Sabtu, 06 Desember 2014

Bahagia selamanya

"Makanlah, aku tidak lapar." ucapmu menyuguhkan semangkuk sup panas. Di luar hujan, petir menyambar seperti tak ada bosannya.

Aku mengangguk, sambil mengigil. Mulai menyendokkan sup hangat yang rasanya kudalami sebagai bentuk kepedulianmu. 

Bukan cuma semangkuk sup. Soal bahagia pun kamu begitu.

"Semoga kamu bahagia, selamanya." aku berujar khidmat, menyampaikan harap ke atas langit. Semoga karma baik menjadi sayapnya, semoga tak lelah mengepak sebelum sampai ke telinga semesta.

Tanganmu merengkuh pinggangku. Kuat. Bukan kuat penuh arogansi, kuat yang menenangkan. Rasanya aman, namun tetap membebaskan. "Tak perlu. Aku suka begini saja, bahagia selamanya boleh untukmu."

"Selamanya terlalu banyak." aku menjawab dengan sekeping dusta. Nyatanya aku mustahil bahagia kalau kamu belum merasakannya. Kamu mungkin lupa, ada bagian dari hatiku yang kutanamkan tepat di jantungmu. Degupnya menguatkanku. "Bagaimana kalau separuh, saja?"

Kamu menjawab tanpa lebih dulu memberi jeda, "Tidak. Bahagia selamanya untukmu."

Aku menutup mata, mengerahkan semua daya yang aku punya untuk bicara. 'Semesta, mari kita uji seberapa peka telingaMu mendengar doa. Kalau harapan soal bahagia selamanya sudah sampai dan akan Kau kabulkan, aku ingin mengajukan penawaran. Ketimbang menggandakannya menjadi dua bahagia atau membaginya untuk dua orang berbeda, bagaimana kalau Engkau satukan saja kami. Tak perlu memberi apa-apa lagi setelahnya, bahagiaku ada di tiap hela napas ciptaanMu yang satu ini.'

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting