Jumat, 03 Oktober 2014

(tak hanya) Janji


Masih ada satu jam lagi sampai waktu makan siang berakhir. Seperti biasa aku bisa diam menunggu sambil membaca ulang berkas bekal meeting bersama dengan klien. Aku punya kebiasaan buruk yang menahun, menjadikan makan sebagai prioritas nomor sekian dibandingkan segala kesibukan yang aku punya. Seperti siang ini misalnya.

Siang yang sama seperti siang-siang sebelumnya, kecuali kali ini ada sapaan yang mengganggu konsentrasiku. "Rana, apa kabar?"

Aku mendongak, memandang sosok yang sekarang tersenyum akrab. Membuatku mau tak mau ikut tersenyum juga. "Baik. Kamu?"

Pria berkemeja biru tua yang senyumnya makin lebar itu kemudian duduk di sebelahku. Refleks aku menggeser tempat duduk menjauh, aku belum mengingat siapa dia. 

"Rama. Inget kan?"

Seperti ada daya yang menyesap semua keinginanku untuk meneruskan obrolan ini. Senyum yang tadi aku hamburkan menjadi sia-sia rasanya. Kalau boleh mengulang, aku lebih baik tidak menanggapi sama sekali sapaan Rama dua menit lalu.

"Kamu kerja disini?" tanyanya menghadap ke arahku, antusias. Persis seperti kawan lama yang dipertemukan tak sengaja. "Kok aku jarang liat?" lanjut Rama tanpa didahului oleh jawabanku.

Aku menarik napas, siap merespon. "Cuma meeting biasa. Ada project."

Rama manggut-manggut, belum ada tanda menyudahi pembicaraan. "Jadi kamu nggak ngantor disini? Kerja dimana emangnya?"

"Jauh dari sini." balasku singkat. Tak boleh ada pertemuan setelah ini, aku tak akan meninggalkan informasi apapun yang memungkinkan kami bertemu lagi.

Rama diam. Menyadari bahwa dirinya satu arah mengganggap percakapan ini berjalan baik-baik saja. "Kamu masih marah, Ran? Setelah 8 tahun?"

Mendengar pertanyaan Rama, tubuhku berubah kaku. Sudah kuhindari topik apapun terkait masa lalu kami. "Ram, kamu yakin mau bahas ini?"

"People made mistake, Ran. Aku dulu ceroboh dan bodoh, aku minta maaf."

Cukup, Rama yang memintanya. Aku tak bisa lagi berlagak tenang. "Kamu meninggalkan aku, Ram. Kamu meninggalkan aku menangis gemetar di pinggir jalan, tengah malam. Kamu lupa? Aku memohon supaya kamu setidaknya mengantarku pulang. Kamu tidak bodoh, Ram. Kamu egois."

Rama berdehem, seperti sudah menyiapkan kalimat jawaban untuk argumenku yang emosional. "Kirana. Aku harus melakukannya, supaya kamu membenciku. Kamu tau dulu aku merasa tak sepadan denganmu. Aku egois Rana, aku meninggalkanmu seperti itu agar aku sendiri bisa lepas darimu."

"Nyatanya kamu berhasil Ram, sekarang aku masih membencimu."

"Tidak sepenuhnya Ran, aku masih mengharapkanmu. Sekarang aku sudah lebih berani, Rana. Aku tak serendah dulu." tiba-tiba segala sesuatu di antara kami seperti sunyi sekali. Mata Rama lurus ke arahku, tajamnya seperti mengiris luka yang sama sekali tak ingin kubuka kembali.

Aku berdiri, tak betah berlama-lama terhanyut. "Aku bukannya mencari yang tinggi dan berani, Rama. Kamu tau itu, sejak dulu aku hanya mencari yang berjanji tak akan meninggalkanku. Bukan, bukan hanya itu. Aku mencari yang mampu menepati janji tak akan meninggalkanku."

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting