Selasa, 25 Februari 2014

Marry someone

'Marry someone who lets you drink their juice, even after you said you weren’t thirsty. Marry someone who laughs at the same things you do. Marry someone who kisses your nose on a cold day. Marry someone who you can watch Disney movies all day with. Marry someone who is proud of you whether you earn £5 a week or £5,000 a week. Marry someone who you can tell everything to. Marry someone who isn’t afraid or embarrassed to hold your hand in public. Marry someone who lets you take over when decorating a cake. Marry someone who you can spend the day in Ikea with without feeling stressed. Marry someone who wraps you up inside their coat in the winter. Marry someone who accepts your fears and phobias. Marry someone who gives you butterflies every time you hear their key in the door. Marry someone who you don’t always have to shave your legs for. Marry someone who accepts you all day every day, even when you don’t look or feel your best. Marry someone who still puts three sugars in your tea, despite telling them “just two”. Marry someone who doesn’t judge you when you eat your body weight in cookies. Marry someone who doesn’t make you want to check your phone, because you already know they will reply. Marry someone who waits with you to get on the train. Marry someone who understands that you need to be alone sometimes. Marry someone who gets on well with your parents and isn’t uptight about family events. Marry someone who calms you down when you get mad about stupid stuff, and never tells you it’s “only stupid stuff”. Marry someone who makes you want to be a better person. Marry someone who makes you laugh. Marry someone who treats you the way you deserve to be treated. Marry someone who you love. Marry your soulmate, your lover, your best friend.'

source: http://these-greatexpectations.tumblr.com/post/64444980094

Lakukanlah

Teruntuk perempuan-perempuan yang sudah dititahkan Tuhan menjadi sebaik-baiknya perhiasan dunia, ketahuilah bahwa sesungguhnya menjaga diri dan menyimpan baik-baik kesucian bukanlah sebuah keharusan.

Tidak, kamu tidak harus menjaga dirimu dari laki-laki yang menurutmu mencintaimu. 
Kamu boleh memberikan apapun yang dia mau, kamu bebas menurutinya pergi dan bercumbu di sudut manapun yang dia inginkan.

Tidak, kamu tidak harus menyimpan baik-baik kesucianmu.
Kamu boleh menawarkannya cuma-cuma untuk laki-laki yang menurutmu mencintaimu.
Kamu boleh tertawa lepas merangkul lehernya dalam keremangan selama berjam-jam lamanya.

Lakukanlah.
Lakukanlah kalau kamu mengijinkan kelak anak-anak perempuanmu berlaku demikian.

Senin, 24 Februari 2014

marry me.

marry me.
let’s spend our week nights eating cereal on the floor
when there is a perfectly fine table behind us.
we can go to the movies and sit in the back row
just to make out like kids falling in love for the first time.

marry me.
we’ll paint the rooms of our house
and get more paint on us than the walls.
we can hold hands and go to parties we end up
ditching to drink wine out of the bottle in the bathtub.

marry me.
and slow dance with me in our bedroom
with an unmade bed and candles on the nightstand.
let me love you forever.
marry me.

source: http://whisperingbones.tumblr.com/post/60982176851

Minggu, 23 Februari 2014

Galau pangkal boros

Malam ini ceritanya perasaan saya sedang 'tidak baik' dan Uti sedang tidak enak badan. Kecemasan tanpa teman itu kutukan dobel buat saya yang selalu haus afiliasi. Saya lekas menghubungi Tata, sahabat yang sudah seperti kakak saya sendiri.

Awalnya saya tidak punya tujuan apapun, hanya ingin ditemani saja. Namun mengingat hari mulai malam dan saya belum makan sejak siang, saya mengajak Tata untuk pergi ke kedai ramen. Tidak hanya memesan ramen, saya juga memesan seporsi sushi. Porsi dobel, sempurna (gemuknya), hahaha.

"Nonton hari minggu mahal ya," ujar saya memberikan kode.

Tata yang dengan cepat mengangkap kode saya lantas tertawa, "Lu tau ngga? Tadi gue juga mau ngajak nonton tapi takutnya lo keberatan karena mahal,"

"Yaudah nonton yuk?"

Sesampainya di bioskop, ternyata film yang kami pilih baru saja main 15 menit yang lalu. Memang dasar nekat, kami memesan tiket untuk putaran selanjutnya yang berarti baru akan dimulai dua jam lagi.

Selama dua jam, kami menghabiskan waktu di toko buku. Jangan, jangan pikir kami sok pintar baca buku ini itu. We're simply walking around and making some jokes. Iya, akhirnya kami keluar karena bosan.

Lalu kami ke game center dan membeli beberapa koin. Awalnya kami cuma bermain basket, namun akhirnya saya ikut Tata main dance revolution berkali-kali (sampai harus kembali membeli koin). Setelah merasa cukup berkeringat dan lelah (game center nya udah siap-siap tutup juga), kami kembali ke bioskop--menunggu teater kami dibuka.

Sembari duduk di dalam teater, saya berujar singkat, "Ta, kok kita boros banget sih malem ini?"

Tata santai seperti biasa menanggapi pertanyaan saya, "That's called life, bro. Lo boleh boros pas galau."

"..."

A sister definitely will make your mood better. Definitely.
:)

Doamu

Beberapa hari lalu saya membaca kutipan bagus yang di-share seorang teman melalui Path:

"Jika akhirnya kamu tidak bersama dengan orang yang namanya sering kamu sebut dalam doamu, mungkin kamu akan dibersamakan dengan orang yang sering menyebutmu dalam doanya."

Kadang kita begitu keukeuh-nya meminta agar disandingkan dengan seseorang, lupa bahwa Dia punya rencana yang jauh jauh jauh lebih indah.

:)

Sabtu, 22 Februari 2014

LOL movie

I've just watched a movie, the title is 'LOL' and it's starred by Miley Cyrus.
It's a family movie, well not-so-family-but-fine. And I'm amazed by this dialogue:

"So I need ask you a favor." 

"Ok. What do you need?"

"I need you to sleep with me."

*cough*

"C'mon what's the big deal? I don't ask you to do the euthanasia. It's just one little favor, you've known me forever. C'mon."

"It's not just a little favor okay? What would you say if I asked you?"

"Yes."

"I say no, okay? I respect you too much."


Wanita mandiri versi kami

Lingkungan keluarga adalah lingkungan pertama yang dikenal oleh seorang anak, maka dari itu lingkungan ini sangat berperan dalam membentu persepsi dan pola berpikir individu.

Saya dan partner sama-sama dibesarkan dengan lingkungan keluarga dimana ibunya dan ibu saya sama-sama bekerja sebagai wanita karir. Hal itu membentuk persepsi kami berdua terhadap peran perempuan dan tuntutan peran perempuan dalam keluarga.

Kesamaan persepsi ini merupakan suatu hal yang saya syukuri karena perbedaan di antara kami sudah sangat banyak. Rasanya kalau menemukan hal-hal yang sama, saya senangnya bukan main karena itu berarti mengurangi PR kami untuk mencocokkan hal-hal yang belum sama, hehehe.

Menurut partner saya, perempuan sebaiknya bekerja. Pandangannya tentang perempuan yang bekerja pernah saya tulis dalam post disini. Saya menuliskan inisialnya dalam dialog sebagai K.

Tidak, saya sedang hilang minat menuliskan tentang perempuan yang berkarir. Akhir-akhir ini saya tidak punya kesibukan, jadi rasanya atribusi yang digunakan tidak akan tepat.

Pernah waktu itu partner saya menceritakan tentang kebiasaan sarapan di rumahnya. Di kampung halamannya, sarapan biasa menggunakan roti khusus yang proses memasaknya tidak mudah dan memakan waktu. Dengan pertimbangan tersebut, keluarga partner saya akhirnya memutuskan untuk membeli instead of baking.

Saya masih ingat perkataannya, "Kasihan ibu kan kalau harus bikin roti itu. Mending kita beli aja, lebih gampang. Kenapa harus susah?" saya sebenarnya juga berpendapat demikian soal makanan dan masakan. Gambaran kesibukan sebagai wanita karir yang saya dapatkan dari mama saya, (melihat jadwal pulang beliau) rasanya nggak mungkin saya bernafsu untuk memasak sepulang kerja. Jangankan masak, makan aja kayaknya udah males kalau nggak terlalu lapar.

Maka dari itu saya sering parno (paranoid) sendiri kalau denger cowok yang high-demanding soal peran perempuan sebagai tukang masak rumah. Pernah lho saya dengar ucapan teman kuliah saya, "Ya itu kan resiko dia. Kalau dia mau kerja, jangan sampai menelantarkan rumah. Dia harus tetap masak buat saya dan anak-anak."

Tapi pola pikir soal 'kepraktisan' ini nggak selamanya berdampak menyenangkan buat saya. Ibunya dan mama saya yang mandiri kadang jadi bumerang untuk saya yang masih sangat manja kalau dibandingkan dengan beliau-beliau.

Misalnya waktu itu kami merencanakan untuk kencan. Saya naik kereta dari Jakarta, dengan ekspektasi bahwa dia akan menunggu saya di stasiun untuk kemudian pergi bersama ke tempat yang kami tuju.

Apa boleh buat kereta saya terlambat datang, hari itu juga hari Jum'at dan dia punya kewajiban untuk shalat Jum'at. Saya awalnya ingin menunggu saja di stasiun sampai dia selesai shalat dan menjemput saya, tapi tanpa embel-embel romantis sama sekali dia bilang, "Kenapa harus tunggu lama di stasiun? Kamu pergi aja ke ******* (tempat tujuan kami), nanti setelah shalat saya kesana juga. Jadi kita langsung ketemu disana."

Saya pikir, benar juga idenya, sangat efisien meskipun jauh dari kesan romantis.
*sigh*

Atau saat maag saya kambuh karena makan mayones yang sebenarnya sudah jadi pantangan bagi perut saya. Partner saya mengomel sepanjang jalan menasihati saya soal 'menjaga kesehatan' dan 'peduli terhadap diri sendiri'.
Kekhawatirannya tidak ditunjukkan dengan memanjakan saya tapi raut muka tegas yang menyeramkan, hiii.

But overall he is being a very nice guy.
He carries my bag (not purse. I repeat, not my purse!) although I say I can handle it.
He lets me order my meal first, he makes sure that I'm comfortable when I sit, he assures that I'm safe when crossing the street, he listens to me with patience, and he has no doubt for asking a guy who stares at me. LOL!

It's too cheesy to end this post with 'I love him' statement, isn't it?

And I don't want to be cheesy.
You know I do, Assalim.
:p
 

Jumat, 21 Februari 2014

Laki-laki tak punya banyak waktu

Laki-laki yang sungguh mencintaimu, tak akan punya banyak waktu untuk meladeni drama yang kamu tampilkan. Dia sibuk menyusun semuanya, rencananya sekian tahun ke depan, aset yang harus dimilikinya, modal yang diperlukannya untuk memulai kehidupan sungguhan.

Jangan lupa, dia harus memperbaiki banyak hal kalau kamu benar-benar akan hidup bersamanya. Ego laki-laki sejati tak akan membiarkanmu hidup sengsara, tak akan. Karenanya, maafkan kalau dia sulit mengerti arti marahmu saat menstruasi datang. Dia sedang memperhitungkan inflasi dan imbasnya ke asuransi pendidikan penerusnya sepuluh tahun mendatang.

Perempuan lain?
Jangankan perempuan lain, dia sudah merasa payah membagi waktu antara usahanya meningkatkan taraf hidup dan usahanya untuk ada di dekatmu. Tak usah membuang waktu membatasi ruang hidupnya, kalau dia memberikan ruang untuk perempuan lain--dia tak pantas untukmu. As simple as that.

Berhentilah memberikan kalimat bersayap, katakan dengan jelas dan tegas apa yang kamu inginkan. Ingat, dia tak punya waktu untuk itu semua.

Dia akan berusaha memberikanmu hidup yang mudah, tapi kamu harus selalu siap bersusah-susah sebelum dia berhasil mencapainya. Yakini saja, dia berusaha dan memohon yang terbaik pada Tuhannya setiap hari.

Laki-laki yang sungguh mencintaimu, tak akan punya banyak waktu untukmu saat ini. Demi terbangun di sisimu tiap pagi, demi membelai rambutmu setiap malam sebelum tidur nantinya. Demi melihatmu tersenyum karena anak-anakmu kelak bebas bersekolah di belahan dunia manapun yang mereka inginkan.

Kalau kamu sungguh mencintainya, kamu akan mengerti.
Jika kamu merasa belum mampu, setidaknya berusahalah...

So, what do you think?


Stay or Leave

Ada kutipan yang sangat membekas dari salah seorang murid di SMA tempat saya mengabdikan diri sebagai konselor sebaya, 

"Aku nggak suka ya kak cowok yang janji bakal nikahin lima tahun lagi, sepuluh tahun lagi. Menurut aku, kalau dia mau stay and make everything works, just do it. Kalau dia takut dan mau pergi, I will gladly walk him to the door. Jadi pilihannya cuma stay or leave, jangan ngetem (stuck)!!"

Saya pikir, iya juga.
Kalau hubungan diibaratkan sebagai sebuah ruangan, maka orang yang bermaksud baik dan ingin menjalin hubungan pasti akan masuk ke dalam ruangan itu. Sedangkan kalau dia tidak berminat, setelah mampir melihat-lihat dia akan memutuskan untuk pergi.

Yang paling menyebalkan adalah orang yang tidak memberikan kejelasan mau masuk atau pergi. Dia tidak melangkahkan kaki ke dalam ruangan namun berhenti di pintu masuk dan menghalagi siapapun yang berniat datang.Orang seperti itu baiknya diminta untuk pergi secara halus atau dipanggilkan petugas keamanan kalau perlu.

Kamis, 20 Februari 2014

I love you this morning

"Ayolah sayang, jangan kelewat naif. Kita tak pernah tau kapan kita berhenti saling mencintai," kamu membuka lemari pakaian, memilih kemeja yang akan kamu kenakan pagi ini.

Aku yang belum beranjak dari tempat tidur terheran-heran dengan ucapanmu. Mulai kususun memori, adakah yang salah dari makananmu semalam?

Kamu melepaskan kemeja warna abu dari gantungan baju, "Mungkin besok kita sudah tidak lagi saling mencintai. Mungkin juga malam ini. Oh ya, dasi apa yang cocok untuk bajuku? Hitam atau biru tua?"

Kaki-kakiku menyentuh lantai, menuju ke laci tempatku menyimpan kumpulan dasimu. Kamu lupa ada dasi berwarna abu tua yang senada dengan kemeja itu. "Aku tidak akan berhenti mencintaimu," ucapku sembari mengikatkan simpul dasi ke lehermu.

"Kamu belum tau, sayang," kamu mengecup pipiku lembut, ucapan terima kasih setelah aku selesai menyimpulkan dasi. "Dan aku tidak mau mengambil resiko itu."

Aku tak mau berhenti, aku ingin meyakinkanmu bahwa cintaku akan bertahan selamanya. Aku ingin kamu tau bahwa aku akan setia mengikat simpul dasimu setiap pagi. Aku ingin kamu tau bahwa semua mimpiku sudah kuintegrasikan dengan rencana hidupmu. Aku mau kamu tau bahwa semua yang kita jalani jauh dari main-main, untukku.

"Sayang?" panggilan darimu merusak lamunanku.

Senyumku mengembang palsu, aku tak ingin berdebat di pagi hari. "Aku mencintaimu pagi ini, sayang."

... dan pagi-pagi setelahnya,

Pagi saat kamu terlalu malas untuk bangun dan bekerja hingga aku perlu menyembunyikan selimut agar kamu terpaksa menyudahi tidurmu.
Pagi saat kamu mengerlung di sampingku karena flu dan menjadikannya alasan untuk bermanja sepanjang hari.
Pagi saat kamu mengecup dahiku diam-diam dan aku berpura-pura tetap terlelap.

Aku berjanji akan tetap mencintaimu pagi-pagi setelahnya.

Rabu, 19 Februari 2014

Melodiku Sendiri

Aku menarik napas, ini pasti tidak semudah kelihatannya. Saat cemas begini tanganku otomatis akan memindahkan energi kecemasan ke benda apapun yang bisa digenggam, kali ini giliran pakaian yang kukenakan.

"Kamu bisa genggam tanganku kalau kamu mau," Zeva berkata pelan, tak ingin menarik perhatian orang lain di sekitar kami. "Kamu pasti bisa. Percayalah, setidaknya pada dirimu sendiri."

Namaku dipanggil, padahal baru saja aku ingin menyalurkan kecemasan ke telapak tangan Zeva. Kamu pasti bisa, Rania, ucapku ke diri sendiri yang lebih terdengar seperti harapan.

...

"Buku lagi? Tentang perempuan?" suara asing merusak fokusku yang tengah asyik membaca. Ah, Zeva lagi. "Kadang aku pikir kamu egois Ran, kamu menyimpan pengetahuanmu sendirian."

"Lantas maksudmu aku harus mengumbarnya di tengah jam istirahat?" balasku tak terima. Zeva tak bisa seenaknya datang dan merusak waktuku membaca, meskipun dia seniorku.

Zeva menggeleng, "Kamu tau kemana arah pembicaraan ini, kan?"

Jelas aku tau, Zeva memintaku untuk mendaftar jadi Finalis Putri Kampus. Menurut Zeva, dengan mendaftar kesana aku akan mudah mendapatkan donatur untuk kegiatan yang selama ini jadi mimpi besarku, pemberdayaan perempuan. Zeva lupa kalau mendaftar kesana berarti memberikan banyak orang kesempatan untuk menertawakanku. Siapa pula Rania, sampai berani bersanding dengan mahluk-mahluk berparas cantik yang selalu bisa membawa diri dengan sempurna di depan banyak penonton.

"Formulirnya ada di tasku, kamu bisa isi sekarang," ujar Zeva sambil bersiap membuka retsleting ranselnya. "Pas fotonya bisa diberikan menyusul, nanti aku yang bicara sama panitianya,"

Aku gusar, "Kenapa bukan kamu aja yang daftar?"

"Rania, itu kompetisi Putri Kampus. Kamu mau aku jadi transgender?" balas Zeva yang membuatku membatalkan rencana untuk marah. "Ayolah Ran,"

"Mahasiswi yang mendaftar setidaknya bisa bermain musik, modelling, atau bernyanyi. Aku bukan mereka, Zev,"

Mendengar alasanku Zeva menggeleng, "Cuma akan ada satu pemenang, Ran. Karena kamu berbeda maka kesempatan menangmu akan lebih besar kan? Rencana proyekmu itu akan terdengar jauh lebih merdu bagi ibu-ibu desa pinggiran yang menunggu realisasi program pengembangan diri mereka ketimbang lagu apapun yang dinyanyikan mereka, Ran."

"Kamu paling pintar membesarkan hati,"

Zeva mengangkat sebelah alisnya, menantangku. "Lebih baik daripada pintar mengecilkan diri sendiri kan? Ran, kita berdosa untuk berdiam padahal ada perbuatan baik yang bisa kita lakukan,"

Aku mendengus sebal, Zeva memang pandai bicara. Aku makin sebal saat aku terbawa perkataannya.

...

Hadirin menatapku yang berjalan kikuk. Setelah satu tarikan napas panjang, aku mulai bicara, "Selamat pagi hadirin, nama saya Rania Putri Athaya. Pada pagi ini saya akan menyampaikan sebuah program.....

Semester 6

Tiap awal semester, kami (para mahasiswa) memiliki kewajiban untuk menemui dosen wali untuk berkonsultasi dan meminta persetujuan beliau berkenaan dengan mata kuliah yang kami ambil pada semester tersebut.

Dosen wali saya sangat keibuan, beliau hampir selalu mengusulkan untuk perwalian sambil makan-makan (bagi kami ini murni makan-makan gratis, bagi beliau mungkin namanya masak-masak, hehehe). Saya berani bertaruh kalau jarang sekali dosen yang seperti ini, selain mau direpotkan dengan konsultasi kami, juga ditambah dengan repot memasak banyak makanan untuk kami yang jumlahnya tiga belas orang.
Kebayang kan, susahnya mengurus kami?
Tentang gaya beliau mengasuh kami, saya tidak merasa perlu banyak melakukan adaptasi karena tidak jauh beda dengan cara orang tua mengasuh saya. Orang tua saya cukup high demanding dalam hal academic achievement, jadi saya sudah paham bahwa berapapun angka Indeks Prestasi Kumulatif saya (kecuali kalau saya mendapat IPK 4), orang tua dan dosen wali saya pasti tetap akan mengatakan angka tersebut kurang.


Terbukti di perwalian awal semester ini, IPK yang menurut saya sudah cukup bagus masih saja mengundang 'cambukan' untuk lebih keras lagi belajar, lebih berani mengambil SKS lebih banyak, hahaha. *ketawa* *tapi miris*

Oh ya, selain makan-makan, perwalian awal semester ini juga diisi dengan berfoto bersama di studio foto.
<3

Kuliah aja

Kemarin siang, seorang sahabat saya yang berasal dari Madagaskar datang untuk mampir. Katanya dia datang untuk memastikan saya ada di kosan karena dia mau mengembalikan selimut saya yang dia pinjam sehari sebelumnya. Tapi memang dasar saya tukang ngobrol jadilah dia lama mampir untuk ngobrol sambil menemani saya makan siang, hehehe.

Dalam obrolan kami, sahabat saya selain bercerita tentang kecintaannya terhadap Indonesia juga menceritakan rencana-rencananya. Oh ya, sahabat saya ini namanya Tsiry, orangnya sangat baik dan menyenangkan.

Saat saya menanyakan tentang alasannya mengambil hubungan internasional sebagai jurusan, jawabnya singkat: "Hubungan internasional adalah (hal yang) penting. Saya mau buat (membangun) hubungan Madagaskar dan Indonesia, supaya bisa buat kedutaan besar (Madagaskar) disini juga. Saya dan mahasiswa dari Madagaskar lainnya berencana membangun (kantor) kedutaan di Indonesia."

Dalam hati, saya menertawakan diri sendiri. Saya sama sekali tidak punya misi nasional (apalagi internasional) sebagai alasan saya memilih jurusan kuliah. Misinya masih sangat individual, sampai hari ini.

Selanjutnya saya bertanya tentang perasaannya kuliah disini.
FYI, teman-teman mahasiswa internasional tidak mudah untuk survive disini. Pada awal kedatangan mereka di Indonesia, mereka cukup sering ditipu oleh pedagang yang menjual dengan harga sinting (sebagai gambaran, Tsiry saat di Jakarta membeli simcard dengan harga 45rb). Duh! Saya kesal sekaligus malu mendengarnya.

Saya bertanya tentang cuaca yang panas (kota tempat Tsiry tinggal merupakan kota dengan iklim paling dingin di negaranya) dan kotornya lingkungan.
Sebenarnya saya sudah menyiapkan diri untuk mendengar keluhan karena memang itu yang biasanya diungkapkan oleh teman-teman saya dari luar negeri tiap kali berbicara soal cuaca panas dan sampah.

Tsiry menjawab dengan senyumnya yang jarang sekali hilang, "Ya, memang disini panas. Kalau kotor, dimanapun (bukan hanya di Indonesia) pasti ada kotoran. Jadi it's no problem. Saya kesini untuk kuliah, jadi kuliah saja. Yang lainnya no problem."

Jawaban Tsiry seperti mencubit saya, mengingatkan kalau saya sering mengeluh betapa Jatinangor sempit dan kurang tempat hiburan. Padahal saya datang kesini untuk berkuliah, bukannya mencari hiburan.

Lain kali saya ingin mengeluh tentang Jatinangor, saya harus bicara keras-keras, 'Saya datang kesini untuk berkuliah, jadi ya kuliah aja.'

Rayakan

Rayakanlah, rayakan tiap detik yang bisa kau habiskan bersamanya.
Siapapun itu, ibu dan ayahmu, adik dan kakakmu, sahabat-sahabat yang menyediakan bahunya untuk tangismu kapanpun kamu membutuhkan, pun kekasihmu.

Rayakanlah, berikan tawa lepas dan senyum tulus yang bisa menghidupkan suasana.
Tak peduli saat itu terik atau mendung, tak peduli perut kalian kenyang atau berbunyi karena laparnya.
Sesungguhnya kamu tak pernah tau kapan kamu kehabiskan waktu.

Rayakanlah.

Sabtu, 15 Februari 2014

mini-super-cute-fan

Apeach
I'm a very easy to be impressed type, lols.
Couple days ago, when I bought some snacks from Seven-Eleven and the cashier told me that I got some stickers. Those stickers can be exchanged into some prizes.

Instead of having a big doll, I chose some mini-super-cute-fan(s)!
THEY ARE ADORABLE!
See? I'm too easy to be impressed, huh?

:'D 
Muzzi~

Jumat, 14 Februari 2014

Tetap terlihat menarik

Beberapa hari ini siaran berita ramai membicarakan tentang suami seorang pejabat yang diduga memberikan mobil ke beberapa artis wanita (memberikan bukan kata yang tepat sepertinya. Mengingat jumlah artis yang menerimanya, saya rasa kata 'membagikan' jauh lebih cocok).

Saya, sebagai orang yang terbiasa hidup di kota besar yang menganut paham bahwa 'tidak ada barang mahal yang diberikan tanpa balasan.' langsung berburuk sangka bahwa mobil-mobil yang dibagikan pasti ditukar dengan layanan seks. 

Selesai shalat shubuh, saya menghampiri papa saya yang sedang memilih kemeja untuk dipakai ke kantor. Sambil mengucek mata yang masih segaris, saya berujar, "Mungkin memang laki-laki itu nggak bisa ya dibiarkan pegang uang banyak-banyak. Langsung cari banyak perempuan, nggak merasa cukup hanya dengan satu istri."

Papa saya, (sesuai dugaan saya) jelas membela kaumnya. "Nggak lah, itu kan tergantung laki-lakinya. Nggak semua laki-laki begitu," jawab beliau lalu meninggalkan saya untuk mandi. Ah, argumen seperti itu sih nggak akan mengubah pendapat saya.

Giliran mama saya yang baru selesai mandi datang, mencari warna kerudung yang sesuai dengan warna navy seragamnya. Setelah saya pancing dengan kalimat awal yang sama, beliau menjawab, "Belum tentu semua salah laki-lakinya, jangan menghakimi begitu."

Wah, jelas saya bersemangat untuk bicara. Pasalnya, pejabat yang dimaksud (istri si dermawan mobil) sangatlah cantik. Menurut hemat saya, kalau hidup sudah ditemani istri yang cantik-langsing-pintar dan kekayaan yang berlimpah, apalagi yang kurang selain rasa syukur?

"Mama nggak tau sih ya untuk kasus (pejabat) itu, yang mama tau menikah bukan berarti berhenti berusaha untuk terlihat menarik, terlebih di depan suami. Perempuan baiknya nggak merasa cukup dengan penampilan 'seadanya', meskipun harus mengendalikan diri supaya nggak berlebihan."

Saya menarik nafas dalam, meresapi makna kalimat yang diucapkan mama. Jadi selama ini, selain mengatur keuangan, memastikan tumbuh-kembang anak-anaknya berjalan baik, mengerjakan tugas di kantor, mama juga punya tanggung jawab lain--tetap terlihat menarik di depan suami.

Sampai seperginya orang rumah, saya masih saja memikirkan kalimat mama.
Saya bahkan kehilangan kebiasaan saya untuk tidur lagi, hehehe.

Tetap terlihat menarik?
Perempuan yang bisa mempertahankan bentuk tubuh usai melahirkan,
perempuan yang kerut-kerut di wajahnya muncul dalam jumlah minim meskipun sudah berumur jumlahnya pun sedikit.

Jadi kalau laki-laki mengatasnamakan 'ketidakmenarikan' sebagai alasan untuk mengkhianati janji pernikahan, harusnya ada berapa banyak pernikahan yang rusak?

Pagi ini saya kembali takut dengan pernikahan.

Valentine Day

"I don't care if it's valentine day,
I love you every single day."

Kamis, 13 Februari 2014

Menjadi ibu

Sudah beberapa hari ini saya di rumah, menghabiskan sisa liburan yang tinggal beberapa hari. Kebetulan di akhir libur ini saya tidak memiliki kegiatan berarti, maksudnya tidak ada kegiatan spesifik yang menunjang kehidupan akademik atau finansial saya.

Yep, I'm officially jobless.

Beberapa hari lalu sih saya berniat menjadi 'calon ibu rumah tangga yang baik' untuk orang rumah, berhubung semua orang di rumah saya meninggalkan rumah pagi-pagi sekali dan baru pulang lewat waktu makan malam jadi saya harus punya banyak waktu kosong yang bisa diisi oleh banyak kegiatan (pilihan lainnya kesepian seharian karena nggak ada temen ngobrol, hehehe).

Hari-hari pertama lumayan menyenangkan, memang pada dasarnya saya suka sekali memasak untuk orang lain. Melihat satu-satu anggota keluarga pulang dan menikmati rumah yang rapi dan masakan yang hangat terhidang di atas meja membuat saya ikut merasa senang.

Masuk hari ketiga, semangat saya mulai turun. drastis.
Mungkin pengaruh kepribadian juga, sebagai ekstrovert saya merasa jenuuuuuuuh sekali kalau seharian tidak berkomunikasi dengan siapapun. Teman saya mengobrol cuma Jecky (kucing saya) dan asisten rumah tangga yang datang hanya beberapa jam untuk setrika dan membersihkan rumah. Duh!

Kejenuhan saya ini membuat saya berpikir, bagaimana ya kehidupan sehari-harinya ibu rumah tangga? Sejenuh inikah?

Sebentar, jangan dulu menghakimi bahwa saya adalah perempuan tidak taat agama yang doyan keluyuran dan menelantarkan rumah tangga. Sejak kecil, Mama mendidik saya dengan slogan, "Kamu boleh sekolah setinggi apapun, menjadi apapun cita-cita yang kamu mau. Tapi tetap harus mampu mengurus keluarga dan rumahmu." jadi saya bisa berbangga bahwa saya capable dalam mengurus rumah, yah meskipun sense kerapiannya masih harus ditingkatkan, hehehe.

Mengerjakan pekerjaan rumah itu, kalau tidak dalam suasana hati yang baik jadi menyebalkan, lho. Kesannya seperti capek sendirian. Wah, saya lebih nggak bisa membayangkan kalau hidup di keluarga yang tidak apresiatif. Mungkin tambah bete.

Bicara soal keheranan (dan kekaguman) saya dengan ibu rumah tangga yang istiqamah dalam mengerjakan pekerjaan rumah. Saya jadi tambah sayang sama Mama saya. Membayangkan beliau harus menyelesaikan tugas-tugasnya secara profesional di kantor, mengatur waktu dan membagi perhatian antara urusan rumah dan kantor saja sudah membuat saya pusing. Belum lagi ditambah saya dan adik-adik saya yang meskipun sudah sebesar ini masih saja rutin menanyakan ke mama via pesan singkat: "Ma, malam ini makan apa?"

Aneh memang, padahal di hari-hari kerja, Mama sangat jarang memasak dan kemungkinan pertanyaan kami akan dibalas dengan menu-menu seperti: "Kita makan pizza aja ya, janjian langsung di tempatnya." "Sate ayam, sop kambing, sate kambing." "Mcd"

Saya kadang tersenyum geli mengingat kami masih saja menggantungkan keputusan menu makan malam pada mama, padahal kami bisa saja langsung memutuskan sendiri mau makan apa tapi rasanya kurang afdol kalau bukan keputusan mama.

Makin hari rasanya saya makin kagum dengan peran 'ibu' yang bagi saya pribadi merupakan perwakilan Tuhan yang dikirim ke dunia. Diam-diam saya juga bersyukur bahwa nantinya saya insya Allah akan menjadi salah satunya meskipun perasaan syukur ini disertai ketakutan dan keraguan 'apakah saya bisa menjalankan peran tersebut dengan baik ya?'

Rabu, 12 Februari 2014

Saya golput

Baru saja selesai menonton sebuah acara televisi yang mewawancarai seorang walikota perempuan. Meskipun saya mengawali post ini dengan kata kunci 'perempuan', saya harap tidak ada pembaca yang merangkap cenayang yang cepat-cepat mengambil kesimpulan bahwa saya akan menulis post yang pro feminis (atau malah menganggap saya seorang feminis).

Banyak yang berkecamuk dalam pikiran saya saat mendengarkan wawancara yang terpotong-potong (karena adik saya yang memegang panel kendali beberapa kali mengganti chanel televisi dengan program Top Gear yang sedang membandingkan antara Ferrari, Mc Larren, dan Audi. Pffft) tersebut.

Salah satu yang menggugah saya adalah perkataan narasumber saat ditanya apakah beliau memiliki keinginan untuk memimpin Indonesia sebagai presiden.

"Nanti saya nggak bisa masuk surga gimana dong? Masa' saya nggak bisa masuk surga karena ada satu orang yang bilang 'saya nggak sejahtera di bawah kepemimpinan ibu Risma'. Nggak mau ah saya." ujar beliau sambil tertawa kecil, namun sukses mencubit hati saya.

Saya adalah orang yang cueknya luar biasa terhadap sistem pemerintahan. Dalam waktu dekat ini akan diadakan pemilihan calon legislatif dan saya mengutarakan niat saya untuk tidak memilih siapapun (golput) kepada mama saya. Beliau langsung menceramahi saya panjang lebar soal 'satu suara dapat membuat perubahan' dan 'kepedulian anak muda terhadap nasib bangsa'.

Sayangnya kuliah dari mama pun nggak mengubah niat saya untuk menjadi golput saat pemilihan nanti (kemungkinan besar sih saya sedang berkuliah di Jatinangor jadi nggak akan ikut pemilihannya, hehehe).

Perlu dicatat, saya sama sekali tidak merasa bangga karena golput, dan tidak menghimbau siapapun untuk ikutan golput. Do I make myself clear?

Alasannya golputnya? Sama seperti banyak orang mungkin.

1. Saya nggak kenal itu siapa, jadi gimana saya tau potensinya seperti apa?
2. Dia juga nggak kenal saya, jadi gimana saya bisa percaya bahwa dia akan mewakili suara saya?
3. Program kerja yang diusungnya apa? Boro-boro program kerja, tugas dia ngapain aja saya nggak pernah tau.
4. Kalau seandainya, poin satu sampai tiga terpenuhi. Saya tau darimana kalau dia akan memenuhi janjinya? Tidak akan berubah jadi penguasa doyan uang seperti kebanyakan orang yang sudah terpilih?

Tapi tidak terpenuhinya poin-poin di atas bukan sepenuhnya salah pihak lain, tapi jadi salah saya juga. Saya nggak mau cari informasi, nggak berusaha menggali darimana saya bisa lebih mengenal calon pemimpin saya.

Namun akhir-akhir ini, melihat program-program keren pemimpin yang mulai disorot media, saya ikut senang. Yah, setidaknya masih ada harapan.

Meskipun, tetap aja saya akan golput saat memilih calon legislatif nanti.
Menetapkan pilihan? Mungkin nanti.

Selasa, 11 Februari 2014

Kampung Seni Psikologi, Universitas Islam Bandung

Finalis Lomba Cerita Pendek, Kampung Seni Psikologi
Tanggal 31 Januari - 1 Februari 2014 saya menghadiri sebuah event seni yang diadakan oleh Fakultas Psikologi, Universitas Islam Bandung. Sebagai satu dari lima finalis lomba menulis cerita pendek, saya datang mewakili Universitas Padjadjaran dan bertemu dengan rekan mahasiswa psikologi dari berbagai universitas di Indonesia.

Lomba yang diadakan bukan hanya lomba menulis cerita pendek tapi juga lomba fotografi dan lomba membuat film. I have to say that other participants have done their best. Too sad I don't have copies of their work.
:(
Aul-Dian-Inas-Tami-Bibah
Hal yang paling menyenangkan adalah unsur seni yang kental dalam acara ini. Rangkaian acara diisi dengan monolog, puisi, dan penampilan grup musik yang jauh dari kesan serius. Dimana biasanya, acara-acara besar yang diadakan oleh Fakultas Psikologi tidak jauh dari seminar, pelatihan, atau kuliah umum. Blah!

I'm not saying that those events are boring, but they are indeed (well, not all are).
We need something fresh and different.

Oh ya, khusus bagi kami para finalis lomba, panitia menyediakan slot acara untuk city tour (keliling Bandung, melihat bangunan-bangunan yang menjadi landmark, dan berbelanja) and it was nice, I'll upload the photos later.
:)
We never got enough, didn't we? LOL
And for you guys, thanks for the friendship!
I already miss you..
XOXO

Senin, 10 Februari 2014

Lekas sembuh,

Ada hal-hal yang dengan terpaksa harus kutunggu sampai waktunya.

Hal-hal yang sampai sekarang tak bisa kulakukan karena terbatasnya ruang dan waktu kita bersama.

Hal-hal yang kalau sampai berani kulakukan pasti akan mengundang cibiran orang-orang sekitar. Aku sangat tau itu.

Tidak, sayang. Aku tidak membicarakan tentang aktivitas seksual meskipun hal tersebut merupakan salah satu kebutuhan dasar menurut maha guruku, Sigmund Freud.

Aku membicarakan keterbatasanku.
Tak ada di sampingmu, tak bisa berjaga semalaman saat kamu tengah sakit.

Aku membicarakan tentang kantukku yang tiba-tiba lenyap karena mengkhawatirkan keadaanmu. Bingung apa harus membiarkanmu beristirahat atau meminta kamu mengirimkan kabar tiap jam demi menenangkan hatiku.

Ah, yang kedua terdengar sangat egois.

Sayang, aku membicarakan jarak yang menghalagi kita, saat aku sangat ingin memastikan bahwa suhu tubuhmu yang sedang demam turun secepatnya.


Lekas sembuh, aku khawatir setengah mati.
Kekasihmu yang cerewet luar biasa

Aku Benci

"Dia selingkuh Za." ujarmu dengan bibir bergetar. Perlu waktu bagiku memahami siapa yang kamu maksud. Tanpa kupersilahkan, kamu memasuki pintu lalu duduk di kursi ruang tamu. Menangis.

Aku mematung, tak tau apa yang harus lebih dulu dilakukan. Apakah memelukmu yang sekarang tersedu-sedu atau pergi ke dapur dulu mengambilkan segelas air putih hangat untuk menenangkanmu. Meskipun yang pertama nampaknya lebih menyenangkan, aku tau pilihan kedua lebih kamu butuhkan.

"Ini air putih, kamu minum dulu." tanganku menyerahkan segelas air yang lekas kamu ambil. "Terusin aja nangisnya sampai kamu tenang, kalau mau cerita aku mau dengerin. Kalau nggak mau juga nggak apa-apa. Kamu udah makan?"

Air putih di gelas langsung tandas. Kamu menoleh ke arahku yang masih bingung menempatkan diri. Kamu memelukku cepat, menangis lagi. Kata-katamu keluar berbarengan dengan isak yang sebenarnya sangat tak ingin kudengar.

Baiklah, singkat cerita kekasihmu berkhianat.

Aku benci mendengar sisanya. Aku benci mendengar kamu berkata betapa kamu sangat mencintainya. Aku benci mendengar betapa hatimu sakit dibuatnya. Aku pun benci mendengar betapa kamu ingin membunuh si perempuan sialan. Perempuan yang menurutmu jadi biang perselingkuhan pacarmu. Perempuan yang menurutmu sudah merayu pacarmu sampai mereka berakhir satu ranjang.

Laras, lelaki memilih dengan siapa dia menghabiskan malam dan terbangun di tempat tidur yang mana, pikirku. Namun tak sampai hati menyatakannya padamu. Takut lebih menyakitimu.

"Aku tidur disini malem ini ya Za?" pintamu, dengan mata sembab dan riasan yang berantakan. "Aku nggak mau sendirian."

Aku menghela napas. Peraturan yang diberikan oleh pemilik rumah ini jelas, tidak boleh ada perempuan yang menginap atau perjanjian sewaku akan dihentikan. Sulit menjelaskan padamu kalau lingkungan yang kutinggali berbeda dengan apartemenmu, dimana semuanya bebas, tak ada tetangga yang peduli.

"Kita pulang ke apartemenmu, aku antar kamu kesana. Kamu bisa tidur di kamarmu, aku tidur di sofa."

Kamu tersenyum senang, seperti biasanya kalau permintaanmu dipenuhi. "Aku malas menyetir, kamu yang bawa mobilku ya?" lenganmu menggamit lenganku, lalu kepalamu bersandar manja. Siapa yang bisa menolak permintaanmu.
 

Apartemenmu tidak rapi, kerapian bukan bagian dari dirimu dan aku tak pernah terganggu dengan hal itu. Aku mengantarmu sampai ke depan kamar, langkahku terhenti saat pintu kamarmu terbuka.

"Makasih ya Za." katamu dengan senyum yang kubalas anggukan. Saat kamu berbalik pergi, mataku menangkap sesuatu yang janggal.

Ada kemeja pria yang terserak di atas tempat tidurmu. Sebagai laki-laki, ada harga diri yang luka saat melihatnya. Tapi aku cepat menampar diri dengan kenyataan, kenyataan bahwa aku bukan lagi lelakimu.

Laras, apa yang sudah dilakukan laki-laki itu di kamarmu?
Ruang yang tak pernah kumasuki karena aku menghargaimu bukan hanya sebagai pacarku, tapi juga calon ibu dari anak-anakku.

Aku melirik jam dinding, pukul sembilan malam. Kalau kebiasaanmu belum berubah, maka beberapa jam lagi kamu akan terbangun, membuka kulkas dan meneguk segelas air dingin. Kamu juga akan mencari sesuatu untuk dimakan, maka baiknya aku turun ke supermarket di lantai bawah--membeli roti atau sereal coklat yang jadi kesukaanmu.

Sepanjang jalan menuju ke kamarmu bersama dengan sekantung belanjaan, aku sama sekali tak merasa sendirian. Sudah terbayang olehku wajah bangun tidurmu yang manis dengan rambut tergerai acak, berjalan mencari cemilan tengah malam.

Pintu kamarmu terbuka sebagian, terdengar suara yang asing dari dalam. Bukan hanya suaramu. Aku mempercepat langkah kaki, khawatir akan keselamatanmu.

"Ras?" panggilku yang langsung mencari sosokmu dalam ruangan.

Kamu menoleh. Bukan, bukan cuma kamu yang menoleh. Ada orang lain. "Siapa dia Ras?"

Semua berhenti bicara. Ruangan menjadi sunyi beberapa detik lamanya. Ada secuil harapan yang kugantungkan dalam jawabanmu.

"Bukan siapa-siapa." jawabmu, tanpa memandang ke arahku.

Dua kali,  harga diriku terluka hari ini. Kamu masih sama, dengan mudah membuangku seperti yang lalu-lalu. Aku pun masih sama bodohnya, menerimamu lagi saat datang dengan hati berdarah-darah.

"Mending lu pergi deh, gua masih ada urusan sama cewek gua."

Oh, jadi orang ini yang jadi alasanmu menangis sore tadi. Potongan-potongan informasi yang berantakan mulai tersusun pelan-pelan dalam tempurung kepalaku. "Ras, kamu nggak apa kalau aku pergi?"

Kamu mengangguk. Seperti membuang harapan yang lagi-lagi tanpa sadar kugantungkan. Laras, butuh berapa kali patah hati sampai kamu sadar bahwa kita ditakdirkan untuk kembali bersama?

...

Beberapa bulan setelah kejadian itu, tak lagi kupikirkan apapun tentangmu. Sudah saatnya aku menyadari bahwa 'kita' tak akan pernah ada lagi. Sudah saatnya aku mulai membuka hati dan mencari perempuan lain yang sebelumnya kuhindari.

Malam ini adalah salah satunya, sudah kurencanakan makan malam romantis bersama dengan teman perempuan sekelasku. Dia memang tak lebih cantik darimu namun setidaknya dia tidak pernah meninggalkanku berulang kali.

Ponselku bergetar, nomor tak dikenal.

"Za, aku butuh kamu ke apartemenku sekarang."

Mataku melirik setangkai mawar putih yang baru sore tadi kubeli di pasar bunga. "Nggak bisa Ras, aku ada acara malam ini."

Isakmu mulai terdengar. Sembari terbata-bata mengatur nafas--kamu meneruskan, "Za, dia selingkuhin aku Za. Dengan perempuan yang sama."

"Ras, aku ada acara malam ini," ucapku dengan nada yang lebih tegas dari sebelumnya.

...

"Makasih udah dateng, Za.." dengan air mata berurai kamu memelukku. Menceritakan tentang hal-hal yang tak ingin kutau. Yang kutau, di antara kebencianku terhadap hal-hal yang kamu ungkapkan--bertambah satu kebencian lagi.

Aku benci tak pernah bisa menolak keinginanmu. Apapun itu.

Dating girls with long hair


AHAHAHAHAHAHAHAHA...

Btw I found this picture on @autocorrects 's timeline

Minggu, 09 Februari 2014

Rabu, 05 Februari 2014

Beda dong! Jangan setuju-setuju aja

Being different?

Bagi orang-orang yang tinggal di negara dengan budaya kolektivitas yang tinggi seperti misalnya negara saya, menjadi berbeda adalah sesuatu yang dihindari. Meskipun, pola pikir ini bisa berubah seiring dengan waktu dan berubahnya lingkup pergaulan.

...

Malam ini, adik saya yang paling kecil menangis karena seragam batik yang harusnya digunakan esok hari sobek.

Menurut pengakuan adik saya, temannya lah yang tidak sengaja menarik seragamnya. Mama saya jelas tidak terima, menurut beliau kami semua harus bertanggung jawab terhadap barang kepunyaan kami jadi seharusnya (masih menurut Mama saya) adik saya sudah melakukan tindakan yang bisa menunjukkan tanggung jawabnya terhadap seragam tersebut (misalnya, membeli seragam baru atau pergi ke tukang jahit).

Adik saya menangis bukan karena seragamnya sobek, ternyata. Penyebab menangisnya ternyata usul Mama yang meminta adik saya memakai dulu seragam putih birunya sampai seragam batik yang sobek selesai diperbaiki.

Pasalnya, Mama tidak sampai hati melihat anaknya ke sekolah memakai baju sobek (seperti gelandangan, kata beliau). Sedangkan adik saya (yang orangnya cuek) merasa tidak keberatan harus memakai seragam sobek daripada harus memakai seragam yang berbeda dengan teman-temannya.

Saya menengahi dengan bertanya, "Memangnya kenapa kalau memakai baju yang beda? Apa gurumu akan marah? Kalau memang iya, bawa aja baju batikmu. Jelaskan ke beliau kalau hari ini kamu mau bawa bajunya ke tukang jahit untuk diperbaiki."

Adik saya, masih dengan menangis sesenggukan menjawab, "Aku nggak mau pakai baju yang beda. Nggak enak. Aku nggak suka kalau diliat atau ditanya kenapa bajunya beda."

"Tadi Mama memberi usul, tujuannya supaya kamu nggak malu pakai baju yang sobek. Tapi kalau menurutmu kamu lebih nyaman pakai baju batik yang sobek itu ya nggak masalah. Pilihannya ada di kamu." ujar saya lagi, sembari tersenyum dengan harapan dia berhenti menangis.

Mendengar ucapan saya, adik saya akhirnya berhenti menangis. "Aku tetap akan pakai baju batik. Mungkin akan pakai jaket. Pulang sekolah nanti aku akan ke tukang jahit untuk perbaiki bajunya."

Saya mengangguk (dan tau sebenarnya Mama nggak sepenuhnya mendukung keputusan adik yang satu ini, hehehe).

...

Sejak kecil, kita sudah dididik dalam lingkungan yang serba sama.

Sekolah sebagai lingkungan yang (harusnya) menyediakan simulasi kehidupan bermasyarakat menyamakan seragam murid yang salah satu alasan awamnya adalah:

"Supaya semua di sekolah ini sama, yang kaya maupun yang miskin seragamnya sama. Nggak dibeda-bedain."

Padahal, nantinya dalam hidup 'sungguhan' semuanya memang berbeda.

Waktu saya masih duduk di SMP (Sekolah Menengah Pertama) ada kebijakan sekolah tetangga yang sangat lucu menurut saya.

Pada jaman itu, sedang trend jam tangan warna-warni yang modelnya berbentuk kotak besar (kalau saya nggak salah merk nya Levi's). Jam tangan model seperti itu yang asli (bukan tiruan) harganya cukup mahal dan nggak semua orang mampu membeli, lalu di sekolah tersebut terjadilah kasus pencurian jam tangan. Saya kurang tau apakah kasus pencurian tersebut akhirnya terbongkar atau tidak, tapi yang saya tau akhirnya sekolah membuat larangan memakai jam tangan ke sekolah (lagi-lagi saya kurang tau apakah jam tangan yang dilarang adalah semua model atau hanya model tertentu). Saat saya menanyakan alasan mengapa dibuat peraturan tersebut, teman saya (setelah menanyakan ke gurunya) menjawab bahwa peraturan tersebut dibuat supaya tidak ada siswa yang iri dan mencuri jam tangan.

Lucu ya?

Setelah saya berkuliah, syukurlah saya berkuliah di jurusan Psikologi.

Di kampus kami (sejalan dengan disiplin ilmu yang dipejari) sangat menjunjung tinggi individual differences atau perbedaan individual dan (dalam bidang akademis maupun organisasi) menuntut keberanian mengutarakan pendapat (kalau sifatnya akademis tentu tetap harus memiliki dasar empiris, hehehe).

Saya tidak tau pasti seperti apa di kampus lain, tapi yang jelas dalam suasana akademis keberanian untuk menjadi berbeda tentunya menjadi sangat berguna dan dapat mengembangkan ilmu pengetahuan.

Bayangkan, apa serunya datang ke kelas dan membahas sesuatu yang sudah jelas disetujui oleh semua orang tanpa adanya sanggahan atau pendapat yang berbeda.

...

Jangan langsung setuju ya, yang langsung setuju dan iya-iya aja bikin pembahasan jadi garing dan nggak asik.

;)

Wejangan Ayah

Ada FTV lama yang dibintangi Donny Damara, ceritanya tentang seorang ayah transgender yang memiliki seorang anak perempuan. Saat ayah-anak itu bercengkrama, si ayah memberikan sebuah wejangan:

"Saat kita berpegangan tangan, maka saling berpandangan yang sebelumnya menimbulkan sensasi serr (mungkin maksudnya sensasi bahagia) menjadi tidak ada artinya.

Saat kita berciuman, maka saling berpengangan tangan yang sebelumnya menimbulkan sensasi serr menjadi tidak ada artinya.

Saat kita melangkah lebih jauh lagi daripada ciuman, maka berciuman pun menjadi tidak ada artinya.

Kalau kamu menuruti hawa nafsumu, maka hal-hal yang sebelumnya memiliki nilai menjadi tidak ada artinya."

:')

Selasa, 04 Februari 2014

Berita untuk Perempuanmu

'Aditya Pristian'

Aku mengetikkan namamu di mesin pencari.
Sembari menunggu, hatiku tak karuan menerka-nerka apa yang akan keluar sebagai hasil pencarian. Sudah setahun ini kuhindari berita tentangmu, memberikan hatiku waktu untuk pulih.

Tik. Tok. Tik. Tok.
Suara jarum penanda detik pada jam dinding mulai membuatku jengah.
Sementara itu, layar di depanku nampaknya sedang memilah-milah informasi tentangmu.

Muncullah satu-satu, kejadian hidupmu yang luput dari pengamatanku selama satu tahun. Berita yang ada di surat kabar online, testimoni klien, sampai gambar-gambar yang sebenarnya belum ingin kulihat sekarang.

Senyummu masih sama, bangga memperlihatkan deretan putih gigi yang tak menguning karena kamu benci rokok. Merokok sama dengan membakar uang, katamu. Dan hanya orang bodoh yang menghabiskan waktu bekerja lalu membakar uangnya sendiri. Saat itu aku tersenyum bangga, tidak semua laki-laki berpikir sama tentang lintingan tembakau. Saat itu aku berdoa agar bisa menyematkan namamu di belakang nama anak-anak kita kelak.

Tapi malam itu tidak.

...

Kamu berbicara tanpa jeda, ada kontrak yang salah. Ada investor yang membatalkan kerjasamanya dengan perusahaanmu. Malam itu kamu datang ke flat-ku, meracau tentang hal-hal seputar pekerjaanmu yang tak pernah kumengerti.

Bukan racauanmu yang mengkhawatirkanku, tapi aroma lain yang tercium di udara tiap kali kamu berbicara. Alkohol. Kali ini lebih menyengat dari biasanya.

Kamu bukan orang yang enggan untuk minum seteguk dua teguk bersama teman-temanmu. Aku tak memiliki masalah dengan hal itu, walaupun menyentuh gelasnya pun tak pernah. Banyak perayaan dalam dunia kerja yang tak bisa dihindari, katamu. Aku mengangguk saja, biarlah jadi urusanmu dengan Tuhanmu.

Demi menghindari penghuni lain terganggu sebab kerasnya suaramu, aku memapahmu masuk. Usai mendudukkanmu di sofa, aku mencari handuk dan air hangat. Melihatmu dalam kondisi berantakan seperti ini membuatku iba.

"Kamu cantik," katamu terkekeh saat aku membuka ikatan dasi yang simpulnya sudah tak rapi. Aku diam, tak ingin menanggapi. "Hey, aku lagi ngomong sama kamu,"

Nadamu meninggi. Kujauhkan baskom kaca berisi air hangat yang ada di dekatku. "Kamu mabuk, Dit,"

Kamu terkekeh lagi, melirik ke arahku yang memang memakai baju tidur. Saat pandangan yang kamu arahkan mulai membuatku tak nyaman, aku berbalik pergi--akan kucari baju lain yang lebih pantas.

"Mau kemana, sayang?" tanganmu mencegahku.

Aku bergerak menghindar, walaupun tak berhasil. Kekuatanku tak ada apa-apanya. "Aku tinggal sebentar ya Dit. Ada yang harus diambil,"

Tapi cengkramanmu di lenganku bertambah kuat. "Sini aja dulu yuk," bersamaan dengan itu, kamu menarik tubuhku mendekat. Nafasmu memburu, terasa di bahuku yang terbuka.

...

Aku menutup mata, membuat air mata yang tadinya tertahan leluasa meluncur turun. Ada ngilu yang merayap di tiap sendi-sendi tulangku. Butuh beberapa detik saja sampai akhirnya aku sesenggukan bak anak kecil. Aku gagal mengendalikan diri.

Setelah malam itu, kuputuskan untuk pergi. Ucapan maaf yang kamu berikan esok paginya sudah tak ada artinya. Ini terlalu menyakitkan untukku, selamanya aku tak akan bisa memaafkanmu.

Kita tak perlu lagi saling menghubungi, kataku. Kamu tak menyanggahnya, tak berusaha mengubah pemikiranku.

Tapi pagi ini, setelah setahun memaksa diriku pergi jauh dari kehidupanmu--aku punya pemikiran lain. Mungkin, mungkin aku bisa belajar memaafkanmu. Mungkin kemarahanku sudah sirna mengingat kini keinginan untuk mendengar suaramu luar biasa besarnya.

Maka dengan sisa air mata yang belum kering, aku menekan tombol-tombol nomor di ponselku. Kamu pasti terkejut, kamu pasti tak menyangka akan mendengar suaraku lagi. Degup jantungku berpacu dengan nada sambung yang terdengar sangat lambat.

"Halo, dengan Nyonya Aditya Pristian disini.."

Aku sontak mengakhiri pembicaraan. Bibirku bergetar, air mata yang tadi berhenti kini mulai mengalir, tak ingin kuhentikan. Ngilu yang bersarang di tiap sendiku berubah jadi berkali-kali lipat sakitnya.

Di tengah-tengah tangisku, aku kembali menghubungi nomor yang sama. Senyumku tersungging, tidak adil kalau kamu kembali menghancurkan harapanku. Tidak adil kalau cuma kamu yang bisa merebut milikku yang paling berharga.

Aku berdehem, menyiapkan diri untuk bercerita.

Aditya, apa perempuanmu tau apa yang dilakukan suaminya setahun lalu?
 

Template by Best Web Hosting