Rabu, 30 Juli 2014

Memenangkan egoku kadang perlu. Misalnya saat aku menahan diri tak mengemis padamu kala kamu pergi seenaknya. Menjadi egois kadang perlu, terlebih saat jatuh pada orang yang tak bisa menjadikanmu dunianya.

Kamu harus melindungi duniamu sendiri.

Selasa, 22 Juli 2014

Kata Cewek #1

Ini proyek video iseng yang dibuat sebelum liburan KKN dan digawangi (?) oleh +Lidya Kemala bersama Sid, Uti, dan Tata. Sebenarnya kontennya adalah cewek yang suka kontradiktif waktu ngomentarin cowok tapi berhubung script writernya masih amatir agak sulit memepatkan ide jadi scene beberapa menit. Tenang, script berikutnya pasti lebih kece! Oiya, script writernya gue! X')

Ps: Sebenarnya juga gue ngga berniat jadi cast, cuma Tata ngambek karena syutingnya kelamaan dan di-cut terus sama bu Sutradara. Jadilah gue cast dadakan, udah lahir dengan muka antagonis disuruh akting ya gitudeh. Selamat nontonin gue ngomel-ngomel tiga menit. Mwah!

Senin, 21 Juli 2014

Tuan tak sendiri

"Berapa lama lagi waktu kita?" ujar Tuan sembari menatap Nona yang memandang ke luar jendela. Memandangi kekasihnya dari samping selalu bisa membuat napasnya terulur satu-satu.

Sang Nona menoleh, berkata pelan, "Tak sampai satu purnama."

"Lalu apalagi?" langkah Tuan tertahan, tak berani mendekat. Dalam hati Tuan memaki dirinya, betapa dia pengecut dan takut mendengar jawaban dari pertanyaan yang diajukannya sendiri.

"Kita akan terpisah seperti sebelumnya. Kamu di duniamu, pun aku. Segala tentang kita akan menjadi abu." nada Nona datar menjawab, tak ada lengkung senyum pun gurat khawatir di wajahnya.

Sinar matahari yang menyelinap masuk melalui ventilasi jendela tiba-tiba terasa membakar kulit. Detak jantung Tuan seperti berlomba memompa isi dadanya agar pecah berhamburan ke luar. "Hanya itu?" katanya. Sedetik kemudian Tuan memaki dirinya lagi, dia sendiri memancing jawaban yang tak ingin didengarnya.

Nona mengangkat bahu, "Selalu ada lebih dari satu kemungkinan. Kalau kita tak terpisah usai satu purnama, aku khawatir kita akan mengalami yang terburuk."

'Adakah yang lebih buruk dari terpisah denganmu?' ujar hati Tuan berbisik.

"Kita akan bersama selamanya. Aku tak bisa melupakanmu. Kamu tak bisa meninggalkanku. Kita akan saling mengisi hidup satu sama lain, kita akan terus merindui satu sama lain, kita akan saling mengharapkan satu sama lain." Nona menjawab lagi, pandangannya mengarah lurus pada sepasang mata Tuan.

Tuan mengatur napas agar tak bicara terbata-bata. "Bagaimana bisa kamu berkata itu adalah kemungkinan terburuk?"

Mendengar reaksi Tuan, Nona memandang tak mengerti. Sudah hilangkah akal Tuan di depannya hingga ingin menyalahi aturan langit. "Karena kita tidak diciptakan untuk satu sama lain?" balasnya dengan nada menggantung.

"Baiklah." Tuan menutup pembicaraan, merapikan pakaian dan bergegas pergi. Kalau lebih lama lagi dia disitu, Nona pasti akan menganggapnya gila.

Ruangan sepi beberapa saat.

Nona menangis sendirian. Tamengnya ambruk begitu Tuan melangkah keluar ruangan, susah payah dia berpura-pura tegar saat menjawab pertanyaan-pertanyaan Tuan.

Tuan tak pernah tau, bukan dia sendiri yang ingin menentang keputusan langit.

Kebaikan

"Kebaikan itu, Sayang.. Tak dikurung oleh golongan-golongan yang berbeda Tuhan." ujarmu kala aku dihujani caci karena pilihan hidupku. "Tetap berbuat baik, bagikan yang kamu punya, berikan bantuan bagi yang membutuhkan, dengarkan yang sendirian. Tuhan manapun akan mengakui bahwa yang kamu lakukan adalah kebaikan."

Kalau semua orang sepertimu, Sayang. Tak akan ada yang mati sia-sia karena berdebat kusir tentang Tuhan siapa paling hebat, ajaran mana yang paling baik, kepercayaan siapa paling suci.

Baju Lebaran

Di negara tempat saya tinggal, Indonesia ada fenomena unik menjelang Hari Raya Idul Fitri. Department store akan penuh sesak oleh orang-orang yang berbelanja. Seperti umumnya menyambut hari besar, banyak hal yang tiba-tiba naik prioritasnya menjadi kebutuhan primer. Salah satunya baju lebaran.

Baju lebaran adalah baju yang sengaja dibeli untuk dikenakan pada perayaan Idul Fitri. Modelnya berganti tiap tahun, biasanya sih berpotongan panjang karena menyesuaikan hari besar agama.

Di rumah saya, Mama tidak membiasakan anak-anaknya mengenal istilah baju lebaran. Meskipun kami sekeluarga memang punya baju dengan bahan sama yang biasanya dipakai untuk mendatangi Open House di hari besar dan acara lain seperti undangan pernikahan tapi tidak ada baju dengan kategori baju lebaran di lemari kami.

Istilah baju lebaran adalah baju-baju yang dibeli Mama untuk dibagi-bagikan ke banyak orang. Baju-baju koko (baju muslim pria dewasa) dan tunik (untuk yang wanita) serta baju muslim warna-warni aneka ukuran untuk anak-anak bersama-sama kami bungkus untuk diberikan ke orang-orang dekat yang selama ini sudah berjasa bagi kami.

Saya ingat beberapa tahun lalu, Adik saya memprotes mama dengan ucapan, "Ma, kok Sumi (anak bungsu asisten rumah tangga kami) dibeliin baju lebaran? Adek aja nggak pernah beli baju lebaran."

"Sama seperti kenapa Allah memerintahkan kita supaya membagi-bagikan daging ke banyak orang yang membutuhkan di Hari Raya Idul Adha. Supaya di hari yang sama, tidak ada orang yang bersedih. Supaya mereka bisa merasakan apa yang biasanya tidak mereka dapatkan. Kalau untuk membeli baju baru, apa kamu harus menunggu lebaran, Dik? Di antara baju-bajumu yang bagus itu, ada hak Sumi di dalamnya. Kita memberikannya waktu lebaran."

Adik saya diam, saya nggak paham apakah penjelasan Mama bisa diterima olehnya. Tapi yang jelas dia sekarang lebih mudah menyisihkan baju-bajunya yang masih layak untuk diberikan ke orang lain dibandingkan sebelumnya. Hehehe.

Lessons from Indramayu

Heyho, Aulia is back from KKN journey!!
:))

Seperti yang sudah saya tuliskan sebelumnya di post ini tentang bagaimana keadaan tempat KKN saya, post kali ini akan membahas hal-hal yang membuat saya makin bersyukur dengan keadaan default hidup saya. Hehehe.
Mall!
1. Mall!
Foto di atas diambil di alun-alun kota Indramayu, maklum tak ada mall jadi kami sekelompok main ke alun-alun kota. FYI, I am not a big fans of mall. Tiap kali ada saudara jauh (maksudnya yang tinggalnya di daerah yang jauh) yang datang dan mengajak saya untuk menghabiskan berjam-jam di kandang raksasa ber-AC saya lebih memilih untuk duduk diam saja di rumah dan menulis. Tapi setelah 29 hari hidup tanpa mall, saya pasti akan lebih memaknai perasaan mereka yang selalu minta diantar ke mall untuk jalan-jalan. 

Mobil bak terbuka
2. Mobil bak terbuka
Saya sering sekali protes kalau asisten rumah tangga saya bercerita beliau dan tetangga-tetangganya menyewa mobil bak terbuka untuk pergi ke suatu acara. Duh! Mobil bak terbuka itu untuk barang, bahaya, nggak didesain untuk mengangkut manusia, dll. Tuhan memang paling suka bercanda, di Indramayu saya berkali-kali naik mobil bak terbuka ke pasar yang jaraknya sekitar 10 KM dari rumah kontrakan kami karena angkutan umum sangat jarang lewat. Kecepatannya? Jangan ditanya, supirnya seperti lupa kalau yang diangkutnya ini bukan sayuran. Jadilah saya berpegang erat erat pada sisi-sisi mobilnya agar tak terjatuh. Asisten rumah tangga saya memang strong!


Lebih dari setengah jam berdiri menunggu angkutan umum
3. Ngetemnya angkutan umum
Saya dari lahir memang udah nggak sabaran, makanya saya paling sebal kalau harus menunggu angkutan umum memenuhi kursinya dengan penumpang. Lalu saya harus tinggal di daerah yang untuk menunggu angkutan umum saja minimal saya harus berdiri setengah jam di pinggir jalan. Hahaha. Seru? Seru banget!

Selasa, 15 Juli 2014

#dearyou

Kala kamu jatuh cinta padaku, seperti apa rupaku di matamu.
Apakah bersayap indah layaknya kupu-kupu yang setia menjelajah kumpulan bunga tanpa takut tersaingi oleh cantiknya mereka? Atau layaknya kunang-kunang yang terus terbang tanpa tau bahwa mereka menerangi sekitarnya?

Hatiku bilang, cinta adalah tentang menyusuri tepian jurang sembari menggenggam tanganmu.
Aku tau bahwa kamu bisa saja mendorongku untuk jatuh ke dasarnya namun aku percaya kamu tak akan melakukannya.

Senin, 14 Juli 2014

new (temporary) look

...because I love it when you played with my hair or when you kissed my hair secretly :)

Alasan alasanku

Ada masanya aku berdoa siang malam mengharapkan semesta menghadiahi aku dengan 
seseorang. Seseorang yang pesonanya mampu membayar segala penantian dan setiaku 
menunggu selama ini. Lalu semesta mengikat masa depanku dengan masa depanmu.

Awalnya aku tak ingin memilihmu.
Ralat, aku bahkan tak repot melirikmu.

Alasan pertama, kamu jelas tidak rupawan. Tentu kamu jauh dari buruk rupa tapi tetap saja aku tak bisa  menyebutmu tampan. Lihat saja, kamu tak mau repot bercermin lama-lama. Katamu bersolek hanya untuk laki-laki yang diragukan kejantanannya. Berhubung kamu selalu bisa membuktikan bahwa teorimu terbukti benar, aku tak akan membantah lagi.

Alasan kedua, kamu tak pandai merangkai kata. Kita bisa bertengkar beberapa kali karena caramu mengingatkanku akan banyak hal. Aku bisa mendiamkanmu berhari-hari karena kamu sekedarnya saja mengucapkan selamat pada peringatan tiap tahun hubungan kita, itupun kalau kamu mengingatnya. Tapi kamu tiba-tiba berubah menjadi negosiator ulung tiap kali berbicara dengan ayahku.

Alasan ketiga, kamu tak bisa bermain musik. Aku suka bernyanyi, aku bernyanyi hampir setiap hari. Sayangnya kamu tak melengkapiku dengan iringan musik, banyak laguku bahkan tak selesai karena kamu seringkali menghentikannya dengan peluk dan kecup jutaan kali.

Alasan keempat, kamu tidur mendengkur. Aku sulit tidur, segalanya harus sunyi kalau aku hendak terlelap. Kamu seenaknya mendengkur keras-keras di sampingku. Uh! Aku benci pada akhirnya aku justru tak bisa tidur kalau tak mendengar dengkuranmu.

Alasan kelima, kamu tak bisa menilai masakanku. Tak peduli terlalu banyak atau kurang garam, kamu akan dengan senang hati memakannya. Tak pernah ada sisa makanan di meja, kamu bilang aku pintar memasak. Nyatanya lidahmu tak pandai merasa.

Lelaki kesayangan, kalau kamu menanyakan alasan apalagi yang membuat aku tak sedalam itu jatuh cinta padamu pada awalnya, aku akan dengan mudah menyebutkan lebih banyak lagi.

Tenang saja, kalau kamu lantas menanyakan apa alasanku tetap bertahan dalam tiap pertengkaran dan masalah yang datang, aku sudah menyiapkan jawabannya. Denganmu, rintangan memang tak berubah mudah tapi kuyakin tanpamu tak ada satu hal pun yang menjadi  lebih baik. Lebih penting lagi, aku membutuhkanmu...

...untuk menguatkanku. 

Minggu, 13 Juli 2014

#dearyou

Aku bukannya lemah, sayang. Aku hanya kehilangan alasan untuk menguatkan diri kala kamu tiada.

#dearyou

Kalau kita akhirnya kehilangan minat akan kehadiran satu sama lain, aku masih menerka apa yang akan kulakukan tanpa adanya kamu di sampingku.

Kamis, 10 Juli 2014

Dua kali tiga ratus enam puluh lima hari

Pagi dingin yang biasa, aku masih berpiyama dengan rambut panjang yang tergerai acak. Kamu datang dengan handuk melilit di pinggang, "Sayang, katakanlah kita berjauhan. Aku tak akan bisa memelukmu semalaman atau memijat pundakmu saat kamu mengeluhkan kedatangan tamu bulananmu. Bagaimana kamu yakin aku masih mencintaimu?"

Saat itu aku tengah mengolesi lembaran roti dengan selai sarikaya, kesukaanmu. Sejak berkuliah kamu selalu melewatkan sarapan, hingga sekarang pun mengisi perut di pagi hari bukan kebiasaanmu karena itu aku menyiapkan kantong kertas di laci dapur. "Aku tidak pernah tau, Sayang. Kenyataannya, aku bahkan tidak pernah tau perasaanmu yang sebenarnya." kini tanganku berganti memasukkan setangkup roti yang akan jadi makan siangmu ke dalam kantong kertas, lalu menulisinya dengan pesan singkat seperti biasa.

Langkahmu mendekat hingga jarak kita tak sampai semeter antara satu sama lain. Kamu membuka laci dapur, mencari-cari sesuatu. "Ngg.. sayang,"

"Kopi pagimu sudah ada di atas meja, kuletakkan bersama dengan koran pagi ini. Oh, ada surat-surat yang datang untukmu di akhir pekan kemarin," ujarku tanpa harus menunggu kamu menyelesaikan kalimat.

Usai mendengarku bicara banyak, kamu tertawa. "Aku lupa kamu bisa membaca pikiranku,"

"Aku hanya mencintaimu, Sayang. Itu lebih dari cukup."

Kamu membalik tubuhku, lalu memberikan kecupan kecil. "Aku minta maaf tak bisa datang malam ini. Hadiah untukmu akan kukirimkan..."

"Simpan saja hadiahnya. Oh, ini bekal makan siangmu." aku menggigit lidahku setelahnya, menahan diri agar tak bicara sembari menangis sesenggukan. Tiba-tiba ada nyeri menjalar di ulu hati milikku.

Kamu memelukku erat, "Selamat peringatan dua tahun pertemuan kita, Sayang. Aku akan lekas kembali padamu."

Iya, tentu saja kamu tak akan pernah ada saat peringatan hari pertemuan kita karena di hari yang sama tunanganmu berulang tahun dan kamu harus ada di sampingnya. Lagipula, kita pertama kali bertemu di pesta ulang tahunnya.

Minggu, 06 Juli 2014

Balasan untukmu, Sayangku


Sayangku, ini balasanku untukmu.

Dalam tiap pengharapan yang aku lantunkan ke langit, aku selalu memintaNya untuk memampukanmu. Semoga, kau terus dimampukan dalam menghadapi segala yang datang.

Aku harap kamu dimampukan untuk terus menyebar kebaikan di dunia yang sudah penuh dengan nista. Semoga segala kebaikan yang kamu bagikan, kembali lagi padamu berlipat jumlah.

Aku harap kamu dimampukan untuk terus belajar, aku tau kamu suka belajar. Belajar bagimu tak sesempit membaca dan menghadiri kelas dengan penceramah bergelar. Belajar bagimu bisa sesederhana menyusuri setapak dan menikmati tiap hela napas.

Aku harap kamu dimampukan untuk terus berjalan, menikmati warna dunia dengan matamu yang aku suka. Kamu ingin menikmati senja di pantai, malam di gunung, pagi di savana. Semoga kamu terus diberikan kaki-kaki yang tangguh untuk berjalan sejauh-jauh yang kamu mau.

Tapi Sayangku, cintaku tak semurni itu.
Di antara ribuan harap yang aku kirimkan, aku tetap menyelipkan keegoisan.
Aku harap kamu tak pernah mampu melupakanku.
Aku harap kamu tak pernah mampu meredam keinginan untuk terus bersamaku.
Aku harap hatimu tak pernah mampu berhenti merasaku.

Mungkin aku terlampau angkuh dengan menahanmu tetap tinggal, Sayang.
Tapi percayalah, kalau memelihara keangkuhan adalah satu-satunya cara mempertahankanmu, aku tak ragu menenggelamkan diri ke dalamnya.

Sabtu, 05 Juli 2014

Aku salah satunya

Perempuan itu, Sayang.. sebenar-benarnya penikmat sakit. Mereka sering menanya hal-hal yang mereka tau jawabnya akan menghantam tak kenal ampun.

Jangan lupa, Sayang.
Aku salah satu dari mereka.

Jumat, 04 Juli 2014

Selalu, Sayang.

F: "Ayolah, Sayang. Jangan pikir aku kelewat dangkal dengan menyerahkan nasib anak-anakku pada perempuan yang biasanya hanya bersolek dan mengeluh tentang panas hari yang membakar kulit"

A: "Aku tidak menyukai anak-anak. Setidaknya tidak saat ini. Denganku kamu malah tak akan mendapatkan satupun."

F: "Baiklah, aku pun tak terlalu menyukai anak-anak. Siapa juga yang mau susah payah bangun dan mengganti popok saat aku bisa memelukmu semalam suntuk, kan?"

A: "Lalu soal bersolek, jangan kira aku tak mampu. Hanya saja, aku lebih suka menenggelamkan diri berpikir dan berpusing sendiri mencari solusi. Sudah terlalu banyak orang yang mengeluhkan masalah, Sayang."

F: "Ah! Yang satu itu aku setuju. Kamu tau betapa aku menikmati menghabiskan waktu di sampingmu, kan? Bicara soal banyak hal-hal kecil yang tak terpikirkan orang lain sampai terlelap. Memandangi wajah lelapmu sangat menyenangkan."

A: "Jangan mencoba menyenangkanku,"

F: "Aku tak pernah berhenti mencoba menjadi menyenangkan buatmu, Sayang. Taukah kamu betapa aku cemburu melihat kamu tertawa saat alasannya bukan aku?"

A: "Kamu menyebalkan,"

F: "Tapi memenangkan hatimu, kan?"

A: "Selalu."
 

Template by Best Web Hosting