Sabtu, 20 Desember 2014

Jarak? Masalah?


"(apakah) Jarak (menjadi) masalah buat kamu?" seseorang menanyakan kepada saya saat sedang mengobrol dengan konteks hubungan jarak jauh.

Saya diam, memutar kembali memori di kepala saya. Sepanjang sejarah hubungan saya, hampir semuanya memiliki pertemuan yang sangat terbatas. Penyebabnya memang bukan jarak, tapi kesibukan saya dan (saat itu) pasangan yang tidak bisa ditinggalkan.

Tidak bisa? Koreksi. Mungkin kami sama-sama tidak ingin meninggalkan kesibukan. Namanya juga mahasiswa tingkat tanggung pasti lebih suka pacaran dengan organisasi ketimbang duduk menonton film dengan perempuan, iya nggak sih? Hehehe. Sedangkan saya yang suka cari kesibukan (dan uang jajan tambahan), lompat dari satu event ke event lain untuk bekerja sampingan.

Sayang nggak sih? Tentu saja sayang. Kalau nggak, kenapa dipacarin? :p Tapi ini soal susunan prioritas, pada saat itu dia bukan prioritas saya. Dan (untungnya) saya juga nggak ada di susunan prioritas dia. Adil? Bisa jadi.

Sekarang kembali ke pertanyaan awal. Apakah jarak bisa menjadi masalah?

Logikanya (belum menggunakan teori karena saya nggak buka textbook kuliah) apapun dalam hubungan bisa menjadi masalah. Jangankan jarak yang bikin orang jarang ketemu, intensitas waktu bertemu terlalu sering juga bisa jadi masalah dalam hubungan. Alasannya macam-macam, mulai dari bosen, nggak sempat kangen, atau malah ruang personal yang makin sempit karena terus-menerus merasa diintervensi pasangan.

Bicara tentang hubungan berpacaran memang nggak lepas dari dinamika kepribadian orang yang mengalaminya. Kalau di Indonesia, pasangan yang berpacaran serius umumnya ada di populasi dewasa awal (17-24 tahun). Berbeda dengan hubungan pernikahan atau hubungan intim non-pernikahan di jenjang usia setelahnya, individu sudah lebih stabil dalam mengelola emosi jadi hubungannya cenderung lebih ayem dan minim konflik.

Trus gimana dong yang pacaran? Ya nggak apa-apa. Mau gimana lagi? :p

Konflik dalam hubungan berpacaran bisa jadi latihan yang bagus bagi perkembangan individu baik dari segi kognisi (pemecahan masalah) maupun emosi (regulasi emosi negatif; empati). Jadi, berlatih dan jadilah juara! :))

Soal jarak? Kalau memang merasa nggak bisa memiliki hubungan yang minim pertemuan ya baiknya nggak memaksakan. Serius deh, apa sih enaknya sok kuat dihantam jarak kalau membuat diri sendiri jadi mellow terus menerus? Capek ah. Saya pribadi nggak pernah mempermasalahkan jarak, mau Bandung-Jatinangor, Jakarta-Jatinangor, Jepang-Jatinangor, atau New York-Jatinangor (kok, pamer mantan?) rasanya sama sulitnya.

Kalau mau optimis, teknologi sudah banyak membantu kok. Messaging app yang nggak menguras kantong atau skype yang bisa mengobati rindu melihat wajah pasangan bisa jadi faktor pendukung mengiyakan sebuah hubungan jarak jauh. Persoalannya, apakah pasangan punya keinginan dan usaha yang sama untuk menjaga komunikasi? Segala macam solusi teknologi cuma jadi sampah kalau yang bersangkutan nggak menyediakan waktu, betul apa betul?

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting