Minggu, 31 Agustus 2014

Siapa-nama-si-anu Syndrome

'Eh itu kan si anu yang waktu itu ketemu di seminar X. Duh gue inget mukanya tapi lupa namanya.'

Saya dulu sering banget nih mengalami fenomena siapa-nama-si-anu. Biasanya kalau nggak menghindar karena merasa nggak enak hati ya terpaksa 'dusta' dengan nyapa-nyapa sok kenal dan nggak sebut nama. *sungkem dulu sama yang pernah saya giniin*

Buat kamu yang sering merasakan kambuhnya sindrom siapa-nama-si-anu, saya mau berbagi tips singkat dari bukunya Dale Carnegie yang berjudul how to win friends and influence people for teen girls.

1. Simak
Bersalaman dan mengucap nama bukan cuma formalitas, pasang telinga waktu lawan bicara kamu mengucapkan namanya. Kalau kamu nggak mendengar dengan jelas, minta dia mengulanginya.

2. Ulang
Tips ini sering banget saya pake karena berguna buat yang memorinya 11-12 sama ikan mas koki kayak saya. Setelah berkenalan, ucapkan nama orang itu beberapa kali di percakapan singkat kalian, misalnya: "Oh, jadi Dwi ambil jurusan teknik?" atau "Fian dulu SMA nya di Surabaya?"

3. Eja
Untuk beberapa nama yang susah dan nggak umum, kamu boleh banget minta orangnya mengeja buat kamu. Ini menunjukkan kalau kamu perhatiin mereka, bukan cuma iya-iya aja. #selfplak

4. Kaitkan
Ini juga tips kesukaan saya. Selain teknik mengulang, teknik ini sangat membantu dalam mengingat. Coba cari kaitan antara nama dan pemiliknya. Kaitan ini bisa berupa rima seperti 'Arfi punya gigi rapi.' atau hal-hal tertentu yang ada di orang itu misalnya 'Arfi rambutnya ikal.'

Selalu ingat bahwa nama adalah hal paling dasar yang membuat orang lain merasa dirinya istimewa. Kalau hal dasar aja kamu nggak bisa simpan dalam ingatanmu, bisa-bisa orang lain mengira kamu nggak menganggap mereka penting.

Semoga tipsnya membantu!

Sabtu, 30 Agustus 2014

Dialog sunyi

"...karena jarak terjauh adalah jarak antar dua hati."

Sisi Azurea.
Fian mengetik sejak tadi, pantulan monitor tampak di kacamatanya. Sudah lebih dari setengah jam aku memperhatikan matanya yang bergerak menyusuri baris-baris angka, di waktu yang sama aku merasa kalah saing dengan entah apa yang sedang dilakukannya. Coklat panas di cangkirku sudah mendingin, rasanya pun tak membuat aku berselera. Hanya perilaku Fian yang menguras perhatianku, sikapnya akhir-akhir ini yang bekerja gila-gilaan seolah menghindari interaksi denganku. Mungkin tiga tahun membuat segalanya terasa hambar, mungkin tiga tahun cukup untuk Fian merasa tak menginginkanku seperti dulu.

Mungkin aku harus memikirkan ulang rencana kami saling mengikat lebih erat dari ini.

Sisi Fian.
Azurea meneguk coklat panasnya, kekasihku ini masih saja terlihat cantik bahkan usai kerja seharian. Rambut Rea terurai melewati pundaknya, hitam tanpa sentuhan macam-macam. Aku harus menahan diri, segera aku mengalihkan pandang ke tumpukan file pekerjaan sebelum tergoda untuk mendaratkan kecupan di kening Rea. Atasan baru membuat deadline gila dalam menyelesaikan proyek yang tak sampai dua minggu aku kerjakan, masih banyak yang harus kuselesaikan walaupun sudah seminggu jumlah waktu tidurku tak sampai empat jam. Tapi aku membutuhkan pekerjaan ini, sebentar lagi Rea akan menyandang nama belakangku, tak akan aku membiarkannya turut berpusing soal biaya hidup kami.

Apapun, apapun akan kulakukan demi membahagiakan Rea.

Rabu, 27 Agustus 2014

Bersamanya kita

Kita bersama bukannya mudah, apalagi saat bola waktu mulai menggelinding semakin jauh.
Kita tak terus mengiyakan satu sama lain, tak melulu tersenyum sepanjang hari.
Tenang saja, Sayang.. Itu wajar, aku mengerti.

Kita bersama bukannya tanpa masalah, apalagi saat lelah merayap dan menumpulkan logika.
Kita tak lagi tertawa sepanjang waktu, kadang mendiamkan ketimbang harus marah.
Tak apa, kita punya cara sendiri agar tak saling menyakiti.

Kita bersama bukannya tak indah tapi bukankah manis yang terlalu akan mencipta jengah?
Kadang kita tak sejalan dalam pikiran, walaupun masih tetap saling menggenggam erat.
Untunglah, setelah satu malam berpeluk esoknya kita akan kembali membagi kecup.

Sesulit apapun, Sayang.
Entah sesakit dan sesulit apa nantinya, aku menjanjikanmu satu hal.
Aku akan mencari cara, aku tak akan mengganti kamu.

Selasa, 26 Agustus 2014

Tuan penari

source: http://s3.favim.com/orig/46/boy-couple-cute-dancing-dress-Favim.com-413549.jpg
"Bagaimana kalau denganku saja?" ujarnya mengulurkan tangan. Semua orang sudah ke tengah ruangan dan berdansa dengan pasangannya masing-masing, sedang aku duduk saja di atas kursi empuk yang bantalannya dilapisi beludru sambil meneguk air limun berwarna merah muda.

Aku menggeleng, "Lupakan saja, aku tak perlu seseorang yang mengasihani aku."

Senyumnya terkembang, memamerkan sederetan gigi rapi yang kuyakin sudah berkali-kali membuat perempuan lain menunduk malu. "Kamu terlalu percaya diri, aku tak suka membuang waktu mengasihani orang lain. Nyatanya, aku memohon belas kasihanmu untuk menerima tawaranku."

"Aku tidak punya waktu mendengar rayuan. Sebelum kamu menyesal sudah berusaha, kusarankan kamu pergi." balasku tanpa merasa perlu beramah-tamah. Dia mengangkat bahu, jas berwarna abu terang sangat pas dipasangkan dengan warna kulitnya. Laki-laki yang ucapannya manis dan selera berpakaiannya apik pasti sudah mematahkan hati banyak perempuan, aku tak berniat menambah jumlah trofinya.

Musik masih mengalun, pemusik-pemusik yang disewa kini mengganti tempo dengan lagu berirama cepat. Pasangan-pasangan di lantai dansa mengendurkan dekapan mereka dan mulai menggerakkan kaki seirama dengan derap alat musik. "Di tempat dimana aku berasal, laki-laki pantang berhenti berusaha memperjuangkan apa yang diyakininya."

Aku menoleh, si keras kepala ini belum pergi juga ternyata. Napas kuhela cepat, memberikan tanda bahwa kehadirannya disini tak kusenangi. "Di tempat dimana aku berasal, keyakinan adalah nama lain dari harapan yang tingginya sama dengan langit dan kalau mataku tak salah melihat, kamu tak punya sayap."

"Nona, jangan terlalu tajam mengasah kalimatmu, akan ada banyak orang yang terluka karenanya." ucapnya hati-hati dengan nada yang tidak menggurui.

Aku tertawa, "Beberapa orang pantas mengetahui bahwa ada hal-hal yang tak mudah mereka dapatkan. Kalau uluran tangan dan tawaran dansa adalah modal yang kamu gunakan untuk memikat gadis-gadis sebelumnya, denganku kamu harus lebih pintar lagi."

...

Lelaki di pesta dansa itu memang pintar walaupun awalnya hanya bermodal uluran tangan mengajak berdansa. Aku salah sudah meremehkannya.

Tidak, jangan pikir aku semurah itu.
Aku sama sekali tak pernah mengiyakan tawarannya untuk berdansa meskipun dia terus memohon lagi dan lagi.

Aku berakhir bersamanya, mengeja malam-malam sampai membentuk gurat pagi.
Aku berakhir bersamanya, menyandarkan harapan demi harapanku di lengkung senyumnya.

Aku berakhir bersamanya, menarikan sebuah tari yang tak terikat melodi apapun.
Tak perlu ada pemain musik, masing-masing dari kami sudah seirama dalam menggumamkan nadanya. Urutan not dan temponya sudah melekat erat dalam ingat.

Untukmu, penari yang tak pernah lelah mengajakku bergerak.

LOVE


Senin, 25 Agustus 2014

Bulan dan Braga

"Berapa lama lagi untuk keberangkatan travel yang selanjutnya, Mbak?" Bulan bertanya pada penjaga loket travel yang asik mengunyah permen karetnya. Sebenarnya Bulan merasa jengkel pada lagak si penjaga loket yang sejak tadi melayani tanpa sekalipun menyapa, malah asik mengobrol dengan entah siapa di ponselnya, dengan speakerphone pula.

Si penjaga loket memberikan raut masam, "Belum tau, mobilnya kena macet di tol," katanya cepat-cepat lalu kembali ke pembicaraan seru di ponselnya.

Bulan menghela napas panjang, enggan membuang energi meladeni si penjaga loket. Di Indonesia, kaum menengah biasanya banyak menoleransi perilaku-perilaku semi kurang ajar yang ditampilkan penjual jasa. Berbeda dengan masyarakat kelas atasnya, jangan harap bisa selamat kalau bertindak tidak hormat. Sambil memandangi tiket travel yang sudah di tangan, sesuatu terlintas di benaknya tiba-tiba.

"Mau kemana neng (neng: panggilan untuk menyapa perempuan muda dalam bahasa Sunda)?" tanya supir taksi sesaat setelah Bulan duduk di jok belakang.

Bulan menggigit bibirnya, "Braga, Pak." jawabnya setelah meyakinkan diri sendiri. Keputusannya bisa jadi akan menyakitinya, sudah lebih dari dua tahun sejak Bulan memutuskan bahwa jalan lawas yang menjadi daya tarik pelancong itu menjadi haram baginya untuk dilewati.

Taksi melaju lambat. Pada akhir minggu Bandung memang berubah menjadi lautan mobil berplat B yang hendak melepas penat dari racauan polusi dan ramai ibukota. Degup jantung Bulan tak turut memelan, malah semakin kencang dengan semakin dekatnya dengan tujuan.

"Braga dimananya, neng?" supir taksi bertanya lagi setelah plang hijau bertulisnya 'BRAGA' terlihat dari kejauhan.

"Lewatin aja jalannya, Pak." jawab Bulan tanpa menyebutkan tempat yang spesifik. Sebenarnya dia memang tak ingin kemana-mana, Bulan hanya ingin melalui Braga yang sisi-sisi jalannya seperti biasa banyak diisi oleh pejalan kaki. Beberapa adalah turis asing yang memang lebih suka berjalan kaki ketimbang naik taksi, sisanya adalah turis lokal yang kebanyakan terpaksa berjalan kaki karena ingin berfoto dengan bangunan-bangunan bergaya lama yang ada di sepanjang jalan.

Taksi yang bergerak menyusuri jalan Braga memberikan sensasi aneh di perut Bulan. Ada yang membuatnya ingin tertawa tiba-tiba tapi niat itu diurungkannya karena khawatir disangka gila. Braga pernah tempat favoritnya, Bulan pernah melangkahkan kaki ringan sembari tertawa di trotoar berwarna kemerahan yang ada disana. Dingin Bandung malam hari pernah ditaklukkannya hanya dengan kaos oblong dan celana pendek, di dekapan Fidi. Ada hangat yang mengalir melalui dada Bulan, menyebar ke seluruh area di tubuhnya, dia pernah sebahagia itu.

"Balik lagi ke pool travel yang tadi ya Pak," ucap Bulan setelah ujung jalan Braga tampak di depan matanya. Nafas ditarik Bulan sangat panjang, seolah ingin menyimpan udara Braga sebelum pulang. Beberapa adegan berputar di dalam kepalanya, kecup-kecup mesra dan dekap erat membuatnya tersenyum sendirian.

Bulan harus mulai mengumpulkan kenangan-kenangan manis itu. Setidaknya kenangan-kenangan itu membuatnya bertahan selama beberapa jam ke depan. Kenangan-kenangan yang akan melindunginya dari patah hati yang akan melumatnya tanpa ampun petang ini.

Bulan akan pergi, ke pesta pernikahan Fidi.
Tidak, Fidi tidak meninggalkannya. Fidi tak pernah mau.

Bulan yang memintanya pergi dan menyudahi perselingkuhan mereka.

Sabtu, 23 Agustus 2014

Ja(t)uh

Jauh yang tak pernah sekalipun kuingini adalah jauh darimu.

Jatuh yang tak pernah sekalipun aku bayangkan adalah jatuh padamu.

Senin, 18 Agustus 2014

Menjadi Ibuku

Menjadi Ibuku pasti sulit.
Melihat aku berjalan dan tersandung berkali-kali karena enggan menerima nasihat. Melihat aku menangis sakit namun tetap saja tak pernah mau melunakkan hati menuruti saran orang lain.

Menjadi Ibuku pasti rumit.
Isi kepala di atas rata-rata malah membuatku pongah mengutarakan banyak alasan yang semata memenangkan keinginanku. Segala jenis buku kulahap semata demi menjunjung ego tinggi-tinggi, seringkali menutup telinga karena merasa pintar sendiri.

Menjadi Ibuku pasti menyebalkan.
Jarang dikabari, jarang ditanya bagaimana kabarnya, jarang didengar. Tapi sering dihubungi tengah malam saat aku tengah kebingungan soal arah, apalagi saat kesulitan datang terlalu banyak. Tak peduli kapanpun, aku selalu mau didengarkan.

Menjadi Ibuku pasti sakit.
Punya anak gadis semata wayang yang ucapannya sering tajam, tak peduli akan menyakiti hati siapa. Punya anak pertama yang tak akan pulang sebelum diminta berkali-kali, padahal dulu sempat menangis tak henti kala harus tinggal jauh.

Menjadi Ibuku tak sepadan susahnya, tapi kamu tak pernah menyerah.
Menjadi Ibuku hampir tak ada untungnya, tapi kamu tak berhenti.

Aku yakin.
Tuhan tau, dia sudah menyiapkan surganya untukmu.

What does oldest child need

Sewaktu saya di tengah perjalanan menuju Jakarta menggunakan kereta, ada fenomena menarik yang saya temukan. Sore itu saya sendirian, di depan saya duduk seorang ibu dengan dua anaknya. Anak tertuanya laki-laki, umurnya mungkin sekitar 10 tahun, adiknya perempuan yang kira-kira berusia 6 tahun.

Si Kakak duduk bersama ibunya, sedang adiknya duduk di kursi seberang bersama orang asing. Saya mengamati betul interaksi dua anak ini, awalnya si Kakak menawari: "Adik, duduk di sebelah Mami ya? Biar Kakak yang disana."

Tawaran si Kakak dibalas ketus: "Adik juga bisa kok duduk sendiri."

Si Kakak hanya tersenyum saja. Beberapa saat setelah kereta berangkat, Adik menghampiri kursi si Kakak untuk meminta cemilan. Kakak memberikan seplastik penuh makanan ringan setelah mengambl dulu satu bungkus miliknya, sisanya langsung dibawa oleh Adik ke kursinya.

Di tengah berjalannya kereta, Kakak menghampiri: "Aku minta dikit dong Ciki (makanan ringan) nya."

Adik menarik bungkus makanannya menjauhi Kakak, "Nggak boleh! Siapa suruh tadi (kamu) nggak beli."

Kakaknya menjawab tanpa beranjak dari samping kursi Adik, "Ya kan daripada beli yang sama mendingan aku beli yang lain. Trus kamu bisa minta, jadi dimakan barengan."

Si Adik bersikeras, "Nggak mau! Sana tuh makan makanan lo sendiri!" ujarnya sambil mendorong Kakak menjauh. Si Kakak lantas kembali ke kursinya, melanjutkan aktivitas mengemil sambil asik bermain game dari gadgetnya.

Beberapa lama, Si Adik menghampiri kursi Kakak dan Maminya, meminta pindah. Mungkin si Adik merasa bosan duduk di sebelah seorang Bapak yang tidak dia kenal. Si Kakak bangun dari duduknya dan tersenyum jahil, "Tadi katanya bisa duduk sendiri."

Reaksi Adiknya tak saya sangka, mungkin karena saya juga menikmati adegan Kakak yang jahil. Dengan nada keras si Adik bicara, "Nggak usah bacot (banyak omong) deh lo! Udah sana pindah, bacot!"

Ada yang teriris-iris dalam hati saya. Duh, dalam perspektif saya kok ya si Adik sangat nggak menghargai kakaknya ya. Padahal, si Kakak sudah menunjukkan perilaku sayang (memberikan saran yang menurutnya nyaman bagi si Adik, tidak memaksa saat meminta sesuatu yang merupakan milik Adiknya, dan menggantikan Adik yang tidak nyaman dengan tempat duduknya).

Saya saja merasa bahwa saya nggak sehebat itu dalam menjadi kakak. Saya bisa mencak-mencak kalau adik-adik saya berlaku tidak sopan. Menurut saya, interaksi kan harus saling menghargai jadi sesayang apapun saya sama orang, saya pasti protes kalau diperlakukan tidak menyenangkan.

Lalu saya jadi teringat seorang teman dekat saya yang lebaran lalu bertemu dengan keponakan-keponakannya. Dia bercerita pada saya, "Kamu tau, Ul? Melihat keponakanku yang punya adik (teman saya ini anak bungsu, jadi nggak punya pengalaman memiliki adik), menurutku anak pertama harus punya hati yang sangat besar."

Indeed.

Minggu, 17 Agustus 2014

Duniamu tanpaku

"Aku butuh ruang, terlalu lama bersamamu menyesakkan." ujarmu, lalu aku melepaskan kecupan, merenggangkan pelukan yang sebenarnya tak pernah ingin aku lepaskan.

"Aku butuh ruang, adamu memenuhi duniaku." keluhmu. Padahal dulu kamu pernah berjanji akan memenuhi tiap sudut duniamu dengan aku, kamu pernah memohon agar aku tak pernah berbalik meninggalkanmu.

"Aku butuh ruang, kaki-kakiku ingin berjalan." aku lantas mundur sedepa, dua depa, memberimu ruang yang cukup untuk melangkah. Semoga ini cukup, semoga kamu tak meminta lebih.

"Aku butuh ruang, berjalan rasanya terlalu lambat." aku mundur semakin jauh, kamu melompat kegirangan. Hatiku retak.

...

Jangan Sayang, jangan seperti ini caranya.
Menjauh darimu bukannya mudah bagiku, aku mati-matian menguatkan hati.

Jangan Sayang, jangan seenaknya kembali datang dan memohon agar aku kembali rapat memelukmu. Aku tak akan mampu seandainya kamu melakukan seperti yang di masa lalu.

Sayang, aku sudah bertanya. Aku sudah bertanya saat kamu mendorong tubuhku jauh-jauh dari tempatmu berdiri waktu itu. Aku sudah menanyakan apakah kamu yakin dengan keputusanmu.

Aku sudah memperingatkanmu, Sayang. Aku sudah tau akan begini jadinya.
Aku sudah tau kamu akan menyesal saat tak dapat melihatku lagi.

Sabtu, 16 Agustus 2014

Mereka-mereka

Bagi mereka yang kuat, mereka tak kenal takut menyimpan luka dari masa lalu.
Walaupun tajamnya menggores-gores dalam tiap jalannya langkah. Lihat saja, tubuhnya penuh bekas luka yang telah sembuh. Mereka percaya sesuatu yang tak membunuh akan menguatkan. Mereka percaya semesta tak meninggalkan mereka sendirian.

Bagi mereka yang bingung, mereka bukannya ingin menyimpan luka lama.
Mereka hanya tak tau bagaimana bisa mengusir luka lama pergi. Tajamnya menyakiti, mereka tak jarang menangis sendiri. Mereka yang bingung akan tertawa canggung di tengah ramai, namun sembab matanya tak berdusta. Langkahnya perlahan karena menghayati sakit yang dibawa. Hatinya ragu apa mau dibuat, seringnya jatuh ke lubang yang sama.

Bagi mereka yang takut, dibalutnya luka lama dan disimpan entah dimana.
Mereka berlari kencang-kencang sambil menutup mata usai menyimpan lukanya, berharap akan lupa. Sebagian berhasil, sebagian malah dihantui kenangan yang memakan jiwa pelan-pelan. Lupa jadi senjata, menghindar jadi siklus yang selalu dilakukan semata demi melindungi diri sendiri. Mereka yang takut akan menutup hati rapat, tak peduli siapa mengetuk.

Hai para penakut, tenang saja, kamu tak sendirian.

un-Silly

"Don't be silly."

Don't be silly, dearest.

I love you too much to leave you.
I love you too much to give up those pain and suffer.

I just love you. Too much.
It hurts.

It hurts. It's life.

It hurts not because it hurts.

It hurts not because I am weak.

It hurts because I never expect that kind of pain from you.

It hurts because I believe hurting me will never be your option.

It hurts because you are okay when I am totally not.

But it's life, I guess.
Thanks for giving me such a lesson :)

Kamis, 07 Agustus 2014

Dulu pernah

"Apa kabar?" ucapmu sambil mengulurkan tangan, berharap aku akan menjabatnya hangat. Senyummu melengkung formal, aku bahkan tak tau apa kamu benar ingin tau seperti apa kabarku atau ini hanya pemanis perjumpaan kita setelah sekian tahun.

Apa kabarku? Singkatnya, melodiku mengalun sendiri tanpa syair. Ada bait lagu yang hilang saat kamu pergi tapi aku tak mungkin merengek meminta belas kasihanmu sekarang, kan? Terutama setelah aku mampu berdiri di atas kedua kakiku lagi.

Aku membalas dengan senyum kaku. Kamu menarik uluran tanganmu, "Everything's changed, you know."

'Not everything. Many but not all of them.'

"Dulu kamu enggan mengganti gaya rambutmu. Apalagi warnanya." katamu sambil menatapku yang berusaha melihat ke arah lain.

'Dulu kamu pun pernah berjanji tak akan pernah meninggalkan aku.'

Usahamu menganggap semua baik-baik saja berhenti, seperti tau bahwa ada suatu yang belum selesai di antara kita. "Kamu belum bisa memaafkanku?"

"Kamu berharap aku bisa?" kini ganti aku bicara. Kegigihanku untuk tetap membiarkan sunyi menemanimu tak perlu diteruskan lagi. "Setelah apa yang kamu lakukan. Kamu berharap aku bisa memaafkanmu?"

--

Kamu pernah menjadi bagian dari tiap doa yang tak putus aku lantunkan ke atas langit. Dulu, waktu aku masih percaya tentang kekuatan Maha Besar yang mengatur perputaran Bumi.

Aku pernah menunggumu tanpa pupus. Aku pernah menantimu mengalahkan penat yang membisikkan caci tak henti-henti. Dulu, waktu aku percaya bahwa kita diciptakan untuk bersatu.

Kita pernah saling berjanji bahwa apapun yang datang tak akan memisahkan.

Kita pernah saling mengikat diri dan berjanji bahwa tak ada lagi celah yang bisa dimasuki siapapun kecuali kita.

Kini setelah semua gugur satu-satu, meranggas kala jarak menyelinap dan menarik kita jauh berlawanan arah. Apa yang bisa aku kata, Sayang?

Kamu pernah jadi segalaku, kini tak lagi.

Aku pernah menunggumu, kini pun sama.
Aku menunggu kamu bertemu karmamu.

Mulutmu-Harimaumu

Be careful of your words. Once they're said they can only be forgiven not forgotten

 Papa saya sering sekali mengingatkan anaknya dengan peribahasa 'Mulutmu Harimaumu' yang berarti kejatuhan seseorang bisa diakibatkan oleh apa yang dia katakan.

Semakin dewasa, saya memahami betul pentingnya menjaga perkataan. Bagi saya, kualitas seseorang bisa dilihat salah satunya dari pembicaraannya. Kualitas disini bisa bermacam-macam, mulai dari kecerdasan, pola pikir, hingga kepribadian. Menilai orang lain adalah hal yang manusiawi, bahkan di saat kita menerimanya apa adanya, bukan?

Semalam saya menonton sebuah program televisi yang menayangkan tentang kegiatan yang dilakukan oleh polisi (e.g penangkapan, patroli, penertiban lalu lintas) dan menemukan adanya hal yang tidak biasa. Saat ada penertiban lalu lintas, ada seorang pengendara mobil yang diberhentikan karena tidak menggunakan sabuk pengaman. Di luar dugaan saya, si pengemudi yang berjenis kelamin perempuan itu balik mengomel pada pak polisi, "Duh pak, saya kan mau ada acara, bajunya udah rapi gini, saya udah dandan, kalau pake safety belt ntar repot dong saya." Kebayang nggak kualitas orang yang menomorduakan keselamatan demi penampilan? Hehehe.

Atau waktu teman sekelompok saya dalam suatu mata kuliah dengan bangga bilang, "Gue sih nggak suka ribet orangnya. Misalnya, kalo gue diajak pergi sama temen gue, gue paling males ribet. Jadi gue minta dijemput dong. Atau kalo gue ada tugas, gue ogah repot. Jadi ya gue nyari gimana supaya tugasnya gampang." Duh! Itu sih namanya males. Ternyata nggak cuma saya yang berkesimpulan demikian.

Contoh lain adalah dosen saya yang dengan muka serius saat mengajar berkata, "Disini semua udah kenal saya lah ya," "Siapa yang belum kenal saya?" "Ada beberapa orang disini yang tidak menyapa saya saat berada di luar kelas." lalu mendapat label narsistik dan sok penting dari para mahasiswa. Untuk yang ini, saya nggak ikutan kasi komentar deh ya.

Contoh-contoh di atas membuat saya sadar bahwa 'Mulutmu Harimaumu' memang sepenting itu adanya. Terang saja Papa nggak bosan mengulangnya jutaan kali pada kami.

Eh, kalau Blogmu.. apamu ya? :))

Supaya Aman

Waktu itu larut sudah merangkak lama, dingin sudah mewarnai udara di sekitar kita. Kamu berdiri gagah seperti biasa, dengan jaket yang setia menemani kemanapun kamu pergi. Aku sama biasanya, memandangi sosokmu yang selalu menimbulkan desir asing dalam dadaku.

"Pulang sekarang?" ajakmu yang kujawab anggukan. Sebentar lagi punggungmu yang bidang tak akan sampai lima senti dariku, itu artinya wangi kolonye yang kamu pakai akan memanjakan indera olfaktoriku. Semoga aku bisa menahan diri untuk tak mendekat dan menghirup semua aromanya sampai tak bersisa.

Tanganmu menyerahkan helm. Aku menerimanya ragu, sudah berapa perempuan yang pernah mengenakannya sebelum aku? Lucu sekali, aku peduli. Kita hanya berteman, bukan?

Saat benda bundar itu terpasang di kepalaku, kamu mendekat. Aroma kolonye mulai merebak. Tanganmu mengarah ke leherku yang tengkuknya kini seperti disetrum aliran listrik.

KLIK
Pin helm terpasang.

"Supaya aman," kamu berujar datar, kemudian berbalik menyalakan mesin sepeda motor.

Aman?
Aku nyaris kehilangan jantungku barusan.
 

Template by Best Web Hosting