Sabtu, 11 Oktober 2014

Surat Syukur


Pagi ini tak semanis biasa. Banyak alasannya.

Semalam kamu pulang terlambat padahal aku menunggu dengan meja penuh hidangan istimewa.

Aku sudah sesiangan berkata bahwa aku rindu, aku sudah seharian mengirimkan pesan mesra, aku sudah memberi tau bahwa malam nanti aku akan memasakkan makanan kesukaanmu. Aku menunggu sampai habis kesabaran, membuang semua masakanku sendiri ke tempat sampah di dapur kita. Sembari menangis kesal. Aku tau alasanmu pulang terlambat. Bulan-bulan ini pekerjaanmu menumpuk banyak. Sejak dulu kita tak pernah mempersoalkan mana lebih dulu, aku atau pekerjaanmu. Namun rindu-rindu ini menyesakkan.

Dan kita sepakat bahwa perasaan tak pernah bisa dipersalahkan.

Paginya kamu datang, baru pulang dengan raut muka berantakan. Berjingkat pelan takut membangunkanku yang tertidur di sisi kanan tempat tidur. Kamu lupa bahwa aku tak pernah nyenyak tanpa kamu mendekap, bunyi anak kunci yang memutar di lubangnya dari lantai bawah pun bisa membangunkanku. Demi menjaga agar kamu tak merasa bersalah, aku tetap memejamkan mata.

Kamu tak pernah tau damai dan tenangnya menghirup aroma tubuhmu di sampingku.

Siangnya, saat aku sudah bangun sempurna, kamu justru masih lelap tertidur. Aku beringsut mendekat, mendengarkan irama napasmu yang pelan dan teratur. Ada hangat yang mengalir di dalam dadaku, seperti syukur yang berbaur dengan riuhnya bahagia karena ada di dekatmu. Iya, aku sejatuh cinta itu.

Tapi kita tak sering bicara cinta. Cinta bukan rangkaian kata tak berguna, katamu. Dengan tangan dan perbuatan, kamu tunjukkan cinta. Dengan pemahaman dan kesetiaan, aku mempersembahkan cinta yang aku punya. Setidaknya begitu yang kita percayai selama ini.

Seperti kamu percaya bahwa kebaikan adalah agama yang kamu pilih, bukannya datang tiap Minggu untuk bernyanyi atau lima kali sehari bergerak sambil menghafalkan bait-bait dalam bahasa asing.

Seperti aku percaya bahwa Tuhan hadir dalam semua hal nyata yang membahagiakan atau malah memberikan pengalaman tidak menyenangkan semata demi menguatkan umatNya. Kamu adalah cara Tuhan mengajari aku bersyukur.

Aku bersyukur, Sayangku.

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting