Sabtu, 15 November 2014

Cinta di luar nalar

Sore ini, di tengah kemacetan gila Kota Bandung. Ditemani hujan deras yang tak henti disingkirkan sepasang wiper kaca depan mobil kami. Aku dan dua orang lain sedang menikmati bunyi tabrakan air dan atap mobil yang terdengar berirama acak.

"Sayang, kalau kita berpisah nanti...." suara tenang milik perempuan yang padanya surgaku ditentukan mulai mencuri atensi. "...maksudku, kalau salah satu dari kita pergi lebih dulu..."

Ah, kematian. Aku mengalihkan pandang, pengendara motor mulai berlomba menggagahi trotoar karena tak sabar mengantri jalan. Seorang ibu yang berjalan memakai payung sampai harus minggir hampir masuk selokan, celananya terkena cipratan genangan air bercampur lumpur karena roda sepeda motor. Beberapa manusia dilahirkan dengan ketidakpedulian yang besarnya luar biasa.

"...aku mau kamu tidak meratapiku." lanjut perempuan sambil menatap ke lelaki di balik kemudi. Ada kekuatan semesta yang dititipkan lewat mata perempuan itu, ada daya yang menyesap habis oksigen tiap kali dirinya berbicara. Aku pernah menjadi lawan bicaranya, dalam banyak situasi napasku menjadi sesak. Kadang oleh haru, seringnya syukur tak terkira.

Lelaki yang umurnya sudah melampaui setengah baya menarik napas. Benar kan, pasti dadanya sesak sekarang. "Semua orang bisa bersedih, Sayang." jawabnya tak berminat melanjutkan pembicaraan. Dibawanya mobil melaju pelan, ada sedikit jarak di depan.

"Iya. Setiap orang boleh bersedih. Aku hanya tak mau diratapi." ujar perempuan mengulang inti permintaannya. Sekarang lebih terdengar seperti paksaan. Aku mengangkat bahu, bentuk cinta seperti ini sudah di luar nalarku.

"Kemana kita setelah ini?" pertanyaan dilemparkan ke udara oleh lelaki yang terlihat terganggu, tak jelas ditujukan pada siapa. Sekarang aku tau darimana insting berlari dari masalah diturunkan pada darahku.

"...Sayang, maka dari itu aku mau waktu kita berdua dimanfaatkan sebaik-baiknya. Jadi nanti saat kita sudah tak bisa bersama, memori-memori baik yang terus kamu kenang dalam kepala." selesai, perempuan sampai pada penutup kalimatnya.

Tak ada jawaban, selama ini sunyi artinya lelaki setuju. Atau tepatnya, memilih untuk setuju demi senyum kecintaannya. Iya, untuk yang terakhir itu sang lelaki memang mengenyampingkan banyak hal demi melihat senyum yang membuatnya gila sejak bertahun silam. Senyum perempuan yang turun ke garis bibir anak-anaknya. Senyum perempuan yang magis, tak pernah mengundang jenuh meski sekalipun.

...

Anak perempuan di kursi belakang melengkungkan senyum. Nalarnya memang tak pernah sampai ke bentuk cinta seperti ini namun dia bahagia.

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting