Sabtu, 06 Desember 2014

I will stay


Kamu membuka mata, perlahan. Mungkin sudah bosan tertidur lama, aku tak menyingkap tirai kamar karena tak ingin sinar matahari mengganggumu. Kita sama-sama membenci matahari, terlebih saat terangnya tak berperasaan merobek malam. Malam kita.

Dahimu mengernyit kala menemukan wajahku tepat di depanmu, "Kenapa, Sayang?"

Mungkin ekspresiku aneh, mungkin senyumku terlalu lebar sampai kamu kira aku menyeringai, atau apalah. Tapi kamu harus tau bahwa aku bahagia, lebih dari yang kamu bisa bayangkan. "Bukan apa apa," jawabku tak menjauhkan diri dari wajahmu yang bertambah heran.

Sebuah kecupan mendarat. "Kamu tau itu bukan jawaban, kan?" lanjutmu mengunci aku di dekapan. Mendaratkan kecupan acak lagi dan lagi sampai aku terkikik geli.

...

Semalam kamu pulang, kelelahan. Setelah bertemu dengan entah siapa untuk urusan apa, kamu merebahkan diri di atas kasur, sedikit bicara. Sedikit bicara karena tubuhmu butuh istirahat secepatnya, bukan sedikit bicara seperti saat kita bertengkar.

Kita diam saat bertengkar, tak ada caci maki yang keluar. Kita seperti membiarkan sepi dengan pedangnya mengoyak hati kita masing-masing namun tak pernah membiarkannya menang karena kita akan tetap tidur saling memeluk. Meskipun kamu menyebalkan, meskipun aku kekanakan, meskipun kamu sangat marah, atau aku sesenggukan. Peluk akan selalu menang, sepi boleh mati saat kita menginginkannya pergi.

Saat obrolan kita terhenti, aku tau lelap sudah memelukmu dalam buaiannya. Dengkurmu terdengar teratur, semoga kamu sudah benar-benar terlelap. Saat begini, biasanya aku akan mulai menulis. Bukan, bukan tentangmu. Setidaknya, bukan hanya tentang itu. Seperti penulis kebanyakan, isi kepalaku akan datang bergerombol saat gelap. Aku sendiri tak tau pasti alasannya, mungkin mereka satu familia dengan kelelawar. Hanya butuh sejenak saat diberikan lorong keluar, ide-ide langsung terbang beramaian melalui ujung-ujung jariku, menjelma menjadi baris-baris kalimat yang memenuhi halaman kosong file di layar notebook.

"Sayaaaaaang.." suaramu terdengar. Aku yang sedang mengetik menghentikan kegiatan sejenak, takut suara peraduan jari dan tuts keyboard mengusik tidurmu. "Kemarilah, dekap aku erat-erat."

Dengar Sayang, yakini satu hal, kamu akan selalu didahulukan, tak peduli tokoh utama dalam ceritaku sudah hampir bertemu kekasihnya setelah berpisah bertahun lamanya. Apapun bisa menunggu, pintamu akan selalu menduduki nomor satu urutan prioritasku. 

Aku beringsut mendekat, mendekapmu erat. Merasakan bagaimana napasmu beralur, menikmati napasku yang menjadi seirama. Lambat dan tenang. Saat beberapa menit berlalu, aku bergerak pelan, ingin meneruskan kisah si tokoh utama yang hampir menemukan kekasihnya. Kasihan, aku tak ingin dia kesepian sementara aku bahagia di sampingmu semalaman.

"Stay." tukasmu sambil tetap terpejam, mengeratkan pelukan. Lenganmu kaku memagari, mencegah aku pergi. Baiklah, tokoh utama ceritaku harus tabah menerima nasibnya malam ini. Besok akan kutuliskan pertemuan yang menyenangkan untuknya sebagai imbalan.

Sedang aku, memasrahkan diri dalam pelukmu.

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting