Minggu, 30 November 2014

Resto 30 tahun


"Dulu, waktu ayahku masih muda, beliau mengajak pacarnya makan disini." ujar si laki-laki sambil membukakan pintu mobil.

Perempuan terperangah, takjub. Seperti perempuan kebanyakan sangat suka romantisme gaya lama, dimana kesetiaan belum jadi mitos dan bualan belaka. "Ibumu?"

"Oh, bukan." jawab laki-laki cepat mengoreksi. "Ayahku macan kampus, pacarnya banyak. Katanya resto ini selalu berhasil menaklukkan hati wanita-wanitanya. Kecuali ibuku."

Langkah perempuan berjalan, mengikuti setapak batu yang ditata di pelataran berumput. Kakinya harus hati-hati sebab hujan baru saja turun, licin. Tangan laki-laki tau-tau ada di belakang pinggangnya, berjaga kalau dirinya kehilangan keseimbangan. Beberapa detik, mereka dilingkupi sunyi.

Mereka duduk di resto lawas, berusia sekitar 30 tahun. Dengan taplak meja pola bujur sangkar berwarna merah putih, di tengah resto ada taman kecil yang memberi nuansa hijau. Rasanya seperti pesta kebun dengan sepi sebagai tamu-tamunya. "Kamu suka?" tanya lelaki was-was.

Perempuan mengangguk. "Jadi, aku perempuan ke berapa?"

"Maaf?" laki-laki mendengar apa pertanyaan perempuannya, dia hanya mengulur waktu untuk menjawab.

"Lupakan." lanjut perempuan sembari melemparkan senyum. Suasana baik begini tak sepadan bila dirusak ego khas keperempuanannya. Dihirupnya udara dalam-dalam, wangi hujan.

Perempuan di depannya memejamkan mata, seperti memasukkan udara sebanyak yang dia bisa ke dalam paru-paru. Rautnya tenang dan menyejukkan, laki-laki terkesima. Jarang dia bisa melihat perempuan dalam ekspresi diam begini, seringnya bicara tak bisa berhenti.

Kalau ayahnya benar, seharusnya resto magis ini bisa menaklukkan hati si perempuan. DIa tak perlu belasan perempuan, kalau perlu kekuatan untuk menaklukkan hati belasan perempuan itu disalurkan saja demi menaklukkan perempuan di depannya ini.

Lelaki tak pernah tau. Perempuan di depannya tak memiliki hati.

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting