Minggu, 09 November 2014

Sebuah tawaran


"Apa kabar?" lelaki di seberang meja menyapa perempuan bersyal merah yang tengah berdua dengan secangkir coklat panas. "Masih ingat aku?" lanjutnya dengan senyum merekah, tak pernah disangkanya semesta berbaik hati dengan sebuah pertemuan dari bagian hidupnya dari masa lalu.

Senyum pendek terulas dari bibir si perempuan. Ditahannya kata-kata agar tak banjir keluar, segenap kekuatan dihimpunnya demi menenangkan diri sendiri. "Baik." jawabnya tak ingin meneruskan basa-basi.

"Bagaimana ceritanya sampai kamu ada disini?" lelaki berpindah duduk, lancang menarik kursi tanpa sedetik pun melepaskan pandang dari wajah kaku perempuan. "Berapa tahun ya, lima?"

"Entahlah." respon perempuan yang tak jelas untuk pertanyaan yang mana. Perempuan tau sudah lima tahun, tujuh bulan, dua puluh satu hari mereka berpisah. Tak ada hari yang dilaluinya tanpa lebih dulu menyesap sakit hati sambil menyeruput kopi paginya. "Bagaimana pernikahanmu?"

Pertanyaan pertama, tajam tanpa manis yang dibuat-buat. Lima tahun lalu ditinggalkannya perempuan di depannya ini untuk alasan itu, pernikahan. Pernikahan yang kemudian enggan dipertahankannya dengan bualan kesetiaan. "Sudah tidak ada. Dua tahun lalu."

Perempuan terdiam. Kalau dia tak ingat untuk menahan diri, pertanyaan 'Lantas kemana saja kamu dua tahun lalu? Tidak mencariku? Tidak bertanya apakah aku mau kembali padamu?' pasti akan keluar dari mulutnya. "Aku turut berduka." ucapnya berusaha terdengar simpati. Meskipun sejujurnya sulit ikut bersedih akan hancurnya sesuatu yang sudah meremukkan hatinya berkeping-keping.

"Tak perlu. Dia tetap bahagia tanpaku." ujar lelaki pahit. Ada senyum asing yang tersungging, entah untuk apa. Mungkin dia sedang meneriakkan banyak kata tolol untuk keputusan yang diambilnya sendiri waktu itu.

Tangan perempuan mengepal di atas pangkuannya. Geram. Mudah sekali lelaki mengambil asumsi. Tak pernahkah terpikir bagaimana sulitnya bahagia tanpa orang yang kita cintai? Mungkin memang pada dasarnya isi kepala lelaki penuh keegoisan yang luar biasa tolol. Dikiranya semua orang cepat pulih dari patah hati. Mata perempuan nanar menatap ke luar jendela, hujan masih turun perlahan.

"Bagaimana denganmu?" tanya lelaki ingin menyudahi nostalgia yang berputar dalam memorinya. Dulu seperti ini saat pertama kali mereka berkencan, di luar hujan, perempuannya datang dengan baju hangat berwarna merah, mereka duduk berdekatan demi menghangatkan diri satu sama lain.

Perhatian perempuan tercuri, ditolehkannya kepala ringan "Hidupku? Biasa saja." jawabnya tanpa intensi meneruskan cerita. Biar suara dalam kepalanya saja yang meneruskan bagaimana dia rindu, bagaimana dia menghitung tiap hari yang dia lewati dengan pertanyaan kapan lelakinya akan kembali, bagaimana dia lelah berharap dan memutuskan untuk bertahan saja dengan apa yang ada. Hati yang remuk, keyakinan yang sudah ditelan masa lalu.

"Kamu pulang sendirian? Mau aku temani?" ego dilesakkan si lelaki ke perut Bumi, musnah. Biar kalau kemudian yang didapatnya adalah cacian dari perempuan, dia tak peduli. Semesta tak mungkin mempertemukannya dengan perempuan ini tanpa alasan. Dahulu dia boleh salah mengambil putusan, kali ini dia akan bertahan. Sudah disiapkannya pipi kalau-kalau harus ada satu dua tamparan yang mendarat. Dia merasa pantas mendapatkan yang lebih dari itu.

Perempuan tertawa kecil, tawa yang sengaja diberikan untuk mengejek ajakan lelaki dengan tatap penyesalan di depannya. "Percuma. Jangan menawari aku kalau waktu yang kamu punya cuma sebentar."

"Kali ini aku punya selamanya, Selma." jawabnya tanpa menunggu.

Kalau selamanya, perempuan itu tak mungkin menolak.

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting