang yang lebih dewasa mengimbangi saya dengan regulasi emosi yang sudah lebih baik (biasanya).

Selain itu? Fanatisme.

Teman-teman saya yang masuk kategori 'dewasa' rata-rata sudah punya anak. Jadilah obrolan kami kadang diselingi dengan kekaguman teman saya pada anaknya. Serius, orang tua ternyata adalah penggemar nomor satu anak mereka sendiri. Hahaha.

Saya sama sekali nggak terganggu dengan itu. Lahir dan dibesarkan di keluarga yang nggak terlalu sering memberikan apresiasi, membuat saya senaaaaaang sekali kalau mendengar ada orang tua yang mengapresiasi anaknya. Apalagi kalau dikirimi foto-foto lucu, anak-anak kan objek foto yang menarik.

Saya bukan perempuan yang punya insting motherhood yang kental, apalagi sampai betah berlama-lama main dengan anak kecil. In some ways, saya tetap menganggap anak kecil itu mengganggu (siap-siap susah jodoh deh). Asal nggak disuruh merawat dan menemani sih, saya senang-senang aja ngomongin anak-anak. LOL.

Di media sosial, banyak teman saya yang posting foto anaknya. Kalau saya sih, lebih tertarik sama captionnya. Soalnya fotonya gitu-gitu aja, apalagi yang masih bayi. Semua foto sama buat saya, cuma beda bajunya aja.

Biasanya foto-foto ini diberikan tulisan seperti: "We are proud of you (nama anak)." "Mami Papi love you." "My little gentleman!" dan lain-lainnya--kalimat bagi anak yang sudah masuk usia dewasa akan jarang sekali terdengar dari orang tuanya. Saya harap Facebook masih ada sampai anak-anak yang ada di foto itu tumbuh besar dan bisa melihat betapa fanatiknya orang tua mereka. Hihihi.

Selain di media sosial, teman-teman saya di chat personal juga mengungkapkan kekaguman pada anaknya. Saya selalu tersenyum tiap membaca "Anakku keren ya." "Aku sayang banget deh sama anakku." "Nih liat foto anakku, udah bisa makan sendiri dia." "Anakku hebat lho, pagi ini dia sekolahnya nggak nangis."

Menyenangkan. Waktu anak-anak masih kecil, bikin orang tuanya bangga memang semudah itu. Nggak perlu nilai selalu di atas sembilan puluh, ranking pertama, masuk sekolahan favorit, keterima di jurusan yang passing gradenya tinggi, IPK hampir empat, atau lulus cepet. Waktu anak-anak masih kecil, membuat orang tuanya bangga caranya sederhana. Jadi diri sendiri.

Tapi sebenarnya orang tua selalu bangga sama anaknya.

Iya, mungkin. What I am saying is, don't stop showing it! Anak-anak perlu tahu bahwa mereka selalu punya fans, mereka selalu akan disayang dan didukung tanpa perlu melakukan apapun.

"Anak-anak udah keren dari lahir. Jangan sampai di perjalanan hidupnya jadi less-keren karena ambisi dan ego orang tua yang nggak perlu." tulis saya pada satu teman baik saat tengah dikirimi beberapa foto anaknya yang lucu di liburan keluarga.

Amen to that!

Jumat, 22 Mei 2015

Pulang


Kita bukan pulang pada apa, tapi pada siapa.

Aku selalu percaya bahwa rumah adalah hangat yang kamu rasakan saat mendekap erat orang kesayangan. Kamu merasakan degupnya di dadamu, ekspresi bahagia karena kamu telah pulang. Masih dalam dekapan, kamu merasa napasnya berubah karena otot di kedua sisi bibirnya tertarik perlahan, tersenyum lega akhirnya menemuimu lagi.

Pulang adalah tentang rasa aman. Kamu bisa menjadi dirimu sendiri setelah seharian melawan keras dunia. Kamu boleh menangis di rumah, kamu boleh mengaku lemah, kamu boleh kalah sebelum esok dituntut untuk kembali gagah. Tenang, kekasihmu akan setia menguatkan.

Sayapmu beristirahat di rumah. Luka dan patahnya diobati dengan sabar oleh dia yang tersayang. Setelah mencari dan berkelana, kamu bisa menceritakan harimu di sini. Ada sepasang telinga yang tak akan bosan menampung segala keluh kesah.

Sempurnanya, pulang adalah dialog dua arah.
Namun dunia ini memaklumi bahwa tak semua hal berjalan sempurna, bukan?

Dia mungkin pulangmu. Tapi rumahnya tak ada padamu.

Kamis, 14 Mei 2015

Pasar Raya

Saat kamu mengajakku menelusuri Pasar Raya langkah demi langkah, aku sudah tahu. Suatu hari nanti, saat aku berjalan sendiri, rekam kenangmu akan tersebar di banyak sudut. Seperti pada senyum penjaja makanan tradisional yang lebih manis dari kue hangat yang dijualnya di loyang aneka rupa, pada bulir es krim yang meleleh cepat di langit-langit mulutku, atau pada atap raksasa yang menahan terik siang.

Aku tahu, kamu akan sulit dilupakan.

Mungkin bukan barena kamu adalah yang paling segala. Namun karena pengalaman yang kamu bagi sedikit demi sedikit namun tak pernah terlalu lama berjeda.

Mungkin bukan karena hadiah yang kamu beri. Namun karena kepedulian yang kamu tunjukkan tak cuma lewat bualan kosong.

Demi keramaian Pasar Raya, kurasa aku jatuh cinta.

Rabu, 06 Mei 2015

Batas tanya


Kita punya satu aturan sederhana dalam permainan ini. Di antara semua bebas dan ingin yang boleh dipuaskan, kita membangun batas. Untuk hal-hal tertentu, kita dilarang bertanya.

Seperti misalnya, dengan siapa kemarin kamu menghabiskan malam.

Aku akan pura-pura tidak peduli. Pura-pura tidak mau tahu. Aku akan menyambutmu pulang dengan senyum terkembang seperti biasa. Kamu akan memelukku seperti tidak terjadi apa-apa sebelumnya.

 Kita akan begini saja, sampai semesta memberi jalan.

Kamu tidak akan bertanya, dengan siapa aku bicara tengah malam. Kamu juga akan diam kalau tak sengaja melihat aku tersenyum malu-malu membaca serangkaian surat yang selalu kutempatkan di laci sebelah tempat tidurku.

Sejauh ini, kita baik-baik saja.

Minggu, 03 Mei 2015

RIP Jecky


Dear Jecky.
You are not a perfect cat. I am not a perfect owner.

Is that true that I owned you? I think it was you, you owned me.

You are the reason why I am going home.

Now you are gone.
You make me miss you, perfectly.



As I am

“Will you take me as I am?” -Cinderella

Saya tergerak saat menonton adegan di bagian akhir film Cinderella dengan dialog ini. Saat itu, pangeran (yang sudah menjadi raja) sudah menemukan Cinderella yang ternyata hanya rakyat jelata. Cinderella pun akhirnya mengakui bahwa dia hanya gadis biasa saja, "No parents. No dowry. Will you take me as I am?"

Ada potongan dialog yang menarik untuk saya, dibacakan oleh narator filmnya, "Bukankan itu ketakutan terbesar kita? Diterima apa adanya?"

Saya pikir, benar juga. Saya merasakan ketakutan diterima apa adanya, mulai dari tampilan fisik sampai kepribadian. Sederhana, misalnya saat saya bertemu dengan kenalan di sebuah acara yang mengharuskan saya untuk tampil sebagai 'bukan' diri saya. Iya, make up lengkap dan sepatu tumit tinggi seharian itu bukan saya bangeeeet. Apalagi dengan 'tuntutan' untuk senyum dan bersikap anggun terus menerus. Doh!

Bagaimana kalau kenalan (yang melakukan follow up terhadap pertemuan pertama) yang saya temui punya ekspektasi bahwa saya sehari-hari ya begitu adanya. Kasihan sekali, bisa runtuh berkeping-keping ekspektasinya melihat banyaknya porsi makan saya, dan berantakannya kamar saya. Oh, belum kebiasaan saya yang buruk saat menyambut tamu bulanan.

..tapi bukannya kita harus memilih orang yang mau menerima diri kita apa adanya?

Seorang teman saya memberi opini yang lain saat saya menceritakan hal ini. Menurut teman saya yang tingkat kecerdasannya di atas rata-rata, "Aku tidak setuju. Menurutku yang lebih menakutkan adalah menerima orang apa adanya. Dengan menerima seseorang apa adanya, aku akan menurunkan perisai diriku. Aku bisa jadi memberikan kemungkinan dia untuk menyakitiku."

Soal apa adanya ini rumit, ya?

Jumat, 01 Mei 2015

Satu pertemuan


Aku menginginkan satu pertemuan lagi, satu saja. Setelahnya aku berjanji aku tak akan berusaha mendapatkanmu kembali. Aku akan merelakan jarak menang dan menanggung akibat dari keputusanku.

Aku menginginkan satu pertemuan lagi. Aku ingin kamu ingat bagaimana rasanya peluk dan kecup kala kamu pulang kelelahan. Aku ingin kamu ingat bahwa jemariku menginginkan kamu mengisi di sela-selanya.

Aku menginginkan satu pertemuan lagi. Aku ingin bertanya bagaimana rasanya menghadapi perempuan keras kepala sepertiku setiap hari. Aku ingin bertanya bagaimana hatimu pernah tinggal dan tak pergi.

Aku menginginkan satu pertemuan lagi. Sepanjang malam aku akan terjaga dan menikmati hadirmu. Aku akan menyimpan wajah tidurmu kalau-kalau aku merindukannya suatu malam nanti. Aku akan mengingat erat pelukmu saat suatu malam nanti terbangun karena mimpi buruk.

Aku menginginkan suatu pertemuan lagi. Aku ingin kamu tahu berapa malam aku merana karena rindu seenaknya menyelinap dan mengisi tiap ruas dengan ngilu. Alveoliku menjadi lupa tugasnya, aku sesak sambil berharap kamu secepatnya tiba.

Aku menginginkan suatu pertemuan lagi. Kali ini aku tak akan malas bangkit dari tempat tidur dan menyiapkan sarapan untukmu. Kali ini aku akan bangun lebih dulu dan mengucapkan selamat pagi dengan wangi sabun mandi. Aku akan mendahului sinar matahari dalam menyentuh kulitmu.

Aku menginginkan satu pertemuan lagi. Aku mau kamu diam dan mendengar, aku akan bercerita tentang bagaimana kamu berarti bagiku. Aku akan bercerita bagaimana kamu menggantungkan senyum di bibirku setiap pagi. Aku akan bercerita bagaimana kamu mencipta ledakan asing di dadaku setiap kamu berbisik bahwa aku harusnya ada di sampingmu tiap waktu.

Aku menginginkan satu pertemuan lagi, satu saja.
Aku tak ingin kamu pergi tanpa tahu betapa kamu telah memberi warna di hidupku.

Selasa, 28 April 2015

Hitungan rindu


Kita saling berucap rindu, perlahan namun dalam sampai ke sumsum tulang. Aku tersenyum saat kamu bertanya kapan lagi aku bisa ditemui.

Sebenarnya, kalau bisa, aku ingin menemuimu kapanpun aku ingin. Aku ingin sekejap ada di sampingmu begitu detakku rindu dibalas. Aku ingin secepatnya di sisimu saat butuh direngkuh, saat lemah dan lelah-lelahnya.

Tapi kamu menawarkan yang lain. Bagaimana kalau kita kumpulkan rindunya, lalu melampiaskan saat temu dalam genggaman. Aku benci, benci sekali. Aku tak pandai menunggu, tidak suka--lebih tepatnya. Hidupku terlalu singkat untuk sekedar menunggu.

Maka aku berhitung, berapa banyak yang akan kudapatkan kalau aku terlibat dalam permainan menunggu ini. Semata agar aku tahu, apakah harus patuh pada aturan mainnya atau melenggang pergi meninggalkanmu.

Aku menunggu untuk pelukmu. Peluk yang kamu sebut sebagai dekap. Simbol penerimaan atas apa adanya aku, bentuk tubuh serta pemikiranku. Kamu akan mendekapku kapanpun kuinginkan, semakin erat saat tubuh kita ditutupi malam.

Aku menunggu untuk semua ceritamu. Tentang sayapku yang harus kubentangkan selekasnya, tentang kaki-kakiku yang harus menjelajah tiap petak tanah. Kamu bisa bercerita bagaimana siklus hidup bintang sambil menatap mataku seolah-olah mereka ada banyak di sana.

Aku menunggu racauan tidurmu. Seringnya ucapan syukur saat kamu terlelap. Kamu bersyukur atas waktu, atas kita. Kamu bersyukur karena aku masih ada, kamu masih bisa menemani. Aku? Aku bersyukur dengan merapal doa semoga kamu tak pergi segera.

Aku menunggu kecupmu yang tak bisa diprediksi. Kamu tak butuh alasan kuatuntuk menghujani aku dengan kecup. Seluruh sel epitel kulitku mendamba tekan dan lekat yang kamu tawarkan.

Aku menunggu kamu terbangun dan menatapku dengan selengkung senyum. Menjawab pandangan penuh tanya yang kulemparkan dengan senyum yang lebih lebar dan menenangkan. Rongga dadaku dipenuhi kehangatan tiba-tiba, padahal tirai kamar masih tertutup rapat.

Aku mau saja menulis semua yang kutunggu darimu, namun nanti aku akan merindu semakin parah. Atau kamu jadi besar kepala dan seenaknya menikmati aku yang memanggil-manggil hadirmu.

Tidak, kesayangan. Kamu mimpi saja.
Aku tak akan mau membocorkan rahasia bahwa jikalau ini tentang hadirmu, aku akan berusaha menunggu. Selalu.

Minggu, 26 April 2015

Tinder(an)! 7 things you will find in Tinder

 Yello! Saya baru saja cek moderasi komentar di blog ini. Lalu ada pembaca yang mengingatkan saya kalau di post tentang Tinder sebelumnya, saya menulis bahwa saya akan share lagi soal kelucuan ber-Tinder.

Berhubung beberapa hari lalu saya kembali main Tinder, saya akan menuliskan temuan saya di Tinder yang belum saya mengerti sampai sekarang. Saya sendiri heran dan bingung, jadi kalau kamu punya jawabannya bisa mention saya di @auliafairuz ya. #PromosiTwitterTerselubung

Kembali lagi soal Tinder. FYI, Tinder sekarang punya versi PRO yang bisa kamu subscribe. Subscribe ya, bukan beli--artinya kamu harus perpanjang tiap bulan. Kelebihan versi PRO Tinder adalah, kamu bisa melakukan semacam undo atau rewind waktu swiping potential match. Selain itu kamu bisa pilih lokasi swipe kamu, meskipun kamu ada di Jakarta, kamu bisa 'seolah-olah' berada di Bandung supaya bisa dapet potential match garareulis.

Salah satu temuan saya adalah adanya klasifikasi foto cowok (karena saya cewek, jadi saya cari potential match cowok) yang dipajang di Tinder. Saya akan menuliskan beberapa yang seriiiiiiiiiiiiing banget saya temui. Kalau kamu punya tambahan, sila tulis di kolom komentar ya.

1. "Yo wassup, I am smokin and drinkin."
Entah kenapa foto cowok yang dipajang di Tinder sering menjadikan bir (baik di gelas maupun botol) sebagai latar, belum ditambah dengan pose merokok.

Udah deh, seringnya cowok foto dengan gaya begini mungkin mirip dengan seringnya cewek foto di kamar mandi mall. Nggak jarang si empunya foto memamerkan asap rokok, mirip sama efek konser gitu, punya cita-cita terpendam jadi anak band mungkin (?).

2. Don't judge my Tinder by its picture
Kamu fotografer? Foto kamera kamu. Kamu chef? Foto dapur dengan perlengkapan masak yang wah. Kamu dokter? Foto stetoskop kamu. Kamu mahasiswa tingkat akhir? Foto skrip.. ah udahlah.

Tinder yang jelas menggunakan akun facebook dan otomatis menjadikan foto profil Facebook demi mengurangi tingkat kebohongan pengguna masih aja kecolongan. Ada orang-orang yang mengira foto-foto barang bikin mereka keren (?) atau malah memiliki nilai untuk nggak memberikan judgement hanya dari tampilan.

Me? Haloooo. It is Tinder, dude.

3. Identical Selfie.
Berkebalikan dengan pengguna sebelumnya, pengguna Tinder yang memajang foto selfie juga nggak kalah banyak. It's not wrong! Tapi kalau semua fotonya selfie dengan gaya yang sama dan cuma beda background? Meh.

4. Let's go travel with me.
Sebagian pengguna punya gaya lain lagi untuk merepresentasikan diri lewat foto. Travelling pictures termasuk yang sering ditemui. Mulai dari naik gunung, menyelam, di depan Merlion (ini sering banget!), di depan Menara Eiffel, ya pokoknya di segala tempat jalan-jalan.

Buat kamu yang suka sama cowok petualang, swipe kanan aja. Kalau saya pribadi, foto travelling sih nggak mengganggu asal nggak semua foto difoto dari jarak jauh sampai orang yang dimaksud nggak terlihat atau (parahnya) memasang pose hadap belakang. Doh.


5. Which one is me? Guess!
This is what I hate the most. Foto rombongan untuk profil Tinder. Tinder itu dating app, kecuali kamu mau potential match kamu salah mikir kamu yang mana, mendingan buruan deh ubah jadi foto sendiri. Atau jangan-jangan, pengguna dengan foto rombongan gini memang mengincar pasangan yang suka memecahkan misteri?

6. *no pic *hoax
Dari semua pengguna yang pasang foto absurd, ini lebih parah. Nggak pasang foto sama sekali. Oke. Nggak tau mau komentar apa.

7. It's a match, but..
Anggaplah foto kamu kece, bio kamu juga menarik, sehingga banyak cowok/cewek yang swipe right dan kamu pun match sama banyak orang. Selesai?

Nggak. Permasalahan lain yang akan muncul adalah pengguna yang match doang sama kamu. ZLAM! Kalau kamu mau memulai pembicaraan atau menunggu sampai bosan sih terserah aja. Saya biasanya akan menyapa dan menunggu, kalau terlalu lama.. unmatch. Beres.

Rabu, 22 April 2015

Aku tetap tinggal


Kalau bisa, aku sebenarnya ingin mencintaimu dengan sederhana saja.
Seperti mendapatimu belum sepenuhnya sadar di sampingku, lalu mengecup lembut keningmu. Tak perlu peduli waktu yang memburu, jarak yang tak terlipat oleh rindu yang demikian banyaknya. Namun sayangnya, hidup tak bisa sesederhana itu.

Kalau bisa, aku sebenarnya ingin mencintaimu dengan sederhana saja.
Bersandar kapanpun kuinginkan, tak perlu lebih dulu mengundang temaram. Mendekat kapanpun bibirku rindu dikecup, memeluk kapanpun aku rindu detakmu yang cepat. Namun sayangnya, ingin tak bisa semuanya dipuaskan.

Kalau bisa, aku sebenarnya ingin mencintaimu dengan sederhana saja.
Siap sedia di sampingmu, membisikkan bahwa kamu tak pernah sendirian. Kamu tak akan pernah kubiarkan gundah tanpa kawan. Namun sayangnya, kita bukan ikatan pasti.

Maka Sayangku, dengan segala kerumitan dan keadaan yang tidak menguntungkan inginku--aku berusaha tetap mencintaimu.

Dengan keberadaanmu yang jarang, aku menghargai pertemuan. Dengan temaram yang menyenangkan, aku mencoba berteman dengan gulita. Dengan ikatan yang tak pernah ada, aku berusaha setia.

Bukankah itu intinya? Aku tak akan pernah mencintaimu dengan terpaksa. Kamu tak merantai kaki-kakiku, kamu tidak menutup mataku. Aku bisa pergi kapanpun kuinginkan.

Namun lihatlah Sayang, aku tetap tinggal di sisimu.

Selasa, 21 April 2015

Celebrate your skin!


Saya agak bingung mau memulai post ini dari mana. Isi kepala dan perasaan saya campur aduk. Intinya, saya betul-betul nggak sabar mau menulis ini. Begitu jari saya menyentuh keyboard, BLAP. Persis seperti lama nggak ketemu pacar dan sudah mempersiapkan banyak cerita namun langsung diam saking excited-nya.

Analoginya ngawur, ya sudahlah.

Kemarin sore saya menemukan campaign sebuah brand produk kecantikan yang dikomentari salah seorang pengguna twitter. Menggandeng seorang penyanyi wanita sebagai 'ikon', brand tersebut kemudian melakukan campaign 'kulit putih' dengan sasaran remaja putri.

Dalam campaign-nya disebutkan bahwa brand yang bersangkutan akan membantu mendapatkan kulit putih bersinar. Ditulis juga pentingnya kulit putih dalam meningkatkan percaya diri dan tampil memukau. 

Doh! Ini semua tentang kulit putih? Seriously?

Saya punya kepedulian lebih terhadap hal-hal yang menyangkut penampilan dan kepercayaan diri, apalagi di masa perkembangan remaja. Kenapa? Soalnya masa remaja adalah masa yang rawan terhadap terbentuknya citra diri yang negatif. Siapa yang diuntungkan oleh masa ini? Jelas produsen produk kecantikan dong. Dengan iming-iming bahwa remaja akan diterima oleh teman sebaya dan dikagumi lawan jenis, ditawarkanlah segala macam produk..

..pemutih kulit.

Saya sama sekali nggak ingin nyinyir sama perempuan yang lahir dengan kulit putih. You are beautiful. Saya hanya mau memastikan bahwa Kartini muda Indonesia sadar bahwa mereka bisa tetap memukau dan percaya diri dengan warna kulit apa adanya. Kamu nggak perlu lebih putih untuk bisa cantik dan dikagumi banyak orang. Langkah pertama yang perlu kamu lakukan adalah merasa cantik dan baik-baik saja dengan kulit kamu.

Manusia memang diciptakan dengan beragam warna kulit, kok. Zat yang berperan di balik keragaman ini namanya melanin. Melanin merupakan pigmen warna yang merupakan turunan dari asam amino tirosin. Selain warna kulit, melanin juga membuat warna rambut dan mata kita berbeda-beda.

Ini artinya, tingkat terang/gelapnya kulit terjadi secara alamiah. Meskipun tetap saja ada pengaruh lingkungan seperti terik matahari atau nutrisi yang masuk ke dalam tubuh. Kamu yang berkulit gelap bukan merupakan kesalahan produksi atau cacat! Ini juga berarti kamu nggak perlu repot memutihkan kulit.

...

Q: Tapi perempuan yang cantik kan memang kebanyakan berkulit putih?

A: Eits, kata siapa? Kamu pernah nggak sih terpikir kalau digunakannya model kulit putih dalam iklan produk itu dalam rangka jualan? Brand jelas akan menggiring opini publik supaya kamu merasa insecure dan akhirnya jadi budak produk.

Q: Tapi gebetan aku sukanya yang kulitnya putih.

A: Then he doesn't deserve you, Darling. Masih akan ada banyak pria yang mengagumimu lebih dari sekedar apa warna kulit kamu. Dia akan setia mengobrol denganmu karena pemikiranmu menakjubkan untuknya. Dia akan rela menunggumu karena kepribadianmu membuatnya benar-benar jatuh hati. Buka buku, baca, belajar! You will thank me later.

Q: Udah nih? Aku nggak perlu ngapa-ngapain kulit aku?

A: Yaaaah, itu sih namanya males. Bawa sunscreen dalam tas, selalu pakai saat keluar siang hari. Sinar matahari berlebihan bisa membuat kulitmu kusam. Minum air putih, banyak. Kurangi soda dan gula. Kendalikan diri untuk tidak makan gorengan. Tambah porsi sayur dan buah. Kalau merasa perlu, konsumsi vitamin E.

Q: Kok ribet?

A: Bukan ribet. Itu namanya peduli sama perawatan kulit sendiri. Ada perbedaan antara kulit gelap yang sehat dan kulit kusam.

...

Selamat Hari Kartini! 
Celebrate your skin and just love the skin you’re in.
You never know who might love it too.

Kamis, 16 April 2015

Dia orangnya


Halo, kamu yang masih sendiri.
Aku menulis ini khusus untukmu yang menerka apa belahan jiwa adalah konsep nyata atau rasionalisasi yang diciptakan nenek moyang agar manusia tak putus asa.

Dulu kamu mungkin percaya bahwa tiap orang lahir dengan sebelah sayap, tiap orang baru akan terbang saat saling melengkapi, tak bisa sendiri. Namun setelah bertemu banyak orang yang salah, orang yang seenaknya membuat sayapmu patah, keyakinanmu nyaris habis.

Jiwa baik, patah hati berkali-kali tidak menyenangkan. Tapi dari tiap luka semestinya kita belajar, bahwa serigala bertaring harus dihindari, penipu busuk tak boleh dibiarkan masuk. Dari tiap luka, kamu semakin lihai menilai. Percayalah, pertemuan dengan orang yang salah membawa kita lebih dekat ke orang yang tepat.

Kamu akan menemukan orangnya.
Mungkin di setapak saat kamu meringis terseok akibat sayap yang patah. Mungkin di danau tempat kamu merutuki takdir karena lagi-lagi bertemu orang yang salah. Kamu akan menemukannya. Itu kabar baik.

Kabar buruknya, dia mungkin tak sempurna. Sayapnya bisa jadi luka akibat kepercayaan yang dititipkannya pada orang yang salah. Namun kalian bisa tumbuh bersama dan saling memperbaiki. Dengan lemah yang terlihat, kalian belajar saling melindungi. Dengan luka yang tampak, kalian belajar saling menyayangi. Bukankah itu inti kehidupan? Belajar.

Tau-tau kalian bersama, membagi pengalaman dan mimpi-mimpi besar. Tau-tau kamu merasa bahwa semestamu tersaji sempurna, tenang dan indah. Kamu mensyukuri luka-luka lama. Luka dan sakit yang membawamu pada dia.

Orangnya.

Kamis, 09 April 2015

Kamu temani

"Yang aku takutkan bukan ketika kau memilih pergi. Tapi ketika kamu masih di sini dan aku merasa kau telah pergi." -Ibe S Palogai (@jejaksajak)

Baiklah, ini mengerikan. Memikirkannya saja susah mengubah perasaanku menjadi tak aman. Bagaimana kalau itu terjadi pada kita? Bukankah lebih mengerikan bertemu denganmu secara fisik namun tak lagi menemukan pendar ketertarikan yang biasa menyala saat kamu menatapku?

Meskipun tidak akan membantu, aku mulai mengingat sifat-sifat burukku.

Aku sulit bangun pagi. Semua ideku masih liar sampai tengah malam. Sialnya, kamu bangun pagi buta saat aku bahkan belum sampai di tingkat tidur paling nyaman. Aku nyaris tak pernah mengecupmu sebelum kamu pergi mengawali hari.

Aku tak pandai menjaga suasana. Aku bisa tiba-tiba menanyakan kenapa Ratu Inggris mengadakan festival topi atau bagaimana siklus hidup bintang sampai menjadi bintang mati. Kalau sedang berbaik hati, kamu biasanya berhenti dan menjawab. Pada beberapa situasi, kamu akan terus mengecup sampai aku hilang kata-kata.

Aku pemalas. Akhir pekan akan kugunakan sebagai alasan memintamu tinggal di sisiku lebih lama. Aku bisa memelukmu seharian di atas tempat tidur, menyalakan televisi, dan menonton film bersamamu. Aku tak memberi kejutan berupa sarapan, apalagi mengajakmu olah raga pagi. Oh, aku juga jarang sekali tergerak untuk merapikan rumput liar di halaman kita.

Tapi anehnya, kamu bertahan.

Kamu tak bosan mengingatkan bahwa waktu istirahat sudah tiba dan aku harus berhenti membaca. Kamu memeluk aku erat agar aku tak diam-diam bangun dan meneruskan bab yang sedang kutulis jalan ceritanya.

Kamu suka bekerja. Kepalamu butuh tantangan. Kamu menikmati tiap tenggat waktu dan tugas yang terus mengembangkan dirimu. Tapi saat tamu bulananku datang sebelum senja kamu sudah ada di rumah. Membuat sup panas dan menanyakan kegiatanku seharian. Mengecup hidungku saat aku memelas akibat kram perut tak henti.

Kamu sering mendekap, katamu dekap lebih romantis dibanding bercinta semalaman. Tentu bukan karena kemampuan bercintamu payah, aku berani menjamin yang satu itu. Mendekap adalah tentang penerimaan, membiarkan aku menjadi dekat dengan segala kurang dan cacat, membiarkan kamu mengeyampingkan segala perhitungan dan mencintaiku apa adanya.

Sampai hari ini, aku terus merasa kamu temani. Bahkan saat kamu tak benar-benar di sisi.

Minggu, 05 April 2015

Al dan cermin


Al benci sekali cermin dan tak butuh waktu lama bagi Titan untuk mengetahuinya. Tiap kali berjalan di depan tembok dengan cermin besar, Al akan menoleh ke arah lain. Begitupun saat menyikat gigi, Al akan menyikat gigi membelakangi cermin kamar mandi flatnya. Di dalam lift yang seluruh sisinya dilapisi cermin sebagai ilusi ruang, Al akan menunduk.

Entah apa yang ditakutkan Al sampai menghindari cermin sebisa mungkin. Oh, kecuali pagi hari saat harus berdandan. Al akan menggeser kursi di depan meja rias dan berdandan sambil berdiri, seperti ingin secepatnya pergi.

Ini menggelitik rasa ingin tahu Titan. Suatu malam saat perempuannya itu melakukan ritual sebelum tidur, Titan menerobos ke kamar mandi. Di situlah dia, Al-nya yang tak ingin ditinggalkannya lama-lama. Dipegangnya kuat pundak Al, dengan sedikit daya diubahnya arah berdiri Al. Menghadap cermin.

Al menoleh ke arah lain begitu sadar ada pantulan dirinya di depan cermin.

"Kenapa sih, Al?" tanyanya dengan nada peduli. "You look fine, Al."

Al berbalik, merangkul leher Titan yang lebih tinggi. "Tidur yuk," ajaknya tanpa penjelasan yang memuaskan pertanyaan Titan. "Aku ngantuk,"

Bohong. Ini baru pukul 9 malam, Al tidak mungkin mengantuk sebelum tengah malam. "Al, you know you are beautiful right?"

Pegangan tangan Titan yang mengendur membuat Al mudah melepaskan diri. Ditinggalkannya Titan sendirian dengan rasa bersalah yang menggantung.

"Al, are you okay?" bisik Titan usai menyusup ke bawah selimut. Biasanya Al akan menyetel televisi atau membaca di bawah pencahayaan lampu tidur. Al tak mampu dibekap sunyi lama-lama saat sendirian, saat berdua dengan Titan maka ocehannya akan meluncur tanpa henti. Al yang diam begini malah membuat Titan was-was.

Al diam, Titan merasa suhu ruangan menjadi lebih rendah dari biasanya. Ditariknya selimut Al sampai menutup bahu. "Al, tolong jangan diam saja."

"I am fine, Tan." jawab Al datar.

Bohong lagi. Al tak pernah baik-baik saja saat diam begini.

...

Titan, you called me beautiful so many times, I'm almost convinced that I really am.
 

Template by Best Web Hosting